
Pagi yang indah dan cerah. Malam ini aku tidur dengan begitu tenang dan nyenyak nya. Setelah mendengar keluh kesah dari pak Zan.
Tapi entah pak Zan semalaman tidurnya seperti tidak bisa nyenyak. Bentar-bentar ngecek ponselnya dan tadi pagi habis subuh langsung pergi entah kemana katanya ngurus kepindahan Laili agar tidak ada yang tahu di mana Laili berada.
Ku raih ponselku di atas nakas kamar, aku tersentak melihat banyak chat dan telpon dari Toni.
Gara-gara semalam aku jadi lupa ngabarin Toni sama ibu.
"📨Maaf ya Ton lupa ngabari, semalam mbak tidur di rumah mbak sama kak Irul"
"📩 Kebiasaan....😤 di situ enak-enakan yang sini nunggu sampai panik"
"📨Maaf...😘"
"📩Napa nggak ikut sekalian ke sini?kak Irul tadi pagi kesini, sekarang pergi sama mbak Laili"
Hatiku sedikit kecewa dengan tindakan pak Zan meski semalam dia sudah bercerita panjang lebar tapi tetap saja masih cemburu rasanya.
"📨Ia maaf,mbak lagi kecapean jadi nggak ikut" alasanku pada Toni agar Toni tidak ikut khawatir ataupun curiga.
Ku tenangkan hatiku mencoba berfikir positif agar pak Zan menyelesaikan masalahnya dengan tenang juga.
Aku harus mendukung perjuangan dia untuk Laili dan diriku.Agar semua baik-baik saja.
Lagian kasian Laili juga ya? kalau nanti dia melahirkan nggak ada suami yang mendampingi.
Hari ini aku dan Fulan akan mengadakan launching toko baju gamis syar'i. Bakda isyak semua keluarga akan kumpul untuk ikut syukuran.
Fulan dan Arnold sudah menghandle semuanya karena aku tidak bisa ikut membantu nya perutku sedikit kram tadi. Jadi, aku lebih memilih istirahat dulu agar nanti malam bisa ikut syukuran.
Undangan hanya untuk keluarga dan teman terdekat karena kesehatan ku dan Fulan juga belum pulih jadi tidak bisa mengundang banyak orang.
Mamah,papah si kembar dan eyang sudah aku telpon . Ibu ,Toni,paman Ali dan bik Fatim juga datang. Tak lupa keluarga Fulan dan keluarga Arnold. Semuanya akan kumpul.
Ku pejamkan mataku karena merasa lemas dan capek sembari mengelus perutku yang sedikit sakit minta di elus- elus terus.
"Kakak sudah pulang ya?"
"Sakit kak dari tadi,iya elus bagian situ" pintaku saat pak Zan mengelus lembut perutku bagian kiri terasa sangat sakit.
Ku cium aroma yang tak biasa seperti bukan parfum pak Zan. Tidak asing bagiku tapi siapa?ku buka mataku.
"Astagfirullahaladzim..." aku terperanjat dan langsung duduk di sandaran ranjang.
"Eh,maaf ya mbak...."
"Kapan kamu datang?kok tiba-tiba udah di sini?"
"Semalam mbak, katanya mbak sakit makanya aku kesini"
__ADS_1
"Kata siapa?"
"Kata Toni"
"Toni?"
"Tadi pagi sih rencana mau surprise in mbak, aku kaget mbak katanya mbak mau buka toko baju sendiri sama teman mbak makanya sebelum nanti malam tiba aku mau ngasih mbak hadiah dan ucapan selamat" sebuket bunga besar ia berikan ke padaku dan ku terima bunga itu.
"Kamu kok tahu mbak ada di sini?" tanyaku dengan mencium aroma bunga itu.
"Kata mamah mbak lagi pulang ke rumah ibu makanya aku tadi pagi ke sana eh kata Toni mbak lagi pulang ke rumahnya sendiri. Ya aku langsung kesini"
"Makasih ya?"
"Iya sama-sama mbak...oh ya kak Irul mana?"
"Pergi tadi pagi, lagi ada urusan di sekolah" dia beranjak pergi dari kamarku saat dari tadi duduk menemani ku di kasur.
"Taf...."
"Iya mbak..." Tafi menoleh saat aku panggil.
Tafi berbalik dan kembali duduk di samping ku. Tiba-tiba air mataku menetes tiada tertahan lagi. Reflek Tafi memelukku dan mengelus lembut punggung ku.
"Are you okay, mbak?" aku masih terisak.
"Udah mbak yang tenang ya? Tafi buatin teh anget dulu" Tafi berlalu meninggalkan ku.
"Di minum teh nya mbak, biar tenang"
Maafin aku ya mbak?aku sengaja mengajak mbak di sini saja agar nggak terjadi sesuatu kalau berduaan di kamar. Aku lelaki normal mbak, dan masih menaruh rasa padamu.Maaf untuk itu....
"Makasih ya Fi?" ku serutup teh hangat itu.
"Sama-sama mbak" Tafi menyerutup kopinya, wajahnya tampak berseri baru saja satu bulan nggak ketemu udah bikin pangling dia terlihat tampan dan lebih cerah kulitnya.
"Jangan di pandang terus nanti anak mbak mirip aku loh...."
"Haiis....ke PD an kamu ma"
Secangkir teh dan semangkok bubur ayam melegakan perut yang sedikit keroncongan karena dari tadi belum sarapan pak Zan langsung pamit pergi tanpa membeli sarapan.
Obrolan kecil yang di selingi canda tawa membuat hatiku sedikit tenang dan bahagia. Perhatian tentang hal-hal kecil yang Tafi lakukan membuat ku terkadang luluh dan nyaman.
Tapi sekuat tenaga aku berusaha menghindari dan menutup semua akses pintu hatiku agar tidak bisa terbuka untuk lelaki lain selain pak Zan seorang.
Tafi memang baik sih , perhatian dan lemah lembut...dia juga sahabat kecilku. Meski ia pernah menyatakan cinta padaku aku tak keberatan aku berusaha melupakan kejadian itu agar aku dan Tafi masih bisa ngobrol santai tanpa canggung.
"Kamu kenapa pulang?"
__ADS_1
"Lagi kangen sama mbak aja" ceplosnya sembari tersenyum menyantap roti selai coklat.
"Idih gaya kamu Fi, alasan aja palingan juga di sana banyak cewek "
"Yang suka sih banyak mbak,pada antri malahan. Tiap hari banyak yang nembak tapi aku selalu nolak"
"Kenapa di tolak?"
"Tafi mau setia sama satu cewek mbak"
"Cieee....berarti kamu sudah punya cewek?orang mana?kapan jadian? cantik nggak?kenalin dong sama mbak?"
Tafi mengehentikan aksi makannya. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Sudah?"
"Eh...." aku tersipu malu.
"Tafi tahu kok mbak tu sebenarnya kangen kan sama Tafi?hingga bisa sekepo itu"
"Dasar ke PD an amat sih jadi orang" ku tonyor kepalanya.
"Emang fakta kan?"
"Haiyah ..terserah kamu Fi..Fi...susah ya jelasin sama orang sok PD itu" ku serutup teh ku lagi.
"Jangan ngambek , becanda kali mbak..."
"Hihhh.....kalau bukan adik udah aku ih...." ku kepalkan tanganku karena saking gemasnya.
"Apa?cium?nih boleh kok aku siap...." Tafi menunjuk pipinya dengan percaya diri tingkat dewa.
Dan candaan terus mengalir begitu saja tanpa ada drama yang menyedihkan. Sesaat aku lupa akan rasa kesal di hati.
.
.
.
Di tempat lain seorang lelaki dan perempuan sedang berada di sebuah rumah yang tak begitu besar dan pas untuk di tempati pengantin baru.
"Kamu suka nggak tempat nya?"
"Suka kak,nanti kedepannya kamu bakalan tinggal di sini sampai kamu lahiran. Masalah sekolah kakak sudah urus dan setelah lahiran kamu bisa melanjutkan sekolah lagi yang terpenting kamu fokus dengan kesehatan kamu dan bayi kamu. Jangan stres lagi ya?" pak Zan mengacak puncak kepala Laili.
"Tentang ayah bayimu kakak akan terus berusaha mencari nya. Yang terpenting dia lahir sehat dan selamat dulu"
"Iya kak,makasih banyak ya?" Laili memeluk erat pak Zan.
__ADS_1
"Sama-sama Lel, sekarang kamu istirahat ya?kakak mau cari makan dulu" pak Zan mencium kening Laili.
Laili mengangguk pelan dan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu.