My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
Bersandarlah padaku


__ADS_3

... "Jadilah yang mencintai dan bukan hanya untuk dicintai karena pernikahan hanya bersama orang yang mencintai bukan dicintai."...


...🌺Selamat membaca🌺...


Sekarang sudah jam sebelas malam, mungkin mereka juga tidak enak jika terlalu lama mengobrol.


Satu per satu orang-orang itu meninggalkan rumah hingga menyisakan aku, ibu dan pak Ardi begitu juga dengan Rara dan Riri yang sudah tidur di kamar ibu.


Sepertinya seseorang sudah mengajak mereka untuk tidur di sana.


"Na ajak Ardi istirahat, biar ibu bereskan tikarnya dulu!" ucap ibu.


Kebetulan aku memang sangat capek, apalagi besok aku harus bangun pagi-pagi sekali seperti biasanya.


"Biar saya saja Bu, Bu Vina istirahat saja tidak pa pa." ucap pak Ardi sambil meraih tikar yang sudah di pegang ibu.


"Nggak pa pa Ar, lagi pula ibu juga masih belum mengantuk." tolak ibu.


Heran, hanya untuk tidur saja mereka harus saling berebut tidak mau duluan.


"Ya sudah deh, Zanna saja yang tidur duluan." aku pun hampir berlalu tapi Ibu tiba-tiba memegang tanganku, "Na, bantu suamimu dulu! Ibu mau nyusul adik-adik mu,"


Suami?


Entah aku lupa atau memang aku belum siap dengan status baru ini, rasanya aneh sekali membuatku geli sendiri mendengarkannya. Tapi cincin perak yang melingkar di jariku menjadi penguat fakta kalau aku memang sudah jadi istri seseorang.


Tapi apa pengaruhnya terhadapku, bagiku semuanya akan tetap sama. Dia guru BP ku dan aku seorang murid dari beratus-ratus murid di sekolah tempatku belajar.


"Tapi Bu, Zanna capek, ngantuk, mau tidur!"


Itu adalah bentuk protesku, aku ingin tahu sejauh apa kesabaran pak Ardi menghadapiku.

__ADS_1


"Nggak pa pa bu, biar aku aja! Lagi pula seharian ini Zanna belum istirahat!"


"Tuh kan, pak Ardi aja nggak keberatan Bu!"


"Nggak, bantu suamimu!"


Perintah ibu adalah titah bagiku, begitulah kenyataannya.


"Baiklah," ucapku pasrah dan ibu pun akhirnya meninggalkan kami.


Kini di ruangan itu hanya ada kita berdua, maksudnya aku dan pak Ardi. Suasana jadi canggung dan aneh, pak Ardi tampak biasa dia tengah sibuk mengambil beberapa toples kue dan meletakkannya di atas meja.


"Aku harus apa?" tanyaku berbasa-basi.


"Duduk saja, biar aku yang bereskan." ucap pak Ardi, seperti angin segar bagiku.


Tanpa basa basi aku pun melirik sofa yang ada di sudut ruangan, rasanya mataku benar-benar sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Segera ku jatuhkan tubuhku ke sofa, ku angkat kakiku agar tidak menginjak tikar.


Melihat pak Ardi yang terus lalu lalang membuat mataku semakin ingin di istirahatkan. Akhirnya ku benar-benar terlelap, aku tidak tahu apa lagi yang di lakukan oleh pak Ardi.


Hingga akhirnya aku merasakan tubuhku tengah melayang di udara.


Ingin rasanya berteriak begitu sadar saat ini tubuhku tengah berada di gendongan pak Ardi. Tapi kenyataannya aku malah pura-pura tetap tidur dan membiarkan pak Ardi membawaku ke dalam kamar.


Perlahan aku merasa pak Ardi menurunkan tubuhku di atas tempat tidur.


"Terimakasih ya sudah bersedia menjadi istriku," ucapnya lirih sambil mengusap kepalaku lembut.


Cup

__ADS_1


Dan akhirnya aku bisa merasakan kecupan itu mendarat di keningku. Pak Ardi kedua kalinya menciumku.


Sedikit ku lirik, ku buka mata dan pak Ardi hendak berlalu. Tapi segera ku tahan tangannya membuat langkah pak Ardi terhenti.


"Pak,"


"Maaf ya, aku pasti membangunkanmu." ucapnya tampak menyesal dan aku pun segera menggelengkan kepalaku.


"Kenapa pak Ardi begitu ingin menikah denganku?" aku masih begitu penasaran.


"Bersandarlah padaku." ucap pak Ardi sambil tersenyum tipis, tapi ada luka di dalam senyumnya, "Aku mohon, jika nanti kamu butuh tempat untuk bersandar setelah ayahmu, maka bersandarlah padaku."


"Tapi aku jauh lebih berat dari yang bapak tahu, aku dan mungkin bebanku."


"Tapi aku juga jauh lebih kuat dari yang kamu pikirkan. Jadi jangan ragukan aku."


Kenapa? Kenapa pak Ardi begitu yakin denganku sedangkan aku sama sekali tidak tahu akan sesuatu. Aku merasa semakin bodoh saja.


"Tidurlah," ucap pak Ardi lagi sambil mengusap kepalaku, "Aku akan tidur di lantai, tadi aku sudah mengambil satu tikar untuk ku tidur."


Pak Ardi pun langsung melepas tanganku dan tampak sibuk dengan tikarnya, ia segera menggelar tepat di samping dipanku dan meletakkan satu bantal di atasnya.


Ia pun segera merebahkan tubuhnya, hanya butuh beberapa detik dan akhirnya aku bisa mendengar suara nafasnya teratur tandanya ia sudah tertidur pulas.


"Cepat sekali." gumamku pekan lalu sambil kembali memejamkan mataku.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2