
Malam yang dingin menusuk di sela-sela kulit membuat bulu kuduk merinding. Membuat semua yang berjiwa enggan untuk keluar dari sarang nya tapi berbeda dengan anak-anak remaja yang baru saja merayakan kelulusan itu mereka bersenang-senang membuat api unggun di taman hotel yang di sediakan karena hotel yang mereka inapi ini memang unsur ke alam jadi suasana sangat mendukung.
Bernyanyi bersorak gembira setelah seharian mereka asyik berbelanja ke kota Malioboro menikmati kota batik itu. Hanya sekedar menawar, melihat atau yang berduit bisa memborong pakaian alih-alih untuk oleh-oleh orang rumah. Ya yang terpenting mereka bahagia menikmati masa-masa indah dalam masa sekolah yang sudah berujung itu sebelum mereka melangkah lagi menjajaki dunia yang siap menerpa mereka.
"Kenapa lo Lan kok senyum-senyum sendiri? " tanya Tari teman sekelas Fulan.
"Nggak ada kok pokoknya senang aja" jawab Fulan mengembalikan ponselnya di saku celana jeans nya.
Malam ini dia begitu bahagia setelah sore tadi mendapat kabar bahwa Tsania menyusul ke Jogja. Setelah beberapa hari ini di Jogja dia merasakan kehampaan tanpa kehadiran sahabat sejatinya Tsania.
Sesekali dia mengecek ponselnya dan di taruh lagi ke saku tak ada balasan tak ada respon. Telpon sudah berkali-kali chat sudah berpuluh-puluh kali tak ada jawaban. Terkadang pikiran buruk melintas takut hanyalah prank semata. Tapi tidak tampaknya pak Zan tadi siang saat jalan-jalan ke Malioboro membuat nya yakin kalau Tsania benar-benar akan menyusul.
Panik, khawatir, takut, senang dan bahagia campur aduk jadi satu membuat malam yang bertaburan bintang itu mewarnai suasana hati Fulan. Di alam terbuka ini semua murid dan guru wali beserta keluarga menikmati pesta terakhir karena besuk sore sudah harus pulang lagi ke asalnya.
Rasa bahagia yang mewarnai setiap inci wajah semua jiwa yang berpesta hanya ada satu yang merasakan emosi yang meluap sejak tadi malam dia tak nampak batang hidung pak Zan. Ponsel yang dia sembunyikan juga telah di ambil dari tas nya. Dan malam ini pun sebagai malam terakhir pak Zan juga tak nampak.
"Awas kamu kalau ke ketemu akan ku buat kamu menyesal" gerutunya.
.
.
.
Di kemelut pesta yang meriah di tempat lain tepatnya di dalam kamar hotel dua sejoli yang tak kalah bahagianya itu lupa akan waktu, mereka mengistirahatkan raganya saat sore tadi memadu kasih dengan erotis nya. Gejolak pengantin baru yang baru saja dia nikmati membuatnya lelah dan usai sholat maghrib tadi mereka tertidur di atas kasur berpelukan mengukir keindahan mimpi.
"Ukh.... " aku menggeliat merasakan capek dan pegal-pegal di seluruh tubuhku. Setelah menyingkirkan tangan kekar pak Zan dari tubuhku.
Aku segera duduk dan menyandarkan pada sandaran kasur. Meraih ponsel di atas nakas dan membukanya. Jam menunjukkan pukul 21.00 malam. Aku tercengang ada banyak sekali telpon dan chat dari Fulan. Aku tahu pasti Fulan sangat panik dan khawatir.
"Sayang??? "
"Hemm"
"Bangun yuk udah jam 9 Fulan nyariin terus nih"
"Uhk.... " pak Zan menggeliat.
Pak Zan menggerakkan tangannya menyuruhku mendekat.
"Sudah malam sayang kasian Fulan nungguin kita"
__ADS_1
Pak Zan tak menghiraukan nya dia tetap menyuruh ku mendekat dengan tanpa suara.
Dengan kesal aku mendekatinya. Pak Zan mencium kening ku dan mendarat ke bibirku lama sekali meski aku tak membalas nya.Dengan jengah aku melepaskan ciuman itu.
"Sudah ya? nanti malam lagi sekarang kita ke acara malam puncak"
"Huh... masih kangen" pak Zan menarik ku dan memeluk dengan erat sekali.
"Iya sayang Tsania juga rindu kok dengan kakak" ku elus punggung nya menenangkan hatinya yang haus kasih sayang itu.
Dengan segera aku dan pak Zan menyusul ke acara malam puncak yang sudah di mulai dengan sambutan dari bapak kepala sekolah.
Semua mata memandang haru, kaget, seneng bahkan ada yang iri melihat kedatangan ku dan pak Zan yang tak hentinya memegang erat tanganku.Begitu mesra dan romantis tepatnya.
"Tsania... !!!" teriak semua teman-teman.
"Akhirnya kamu datang"
"Iya kamu kemana aja sih " semua teman-teman memelukku satu persatu meluapkan rasa rindunya. Aku bahagia mereka menyambut ku dengan girang.
Aku menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan belahan jiwaku yang tak nampak oleh mataku.
"Fulan mana ya? " bisik ku
"Kamu dari mana aja sih kok baru nongol aku khawatir tau... "
"Hehehe iya maaf yah? aku nyelesain masalahku dulu"
Hahaha masalah dengan pak Zan.. batinku
Aku terus terngiang dengan kejadian tadi sore yang begitu susah dilupakan. Rona pipiku semakin memerah seperti tomat saja. Menahan malu sekaligus bangga bisa membuat pak Zan klepek-klepek. Uh,sudahlah aku malu. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Kamu kenapa Tan? " Fulan menyadarkan ku dari lamunan indah ku. Saat semua sudah terfokus dengan sambutan patah dua patah kata dari pak Zan aku malahan terus teringat dengan aksi jailnya tadi sore.
Uh... gemesnya ingin ku cubit pipinya itu.
"Tan? " Fulan melambaikan tangannya di hadapanku yang sudah asyik dengan duniaku sendiri.
"Iya? "
"Ada apa? "
__ADS_1
"Nggak ada kok senang aja bisa kumpul kalian lagi meski hanya di malam terakhir sih"
"Iya ya sedih rasanya nanti bakalan lama gak ketemu " Fulan memelukku dengan manjanya.
Usai sambutan semua guru dan keluarga berkumpul di ruang terpisah memberikan waktu dan kesempatan pada murid-murid untuk menikmati hari akhir mereka di Jogja.
Aku segera bergabung dengan mereka yang sedang bernyanyi dengan gitar yang di mainkan oleh Toni. Di depan api unggun yang begitu menghangatkan meski hanya sedikit tak mengapa. Karena rasa dingin sudah kalah dengan rasa bahagia.
Semua bernyanyi bersorak di bawah taburan bintang yang ikut serta meriahkan acara malam ini. Angin sepoi yang menyejukkan membuat semakin dingin di suasana pesta alam. Lagu demi lagu terus di nyanyikan dan sesekali menikmati jagung bakar, bakso ataupun sosis bakar yang sengaja di beli tadi usai isyak di pinggir jalan untuk menemani malam pesta ini. Sungguh bahagianya... Terima kasih ya Allah ini sudah lebih dari cukup.
"Tan? " tanya Tari
"Hem... " jawabku menikmati jagung bakar yang pedas manis ini.
"Kamu sama pak Zan sudah jadian kan? "
aku menghentikan menikmati jagung bakar ku.
"Emang kenapa? " ku kerut kan kening ku tanda heran. Memang sih status ku sebagai istri pak Zan belum ada yang mengetahui hanya Fulan dan bu Mano yang tahu hal ini. Mereka banyak yang mengira aku dan pak Zan hanyalah jadian layaknya sepasang kekasih.
"Tadi habis dari toilet aku lihat pak Zan ngobrol berdua di belakang toilet wanita"
"Walah biasa itu ma kan mereka sahabatan" jawabku acuh melanjutkan memakan jagung bakar.
"Tapi tadi bu Mano menampar pak Zan lho? "
"Masak sih? "
"Iya, bu Mano kayaknya marah banget sama pak Zan"
"Eh, emang bu Mano juga ikutan ya liburan ke sini? " tanyaku yang baru menyadari tentang bu Mano.
"Iya dari awal dia juga ikut ke sini kok.Dan gosipnya mereka nginap satu kamar lho? soalnya ada yang melihat mereka masuk di satu kamar yang sama"
"Masak sih? "
"Iya, coba deh sana lihat mumpung mereka masih di sana"
"Ok makasih ya? " ku berikan jagung bakar sisa gigitan ku ke Tari dengan reflek.
Ku tarik tangan Fulan yang sedang asyik bernyanyi. Dia menyerocos tak hentinya menghujani ku pertanyaan yang bertubi-tubi, aku hanya diam menahan cemburu mendalam. Ku bungkam mulut Fulan dengan tanganku usai sampai di samping toilet wanita. Fulan setengah terperangah saat melihat apa yang di depan matanya. Aku dan Fulan Mengendap-endap agar tak diketahui keberadaannya untuk menyaksikan dan mendengarkan obrolan mereka.
__ADS_1
Di balik semak-semak terlihat jelas bu Mano memaki-maki pak Zan. Pak Zan memeluk bu Mano meski bu Mano meronta dia tetap memeluknya.
"Kalau sampai kamu ninggalin aku lagi aku gak akan tinggal diam hidupmu akan hancur...!! " ancam bu Mano melepaskan pelukannya. Dia pergi begitu saja meninggalkan pak Zan yang masih mematung menatap kepergian bu Mano.