
...Aku mungkin bukan orang yang sempurna, tapi aku begitu mendambakan pasangan yang sempurna. Bukan karena aku serakah tapi aku takut jika aku tidak bisa menjadi makluk yang di dirindukan oleh-Nya...
...🌺🌺🌺...
Benar saja, sepuluh menit saja dan pak Ardi sudah keluar bersama jamaah yang lain, sekali lagi rasa bersalah itu muncul seperti tengah menguliti kebohonganku. Seandainya saja bisa, aku ingin mengatakan sejujurnya tapi ternyata bibirku terlalu kelu untuk mengakuinya.
Ya sudahlah, lagi pula sudah berlalu ...
"Lama ya?" tanya pak Ardi dan aku kembali menggelengkan kepalaku.
Kami pun kembali menaiki motor, pak Ardi sepanjang jalan bertanya tentang posisi counter. Hanya butuh waktu sepuluh menit dalam akhirnya kami sampai juga di counter hp tempat aku memperbaiki hp bututku.
Aku segera turun dari motor dan menyerahkan helmku.
"Terimakasih ya pak!"
"Sama-sama!"
Aku pun memilih berlalu, tapi sepertinya ada yang aneh. Dengan cepat aku menoleh ke belakang, dan benar saja pak Ardi masih mengikutiku.
"Pak Ardi ngapain ikut?"
"Jagain calon istri!"
Deg
__ADS_1
Tiba-tiba aku merasa jantungku seperti terjatuh dari tempatnya. Apa coba maksud perkataannya? Kalau dia cuma pengen buat aku Ge Er dia benar-benar berhasil sekarang.
Usianya sudah 27 tahun dan aku masih anak ingusan yang bahkan belum pernah memikirkan pacaran seperti anak-anak lainnya. Mana ada waktu untuk itu. Usia kita terpaut hampir sepuluh tahun.
"Pak Ardi becandanya nggak lucu!" ucapku lalu berbalik dan hendak kembali melangkah.
"Memang aku terlihat becanda?" pertanyaan itu berhasil menghentikan langkahku. "Aku sudah menyiapkan semua pernikahan kita,"
Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku harus senang atau sedih. Sejenak aku berpikir, jika aku menikah dengan pak Ardi aku tidak perlu susah-susah memikirkan hidup, sudah ada yang menafkahiku.
Aku tidak mau terlalu memikirkan ucapan pak Ardi, buktinya kemarin dia saja tidak datang, mana mungkin dia serius, dia pasti hanya ingin menggertakku saja. Aku memilih untuk meninggalkan masuk ke dalam counter.
"Mas, hp aku udah jadi belum ya?" tanyaku pada pemilik counter.
"Enggaklah mas, masak nggak di ambil. Habis berapa mas?"
"Karena layarnya yang kenal. Jadi habisnya agak banyak."
Pasti gara-gara aku anak sekolah mas pemilik counter sampai nggak percaya kalau aku bisa bayar.
"Kalau di jual lagi laku berapa mas?" pertanyaan itu muncul pastilah bukan dariku, itu dari pak Ardi.
"Maksudnya mau di jual?" tanya mas pemilik counter.
"Enggak mas!" jawabku cepat sebelum pak Ardi mengacaukan semuanya.
__ADS_1
"Di jual saja sayang," ucap pak Ardi membuatku terbengong begitu juga dengan mas pemilik counter. Lihat seragam ku dan seragam pak Ardi, aku anak SMA dan dia seorang guru, bisa-bisanya mengatakan sayang di depan umum.
Ya ampuuuun, rasanya ingin tenggelam saja di dasar tanah sekarang.
"Dia calon istriku mas, maaf." ucap pak Ardi mencoba menjelaskan, memang apa gunanya.
"Ohhh, kalau di jual sekitar empat ratus ribu mas,"
Dan sekarang aku terdiam seperti kambing congek, siapa di sini pemilik hp dan pak Ardi malah sibuk bernego dengan hp ku.
"Baiklah, deal. Yang itu di jual saja dna tukar dengan yang baru saya tambah satu juta." ucap pak Ardi dengan entengnya dan aku ....
Kenapa aku bahkan tanpa perlawanan, bisa-bisanya aku hanya pasrah bahkan saat kami keluar dari counter.
"Aku lapar, kita makan dulu ya." ajaknya dan aku hanya mengangguk, sekali lagi tanpa perlawanan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1