
...Kamu memenuhi janjimu sebagai seorang suami, tapi aku belum yakin kamu adalah milikku, kamu terlalu sempurna untuk menjadi milikku....
...🌺Selamat membaca🌺...
Hari ini tidak terlalu siang untuk dikatakan waktu pulang sekolah, karena sekolah akan berakhir jam sebelas. Sekolahku memang bukan sekolah islami atau apa, tapi memang sudah peraturannya dari sananya kalau Jum'at berarti pulang lebih awal dan Sabtu libur.
Hehhh, beberapa kali aku harus menghela nafas karena sudah begitu lama duduk di depan sekolah.Â
Kruuuukkkkk
Bahkan perutku pun berbunyi, beberapa orang yang lengkap dengan sarung dan pecinya sedang berjalan ke arah seberang jalan. Di sana ada sebuah masjid besar, entah kenapa kakiku begitu berat untuk pergi. Aku ingin menunggu seseorang yang tadi pagi mengajakku pergi.
Penasaran,
Mungkin itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Aku penasaran dengan pak Ardi, ingin tahu tujuan pak Ardi akan mengajakku.
Rasa penasaranku mengalahkan rasa gengsiku.
Lapar .....
Sebuah kotak makan,
Ya ..., aku jadi teringat dengan kotak makan yang di berikan oleh pak Ardi tadi pagi saat akan memasuki kelas.
Flashback on
Kami memasuki halaman sekolah, aku sengaja turun dari motor pak Ardi tepat di depan gerbang. Lagi-lagi alasannya sama, aku tidak mau menjadi pusat perhatian. Pak Ardi pun memakluminya.
Aku berjalan cepat ke kelasku, walaupun masih ada lima menit sampai bel berbunyi, setidaknya membiasakan agar tidak terlambat jauh lebih bagus,
 Ha ha ha ....
Aku jadi malu sendiri mengatakan seperti itu, masih ingat kan catatan terlabatku selama enam bulan di terakhir, mungkin aku pencetak telat terbanyak.
Bukan cuma pak Ardi , bahkan guru BK lamaku juga mengatakan hal itu.
"Na!"
Seseorang sedang memanggilku dan aku hafal betul suara siapa itu, dengan cepat aku menoleh ke belakang.
"Pak Ardi!"
Pak Ardi menyodorkan sebuah kotak makan, aku ingat kotak makan itu adalah kotak makan yang sama yang ada di atas meja tadi. Aku pikir pak Ardi lupa tadi pagi menyerahkannya padaku.
Dengan cepat aku menoleh ke sekeliling dan benar saja, anak-anak satu kelasku sedang melihat ke arahku, memang belum semua yang datang tapi sembilan puluh persen sepertinya sudah cukup menjadi saksi.
"Tadi kamu meninggalkannya di ruangan saya! Lain kali kalau membawa sesuatu jangan suka di tinggal sembarangan!" ucap pak Ardi lagi, sepertinya pak Ardi cukup tahu dengan situasi yang tengah aku hadapi.
"Iya pak, terimakasih! Maaf merepotkan bapak!"
"Tidak pa pa, kebetulan saya juga mau ke UKS!"
Setelah kotak makan siang itu di tanganku, pak Ardi berlalu begitu saja seolah memang hanya ada hubungan guru dan murid.
Aku pun bergegas ke dalam kelas, seperti sebelumnya anak perempuan yang duduk di sampingku dengan begitu cantik menghampiriku.
"Kamu ngapain ke ruang BP?" tanyanya. Aku ingat sekarang namanya, dia Mila.
Aku harus mencari alasan supaya anak-anak satu sekolah tidak curiga.
"Sebenarnya aku mengumpulkan tugas dari pak Ardi!"
"Tugas apa?"
"Tugas untuk menulis 'saya berjanji tidak akan terlambat lagi' makanya saya sudah nggak terlambat lagi sekarang!"
"Ohhh! Tumben kamu sekarang bawa bekal?"
"Kebetulan saja, karena berangkatnya cepet jadi nggak sempat sarapan!"
"Oohhh! Yakin kamu nggak ada hubungan sama pak Ardi?"
"Hmmm!"
"Soalnya tatapan pak Ardi beda banget sama kamu."
"Itu cuma perasaan kamu aja kali, Mil."
Seperti hari sebelumnya dia pun kembali duduk dan tampa interaksi lagi, kami sepeti orang yang tidak saling kenal. Aku pun juga melakukan hal yang sama duduk tepat di depan meja guru.
Ku taruh tasku ke dalam laci mejaku, saat menunduk aku bisa melihat sepatu baruku, Ku gerak-gerakkan kakiku, tampak indah dengan sepatu baru ini. Begitu nyaman di pakai, pas lagi ukurannya dengan kakiku.
Kotak makan siang pun aku letakan di tempat yang sama dengan tasku. Sepertinya hari ini aku tidak akan kelaparan.
Flashback off
__ADS_1
Aku pun segera membuka kotak makan siang berwarna pink dengan tutup berwarna putih, berarti yang warna biru pak Ardi yang pegang.
Bibirku mengulum senyum saat melihat isi kotak makan siang itu.
Satu potong ayam goreng bagian paha lengkap dengan saus tomatnya.
Pak Ardi benar-benar menepati ucapannya, dia akan membawakan bekal makan siang untukku setiap hari.Â
Serasa diistimewakan ....
Perlahan aku memakan ayam goreng buatan pak Ardi sambil menunggu pak Ardi keluar dari masjid. Tapi setelah aku pikir-pikir kayaknya akan lebih baik jika pak Ardi keluarnya saat semua anak sudah pulang jadi aku tidak perlu mencari alasan lagi.
Entah sudah berapa lama aku duduk di pembatas taman kecil yang ada di pinggir jalan karena aku tidak punya jam tangan. Aku hanya memperkirakan saja mungkin sekitar satu jam, beberapa orang mulai keluar dari dalam masjid.
Mataku seakan tidak mau beralih dari halaman masjid, ingin melihat pria itu. Sudut bibirku tiba-tiba tertarik ke samping saat melihat pria dengan kemeja batik dan peci yang menghiasi kepalanya. Dia sedang menunduk memakai sepatunya bersama dengan jamaah lainnya.
Pak Ardi berdiri, tanpa sadar aku pun ikut berdiri dan melambaikan tanganku padanya. Pak Ardi tersenyum melihat kearahku, rasanya begitu senang.
"Na, kamu melambai pada siapa?"
Tanya seseorang yang entah sejak kapan berada di belakangku, dia Mila teman satu kelas ku.
"Kamu, kenapa kamu di sini?" tanyaku dengan sedikit panik.
"Aku mau pulang, lagi nunggu jemputan! Kamu melambai pada siapa?" tanyanya lagi sambil memperhatikan ke arah pak Ardi, "Jangan bilang ke pak Ardi?"
"Enggak! Sungguh ...., Aku sebenarnya tadi seperti melihat orang yang aku kenal, tapi sepertinya aku salah orang, dia bukan orang yang aku kenal!"
Kenapa selalu ada Mila, dia itu terlalu kepo menurutku. Dia kan juga anak populer di sekolah, ngapain juga ngurusin hidupku?
Pak Ardi terlihat menyeberang jalan, mungkin karena aku sedang bersama Mila jadi pak Ardi tidak menyapaku.
"Siang pak Ardi!" sapa Mila.
"Siang! Nunggu jemputan ya?" pak Ardi menyahut sapaan Mila. Aku hanya berdiri diam di belakang Mila, memang kalau guru setampan pak Ardi lebih cocok sama Mila, yang cantik, cedas, kaya, populer lagi.
"Iya pak, habis sholat Jum'at ya pak?"
Mila memang pandai mencari topik pembicaraan agar pak Ardi berhentinya lama.
"Iya! Takut nggak keburu kalau di rumah! Zanna juga nunggu jemputan ya?"
Hahhh, aku jelas terkejut dengan pertanyaan pak Ardi. Memang aku nungguin siapa kalau bukan dirinya.
"Zanna mana ada yang jemput pak, biasanya juga naik sepeda butut, iya kan Na?"
"I-iya!"
Ehhh, tapi kenapa juga aku kesal. Bukankah ini yang aku inginkan? Terbebas dari pernikahan dengan pak Ardi, jika pak Ardi menyukai Mila bukan tidak mungkin kan pak Ardi akan melepaskan aku.
"Pak Ardi rumahnya di mana sih? Kapan-kapan boleh ya pak main ke rumah bapak?" tanya Mila lagi.
Bisa gawat dong kalau sampai Mila bawa anak-anak lain buat main ke rumah pak Ardi, kan ada aku di sana. Mereka bisa curiga nanti, awas saja pak Ardi kalau sampai ngijinin mereka main. Ancamku dalam hati.
Hahhh, aku jadi cemas sendiri di buatnya.
"Kalau masalah itu nanti saya tanyakan sama istri saya ya, boleh atau tidaknya!"
Hahhhh ....., Pak Ardi bilang apa tadi? Tiba-tiba pendengaranku berkurang, dia bilang kalau sudah punya istri, rasanya aku begitu sulit menelan Saliva ku sendiri. Jangan sampai pak ardi mengatakan kalau aku istrinya, awas saja aku akan beri dia pelajara habis-habisan setelah ini. Aku sengaja memberi lirikan maut pada pak Ardi biar dia faham maksudku dan apa yang dia lakukan, dia malah tersenyum santai.
Sepertinya Mila tidak kalah terkejutnya denganku.
"Pak Ardi bohong ya, kemarin aku lihat di CV bapak, bapak belum menikah!" bantah Mila yang tidak terima. Ahhh ternyata ia sudah sejauh itu, sampai lihat CV segala lagi, aku malah nggak kepikiran.
"Kamu tahu CV saya dari mana?"
"Maaf pak, demi Allah saya nggak sengaja lihat kemarin!"
"Saya nggak suka sama orang yang mengumbar sumpah, lagi pula dosa sumpah atas nama Allah demi hal yang belum tentu kebenarannya."
"Maaf pak," tampak Mila menyesal, ia sampai menundukkan kepalanya.
Eh tapi ....
"Kapan pak nikahnya?" tanyanya lagi, ahhha aku hampir terkecoh.
"Saya tidak wajib menjawabnya kan?!"
Mila sepertinya sudah tidak punya kata-kata untuk membantah lagi, dia benar-benar kalah telak sekarang.
"Ya sudah ya, saya ke dalam dulu! Mau ngambil motor!"
Bahkan Mila hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah menerima kenyataan kalau orang yang sedang dia incar ternyata sudah menikah.
Setelah pak Ardi meninggalkan kami, tiba-tiba Mila terduduk di tepi taman yang tadi aku duduki.
__ADS_1
"Ahhhh, benar-benar nggak percaya! Pak Ardi sudah menikah, patah hati berjamaah dong!" keluh Mila sambil memegangi dadanya. Walaupun saat saat pelajaran agama aku kerap bolos tapi aku tahu makna berjamaah, yang artinya banyak orang.
"Memang siapa lagi yang suka sama pak Ardi?" tanyaku.
"Ihhh kamu ya, beneran nggak tahu ya. Seantero sekolah ini, semuanya berharap jadi gebetannya pak Ardi. Hahhhh, aku jadi iri sama istrinya. Memang siapa sih istrinya? Jadi penasaran."
Hahhhh .....
Rasanya pengen tertawa saat ini, bagaimana ya jadinya kalau dia tahu akulah istri pak Ardi. Baru kali ini aku bangga menjadi istri pak Ardi, ternyata posisiku saat ini sedang diminati banyak orang bahkan sekelas Mila yang notabene cewek paling populer di sekolah.
Tin tin tin
Sebuah mobil berhenti tepat di depan kami, alirku terangkat sebelah. Tidak mungkin itu pak Ardi.
"Papa ....!"
Mila tiba-tiba bangkit dan menghampiri mobil itu.
Ohhh jadi itu papanya Mila ...., Jadi selain cantik, populer, dia juga anak orang kaya, iri jadinya ....
Mila memeluk pria dengan pakaian rapi yang ada di dalam mobil itu, sepertinya dia sedang curhat sama papanya.
Papa yang baik, ahhh aku jadi teringat sama ayah. Biasanya aku juga melakukan hal yang sama sama ayah, aku bercerita banyak hal tentang sekolah, adik-adik dan masih banyak lagi.
"Dimana kamu, ayah? Aku merindukanmu." gumamku pekan, sebenarnya aku ingin menangis tapi malu.
Mobil itu meninggalkan ku sendiri, aku sekarang sendiri lagi. Bagaimana dengan Rara dan Riri ya? Apa tidak pa pa jika mereka pulang sendiri? Biasanya aku yang menjemputnya, mengantarnya ke sekolah, tapi pak Ardi bilang kalau mereka sudah aman.
"Sudah siap pulang?"
Pertanyaan seseorang mengagetkanku, pak Ardi sudah berdiri di sampingku.
"Pak, kapan datangnya?"
"Sudah dari tadi! Lagi mikirin apa?" mudah sekali ketebak, kelihatan banget ya kalau aku sedang berpikir, maksudnya kepikiran sesuatu.
"Rara sama Riri, pak! Sudah tiga hari ini aku tidak mengantarnya ke sekolah, bahkan tidak menjemputnya."
Pak Ardi malah tersenyum membuatku semakin kesal saja,
"Jangan khawatir, kan di rumah ibu ada mbok Nani, mbok Nani yang bertugas mengantar dan menjemput Rara sama Riri."
Ahhh yang benar saja, pak Ardi benar-benar tidak main-main. Dia menggantikan semua pekerjaanku pada orang lain.
"Lalu sekarang pekerjaanku apa dong? Jadi anak gagal jadi kakak pun gagal." keluhku, lebih tepatnya protes.
" Siapa bilang, tugas kamu sekarang hanya belajar dan ....!"
"Dan?" aku sampai memiringkan kepalaku penasaran.
"Dan melayani suami dengan baik."
Akhhh kata-kata itu membuat bulu kudukku berdiri semua, aku harus mengganti topik pembicaraan ini.
"Di mana motor pak Ardi?" tanyaku dengan cepat saat menyadari pak Ardi tidak dengan motornya.
"Itu!"
Pak Ardi menunjuk pada motornya yang sepertinya sengaja ia sembunyikan di balik pintu gerbang sekolah.
"Kenapa di situ?"
"Soalnya aku sedang menepati janjiku pada istriku!"
"Janji?"
"Ya janji untuk tidak menunjukkan kalau aku suaminya di depan umum! Terutama di sekolah!"
"Tapi kenapa tadi bapak bilang kalau sudah menikah?"
"Memang begitu kenyataannya, aku tidak mungkin berbohong kan!"
"Bohong dikit nggak pa pa pak!" protesku.
"Sedikit atau banyak, yang namanya bohong akan tetap bohong!"
Memang benar apa yang di katakan oleh pak Ardi, lagi pula juga apa salahnya. Jujur pun pak Ardi juga tidak mengatakan yang sebenarnya.Â
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...