My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
SEMUA TENTANG TAFI


__ADS_3

Ombak di lautan rupanya sedang mengombang-ambingkan perahuku. Perahu kecilku sedang oleng tak tahu arah tujuan.


Seluruh kekuatan ku sudah ku kerahkan untuk mempertahankan perahuku tapi kenyataannya nahkoda ku tidak demikian, dia lebih memilih menyeimbangkan perahu lain meski dia tahu perahuku lebih oleng dari itu.


Ketika nahkoda ku pergi memperbaiki perahu yang lain aku pun pergi meninggalkan perahuku sendiri terombang-ambing di tengah lautan tak bertuan.


Hatiku sedikit lega semalam aku bermimpi dengan sang pembuat kenyamanan ku, dia yang selalu hadir dalam nyata ataupun mimpiku.


Pagi ini aku menyiapkan sarapan untuk pak Zan yang berangkat ke sekolah untuk mengajar dan aku juga berangkat kerja mengurus toko pakaian.


Semalaman aku terus berpikir dan akhirnya tadi usai subuh aku dan pak Zan berkomitmen untuk tidak berpisah. Hanya saja pak Zan dan aku saling memberi kebebasan untuk mencari kenyamanan di luar sana.


Pak Zan aku perbolehkan bertemu Laili dan aku mencari seseorang yang memberikan kenyamanan padaku selama ini.


Terpenting jangan ada kata perpisahan demi menjaga perasaan ibu,paman dan orang tua pak Zan.


"Tsan,kakak pergi dulu ya?"


"Iya kak" pak Zan mencium keningku. Dan aku bersalaman dan mencium tangannya.


Pak Zan berangkat dengan motornya dan aku segera membereskan rumah, setelah semua beres aku langsung berangkat ke toko dengan mengendarai mobilku.


Sebelum aku berangkat ke toko aku sempatkan mampir ke rumah papah mamah, ingin mencari tahu tentang dia yang tiba-tiba hilang tanpa kabar.


Meski aku hamil aku sudah biasa mengendarai mobil sendiri berkat Tafi aku bisa dengan lincah mengendarai mobil ini.


Sampai lah di rumah mamah papah, ku pandangi ada kenangan yang indah saat aku masuk pertama kali ke rumah ini.


Memasuki rumah ini adalah kebahagiaan tersendiri waktu itu meski banyak berbagai ujian yang harus aku jalani.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam....eh mbak Tsania"


"Iya mbak Ning,papah mamah ada?"


"Nggak ada orang mbak, bapak ibuk baru aja berangkat kerja. Eyang juga sudah pergi ke toko bunganya. Mas Kafi udah dari tadi pagi banget berangkat kuliah"


"Tafi mbak?"


"Udah beberapa hari yang lalu pergi ke luar negeri mbak, Saya juga kurang paham di mana dan untuk apa"


Deg....


Kenapa Tafi pergi nggak ngabari sih?apa salahku?apa aku menyakiti nya hingga dia juga ikutan pergi meninggalkan ku? setelah dia memberikan kenyamanan padaku?.Kamu kemana Fi?.


"Oh ya dah mbak makasih ya?" mbak Ning melanjutkan beres-beres rumah lagi dan aku langsung naik ke lantai atas menuju kamar Tafi.


Kamarnya sudah rapi,aku terpana melihat di pojok kamar Tafi ada lampu kelap-kelip dan terpajang foto-foto kecil di sana.


Ku dekati foto-foto itu, semua kenangan saat kita bersama. Indah, dan penuh bermakna.


Sang pembuat kenyamanan, yang selalu hadir saat aku terpuruk, seseorang orang yang sudah mengobati lukaku yaitu kamu Fi, tapi sekarang kamu dimana?.


Aku duduk di atas kasur dan segera mencari ponsel ku. Aku hubungi nomornya tidak bisa, berada dalam luar jangkauan dan aku chat nggak masuk. Sosial media nya juga nggak bisa aku buka.


"Kamu kemana sih Fi?kenapa kamu nggak pamit aku?kenapa kamu pergi tanpa kejelasan kayak gini? padahal aku kepingin ngomong sama kamu kalau aku sayang kamu, bukan karena sebagai kakak kamu ataupun sahabat. Aku sayang kamu Fi....hiks..hiks..." aku hanya bisa terisak menahan sakit di dada. Rindu yang teramat menyakitkan adalah rindu kepada orang yang sudah meninggalkan kita.

__ADS_1


Setelah beberapa menit aku langsung pergi meninggalkan kamar Tafi dan langsung berangkat ke toko pakaian ku.


Ada perasaan sedih dan tak bersemangat saat tahu Tafi sudah pergi tanpa kabar lagi.


Ku lajukan mobilku dengan perlahan ,ku putar lagu di radio mobilku agar aku bisa lebih tenang, dan rileks karena rasanya sesak di dada.


Cinta, dengarkan hati


Nurani meneladani


Baru kusadari


Aku kini


Kehilanganmu


Malam, rembulan berlalu


Hati masih bertalu


Bahagia denganmu


Kini senyap


Jiwa tak bertuan


Tanpa berpamitan kamu


Menghilang bagaikan ditelan samudra


Kuingat-ingat apakah aku salah


Dan menyinggung perasaanmu


Meski sejuta senja aku


Menangis merindukan bayanganmu


Rela


Malam, rembulan berlalu


Hati masih bertalu


Bahagia denganmu


Kini senyap


Jiwa tak bertuan


Tanpa berpamitan kamu


Menghilang bagaikan ditelan samudra


Kuingat-ingat apakah aku salah


Dan menyinggung perasaanmu

__ADS_1


Meski sejuta senja aku


Menangis merindukan bayanganmu


Rela


Tanpa berpamitan kamu


Menghilang bagaikan ditelan samudra


Kuingat-ingat apakah aku salah


Dan menyinggung perasaanmu


Meski sejuta senja


Ku merindukan bayanganmu


Rela


Sumber: Musixmatch


Penulis lagu: Melly Goeslaw


Tiba-tiba hatiku merasakan sakit sesak di dadaku, perih kenapa saat aku mulai bangkit dari rasa sakit ku. Kamu pergi tanpa berpamitan padaku? kamu kemana?.


Bukan membuat ku tenang melainkan lagu ini benar-benar mengisahkan hatiku yang rapuh ini.


Aku belum sempat mengatakan rindu ini, belum sempat mengatakan aku sayang dia. Kenapa harus pergi tanpa berpamitan padaku?.


Aku menghentikan laju mobilku dan menenangkan hati yang merasa kehilangan ini.


Kenapa saat aku menyadari semua tentang rasa ini ,kamu pergi Fi? Kenapa kamu tidak menunggu aku?aku kehilanganmu Fi, setelah semua rasa nyaman yang telah kau berikan padaku.


Aku chat pada Fulan untuk menghandle kerjaan dari rumah dengan beralasan badanku sedikit tidak enak. Aku tidak mau mereka tahu aku mencintai Tafi adik ipar ku.


Setelah lebih tenang aku melajukan mobilku lagi menuju danau kecil di pinggir kota. Untuk menenangkan hatiku.


Aku pikir setelah pak Zan melepas ku, aku bisa bebas dengan Tafi. Aku bisa menyatakan perasaan ku dengannya.


Semua hanya impian belaka.


Danau buatan manusia itu terlihat tenang tanpa suara. Aku memilih duduk di bibir danau, duduk di atas rerumputan hijau yang mendamaikan mataku untuk memandang.


"Andaikan aku menyadari perasaan ku, andaikan aku lebih rela kehilangan pak Zan yang sudah tak pedulikan aku itu, mungkin saat ini aku bisa bahagia bersama Tafi. Yang selalu ada untuk ku, kini aku sudah terlambat , saat dia pergi aku baru merasa kehilangan nya. Hiks...hiks..."


"Kamu belum terlambat kok, aku masih di sini dan akan selalu di sisimu, menemani mu sampai kamu bahagia. Apa kamu tidak ingat dengan janjiku itu?" aku terkejut aku menoleh dari sumber suara itu.


"Tafi...?" ku peluk dengan erat saat dia sudah duduk di belakang ku dan kedua tangannya mengadah menyambut untuk memeluk ku.


"Kamu kemana aja sih?kenapa kamu nggak pamitan aku dulu kalau mau pergi?apa aku punya salah sama kamu?apa aku sudah menyakiti mu?hiks...hiks..." Tafi diam tak bergeming hanya mengelus punggungku dengan lembut. Pelukan nya erat sekali dan terdengar suara debaran di dadanya menandakan dia sangat khawatir sekali denganku.


"Jangan nangis lagi, aku di sini bersama mu. Aku janji tak akan meninggalkan mu lagi" Tafi mengusap air mata dari pipiku.


Ku tatap wajahnya yang sendu, terlihat matanya sayu mungkin karena kecapekan. Dari bola matanya terpancar sebuah ketulusan yang membuat ku tenang.


Perlakuan lembut nya yang selalu membuatku nyaman berada di sisinya.

__ADS_1


Betapa aku merindukanmu Fi, terima kasih kamu sudah hadir di waktu yang tepat. Aku mencintaimu...


__ADS_2