
Langit mendung, hujan rintik-rintik menghujani bumi pertiwi. Menyirami jiwa-jiwa yang gersang. Angin sepoi-sepoi menyejukkan relung jiwa yang sakit.
Bintang,Bulan....semua bersembunyi tak mau menampakkan wajahnya, seakan mereka tahu sakit yang begitu dalam yang sedang ku rasakan.
Aku sedikit kedinginan karena aku membonceng motor dengan pak Zan. Tanpa berteduh ataupun memakai jas hujan pak Zan tetap melajukan motornya.
Air mataku mengalir tanpa henti-hentinya nya,menguras kantung mata yang tiada habisnya. Rasanya hatiku sudah hancur di perlakukan seperti ini. Pak Zan yang ku kenal bukan seperti ini.
Cuek, kasar dan sepertinya dia sudah nggak sayang aku lagi, rintihan air hujan turut membasahi pipiku menghapus air mata yang tak kalah derasnya.
Tak berapa lama sampai lah di rumah ku dan pak Zan. Aku segera turun dari motor dan membuka pintu rumah. Tanpa menunggu pak Zan masuk ke dalam rumah aku langsung masuk kamar mandi, ku guyur tubuhku dengan air hangat yang menghangatkan tubuhku.
Entah berapa lama aku berdiri di bawah shower. Hatiku masih sakit dan kecewa atas berubahnya pak Zan.
Apa salahku? perbuatan apa yang membuat pak Zan sampai semurka ini? Apa pak Zan selingkuh?atau pak Zan lagi punya masalah besar?.
Ku pukul-pukul dinding kamar mandi dengan tangan kosong ku, melampiaskan rasa kesal di hati ini.
"Hiks...hiks....aku harus bagaimana?"
Setelah aku merasa capek aku segera keluar kamar mandi dan masih memakai handuk setengah badan. Aku segera mencari daster panjang untuk baju ganti.
Pak Zan tak terlihat sama sekali di kamar, mungkin di kamar atas pikirku.
Aku segera sholat isyak dan lanjut tidur menenangkan pikiran dan hati yang gundah ini.
Sayup-sayup mataku sudah mulai terpejam karena kantuk.
"Tega banget kamu sih Tsan...!!! udah tahu suami capek , laper malahan di tinggal tidur..." teriak pak Zan membuka pintu kamar. Aku terperanjat dan langsung duduk.
"Kakak nggak bilang kan kalau lapar?"
"Jadi istri ya inisiatif dikit kek..." pak Zan berlalu meninggalkan kamar. Aku menyusul nya.
Aku segera masak di dapur, membuka kulkas mencari bahan yang akan di masak. Aku terkejut di kulkas sudah penuh buah-buahan ,sayuran dan makanan lainnya.
Siapa yang udah ngisi kulkas ya?masak iya pak Zan? mana mungkin. Tapi bisa jadi dia tadi belanja dulu ya?.
Aku mengambil sosis, udang ,sawi dan lain-lainnya untuk membuat capcay. Setelah beberapa menit akhirnya masakan ku sudah matang. Ku sajikan di atas meja makan dan pak Zan sudah menunggu di sana.
Piring, sendok , gelas sudah ku siapkan semuanya di hadapan pak Zan.
"Gak pakai bakso?"
Aku menggeleng.
"Kenapa?"
"Mual aku..."
Pak Zan mengkerut kan keningnya.
"Kan yang makan aku bukan kamu"
"Tapi aku nggak suka bakso kak,mual lihatnya..."
__ADS_1
Pak Zan menyerutup kuah capcay.
"Aneh, Laili aja nggak masalah tu kalau lihat bakso..." ucapnya tanpa melihat ku.
Darahku rasanya sudah di ujung kepala dan ingin pecah dari otakku. Kesabaranku rasanya sudah di ambang pintu. Amarah yang sedari tadi aku tahan terpaksa aku luapkan semuanya.
"Laili lagi Laili lagi....yang hamil anak kakak tu aku bukan Laili...!!! lagian kondisi ibu hamil itu beda-beda....kalau kakak lebih mentingin Laili daripada aku istri kakak sendiri, lebih baik nikahi saja Laili. Aku masih sanggup hidup sendiri tanpa kakak....!!!" aku langsung berdiri meninggalkan pak Zan.
"Heh.... jangan kurang ajar kamu ya....!!!" tanpa ku hiraukan teriakan pak Zan aku langsung masuk kamar dan aku kunci dari dalam.
Ambruk di atas ranjang, air mataku deras tanpa jeda mengalir membasahi bantal yang ku tiduri dengan tengkurap.
Salah kah aku bila aku sudah membentak suami seperti ini?dosa kah aku bertindak kasar ini?.
Sakit, benar-benar sakit rasanya sampai di relung jiwa. Cinta yang sudah ku bangun hanya untuknya, rasanya seketika di hancurkan tanpa perasaan.
Ibu....!!!aku ingin pulang memelukmu....anakmu butuh pelukan mu bu....anakmu cengeng bu,anakmu lemah bu, tolong anakmu ini bu....hiks hiks....
Seketika aku ingat ada bayi dalam kandungan ku, aku segera membalikkan tubuhku. Menatap langit-langit kamar. Kosong....tiada harapan lagi.
Lambat laun terasa gelap...gelap...dan gelap...
.
.
.
Pintu di gedor-gedor tak ada sahutan. Lampu di mana-mana masih menyala. Panggilan terus bergema mencari sang tuan rumah.
Khawatir dan takut terus menghantui. Tanpa pikir panjang ia mendobrak pintu yang terkunci itu. Dengan segala upaya akhirnya pintu bisa di dobrak juga.
Pandangan terhenti pada sosok wanita yang menggigil di atas ranjang. Dia mendekatinya. Di sentuh keningnya ,panas tinggi tak terkira lagi. Tapi di dalam tubuhnya yang panas itu dia menggigil kedinginan. Tanpa pikir panjang dia membopongnya dan membawanya ke dalam mobil.
Dengan kecepatan yang tinggi dia melajukan mobil barunya ke klinik keluarga.
Sampai di sana langsung di bawa ke IGD. Kontak nomor orang tuanya langsung di panggil semuanya.
Panik takut dia duduk di depan kursi tunggu. Mondar-mandir tanpa kejelasan.
"Ada apa?" mamah dan papah datang dengan ngos-ngosan.
"Mbak Tsania mah pah, dia menggigil tapi badannya panas banget"
"Udah di tangani dokter?"
"Udah pah"
Setelah beberapa lama keluar lah dokter yang memeriksa di dalam IGD.
"Gimana mas? itu menantu saya. Apa terjadi sesuatu dengan bayi dalam kandungannya?"
"Oh iya pak Qadirun....begini pak sepertinya dia demam tinggi karena asam lambungnya naik, dia seperti sensitif dengan dingin. Apa sebelum nya dia habis kehujanan?" kita semua saling pandang dan terdiam tak dapat menjawab.
"Iya pak" jawab Tafi dengan cepat.
__ADS_1
"Oh, lain kali jangan sampai dia kehujanan lagi dia sangat sensitif dengan air hujan. Tubuhnya lemah karena daya tahan tubuhnya lemah , tapi alhamdulilah seperti nya bayi dalam kandungan nya sangat kuat jadi tidak bermasalah untuk bayinya"
"Alhamdulillah...."
"Oh apa dia juga punya riwayat asam lambung?"
"Punya...mas" jawab mamah.
"Sepertinya dia juga telat makan"
"Iya mas, terima kasih atas informasinya"
"Iya bu, sama-sama. Kalau begitu saya pamit"
"Iya mas terima kasih ya mas Jaka"
"Iya pak sama-sama"
Setelah dokter pergi dan suster juga sudah keluar dari ruangan, Tafi dan orang tuanya masuk kedalam.
"Sayang?kamu kenapa?" sentuh mamah ke kepala menantunya itu.
Tsania masih terbaring lemas,bahkan matanya masih betah terpejam. Mamah ,papah terlihat sangat cemas apalagi melihat di sekitar Tsania tak ada anaknya yang mendampingi.
"Fi?kakakmu kemana?" tanya papah.
"Nggak tahu pah, mungkin sudah berangkat ke sekolah"
"Kabari dia ,biar dia pulang "
"Nggak usah pah, nanti kak Irul nggak bisa fokus mengajar pah. Biar Tafi aja yang menjaga mbak Tsan kalau mamah papah mau kembali kerja"
"Hey....ini klinik punya eyang kamu...! jadi kerja atau nggak kerja terserah mamah papah...." sahut mamah sewot dengan berurai air mata.
"Jangan marah donk mah jelek tau,kan Tafi cuma nyaranin. Ya siapa tahu pasien mamah lagi banyak butuh pertolongan mamah"
"Iya mah, betul kata Tafi. Papah tahu mamah khawatir tapi Tsania baik-baik saja kok. Pasien mamah juga kan banyak. Katanya ada banyak yang periksa kandungan hari ini?"
"Iya pah....hiks....hiks..."
"Di jaga baik-baik lo jangan di tinggal tidur" ujar mamah sebelum keluar ruangan bersama papah.
"Siap tuan Ratu...." Tafi mengangkat tangannya tanda hormat untuk menggoda mamahnya.
Setelah semua pergi Tafi duduk di sebelah Tsania yang terbaring lemah.
Wawa.... jangan khawatir sampai kapanpun aku akan selalu menjagamu. Tak akan ku biarkan sedikitpun kamu terluka . Akan ku pastikan kalau kamu selalu bahagia. Jika itu tak kau dapatkan percaya lah aku akan merebut mu dari tangan yang tak bertanggung jawab itu.
Tafi menatap paras ayu kakak iparnya dengan penuh iba, semalaman dia tak bisa tidur saat dengan sengaja mengikuti kakaknya itu membawa dengan paksa di bawah air hujan yang mengguyur bumi.
Apa yang di pikirkan terjadi pula. Rasa takut dan khawatir menimpa pada sang bidadari hatinya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?akankah Tsania bercerai?atau menerima kembali pak Zan?jika mengetahui rahasia besar itu?yuk jangan lupa di komen,like dan vote yuk.
**Duh...pasti menunggu momen ini kan?pasti banyak yang ngomel-ngomel sendiri kan melihat kelakuan pak Zan? sama kok author juga gitu. Harap sabar ya?ini terjadi karena 30% di kehidupan nyata seseorang jadi author harus bisa mengemasnya dengan apik. Makasih banyak ya atas dukungan kalian...love u all... tanpa kalian author nggak bisa lanjutkan ini novel.
__ADS_1
😘😘😘🤗🤗🤗**