My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
NASEHAT PAMAN ALI


__ADS_3

Kerikil-kerikil dalam rumah tangga itu selalu ada, bagaimana cara kita bersikap saja dan untuk menghadapinya. Sebesar apapun masalahnya jika mampu memperkecil masalah dan membuang ego masing-masing, akan menjadi kecil lah masalah itu.


Dalam perjalanan tampak keheningan di antara kita, tapi tak hentinya pak Zan menggandeng tanganku.


Sampai di rumah paman Ali ,paman sudah menunggu di dalam rumah. Setelah basa-basi menanyakan kabar kini paman Ali berbicara pada inti pokok masalah ini.


"Apa rencana kalian kedepannya?"


Aku dan pak Zan terhening tanpa bersuara.


"Gimana mas Irul?apa rencana kamu ke depannya? apa kalian akan meneruskan pernikahan poligami ini?atau memilih salah satu?"


"Sebenarnya saya sangat mencintai Tsania paman,tak ada rasa sedikit pun untuk Laili. Perasaan saya terhadap Laili hanya sekedar adik karena saya hanya ingin menolong nya. Laili yang memaksa saya untuk menikahi dia, karena dia butuh pendamping dalam melahirkan nanti. Kasian dia juga korban paman"


"Iya ya paman ngerti maksud kamu, sekarang kamu gimana mbak Tsan?"


Aku hanya terdiam mendengarkan ocehan pak Zan dan paman Ali.


"Mbak Tsania, paman tahu ini nggak mudah bagi kamu menjalani ini. Berat dan sakit pasti nya. Tapi paman kepingin tahu jawaban kamu untuk rencana kedepannya. Paman nggak akan melarang atau menyuruh kamu melakukan yang tidak sesuai keinginan kamu, sekarang keputusan paman serahkan pada kamu"


"Tsania nggak tahu paman,Tsania masih bingung . Beri Tsania waktu untuk memutuskan ini, karena ini sangat menyakitkan bagi Tsania paman"


"Kalian sudah sholat isyak?"


Aku dan pak Zan menggeleng.


"Sekarang kalian sholat lah berjamaah , setelah sholat isya tambahkan sholat istikharah usai sholat kemarilah ada yang ingin paman tunjukkan"


"Iya paman" aku dan pak Zan segera berwudhu dan melakukan sholat jamaah di kamar paman Ali.


Setelah beberapa saat melaksanakan sholat aku dan pak Zan datang menemui paman Ali lagi di ruang tamu.

__ADS_1


Sekarang mas Irul tolong bacalah Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 227 dan seterusnya.


Tiba-tiba deg, jantungku berdegup lebih kencang. Ada gerakan aneh dalam perutku, mungkinlah ini reaksi sang jabang bayi?.


"Sekarang kamu bacakan artinya mbak Tsan, di ayat 227 saja"


“Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”


"Ada hadis Rasul yang berbunyi,Perbuatan halal yang sangat dibenci Allah adalah thalaq (cerai) (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Satu-satunya perbuatan yang dihalalkan tapi dibenci Allah adalah talak" jelas paman Ali.


Hatiku semakin bimbang dengan adanya ini,aku tahu tentang itu. Aku tahu paman Ali tidak ingin aku bercerai dengan pak Zan. Paman Ali memberi waktu padaku dan pak Zan untuk berbicara dari hati ke hati tentang masalah ini.


Aku masih terdiam belum bisa menjawab pertanyaan paman Ali. Masih menata hati yang tersakiti. Rasanya sudah sulit untuk menata puing-puing hati yang remuk ini. Bukan karena pendendam tapi aku hanya ingin berhati-hati agar tidak terluka lagi.


"Gimana mbak Tsan?"


"Maaf paman, aku masih menata hati yang rapuh ini. Soal perceraian aku belum memikirkan itu. Terpenting anak ku lahir dengan selamat. Tapi aku juga tak mengiyakan poligami ini. Aku mau jadi seutuhnya selamanya. Dan tidak ada penghianatan atau kebohongan lagi"


"Iya paman paham maksud kamu mbak Tsan, sekarang dengarkan paman. Terutama untuk mas Irul, sebenarnya harapan ibu dan paman adalah kalian terus bersama dan jangan sampai berpisah. Jadikan masalah ini sebagai pelajaran untuk hidup. Jadilah orang yang selalu pemaaf"


"Dan kamu mas Irul, kamu sudah dewasa bahkan kamu itu menjadi guru yang selalu menjadi panutan bagi murid-murid mu. Apapun tindakan mu harus di pikir dulu, di bicarakan dulu sekarang kamu bukan anak bujang yang semena-mena bisa memutuskan masalah sendiri kamu sudah punya tanggung jawab besar yaitu istri mu dan sebentar lagi akan bertambah pula anakmu juga"


"Bicarakan lah dulu setiap keputusan di setiap masalah, dia meski dulu murid mu tapi sekarang mbak Tsania adalah istrimu yang berhak tahu setiap keputusan mu , Libatkan lah dia apapun masalah mu. Cari solusi sama-sama bukan malahan bersembunyi hanya demi kebaikan . Tidak ada kebaikan dalam menyembunyikan masalah"


Terlihat paman Ali sedikit emosi ,dia seperti kecewa dengan pak Zan. Aku tahu paman sangat sayang padaku dan adik-adikku karena sebelum menikah beliau yang selalu membantu ibu merawat kita semua.


Paman ingat betul betapa dulu dia yang sangat antusias menjodohkan aku dengan pak Zan. Paman yang selalu mencari cara agar aku mau menerima perjodohan dengan pak Zan. Dan kini paman terlihat kecewa dan merasa bersalah atas apa yang telah di lakukan oleh pak Zan padaku.


"Iya paman maaf,Irul salah"


"Bukan pada paman tapi pada istrimu kamu melakukan kesalahan besar. Sekarang kamu bisa menceraikan Laili, dan rajutlah kembali hubungan kalian yang retak ini. Jangan sampai terlalu hancur sampai tidak bisa di satukan lagi. Soal bagaimana nanti Laili paman akan urus"

__ADS_1


"Jadilah lelaki yang tegas jangan lemah dan satu lagi jadilah lelaki yang bertanggung jawab.Jangan hanya demi menolong saudara meninggalkan kewajiban mu sebagai seorang suami"


Ku lirik pak Zan menunduk merasa bersalah.


Hatiku merasa puas atas ocehan paman Ali pada pak Zan. Merasa terwakilkan segala keluh kesah di hatiku.


.


.


.


.


Di waktu yang sama tempat lain sepasang kekasih bercengkrama di bawah terang bulan bersinar. Seperti aura mereka yang terpancar kebahagiaan.


Di sebuah hotel nan indah mereka berdiri di atas balkon menatap hiruk pikuk jalanan yang ramai meski sudah di malam yang gelap. Karena kota tak akan pernah tidur.


"Nold? alhamdulilah ya, segala urusan sudah kelar. Nggak nyangka seminggu lagi kita akan menikah resmi secara negara"


"Iya sayang" candu Arnold memeluk Fulan dari belakang dan menciumi pundak Fulan.


"Oh ya gimana ya kabar Tsania?" Arnold langsung terhenyak dan berdiri di samping Fulan tangannya di di tangkupkan di pagar besi pinggiran balkon.


"Entahlah sayang, aku sudah tidak berhak ikut campur urusan mereka. Tapi setidaknya aku sudah berpesan pada Toni jika terjadi sesuatu pada Tsania untuk selalu mengabariku"


"Syukurlah, kalau gitu makasih ya sayang sudah peduli dengan sahabat ku"


"Aku yang harusnya minta maaf yang masih peduli dengan mantan pacar"


"Aku nggak masalah kok sayang, karena aku tahu kamu sangat sayang padaku . Dan sudah menganggap dia seperti saudara mu sendiri"

__ADS_1


"Makasih ya sayang?" Arnold mendekati Fulan dan mengecup keningnya. Dan menjalar jatuh ke bibir ranumnya .


Malam yang indah mereka lewati dengan kemesraan yang mereka rajut bersama. Dan semoga bukan hanya sampai di situ saja melainkan sampai maut memisahkan mereka.


__ADS_2