
Setelah keluar rumah pak Zan langsung tancap gas pergi menemui Arnold yang sudah janjian dari tadi siang di sebuah cafe. Dalam perjalanan pikiran nya kalut dan bingung di sisi lain ia juga harus terus memberi dukungan pada Laili agar tidak frustasi demi keselamatan bayinya karena kata Dion Laili sangat stres.
Dan di sisi lain ia sangat tahu betul perasaan Tsania yang merasa cemburu dengan perlakuan nya terhadap Laili.Pak Zan sadar betul betapa kecewa dan sedihnya Tsania dengan sikapnya tapi ia sangat bingung karena permasalahan ini begitu rumit dan belum bisa cerita ke Tsania ataupun ibu mertua sebelum ia memastikan kebenaran nya.
Karena pak Zan sangat meragukan tentang permasalahan ini karena pak Zan yakin Arnold bukan lelaki sebejad itu. Tapi di sisi lain ia juga sangat percaya dengan perkataan Laili karena tak mungkin juga Laili berbohong.
Dinnn.....
"Woi.....!!! "
"Assatagfirullahaladzim....!!! "
Gedubrak.....
Pak Zan terjatuh dari motornya banyak orang berlarian menolongnya.
"Bapak nggak papa? " tanya seorang lelaki padanya.
Pak Zan masih duduk tersungkur di sebelah motornya.
"Pak.... pak... " pak Zan masih terdiam saat banyak orang melambaikan tangan di wajahnya.
"Pak? "
"Eh iya? " pak Zan tersadar saat seseorang yang lain menyentuh pundaknya.
"Bapak nggak pa-pa? "
Pak Zan mengecek tangan dan kakinya.
"Nggak apa-apa pak... terima kasih banyak ya bapak-bapak semua" pak Zan langsung menaiki motor nya saat motornya berhasil di berdiri kan oleh salah satu warga.
Tak henti-hentinya ia beristighfar saat menyadari ia hampir saja menabrak mobil dan ia berhasil menghindari nya hingga mengakibatkan ia menabrak pohon di pinggir jalan.
Setelah beberapa menit sampailah di cafe tempat ia janjian dengan Arnold.
"Assalamu'alaikum pak... " Arnold menyambut kedatangan pak Zan dan memeluk erat pak Zan.
"Waalaikumsalam... " pak Zan terduduk lemas.
"Kenapa pak kok pucat? bapak sakit? "
"Nggak Nold, bapak jatuh tadi"
"Astagfirullah... terus keadaan bapak gimana? apa perlu Arnold bawa ke rumah sakit? "
"Nggak Nold bapak nggak apa-apa kok cuma sedikit syok aja"
"Minum pak" Arnold menyodorkan air mineral pada pak Zan.
Pak Zan menarik nafas pelan dan membuangnya pelan-pelan.
__ADS_1
Ya Allah gara-gara mikirin masalah ini aku jadi kayak gini, Tsania.... maafin kakak... Batin pak Zan.
"Kamu gimana kabarnya Nold? "
"Alhamdulillah baik pak, bapak sama Tsania juga baik kan? "
"Alhamdulillah Nold semua baik bayi dalam kandungan juga baik. Emm.... Fulan gimana? "
"Alhamdulillah pak sudah di bawa pulang tinggal pemulihan. Nanti kalau sudah sehat Arnold baru berencana membuat resepsi pernikahan pak"
Pak Zan terdiam bingung mau memulai pembicaraan dari mana.
"Pak? apa ada masalah? sepertinya ada kepentingan yang sangat darurat hingga tiba-tiba bapak mengajak Arnold ketemuan "
"Iya Nold, sebelumnya maaf sekali bapak menanyakan ini? apa kamu mencintai Fulan dengan tulus? "
"Hahahaha... bapak itu bisa juga becanda nya"
"Nold, bapak nggak lagi bercanda lo, ini pertanyaan serius "
"Iya pak maaf, Arnold tahu kok bapak masih meragukan keputusan Arnold untuk menikahi Fulan tapi jujur pak, saya sangat mencintai Fulan dengan tulus bukan karena untuk pelarian agar cepat melupakan Tsania"
"Saya jatuh cinta pada Fulan karena Fulan salah satu teman yang selalu ada buat saya pak, dia yang selalu memotivasi Arnold di saat terpuruk kemarin pak, berkat dia saya bisa melalui semuanya"
"Maaf kan bapak ya Nold"
"Bapak nggak salah kok ini sudah takdir"
"Iya pak, bapak nggak usah mikirin yang lalu biarlah berlalu sekarang kita punya keluarga masing-masing dan saatnya kita bahagia dengan pasangan kita"
"Iya Nold, oh ya Nold kamu kenal Laili nggak adiknya Tsania? "
"Kenal pak, dia sudah saya anggap adik sendiri"
"Kamu sering komunikasi?"
"Sering sih pak dulu sekarang nggak pernah emang kenapa pak? "
"Emmm.... kamu tahu nggak kabar Laili sekarang? "
"Kurang tahu pak saya nggak berani hubungi dia lagi pak menjaga perasaan Fulan, lagian saya takut pak kalau terlalu dekat dengan Laili sepertinya dia berharap lebih pada saya"
Pak Zan semakin bingung dengan penjelasan Arnold seperti tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Laili.
"Apa Laili pernah cerita tentang pacarnya atau tentang kehidupan nya? "
"Emmm.... dulu sih pernah sempet cerita katanya dia juga baru aja di putusin pacarnya alasannya apa saya kurang tahu pak soalnya juga saya gak fokus sama dia waktu itu masih drop dengan keadaan saya sendiri"
Pak Zan terdiam dia semakin bingung dengan semua ini dia menerka-nerka sendiri.
"Emang kenapa dengan Laili pak? "
__ADS_1
"Dia hamil.... "
"Hah?yang bener pak? "
"Iya dia bilang kamu yang hamilin dia"
"Astagfirullah pak bukan saya, saya belum pernah melakukan perbuatan sekeji itu pak meski saya punya masa lalu yang pahit tapi saya tak pernah sedikitpun menodai seorang wanita manapun "
"Apa kamu bisa di percaya? "
"Demi Allah pak saya nggak menghamili dia menyentuh nya saja belum pak"
"Kata Laili kamu melakukan itu pas di hotel malam pernikahan bapak sama Tsania saat kamu drop itu"
"Astagfirullahalazim.... " Arnold terdiam
"Waktu itu saya memang khilaf pak hampir saja saya melakukan itu tapi wajah Tsania melintas dan saya sadar saya tidak jadi melakukan itu tapi Laili terus menggoda saya membuka bajunya tapi alhamdulillah saya berhasil menyuruh nya keluar dari kamar sebelum saya terhasut setan pak"
"Kamu punya bukti? "
"Tidak pak saya pikir Laili sedang putus cinta jadi ya sama-sama frustasi jadi saya tidak terlalu ambil pusing"
Pak Zan masih termangu dalam pikirannya dia bingung harus percaya dengan siapa keduanya sama-sama menyakinkan dan sama-sama seperti berbicara dengan apa adanya.
"Ok deh terima kasih banyak ya atas penjelasan nya dan terima kasih sudah meluangkan waktu buat ketemu bapak"
"Walah bapak bisa aja sih bapak kan sudah saya anggap kakak sendiri jangan sungkan jika ada perlu sesuatu pak"
"Iya Nold, maaf ya sudah malam Tsania sudah menunggu saya jadi bapak mohon ijin pulang dulu. Kamu mau pulang apa di sini dulu? "
"Iya pak saya mau di sini dulu masih ada urusan sebentar"
"Iya udah bapak pulang ya? kopinya sudah bapak bayar"
" Nggak usah pak nanti saya bayar aja lagian saya masih di sini kok"
"Udah nggak apa jarang-jarang kan bapak traktir kamu" pak Zan berdiri lalu mengelus punggung Arnold.
"Iya-iya pak makasih ya? " Arnold menarik tangan pak Zan dan menciumnya dengan takzim.
"Bapak pulang ya? kamu jaga baik-baik Fulan jangan sakiti dia dan semoga Fulan cepat membaik. Salam ya buat dia"
"Iya pak makasih banyak ya pak? " Arnold berdiri merangkul pak Zan dan pak Zan membalasnya.
"Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam... "
Pak Zan pulang dengan penuh PR dalam pikirannya ia semakin bingung harus percaya dengan siapa, otaknya bekerja lebih keras lagi mengusut permasalahan ini dengan tuntas.
Ia segera pulang ke rumah menjelaskan semua pada siang istri tercinta karena rupanya ia sudah tak bisa berpikir lagi ia sudah menemui jalan buntu semoga dengan bercerita pada Tsania ia bisa menemui titik terang.
__ADS_1
Bismillah kebenaran pasti akan segera terungkap....