
... Biarkan bahagiamu menjadi milikku dan kesedihanmu jangan pernah menjadi bagian dari hidupmu lagi, aku ingin menjadi penawar luka yang kau miliki, hanya aku dan Dia, dzat yang mempertemukan kita...
...๐บSelamat membaca๐บ ...
"Bisa nggak untuk tidak bekerja?"
Bagiku itu bukan pertanyaan atau aturan baru, tidak bekerja berarti memintaku untuk melupakan kerja keras yang sudah di ajarkan oleh ayahku. Aku sedari kecil sudah di ajarkan untuk kerja keras, karena aku bukan akan orang kaya yang ada segalanya di rumah.
"Bapak yakin nggak ngebolehin aku kerja?"
"Hmmm!" jawabnya singkat sambil menganggukkan kepalanya,
ini masih pagi jangan sampai rasa laparku membuatku kelepasan dan tidak sopan padanya, aku masih menganggapnya guruku sampai saat ini.
"Atas dasar apa bapak melarangku untuk bekerja? Sedangkan bapak tahu apa alasan saya bekerja. Seharusnya bapak malu kan masih terus mengatur hidupku sedangkan aku tahu bapaklah penyebab segala kesusahanku"
"Atas dasar cinta dan tanggung jawab sebagai seorang suami!" ucapnya masih dengan santai sedangkan saat ini nafasku sudah naik turun menahan amarah.
"Maksudnya? Aku nggak ngerti!"
"Segala kebutuhanmu adalah tanggung jawabku, termasuk kebutuhan ibu dan adik-adik kamu!"
"Apakah itu artinya saya harus menggadaikan hidup ayahku demi kehidupan kami yang layak?"
Bukannya langsung menjawab, pak Ardi malah menatapku lekat.
"Sejauh mana kamu percaya padaku?" tanyanya membuat jantungku berdetak kencang. Aku tidak pernah sedekat ini sebelumnya sama seorang pria, dan pak Ardi malah sengaja mendekatkan wajahnya.
"Sebelumnya aku sangat percaya, tapi setelah kenyataan yang aku terima, rasa percaya itu tiba-tiba berkurang."
"Hanya berkurang, berarti saya masih punya kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tulus melakukannya. Dan saat itu kamu akan kembali percaya padaku."
Ahhh sebenarnya aku tidak terlalu suka pembicaraan yang serius seperti ini karena nyatanya aku tidak sepaham pemikiran orang dewasa.
"Itu artinya aku akan tetap menjadi istri pak Ardi sampai aku tua nanti?" tanyaku dengan polosnya.
"Iya lebih tepatnya seperti itu! Tapi mungkin nanti saat kamu sudah dewasa kamu akan mengerti maksudku!"
"Kalau soal biaya hidupku, apa juga sampai aku tua? Atau sampai ayah bangun dari komanya?" tiba-tiba lolaku kambuh kayaknya.
"Seorang suami itu wajib menafkahi istrinya, nafkah lahir dan nafkah batin! Karena kamu masih di bawah umur, jadi aku akan memberikan nafkah lahir sama kamu!"
"Bukankan di bawah umur itu di bawah tujuh belas tahun?, aku kan sudah delapan belas tahun, kenapa nggak di kasih semuanya aja pak! Sayang kan kalau nggak di kasih sekarang! Lagi pula bapak sudah harus bertanggung jawab atas ayah saya kan."
Kali ini pak Ardi tersenyum wajah seriusnya berubah menjadi senyum, kali ini senyumnya lebih lebar dari sebelum-sebelumnya, mungkin aku salah lagi. Apa aku memang tidak pernah memperhatikan saat pelajaran agama? Memang sih nilai agamaku selalu dua atau tiga, nggak pernah lebih. Saat pelajaran agama waktuku lebih banyak ku habiskan untuk tidur karena pelajaran agama di laksanakan di mushola sekolah,sambil duduk bersandar di dinding mushola pasti mataku sulit untuk di kondisikan.
"Yakin mau aku kasih sekarang?" tanya pak ardi masih dengan menahan senyumnya.
"Ya kalau nggak ada nggak pa pa sih pak, lahirnya saja! Contohnya apa nih yang termasuk lahir?"
Hehhhh, pak Ardi kembali menghela nafas, seperti sengaja ia lakukan untuk menormalkan mimik wajahnya.
"Jadi gini ya, aku akan menanggung uang saku, biaya sekolahmu semuanya sampai kamu lulus bahkan sampai kamu kuliah, semua kebutuhan rumah tangga seperti makanan, listrik, air dan semuanya tentang kita berdua!"
Amazing ....
Yakin nih dengan yang aku dengar? Enak banget kalau benar begitu. Tahu gitu aku udah nikah dari dulu. Tapi kenapa harus ayahku yang tergadaikan. Apa aku pantas bahagia di atas kepahitan yang di rasakan oleh ayah?
"Kenapa tiba-tiba wajahny kembali sedih?" tanya pak Ardi dan aku menghela nafas.
"Aku kembali ingat ayah, apa ayah akan suka jika saya bahagia dengan kehidupan ini?"
"Insyaallah."
Benarkah? apapun yang terjadi aku percaya ayah senang kalau aku juga bahagia, jadi aku rasa nggak akan masalah kalau aku ikut aturan pak Ardi.
Aku pun segera berdiri dan tersenyum pada pak Ardi,
__ADS_1
"Ok pak aku siap ikuti aturan bapak, tapi untuk satu Minggu ini biarkan aku menyelesaikan semua urusan pekerjaan saya pak!"
"Okey, baiklah jadi deal ya, nggak kerja cuma fokus sama rumah dan sekolah!"
"Iya siap!" ucapku sambil menempelkan telapak tanganku yang terbuka di samping pelipis.
"Okey, sekarang kita sarapan dan lakukan pekerjaan rumah!" ucap pak Ardi sambil berdiri dari duduknya.
Aku hanya bisa mengikuti langkah pak Ardi, aku sedang berusaha mengiklaskan apa yang terjadi pada ayah seperti apa yang dilakukan oleh ibu dan mbok Darmi.
๐๐๐
Kami sudah berada di meja makan, pak Ardi selalu punya kebiasaan baik di pagi hari, ia selalu menyiapkan sarapan untuk kami. Jika seperti itu terus sikap Pak Ardi, memang aku bisa marah gimana sama pak Ardi.
"Oh iya Na! Ini untuk kamu!"
Pak Ardi merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Ada tiga lembar, aku menatap tak mengerti pada pak Ardi. Ini maksudnya apa?
Ada lima lembar uang seratus ribuan, yakin ini untukku? Baru kali ini lihat uang sebanyak itu.
"Ambilah!" perintah pak Ardi lagi, dengan ragu tanganku mulai mengambilnya.
"Ini untuk apa pak?" tanyaku dengan ragu. Tiba-tiba pak Ardi memberiku uang dengan cuma-cuma, baik sekali dia.
"Itu nafkah pertamaku, maaf ya sedikit! Tapi insyaallah lusa aku akan memberimu lagi, doakan rezeki kita lancar, biar bisa kasih kamu lebih dari itu!"
"Hah, maksudnya ini benaran buat saya pak?" aku masih tidak percaya aku punya uang saku banyak seperti teman-teman sekelasku.
"Iya! Tapi ingat gunakan dengan bijak ya, mulai sekarang kamu yang mengatur seluruh urusan rumah ini!"
Urusan rumah tangga? Aku memang terbiasa mengurus urusan rumah tangga, tapi aku tidak pernah mengatur keuangan.
"Urusan yang mana pak?"
"Urusan dapur, dan sebagainnya! Kamu boleh mengubah rumah ini sesuka kamu asal tetap rapi ya!"
Lagi-lagi perasaan tidak pantas kembali datang.
"Bagaimana dengan ayah?"
"Aku sudah meminta dokter untuk terus memantau keadaan ayah kamu, insyaallah Abi juga bantu!"
"Abi?"
"Maksudnya ayahku. Beliau yang mengecek setiap keperluan pak Bara. Jadi jangan khawatir ya."
"Apa ayah akan bisa sembuh?"
"Insyaallah , kita berdoa saja ya. Setelah ini aku akan kerja sebentar di ruang kerja sana," ucapnya sambil menunjuk sebuah ruangan yang ternyata menjadi ruang kerjanya. "ba'dha dhuhur nanti kita ke supermarket untuk beli bahan makanan yang sudah habis ya, selama aku kerja kamu catat apa-apa saja yang habis!"
"Iya!"
Pak Ardi sudah menyelesaikan makannya, ia berdiri dan mengangkat piringnya hendak membawanya ke dapur tapi segera aku tahan.
"Biar saya saja pak!" ucapku sambil ku minta piring kotor pak Ardi, rasanya tidak enak jika aku tidak melakukan sesuatu sama sekali.
"Beneran nggak pa pa?"
"Nggak pa pa pak! Benar!"
Ya jelas lah kau semangat banget, siapa coba yang nggak semangat pagi-pagi sudah di sodori uang lima ratus ribu dengan cuma-cuma. Langsung semangat aku bersih-bersih nya.
"Terimakasih ya!"
"Nggak usah sungkan pak, anggap saja ini_!" aku bingung harus mendeskripsikan sebagai apa, kosa kataku masih sedikit untuk mengajukan sesuatu.
"Sebagai ibadah seorang istri!" ucap pak Ardi melanjutkan ucapannya yang terpotong.
__ADS_1
"Ya, begitu lah pak! Ibadah sekalian sambil cuci piring ya kan pak?"
" Iya benar, Apapun yang di lakukan seorang istri untuk menyenangkan hati suami namanya ibadah!" ucap pak Ardi sambil mengusap kepalaku, semacam ucapan kasih sayang. Kayak Abang dengan adeknya.
๐๐๐
Aku sudah tahu pak Ardi di ruangan yang mana, tidak ada suara semenjak kami berpisah di ruang makan tadi.
Tapi ini kan hari libur, pak Ardi tetap kerja sih. Memang gitu semua guru? Atau memang pak Ardi seorang pekerja keras.
Setelah selesai mencuci piring, aku segera menyapu lantai sekalian untuk mengenal seluruh ruangan yang ada di rumah ini. Baru beberapa hari dan aku harus mulai terbiasa dengan rumah ini. Setelah selesai membersihkan beberapa ruangan utama aku pun mulai memeriksa satu per satu ruang yang ada di rumah ini.
Hingga akhirnya aku tiba di ruangan kerja pak Ardi yang ada di samping kamar, ruangan yang sebenarnya mungkin di manfaatkan untuk kamar tapi beralih fungsi menjadi ruang kerja.
"Maaf pak, aku ganggu!" ucapku membuat pak Ardi mendongakkan kepalanya.
"Na, nggak pa pa, masuk aja."
"Kalau paka Ardi nggak keberatan, biar Zanna bersihkan tempat kerjanya."
"Tidak pa pa, sini tidak perlu di bersihkan biar aku saja nanti yang bersihkan! Kemarilah!"
"Aku?"
"Hmm!"
Perlahan aku berjalan menghampiri pak Ardi yang sama sekali tidak beranjak dari duduknya, tapi matanya tidak bisa menipu kalau dia sedang memperhatikan aku.
Aku berjalan masuk sambil mengamati ruangan yang seukuran dengan kamar yang baru beberapa hari aku tinggali, rapi dan nyaman. Ada rak buku yang memang di buat seukuran dengan lebar satu sisi dinding dan di penuhi dengan buku.
Aku tidak bisa membohongi kalau kali ini aku terpukau dengan begitu banyak buku, bahkan ini lebih banyak dari buku yang ada di perpustakaan sekolah. Aku tidak suka membaca, tapi melihat buku sebanyak ini cukup membuatku tertarik,
"Ini punya bapak semua?"
"Hemm!"
"Wahhh ini luar biasa pak! Bapak suka baca buku?"
"Ya begitulah! Kamu suka?"
"Sebenarnya aku tidak suka baca buku, tapi aku suka kalau punya banyak buku. Mungkin aku akan bisa membacanya sesekali."
"Boleh! Kamu bisa belajar di sini, kamu boleh baca buku sesuka kamu, jadi mulai hari ini selain hari libur kamu harus belajar 2 jam setiap hari dan aku yang akan jadi guru privat kamu!"
Hahhhh, ini benar-benar menjebak. Mana bisa seperti itu, aku harus belajar selama dua jam, akhhh bisa benar-benar bosan kalau begitu.
"Nggak bisa satu jam saja pak?" tawarku.
"Nggak cukup Na, ayah kamu pengen kamu nanti menjadi seorang guru kan?"
"Pak Ardi tahu?"
"Ayahmu sempat mengatakannya padaku. Dan lihatlah di sana ada semua buku-buku pelajaran kamu!"
Bukuku? Maksudnya buku pelajaranku? Sejak kapan pak Ardi memindahkan semua bukuku?
Aku segera menuju ke arah telunjuk pak Ardi, di samping meja kerja pak Ardi ada sebuah rak buku kecil dan benar saat aku periksa ternyata itu semua buku pelajaranku.
Rasanya aku tidak bisa menghindar lagi, aku tidak mungkin beralasan kalau aku tidak punya buku, atau bukuku ketinggalan di rumah ibu, benar-benar pak Ardi ini pengen aku ....
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1