My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
Aku tidak sholat!


__ADS_3

...Sesuatu yang berat bisa menjadi ringan saat kita melakukanya demi orang yang paling kita cintai, bahkan air mata pun bisa menjadi penawar hati yang luka....


...🌺Selamat membaca🌺...


Hahhh,


Ini sudah ke sekian kalinya aku menghela nafas, sebenarnya ingin pulang sendiri tapi kalau naik angkot uangnya sayang. Kalau mau jalan kaki juga jauh. Pak Ardi juga tidak kelihatan batang hidungnya. Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu di pinggir jalan yang mataharinya seperti sengaja menertawakan ku.


Dia yang menawariku tapi dia juga yang terlambat. Apa aku yang terlalu berharap omongannya adalah sebuah keseriusan? Entahlah, tapi aku tidak suka jika semuanya bohong.


"Sebenarnya apa sih yang dia lakukan? Tau gini mending tadi nggak terima tawarannya buat bareng kalau begini kan jadi repot sendiri!" gerutuku, uangku kan untuk mengambil ponselku yang masih di perbaiki di counter hp.


Aku pun memutuskan untuk mulai berjalan, mungkin hanya empat puluh lima menit kalau jalan. Lagipula aku juga bisa langsung mampir ke counter untuk mengambil hp ku.


Seharusnya bukan masalah untuk berjalan karena aku sudah terlalu terbiasa jalan kaki. Tapi entahlah apa yang membuatku kesal, aku merasa terabaikan, merasa terhianati.


Baru juga beberapa meter aku berjalan, tiba-tiba sebuah motor berhenti di sampingku. Itu pak Ardi, harusnya aku senang atau aku marah? Bagaimana aku harus bersikap sekarang.


"Mau olah raga siang-siang?" pertanyaan itu berhasil membuatku kesal. Sudah tahu dia yang salah masih sengaja menggodaku. Dari nada bicaranya aku tahu kalau pak Ardi tengah menggodaku.


Bahkan kini dia tidak berniat turun dari motor maticnya, aku pun menatapnya kesal.


"Pak Ardi sengaja ya?" tanyaku dengan kesal.


"Iya," jawabnya dengan begitu enteng, ingin rasanya mencakar wajah tampannya itu.


Aku pun yang sudah kesal memilih kembali berjalan, tapi tanganku segera di raihnya hingga membuat langkahku tertahan.


"Apa lagi pak? Lepas enggak! Ini nggak halal." ucapku menirukan gaya bicaranya saat aku menyentuhnya.


"Maaf maaf!" pak Ardi segera melepas tanganku,


"Tadi ada rapat dadakan. Ini pun aku pulang ijin duluan!"


"Ya sudah sana kembali lagi aja ke sekolah, lagi pula aku juga ada perlu lain, jadi nggak usah di antar!"

__ADS_1


"Mau ke mana?"


"Bukan urusan pak Ardi,"


"Ayolah, aku kan sudah minta maaf tadi,"


Kasihan melihat wajah tampannya memohon, hehhhh mudah sekali aku terpengaruh,


"Ke counter hp." jawabku singkat.


"Sudah ayo naik, nggak usah ngambek tambah jelek! Aku antar,"


Ya ampunnnnn, dia benar-benar ya. Masak mau ngantar tapi pakek ngeledek sih.


Seperti tadi pagi pak Ardi menyerahkan helm cadangannya dan segera ku pakai. Benar-benar tidak singkron nih otak sama hati, bisa-bisanya di kala otakku menolak tapi hatiku malah menerimanya dengan lapang dada. Konsep dari nama ini?


"Nggak mau pegangan nih?" Tanya pak Ardi yang memang sedari pagi tadi aku memilih untuk tidak pegangan. Lebih baik tidak pegangan dari pada kena gap sama anak-anak lain di jalan. Masalahnya bisa semakin serius.


"Bukan muhrim pak!"


Aku tahu itu adalah sebuah sindiran Karena kejadian tadi pagi.


"Kebetulan aja pak!" 


"Gimana lamaranku, sudah siap jadi mahram saya?"


Hehhhh, masih ingat aja, aku kira sudah lupa .....


Pak Ardi sepertinya benar-benar serius. Tapi untuk apa? Atau jangan-jangan pak Ardi ini saja satu sindikat penjualan manusia dan ayahku ....


Tidak .....


Tidak mungkin seperti itu, pak Ardi jelas orang baik.


Entah kenapa aku jadi parno sendiri, bukan apa-apa cuma masalahnya aku bukan siswa yang cantik, aku juga tidak pintar. Lalu apa yang bisa di lihat dariku, kalau bukan kemiskinan ku.

__ADS_1


Hingga sampai di depan masjid motor pak Ardi berhenti,


"Kenapa berhenti pak?" tanyaku terkejut.


"Itu ada panggilan,"


"Panggilan apa?"


"Panggilan buat menghadap Allah, waktunya sholat ashar. Ayo turun."


Aku pun terpaksa ikit turun,


"Ayo!" ajak pak Ardi lagi setelah melepas helmnya.


"Aku di sini aja deh pak,"


Pak Ardi tampak mengerutkan keningnya,


"Kenapa? Lagi ada tamu?" tanyanya dan aku mengangukkan kepalaku ragu.


"Baiklah, tunggu ya. Aku cuma sebentar."


Sekali lagi aku hanya mengangukkan kepalaku ragu sambil menatap kepergian pak Ardi.


Entah kenapa rasanya berdosa sekali saat mengaku jika tengah halangan karena nyatanya aku tidak. Aku hanya khawatir, aku tidak bisa. Maksudnya aku takut jika aku lupa caranya sholat. Masih ingat sekali, terakhir kali aku sholat saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar itupun karena guru mengajiku. Sehari hanya sholat dua kali, sedangkan seingatku sebanyak lima kali.


Ibu? Ibuku sholat, tapi dia tidak pernah mempermasalahkan aku sholat atau tidak. Ibu juga tidak pernah sholat berjamaah setahuku.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2