
...Apa ini saat yang tepat hingga secepat ini kita di pertemukan? Apakah kata belum siap itu boleh aku ucapkan?...
...🌺🌺🌺...
Akhirnya kami sampai juga di sebuah kedai lalapan. Bukan tempat makan yang mewah, ya aku maklum sih pak Ardi hanya guru honorer yang berdasarkan gosip yang beredar gajinya hanya cukup untuk membeli bensin saja.
Tapi hp ku, apa iya itu akan di berikan padaku.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya membuat aku berpikir keras. Hanya ada puyuh goreng dan lele goreng dan aku tidak suka dua-duanya.
"Boleh aku tidak makan?" tanyaku dan pak Ardi mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
Dan dengan ragu aku menggelengkan kepalaku,
"Baiklah, ayo!" tiba-tiba pak Ardi berdiri dan mengambil tas kain lusuhku.
"Kemana?"
"Kita ke tempat lain, kamu suka mie ayam?"
Aku menganggukkan kepalaku, dan kami pun keluar dari kedai. Beruntung tepat di samping kedai ada kedai mie ayam.
Kami memesan dua mangkuk mie ayam. Tidak ada percakapan selama kami makan hingga akhirnya aku memulai bertanya.
"Pak,"
"Hmmm?"
"Hp ku_,"
"Oh iya, aku hampir lupa. Sebentar ya!" pak Ardi mengeluarkan ponsel baru itu, ia mengetikkan sebuah nomor dan melakukan panggilan.
"Itu nomorku." ucapnya sambil menunjukan nomornya yang baru ia ketik.
"Jadi ini untukku?"
"Iya,"
"Tapi_!"
"Anggap saja itu nafkah pertamaku sebagai calon suamimu."
__ADS_1
Sekali lagi aku di buat tertegun sambil menerima ponsel baru itu.
"Setelah ini ikut aku sebentar ya."
Tiba-tiba perasaan khawatir kembali muncul, sebentar lagi magrib dan pak Ardi masih mau mengajakku ke suatu tempat.
"Kemana?"
"Jangan khawatir, ibumu sudah mengijinkannya."
Curang, dia menyogok ibuku pasti. Tapi aku harus cari alasan kan agar pak Ardi tidak mengajakku.
"Tapi aku masih harus ke kedai paman Hari, pak. Maaf ya."
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana dulu."
Benar saja, pak Ardi mengantarku ke kedai paman Hari.
Bibi Nur terkejut melihat kedatanganku,
"Zanna, kenapa_?"
"Maaf Bi terlambat, tadi harus ambil hp dulu di counter!" dengan cepat aku memotongnya agar pak Ardi tidak curiga.
"Baik Bi!"
Segera ku gantung tasku dan melakukan seperti yang di minta bibi Nur.
Hingga hari sudah gelap, magrib sudah berlalu beberapa waktu lalu saatnya aku untuk pulang, aku pikir pak Ardi pasti sudah menyerah dan pulang, tapi ternyata aku salah dia masih menungguku di depan.
"Pak Ardi masih di sini?" tanyaku sedikit terkejut.
"Kan tadi aku sudah bilang akan jagain calon istri!"
"Pak Ardi jangan macam-macam deh, becandanya sudah mulai nggak lucu!"
"Siapa bilang aku becanda, aku serius! Kalau tidak percaya kita pulang sekarang!"
Baru kali ini aku menemui orang yang benar-benar gila. Seorang guru tiba-tiba melamar anak muridnya tanpa sebab.
"Aku pulang dulu bi, salam buat paman!" Ucapku sebelum pulang dan bibi yang ada di belakang hanya melambaikan tangannya.
"Kenapa pak Ardi masih ngikuti aku?" tanyaku lagi saat melihat pak Ardi tidak hentinya mengikuti kemanapun aku pergi. "Jangan membuatku takut, pak!"
__ADS_1
"Ayo naik!"
"Kalau aku nggak mau!"
"Kita jalan berdua! Sambil menuntun motor!"
"Nggak mau! Pak Ardi jangan bikin aku takut dong pak! Ini sudah gelap loh,bagaimana kalau orang liat nanti?"
"Memang wajah saya menyeramkan? Kita pernah berjalan berdua dalam kegelapan kan?"
"Kapan?" aku tengah berpikir keras,
"Tadi pagi,"
Ahh iya, bagaimana aku bisa lupa. Kemudian aku teringat sesuatu,
"Oh iya pak, bukannya bap Ardi tadi mau ambil sesuatu dulu?"
"Sudah ada di rumah kamu."
"Hahhh????"
"Naiklah, kita bicara di rumah!" ucap pak Ardi seolah memberitahu jawabannya nanti.
Walaupun ada rasa takut tapi sedikit rasa percaya bahwa pak Ardi orang baik membuatku tidak bisa menolaknya lagi.
Seperti sebelumnya walaupun kami berboncengan tapi Aku sama sekali tidak berani memegangnya, bahkan memegang bajunya.
Hingga akhirnya kami sampai juga di depan rumah.
Keningku berkerut saat aku melihat rumahku tidak sesepi seperti biasanya. Rumahku banyak orang.
"Pak ada apa?"
Rasa khawatir tiba-tiba menyelimutimu,
"Kita masuk ya!"
...Bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya ya, follow Ig aku juga ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1