My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
CERITA IBU


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Laili langsung di tangani dokter di IGD. Cemas dan takut menghantui ku. Aku takut tentang apa yang harus aku beritahukan pada ibu. Beliau pasti sangat shock , mendengar kabar ini.


Tapi mana mungkin aku sembunyikan ini semua dari ibu, jika pada akhirnya ibu harus tahu dan kecewa jika tidak di beritahu nanti.


Setelah beberapa menit di periksa, dokter keluar dan memberi keterangan jika Laili mengidap leukemia stadium 2. Hal yang mengejutkan dan membuat ku lemas tak berdaya.


Sudah berapa lama kamu menyembunyikan ini semua Lel? kenapa kamu tidak pernah cerita kalau kamu sakit.hik...hiks...maafin mbak ya Lel...


Fulan menenangkan hatiku, apalagi aku dalam keadaan hamil kondisi ku sangat lemah. Arnold membelikan ku makan dan Fulan menyuapi ku.


Setelah berkonsultasi dengan dokter Laili sudah bisa di bawa pulang dan menjadwalkan minggu depan untuk kemoterapi.


Laili masih diam tampak pucat dan sayu, aku berusaha tegar dan ceria di hadapannya meski hati dan kondisiku sedang tidak baik-baik saja.


Arnold dan Fulan mengantarkan pulang ke rumah ibu. Aku sudah menyiapkan semua kata-kata untuk ku jelaskan pada ibu nantinya.


"Masih pusing Lel?" dia menggeleng. Aku masih belum berani bertanya macam-macam takut menyakiti hatinya.


"Cari makan dulu ya?kamu belum makan kan?"


"Nggak usah mbak,masih kenyang"


"Eh, kali ini kamu harus nurut mbak. Kamu lagi hamil jadi harus banyak makan kasian bayi kamu"


"Tapi mbak, aku pingin kak Irul ada di sini. Aku pingin di suapi kak Irul" rengek Laili meneteskan air mata. Arnold dan Fulan menengok ke kursi belakang saking tidak percaya tentang apa yang mereka dengar.


Hatiku memang sakit tapi berusaha ku tutupi.


"Iya kamu pulang dulu ya? nanti kak Irul nyusul kan dia bawa motor?"


"Janji ya mbak?"


"Iya" ku peluk Laili dan ku elus kepalanya. Rambut yang indah terurai panjang kini tampak kucel tak terawat dan saat ku sisir dengan tanganku sudah banyak yang rontok. Air mataku jatuh meski harus ku usap segera. Sakit, tapi aku harus kuat demi kesembuhan Laili.


Sampai di rumah, ibu menyambut kita semua dengan bahagia. Beliau nggak pernah menyangka jika Laili akhirnya mau pulang dan tinggal di rumah ibu lagi. Dan ternyata sebelum nya ibu telah melarang pak Zan membawa Laili pergi tapi keputusan Laili dan pak Zan bulat dan akhirnya meninggalkan rumah ibu.


Laili aku antar masuk kamar untuk istirahat setelah usai makan dan minum obat.

__ADS_1


Aku duduk bersama ibu,Toni, Fulan dan Arnold. Bercerita panjang lebar tentang pernikahan Fulan dan Arnold. Ibu turut bahagia atas pernikahan mereka yang sebentar lagi akan menjalankan resepsi.


Aku sengaja mengganti topik dulu agar ibu bisa lebih tenang dan rileks jika mendengar berita ini.


"Nak Fulan bahagia ya nak?semoga pernikahan kalian sakinah ,mawadah dan warahmah"


"Aamiin....makasih ya bu" Arnold merangkul ibu dari samping tampak begitu akrab,itu hal yang selalu di inginkan Arnold dari dulu yaitu dekat dengan ibuku.


Arnold lelaki penyayang yang dekat dengan orang tua.


Sekarang keinginan kamu terwujud ya Nold, meski sekarang keadaan nya berbeda.


Tatap ku pada Arnold yang sangat bahagia melihat pemandangan itu.


"Nak Arnold,jaga dan sayangi dengan tulus ya, nak Fulan?tetap bersama meski badai menghadang. Jangan sampai kalian lupa akan tanggung jawab masing-masing. Karena sejatinya menikah bukan hanya untuk menikmati kesenangan saja. Tapi menghadapi suka duka bersama sampai maut memisahkan"


"Iya bu, InsyaAllah. Terima kasih atas doanya" ibu yang sejatinya sangat kenal dengan Fulan begitu tampak bahagia yang melihat mereka bahagia. Ibu tersenyum sumringah di apit Fulan dan Arnold.


Aku dan Toni duduk berdampingan saling tukar pandang dan melempar senyum.


"Waktunya mbak cerita semua ke ibu mbak, aku percaya mbak wanita kuat" bisik Toni. Adik lelaki ku yang hebat sudah dewasa sebelum waktunya. Berdiri tegak melindungi dan mengayomi kita para wanita-wanita.


Ku tarik nafasku dengan sangat berat.


"Bu?" aku bangun dari sandaran ku.


"Iya Tsan?" ibu langsung memandangi ku setelah sedikit bercanda ria dengan Arnold dan Fulan.


"Tsania kepingin cerita tapi ibu harus janji dulu. Ibu nggak boleh nangis, ibu nggak boleh sedih, dan ibu nggak boleh marah. Janji ya?"


"Iya Tsan, InsyaAllah ibu janji" jawab ibu dengan senyum kedamaian.


Aku menceritakan semua tentang Laili yang sudah menikah dengan pak Zan dan tentang penyakit Laili yang sudah di stadium 2. Semua sudah ku ceritakan hanya saja ibu tak ku beritahu tentang pak Zan yang berubah, tak seperti dulu terhadap ku. Aku tak menghiraukan perasaan ku.


Ibu tersenyum dan menyuruh ku duduk di sampingnya. Arnold berdiri pindah duduk di sebelah Toni.


Ibu memeluk ku. Aku bangga pada ibu tak ada sedikitpun terlihat raut wajah untuk marah ,kecewa atau ingin menangis.

__ADS_1


Aku bangga padamu bu, wanita hebat,wanita kuat yang pernah aku miliki. Sampai kapanpun aku selalu bangga bu jadi anakmu. Engkau yang selalu pandai menyimpan air matamu di depan anak-anak mu.


Teringat dulu waktu kematian ayah ibu orang yang paling kuat tak sedikitpun ia meneteskan air mata di hadapan semua orang. Tapi aku tahu di waktu malam tiba di saat semua orang terlelap aku tak sengaja melihat ibu terisak tangis mengadu pada sang Pencipta.


Aku banyak belajar dari ibu, bagaimana harus menjadi wanita yang kuat dan hebat.


"Tsania Marwa anak sulung ibu yang paling kuat,yang selalu pengertian dengan adik-adikmu. Terima kasih ya nak, kamu anak baik, sabar. Selalu mengalah demi adik-adikmu" ibu mengelus kepalaku dan mengecup keningku.


"Maafin ibu ya?ibumu yang egois ini yang menjadi sumber masalah ini"


Aku mendongak menatap ibu.


"Ibu ngomong apa sih?Tsania nggak suka bu, kalau ibu ngomong gitu" ibu memeluk ku.


"Sebenarnya ibu sudah tahu semuanya tentang penyakit Laili, tentang nak Irul menikah secara agama dengan adikmu. Ibu tahu semua nak, maafin ibu, ibu tidak bisa mencegah kejadian ini" ibu tetap tegar tanpa air mata yang menetes. Hatiku semakin berdenyut mendengar ucapan ibu. Ibu yang selalu pandai menyimpan rahasia ,ibu yang selalu pandai menyimpan kesedihan nya.


"Atas nama adikmu, ibu minta maaf atas perilaku adikmu ya?"


"Ibu tahu dari mana?" tanyaku menahan tangis.


"Soal pernikahan itu, tanpa sengaja ibu mendengar sendiri percakapan Laili dan nak Irul. Ibu marah dan kecewa saat itu tapi Laili dan nak Irul menjelaskan pada ibu kalau ini hanya sementara dan tidak akan bertahan lama hanya sampai Laili melahirkan saja. Tiap hari ibu sering bertengkar dengan Laili dan pada akhirnya mereka pergi dari rumah nak"


"Ibu merasa gagal menjadi ibu yang baik, ibu merasa gagal mendidik kalian. Maafin ibu ya nak?ibu harap kamu bisa kuat dan sabar"


"Ibu...." ku peluk ibu saat hatiku semakin remuk.


"Sekarang terserah kamu nak, ibu nggak akan memaksa lagi apapun keputusan kamu nantinya ibu akan mendukung"


Ibu mengelus punggungku.


"Tsania ikhlas bu, jika saat ini harus berbagi cahaya rembulan dengan Laili. Jika itu akan membuat Laili sembuh. Tapi setelah si jabang bayi ini nanti lahir Tsania akan pikirkan lagi"


"Iya nak, ibu tahu. Kita doakan dan rawat Laili sama-sama ya?"


Aku mengangguk dan ibu mencium kening ku.


Ayah,anak kesayangan mu ini hebat sekali....dia persis sekali dengan kamu...terima kasih ya yah, sudah mendidik anakmu ini dengan baik..... InsyaAllah ibu kuat yah,....Ibu.

__ADS_1


__ADS_2