
Hatiku berdebar dalam pelukan pak Zan. Dalam hamil besar seperti ini perasaan ku selalu was-was. Selalu saja panik . Takut, ya aku sekarang lebih takut kehilangan seseorang.
Aku takut kesepian. Aku takut tidak ada lagi yang menguatkan hatiku yang lemah ini. Meski aku berulang kali tersakiti oleh pak Zan.Ya anggap saja itu karma bagiku yang sudah menyakiti Arnold.
"Kak?" air mata menetes tanpa ku sadari.
"Maaf yah sayang, kakak bodoh. Kakak belum bisa memberikan yang terbaik untukmu"
"Apa maksud kakak?"
"Kakak sekarang nggak jadi guru lagi"
"Kenapa?"
Di cerita kan panjang lebar kisah pak Zan yang di keluarkan secara tidak hormat dan sekarang bekerja menjadi OB.
"Kenapa kakak sedih?kakak kan masih bisa bantu-bantu Tsania kerja di toko? kan toko itu juga milik kakak?kan kakak yang ngasih modal "
"Kakak malu sama kamu Tsan, kakak udah sering nyakitin kamu. Dan sekarang kakak nggak mau ngerepotin kamu. Kamu sudah banyak beban"
"Pasangan suami istri itu saling bekerja sama dan tidak ada saling merepotkan satu sama lainnya. Kita suami istri kak, sudah sewajarnya saling membantu , mensupport satu sama lainnya"
"Makasih ya Tsan,kamu memang wanita yang luar biasa. Maaf belum bisa membahagiakan kamu"
"Nggak apa kak, kita mulai dari sekarang. Kita rajut masa depan kita dengan kenangan yang indah. Masa lalu biarlah berlalu cukup sebagai kenangan dan pelajaran untuk kita"
"Hati kamu tercipta dari apa sih?kamu bisa sebaik ini. Pantas saja Arnold sulit melepaskan mu. Dan Tafi sangat mencintai mu dengan setia. Maaf yahh, selama ini kakak belum bisa menjadi seperti mereka. Mereka yang baik dan tulus mencintai kamu. Tak pernah sedikitpun menyakiti hatimu" pak Zan menyentuh ujung daguku. Tersenyum manis hampir meluluhkan hatiku.
"Semua punya cara tersendiri untuk mencintai kak, dan kakak juga punya cara yang indah untuk mencintai ku. Dan hanya kakak InsyaAllah yang menjadi jodohku. Tak akan terpisahkan sampai surgaNya Allah"
"Aamiin ya Allah..." pak Zan terharu hingga memeluk ku terdengar isak kan tangisnya.
Terima kasih ya Allah Engkau masih memberiku kesempatan hamba untuk memperbaiki semua. Hamba janji ya Allah akan menjaga amanah ini. Bismillah...tuntun hamba selalu ya Allah...aamiin.
Malam yang hening yang hampir subuh, aku terlelap dalam pelukan pak Zan. Yang usai sholat malam berjamaah.
Aku pernah gagal dalam hubungan tapi jangan pernah gagal dalam berumah tangga. Jika ada jalan terbaik untuk bersama mengapa harus memilih berpisah?.
Hatiku memang terluka, tapi hatiku melunak karena pak Zan. Dengannya Allah mengijinkan ku bersama. Arnold yang ku cintai nyatanya harus berpisah dan Tafi si lelaki yang tulus dan setia juga pergi untuk selamanya.
Buat apa aku berlari kalau nyatanya juga akan kembali pada pak Zan. Buat apa aku pergi kalau nyatanya aku tidak bisa menemukan cinta kembali.
__ADS_1
Cukup aku di sini, belajar memperbaiki diri dan memberi kesempatan pada pak Zan.Cerita yang ku dengar dari mulut nya. Dia menyesali perbuatannya dan begitu tanggung jawab demi aku dan anak dalam kandungan.
Meski harus banting tulang kerja keras menjadi OB.
Sudah cukup untuk mengawali kembali rumah tanggaku yang hampir retak ini.
Bismillah semoga ini yang terbaik. Aamiin....
.
.
.
Laili.
Keindahan yang terbayang di angan Laili, kehidupan dalam berumah tangga yang indah hanyalah angan semata jika tidak di landasi dengan pondasi cinta dan iman yang kuat pastinya semua sudah hancur.
Hampir setiap hari Laili cekcok dengan sang suami Taufiq. Hal-hal kecil yang sepele menjadi besar karena pemikiran Laili yang masih kecil dan belum dewasa.
Di kontrakan kecil Taufiq menyewa rumah yang sederhana cukup untuk di tinggali mereka bertiga.
Karena Taufiq masih bekerja sebagai karyawan hotel Laili terkadang sendiri di rumah mengasuh anaknya sendiri.
Hingga akhirnya Taufiq mengajak mengontrak agar Laili bisa belajar mandiri dan juga dekat dengan hotel tempat ia bekerja.
Lambat laun semua kebahagiaan itu seakan hilang. Laili semakin jenuh di kontrakan sendiri. Hanya bertemu ibu-ibu yang juga sudah seumuran ibunya. Semuanya sudah jauh dari dunianya.
Hatinya sedikit terketuk. Setelah melihat teman-teman nya merayakan kelulusan dan memilih Universitas terbaik menurut impian mereka.
Menggapai cita-cita yang sudah membara. Sedangkan kini ia hanya bisa diam diri di rumah meratapi nasibnya. Mengasuh putra semata wayangnya.
Terkadang ia bosan dan capek, mengurus rumah dan mengasuh si Arsya sendirian. Dari pagi hingga malam 24 jam rasanya ia tak istirahat apalagi saat Taufiq lembur tak pulang ke rumah.
Rintihan air mata kerap kali menemani saat Arsya rewel nangis tak bisa di tenangkan.
Ia benar-benar menyesal telah hamil dan menikah di usia muda. Meski kehamilan nya tidak ia rencana kan. Yang pasti ia menyesal pacaran di masa sekolah.
Pacaran yang sudah terlalu vulgar. Ya, kerap kali ia dulu rela di cumbu mesra di cium kening,pipi dan ,bibir. Lama kelamaan menjadi kebablasan membuat Taufiq tak tahan dengan semua itu.
Kini Laili hanya bisa menangis merindukan semua masa sekolah dan teman-temannya. Karena tak ada satupun temannya yang tahu kalau dia hamil dan sudah menikah. Dia hanya beralasan pindah di luar kota.
__ADS_1
Meski di kalangan guru sudah mengetahui penyebab keluar nya Laili tapi tersimpan rapat di kalangan guru hingga tak ada satupun murid yang mengetahui hal ini.
Karena Laili anak cerdas,baik dan kebanggaan guru-guru. Dia kerap kali memenangkan lomba antar sekolah. Sudah tiga piala ia raih untuk mengharumkan sekolahnya.
Lomba Sains, lomba bulu tangkis dan terakhir adalah lomba catur antar sekolah.
Sebenarnya guru-guru sangat menyayangkan itu tapi bagaimana lagi. Jika ini di biarkan dan di buka lebar rahasia ini takut nya akan di jadikan contoh yang nggak baik untuk yang lain nya.
Malam yang larut Taufiq pulang ke rumah, dia yang sabar dan pengertian selalu saja membawakan makanan untuk sang istri tercinta. Meski terkadang Laili yang super manja,cemburu dan emosian dia tetap sayang dan setia.
"Kok baru pulang sih yang?" Laili mengucek matanya yang sayu karena lelah seharian karena Arsya rewel nggak mau tidur.
Taufiq tersenyum hanya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Laili mencium tangan Taufiq dengan sedikit muka cemberut.
"Aku capek tau, Arsya rewel nggak mau tidur"
"Iya sabar yah? itu aku bawakan nasi goreng sama sate ayam di makan gih?"
Laili turun dari kasurnya dan mencuci mukanya lalu pergi ke meja makan segera melahap nasi goreng dan sate.
Usai itu ke kamar lagi menyusul Taufiq yang ternyata sudah pulas tidur di samping Arsya.
"Sayang,bangun dong aku kan mau cerita kok malahan tidur duluan sih?"
"Hemmm, besuk aja yah?aku ngantuk ,capek. Besuk aku berangkat siang"
"Aku mau sekarang..."
"Iya...iya..."
Dalam kantuk Taufiq menyandarkan badannya di sandaran kasur. Dia duduk dengan mata terpejam.
"Kok tidur lagi?"
"Iya...iya..."
"Sayang, pokoknya minggu depan aku mau sekolah lagi"
"Iya sayang sabar yah?bulan depan, bulan ini uangnya buat periksa kamu ke dokter. Kamu kan juga belum pulih kondisinya. Harus kemoterapi juga. Uang aku belum cukup"
"Haist....gitu aja terus...."
__ADS_1
Laili ngambek lalu merebahkan badannya membelakangi Arsya yang tidur di tengah dan Taufiq.
Taufiq menyusul terlelap dalam tidurnya memeluk baby Arsya. Membiarkan sang istri marah nggak jelas.