
Pagi sekali semua murid berkumpul di depan hotel setelah memasukkan tas dan koper mereka ke dalam bus masing-masing. Bapak kepala sekolah memberikan sambutan terakhir mengucapkan terima kasih dan motivasi guna meraih ke jenjang selanjutnya.
Semua murid meneteskan air mata kesedihan karena hari ini hari terakhir mereka berkumpul dan bertemu. Sama halnya denganku meski banyak gosip yang beredar tentangku aku tak menghiraukan nya karena teman sekelas sudah percaya atas penjelasan Fulan. Meski teman yang lain kelas masih saja menatapku sinis aku tak memperdulikan itu.
Ada hal penting yang membuat ku kecewa dan sakit hati setelah semalam aku benar-benar menyakinkan pak Zan sekuat hatiku tapi pagi tadi aku sudah tak melihat nya di dalam kamar lagi. Tak sengaja tadi aku melihat pak Zan menemui bu Mano dan dia memeluk bu Mano dengan hangat. Sakitnya lagi dia mencium kening bu Mano. Setelah pak Zan menyadari keberadaan ku aku lantas pergi tapi pak Zan sedikit pun tak mengejar ku ataupun memberikan penjelasan padaku.
Aku kecewa baru saja semalam keyakinan itu keluar dari mulutnya dengan hitungan jam dia luluh kembali dengan ucapan bu Mano. Entah dengan ancaman apa bu Mano menggoda pak Zan hingga pak Zan tak sedikitpun mengingat ku.
Di dalam bus aku duduk bersama Fulan setelah aku melihat pak Zan memilih duduk di sebelah bu Mano di kursi paling depan. Hatiku hancur seketika. Aku masih bingung dengan apa yang dilakukan pak Zan bersandiwara kah? atau hanya takut dengan bu Mano? entah lah...
Fulan memelukku dengan erat menyakinkan ku jika pak Zan hanya terjebak di situasi yang memanas. Tapi tetap saja hatiku rasanya sakit. Kalau memang iya kenapa tak memberiku alasan? apa tidak ada cara lain selain bermesraan di depanku?.
Secara langsung aku memang tak cemburu mulut ku pun akan menjawab tidak tapi, untuk hati yang sensitif ini dia akan menangis merasa di iris-iris yang tak di hargai lagi.
"Sabar ya Tan, aku tahu ini pasti menyakitkan buat kamu" Fulan mengelus puncak kepalaku saat aku di pelukan nya.
Liburan terakhir menuju ke Candi Prambanan. Sebagai tempat wisata terakhir untuk sekalian menuju pulang.Semua murid dan guru turun dari bus kecuali aku. Aku hanya memandangi candi itu dari dalam bis mengingat kisah legenda dari candi itu.
Seperti kita ketahui, Candi Prambanan tak lepas dari kisah Roro Jonggrang dengan Bandung Bondowoso. Konon, Raja Bandung Bondowoso yang membangun 1000 candi atas permintaan Roro Jonggrang. Sang Putri meminta pembangunan dilakukan dalam waktu satu malam sebagai syarat pernikahan.
Akan tetapi, Bandung Bondowoso tidak kuasa memenuhi permintaan Roro Jonggrang karena fajar sudah terlanjur datang. Rupanya, Roro Jonggrang lah yang telah menggagalkan pekerjaan Bandung Bondowoso dengan menciptakan fajar buatan. Bandung Bondowoso pun mengetahui hal tersebut lantas murka. Ia kemudian mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca di Candi Prambanan.
Ya begitulah sepenggal kisah dongeng tentang cinta Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Hingga terbentuklah Candi Prambanan ini.
Ketika ketulusan cinta di balas dusta hati pun terasa ter hianati. Dan demi cinta pula apapun akan di lakukan demi meraih cintanya meski harus dengan cara buruk pun. Bu Mano? apa rencana buruk mu? kenapa kamu tega menghancurkan sahabat mu sendiri. Apa harus dengan bersandiwara pak Zan untuk menyadarkan bu Mano?. Kamu itu seorang wanita apa tidak takut dengan karma? apalagi kamu seorang pendidik yang patut di contoh dan di tiru. Apa pantas semacam itu di lakukan? sandiwara apalagi yang kau perbuat?.
Deg...
Sandiwara? hah.. iya aku teringat pak Zan pasti sedang bersandiwara menjalankan tugas seperti yang aku sarankan semalam. Bodohnya aku. Ku tepuk jidatku ini. Ku usap sisa air mataku yang hampir mengering di pipiku dengan cepat. Aku benar-benar menyesal ter kuasai oleh api cemburu. Pikiran kotor merusak hatiku.
"Huft... Tsania... dasar cengeng kamu... " ku pejamkan mataku dan segera berdiri dari kursi bus yang sedari tadi setia ku duduki menyusul Fulan dan yang lainnya. Tapi saat berdiri aku terjatuh menatap seseorang yang sudah berdiri tegap di depanku. Dengan sigap dia menangkap ku saat aku jatuh ke pelukannya.Dia mengelus lembut kepalaku dan menciumnya.
"Maafkan aku jika ini menyakitkan mu"
__ADS_1
Ku dongakkan kepalaku melihat wajah orang yang memelukku.
"Kak Irul? " sekarang aku lebih terbiasa dengan panggilan itu mengikuti panggilan kesayangan keluarga nya.
Pak Zan memegang pundak ku menatap manik mataku yang sudah memerah menahan air mata.
"Maafkan aku kak, jika aku cemburu...hiks...hiks..."
"Kamu nggak salah Tan, kakak yang salah kakak terlalu lemah. Apa kamu sudah membaca surat kakak? "
"Surat? "
"Selembar kertas yang kakak tulis sebelum meninggal kan kamar"
Aku menggeleng.
"Bacalah, maaf aku harus pergi dulu menyusul Mano. Kamu baik-baik saja ya? sampai ketemu di rumah. I love you" pak Zan mencium kening dan bibirku. Selepas itu pergi turun dari bus meninggalkanku sendiri.
Aku mengingat-ingat tentang selembar kertas itu. Yang ku rasa tidak asing. Lama aku berpikir. Ku buka tas ransel mini yang ku gendong. Mengacak semua isinya dan mengeluarkan dengan sembarang. Aku berdecak menahan amarah karena tak menemukan kertas itu.
"Kertas putih... kertas putih... " gumam ku dengan mengetuk-ketuk kepalaku dengan tanganku.
"Duh sial... aku lupa.... ayolah Tan, berpikir lagi... "
"Tan? "
"Fulan? " aku terkejut dengan kedatangan Fulan.
"Kamu tahu nggak kertas putih yang ada di kamarku? " tanyaku tanpa basa-basi.Karena pagi sekali tadi Fulan menemui ku dan membantuku prepare.
"Kertas? "
"Iya... "
__ADS_1
"Ouh... iya aku menemukan nya tadi, nih... " Fulan menyerahkan kertas itu dari dalam tas ransel mininya.
"Kenapa bisa ada di kamu? "
"Ya tadi sengaja aku bawa kepingin tahu juga isinya"
"Maksudnya? "
"Tadi pagi pak Zan sebelum menemui bu Mano sempat bertemu aku dulu katanya suruh ngasih tahu kamu agar jangan lupa membaca surat darinya"
"Kamu sudah baca? "
"Sudah... "
"Kenapa gak bilang sih"
"Ya aku pikir kamu sudah membacanya"
"Hist kamu ini..."
Dengan kesal aku membaca surat itu.
Tsania sayang kakak pergi dulu ya? maaf nggak pamit kamu, aku buru-buru karena Mano mengancam akan menggugurkan kandungannya. Aku melawannya dengan kelembutan sesuai permintaan kamu ,dengan ini semoga Mano bisa luluh dan sadar. Kakak harap kamu bisa profesional. Tidak sakit hati ataupun cemburu. Apapun yang kamu lihat kakak hanya bersandiwara demi anak dalam kandungan Mano dan rumah tangga kita. I Love you. 😘
Sekali lagi maaf.
Kucium kertas putih itu dan ku dekap dalam pelukanku. Senyum sungging merekah dari bibir ku. Ku toleh Fulan yang ikut membaca bersamaku dia tersenyum pula. Ku peluk Fulan dengan erat.
"Terima kasih ya Lan, kamu memang sahabat terbaik ku. I love you more... "
Fulan tak menjawab dia mengelus punggung ku dengan lembut. Air matanya menetes dengan haru.
Sahabat sejati itu akan selalu ada saat kita terjatuh. Ikut menangis saat kita menangis ikut tertawa saat kita tertawa. Balas lah dengan kasih sayang yang tulus jika kalian menemukan sahabat seperti itu.
__ADS_1
Teruntuk semua pembaca setiaku Terima kasih atas doa dan dukungannya dan maaf jika masih banyak kesalahan.I love you all. 😘