My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
MENGUAK MASA LALU


__ADS_3

Setelah sampai di klinik Tafi ikut papah yang entah kemana aku tak tahu. Dan aku mengekor mamah duduk di sampingnya menemani setiap ada pasien terutama para ibu-ibu yang memeriksa kan kandungan nya.


Aku diam memperhatikan setiap pasien yang keluar masuk. Ada berbagai macam keluhan dan reaksi.Di bantu seorang perawat mamah dengan lemah lembut memeriksa mereka.


Tepat pukul 11 sudah selesai dan mamah mencuci tangannya setelah itu mengajakku ke kantin untuk beristirahat sejenak.


"Capek yah mah? "


"Iya tapi mamah seneng Tan, soalnya ini sudah menjadi hobi mamah menolong orang sakit apalagi wanita hamil" jawab mamah sambil menyeruput jahe hangat. Minuman kesukaan mamah. Kata pak Zan mamah sering minum itu untuk daya tahan tubuhnya yang sudah semakin menua.


"Segala sesuatu yang di dasari dengan cinta secapek apapun akan terasa ringan dan bahagia Tan, maka dari itu lakukan apapun yang kamu mau dengan rasa cinta" imbuhnya.


Aku hanya mengangguk dan menyeruput teh hangat.Entah mengapa akhir-akhir ini jadi kepingin minum yang hangat-hangat.


"Maka dari itu maafin mamah yah, mamah sudah marah sama kamu, sudah kecewa sama kamu. Mamah sadar mamah tidak bisa memaksakan kehendak kamu"


"Mamah.... " ku sentuh tangan mamah dan mamah membalas mengelusnya.


"Kemarin Tafi sudah menceritakan semua ke mamah"


"Apa itu ma? "


"Pertama ya menyadarkan mamah tentang kamu. Tentang keinginan kamu yang juga suka dengan bisnis"


"Tafi tahu dari mana yah mah? aku aja gak pernah cerita-cerita ke siapapun kecuali kak Irul"


"Mungkin mas Irul sudah cerita ke dia"


"Kemarin dia cerita panjang lebar tentang kamu, dari situ mamah sadar bahwa mamah nggak bisa memaksakan kehendak mamah. Tapi dari semua cerita Tafi ada sesuatu yang membuat mamah mengganjal"


"Apa mah? "


"Mamah tahu selama ini Tafi nggak pernah pacaran cuma kalau dekat banyak.Tapi tak ada satupun yang ia pacari. Dia selalu setia dengan ucapan nya. Dari TK sampai sekarang pun masih sama. Menunggu putri kecilnya"


"Kamu tahu ini siapa? " mamah menunjukkan ku selembar foto.Di sana terpampang jelas ada gambar tiga anak kecil memakai seragam TK. Ada dua anak laki dan satu anak perempuan.


Aku memerhatikan setiap inti foto itu seperti mengenali wajah gadis kecil itu.


"Mah, Tsania juga punya foto ini di rumah. Di foto album keluarga ada foto ini. Kata ibu itu foto Tsania waktu TK dan ini kedua sahabat Tsania waktu kecil. Si kembar namanya karena ibu lupa nama mereka" jelas ku yang mulai mengenali foto itu.


"Ingatan Tafi kuat banget yah"


Keningku mengerut entah apa yang di maksud mamah.


"Dulu waktu TK Tafi dekat sekali dengan gadis itu sampai bilang kalau Tafi mau gadis itu di jadiin pacarnya katanya waktu itu. Hingga dua tahun kemudian gadis itu tiba-tiba datang ke rumah mengantarkan Mas Irul yang depresi nya kumat saat itu"


"Tafi nggak pangling dia senang banget bisa ketemu temannya itu. Karena sejak lulus TK dia sudah tidak bertemu lagi dengan gadis itu"


"Terus mah? "


"Setiap hari gadis itu selalu datang menemui mas Irul. Selalu menanyakan keadaan nya. Entah mengapa kalau ada gadis itu mas Irul jadi sembuh hingga saat ini tak pernah kambuh lagi. Hingga dia pernah nyeletuk kalau besar nanti ingin menikahi gadis itu. Tapi Tafi marah dia merasa gadis itu adalah miliknya. Hingga mas Irul bilang kalau dia menyuruh membuktikan jika suatu saat nanti omongan mas Irul akan menjadi kenyataan. Yah namanya juga anak-anak. Mamah nggak pernah menganggap nya serius tapi kenyataan nya sekarang menjadi nyata"


Aku semakin berpikir keras siapa yang di maksud mamah tentang gadis itu?.

__ADS_1


"Kamu tahu siapa gadis itu? "


Aku menggeleng.


"Gadis itu Wawa"


Deg.... hatiku sedikit bergetar mendengar nama itu. Karena itu nama panggilan kesayangan bapak.


"Tsania Marwa. Gadis itu adalah kamu Tan? "


"Uhuk.... uhuk... mamah bilang apa? "


"Iya gadis yang menjadi rebutan mas Irul dan Tafi itu adalah kamu"


Aku hanya diam dalam hening masih bingung harus bagaimana karena ini dalam situasi yang sangat tidak enak. Di sisi lain aku sangat senang dengan perhatian Tafi karena mengingat kan pada Toni. Tapi di sisi lain ada maksud dari perhatian itu lebihnya jika pak Zan tahu.... Hah... aku mengingat sesuatu.


"Mah? "


"Iya sayang"


"Apa sebenarnya kak Irul sudah tahu? hingga dia cemburu buta sekali kemarin"


"Maksud kamu apa sayang? "


"Semalam kakak marah sama Tsania setelah kemarin melihat caption dari Tafi"


"Sayang, mamah mohon maaf yah atas tindakan mas Irul jika melampaui batas. Dia kalau sudah sayang dengan seseorang akan lebih posesif seperti itu tak mandang bulu. Masalah Tafi nanti mamah akan beritahu dia pelan-pelan. Mamah tahu hati Tafi pasti juga terluka setelah mengetahui kenyataan tentang kamu"


"Iya mah"


"Aamiin mah... "


"Yuk kita pulang "


"Loh kok cepat banget mah? "


"Ini kan hari sabtu sayang, jadi mamah cuma setengah hari aja. Mamah sudah tua sayang di sini masih banyak yang muda-muda" mamah mengelus pipiku dan menggandengku.


Mengekor mamah lagi entah kemana. Katanya sih mencari ruangan papah. So pasti akan ketemu Tafi.


Tok... tok...


"Pah?! "


"Iya masuk mah..."


Aku dan mamah masuk kedalam ruangan papah. Di sana ada Tafi yang sedang membaca-baca buku.


"Kamu sudah selesai mah? "


"Udah pah, hari ini mamah mau belanja buat keperluan puasa besuk pah"


"Biar Tafi yang antar yah? papah masih sibuk nih"

__ADS_1


"Ok deh... yuk dek... "


"Iya mah"


Setelah itu mobil di kendarai Tafi meluncur ke sebuah supermarket. Di sana mamah dan Tafi langsung masuk. Tapi aku mohon ijin mau ke apotek mohon ijin mau beli keperluan.


.


.


.


.


.


Sementara itu di rumah pak Zan. Dengan sedikit pincang dia duduk di ruang tamu. Karena sejak pagi banyak anak-anak berpakaian putih abu-abu mendaftarkan ulang, karena hari ini dia tidak bisa berangkat ke sekolah dan hingga akhirnya dia menyuruh murid-murid berkepentingan untuk datang ke rumah.


Dan setelah sekian lama semua sudah selesai murid-murid sudah tidak ada yang datang lagi. Saat mau membereskan buku-buku dan map ada datang lagi seorang murid.


"Assalamu'alaikum... pagi pak"


"Waalaikumsalam... " pak Zan sangat kaget melihat penampilan murid itu yang begitu ketat pakaian nya dan roknya di atas lutut. Jantung nya berdebar naluri lelaki nya keluar. Tapi dengan pikiran yang tenang dia bisa menguasai itu.


"Silahkan duduk, apa kamu murid SMA XXX? "


"Iya pak, masak lupa sih pak sama saya? "


"Setahu saya anak-anak SMA XXX tidak ada yang berpenampilan seperti ini. Kurang bahan, lain kali kalau kesini pakai baju yang sopan"


"Berarti lain kali boleh ke sini lagi ya pak? "


"Bisa sopan tidak. Kamu anak kelas berapa bisa senekat ini? "


"Saya Kartika pak anak kelas 11 IS 2"


"Kartika? murid yang paling kalem, paling lugu. Kenapa kamu bisa berubah begini? belum ada sebulan nggak ketemu kenapa bisa berubah drastis begini? "


"Habisnya bapak itu kalau sama Kartika cuek, Kartika kan sayang sama bapak. Bapak mau kan jadi pacar saya? " ucap Kartika mendekati pak Zan.


"Eh mau apa kamu? yang sopan ya kamu"


Tapi gadis itu semakin meradang ketika pak Zan menegurnya. Malahan gadis itu membuka kancing bajunya.


"Hei istighfar kamu... !!! "


"Pak.... saya rela di hamili bapak kok asalkan bapak menjadi pacar saya" ucap gadis itu dan hendak memeluk pak Zan.


"Mbak Ning...!!! tolong mbak...!!! "


Dengan segera mbak Ning datang dan membantu pak Zan pergi dari ruang tamu. Kini tinggallah gadis itu sendiri di ruang tamu bersama mbak Ning.


"Mbak? kamu salah kalau berbuat begitu. Mas Qairul Fauzan itu sudah punya istri. Cantik pula, lemah lembut dan anggun karena berhijab. Sekarang rapikan baju mbak dan silahkan pulang"

__ADS_1


"Hiks... hiks... " gadis itu malahan menangis tak bergeming dari sofa. Bajunya masih terbuka dia menunduk terisak tangis.


Mbak Ning meninggalkan gadis itu karena merasa jengkel sendiri.


__ADS_2