My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
BERUSAHA SABAR


__ADS_3

"Assalamualaikum...!!!" teriak Fulan naik ke lantai atas dengan menggandeng lengan Toni.


"Sayang....? "


"Huuussst...." Arnold menempelkan jari di bibirnya.


"Kenapa?" bisik Fulan dengan jalan mengendap.


"Tsania tidur" jawab Arnold setengah berbisik.


Fulan langsung duduk di samping Tsania dan Toni di sebelah Arnold.


"Kecapaian paling dia , tiba-tiba udah tidur gitu" jelas Arnold pada Fulan yang sedari tadi di cuekin Tsania saat ngobrol tadi.


"Laper juga paling dia yang?"


"Nggak tahu iya paling" jawab singkat Arnold. Jauh dalam hati Arnold ingin rasanya membopong Tsania masuk kedalam kamar agar bisa istirahat dengan nyaman.


"Tadi beli apa sayang?" Fulan menyodorkan rujak,cilok,es cendol dan aneka cemilan lainnya.


"Kita makan yuk?"


"Ijin ke kamar kecil dulu ya?"


"Iya Ton,nanti langsung makan ya?"


"Iya siap mbak"


Sebelum makan Fulan turun ke lantai bawah mengambil cendok dan gelas yang sudah ia persiapkan di dapur toko.


Tinggal Arnold yang asyik dengan ponselnya dan sesekali melirik Tsania yang masih pulas dalam buaian mimpi nya. Dan dengan sigap Arnold berlari menuju Tsania yang mau terjatuh dari sofa dia memberikan punggung nya untuk sandaran Tsania.


Fulan naik ke atas dan belum sempat ia bertanya Arnold sudah menjelaskan dengan detail.


"Maaf ya sayang?tadi Tsania mau jatuh jadi aku takut dia ambruk aku reflek ngasih punggung aku" jelas Arnold memegang erat tangan Fulan.


"Udah nggak apa sayang, lagian dia sahabat ku dan sudah kamu anggap adik sendiri kan?aku lebih senang kalau kamu juga ikut menjaga Tsania lagian juga dia lagi hamil"


"Makasih ya sayang?kamu emang baik banget " Arnold mencium tangan Fulan dengan lembut.


"Yuk kita makan..." ajak Toni keluar dari toilet.


"Tapi Tsania masih tidur"


"Udah gak apa di bangunin aja lagian juga udah sore nggak baik kan kalau tidur sore-sore" jelas Toni.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...wuah pak Zan sini-sini kita makan sama-sama"


"Iya " pak Zan menaiki tangga dengan cepat buru-buru dengan sedikit gurat wajah yang berbeda.


Keningnya mengkerut melihat pemandangan yang tak biasa itu.


"Kamu kok diam aja sih Lan, lihat suami kamu deket sama mantannya?" ketus pak Zan.

__ADS_1


"Nggak pak bukan gitu,tadi Tsania hampir jatuh lalu reflek Arnold nolongin"


"Alasan aja itu mah"


Arnold langsung berdiri dengan sedikit menahan amarahnya.


"Aduh..." Tsania terjatuh di sofa yang sedari tadi tidur dengan bersandar di sofa.


Pak Zan langsung duduk di samping Tsania memeluk Tsania.


"Mana yang sakit sayang?"


"Kakak?" ku kucek mataku memastikan apa yang aku lihat benar adanya.


Ku peluk dengan erat perut pak Zan.


"Jangan pergi lagi aku nggak mau kakak berduaan sama Laili lagi" isak ku.


Semua memandang ke arahku dan pak Zan.


"Yuk makan yuk..." ajak Toni mencairkan suasana.


"Eh..." aku tersadar dan langsung melepaskan pelukan ku.


Semua makan dengan pilihan masing-masing karena di meja tertera berbagai banyak makanan.


Aku masih terdiam belum begitu sadar dengan keadaan karena terlihat jelas pak Zan tidak nyaman berada disini apalagi melihat Arnold yang semakin mesra dengan Fulan,karena sesekali menyuapi Fulan kadang juga mengelap bibirnya yang belepotan.


Perlahan aku mengingat semua yang ku alami tadi, kejadian tadi pagi ,pak Zan yang marah, dia pergi bersama Laili dan kecemburuan nya dia.


Aku ingat semuanya sampai terbawa dalam mimpi, tadi pak Zan meninggalkan ku pergi dengan Laili. Tiba-tiba air mataku menetes membasahi pipi dengan mengunyah buah-buahan dengan cocolan sambal rujak.


"Kamu belum ikhlas?" ketus pak Zan.


Aku menoleh.


"Maksud kakak?"


"Kamu cemburu melihat mereka mesra?" tuding pak Zan padaku dengan nada yang sedikit meninggi.


"Nggak lah kak, aku sudah ikhlas dan bahagia melihat mereka kok,lagian kan Fulan juga sahabat ku sendiri " jawabku yang berusaha untuk lembut pada pak Zan karena aku tahu dia sangat cemburu saat ini.


"Terus kenapa nangis?"


"Nggak apa-apa kepingin nangis aja kak,nggak tahu kenapa sekarang Tsania jadi lebih sensitif kak" jawab ku menenangkan hati pak Zan.


"Gitu aja nangis..."


"Kenapa nggak boleh ya? tapi kan udah kodrat wanita, mempunyai perasaan yang lembut jadi, lebih mudah menangis kak"


"Terserah kamu lah "


Pak Zan menikmati rujaknya lagi dan aku menghentikan aksi makan ku, mengambil ponsel dari atas meja berusaha menahan air mata agar tak terjatuh lagi. Rasanya aku sudah capek dengan semua perlakuan pak Zan yang menurutku kasar itu.


Terkadang aku merasa lelah, tapi bukankah kita harus terus bersabar di saat Allah menguji kita agar kita bisa menikmati apa itu buah dari kesabaran, yang katanya lebih manis dari madu.

__ADS_1


Ya Allah beri hamba kesabaran, kuatkan hati hamba agar lebih sabar dan ikhlas lagi .Aamiin...


Pak Zan berdiri dengan geram.


"Pulang...!!!"


Pak Zan menuruni anak tangga dengan cepat. Setelah pak Zan turun air mataku mengucur dan tidak bisa ku tahan lagi.


Fulan langsung memeluk ku.


"Kamu pasti kuat kok..."


"Kamu juga ya?" lirih ku padanya. Lalu aku pamit dan menyusul pak Zan. Tanpa melirik Arnold lagi.


"Jagain Tsania ya Ton kalau ada apa-apa kamu kabari kakak ya?" bisik Arnold pada Toni yang ikut menyusul ku. Toni hanya mengangguk.


Jauh di lubuk hati terdalam Arnold, ada perasaan sedih dan kecewa, tapi berusaha ia tutupi demi sang istri Fulan Sari. Yang sudah sabar menemani dan mengajarinya tentang apa itu arti keihklasan.


Andai aku bisa menghapus air matamu mungkin saat ini sudah ku lakukan, andai aku bisa memeluk mu menenangkan hatimu yang kecewa itu pasti sudah dengan siaga aku untuk mu...maafkan aku Tsan, mungkin ragaku tak lagi bisa untukmu tapi percayalah doaku tak pernah luput ku panjatkan untukmu..... Bahagia selalu Tsania Marwa...


"Kok pak Zan kayak gitu ya sekarang?" tanya Fulan langsung duduk di samping Arnold.


"Entahlah..."


"Mungkin dia cemburu dengan kamu yang, padahal kan juga kamu sama Tsania nggak ada apa-apa semuanya juga sudah seperti keluarga kan?dasar pak Fauzan cemburuan..." sungut Fulan.


"Sudah sayang, mungkin pak Zan lagi banyak pikiran jadi dia tidak bisa mengontrol emosinya atau mungkin lagi ada masalah kecil di keluarga mereka"


"Iya juga sih,yang...???" Fulan menghadap Arnold.


"Apa sayangku?" Arnold memangku kedua pipinya bergaya dengan imutnya.


Aduh....jantungku nggak bisa di kondisikan, sumpah wajah itu sangat menggemaskan tapi aku harus so cool. Jantung...!!!ku mohon jangan bikin malu.


"Kamu terpesona ya dengan suami mu yang super imut ini?" dengan percaya dirinya Arnold menggoda sang istri.


"Idih siapa juga yang terpesona dengan tampang pas-pasan gitu" acuh Fulan.


Arnold tersenyum manja mencolek hidung Fulan.


"Mau ngomong apa sih sayang?"


"Nggak itu,anu....eh...apa sih bingung aku" Fulan menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal, dia seketika lupa dengan apa yang ia ingin katakan karena terpesona dengan wajah tampan sang suami.


Arnold semakin mendekati sang istri. Fulan salah tingkah jantung nya sudah tak karuan berdetak tak beraturan.


Cup.


Arnold mencium kening Fulan lalu memeluknya.


Seketika air mata Fulan terjatuh.


"Aku mohon apapun yang terjadi tetap di sampingku ya?i love you" bisik Arnold di telinga Fulan.


Ya Rabb,sungguh besar kuasaMu. Engkau benar-benar tepat mengirim sosok pendamping yang luar biasa ini.Terima kasih ya Allah....

__ADS_1


"Jangan cepat berubah ya?tetap menjadi Arnold yang baik hati" jawab Fulan lalu membalas pelukan Arnold dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang sang suami yang bucin itu.


__ADS_2