
Hati yang kau sakiti akan selalu diam meski kau hancurkan berkali-kali. Dia tak akan membalas hanya saja air mata yang akan jatuh membasahi pipi. Dan tangan yang akan mengusapnya begitulah hukum alam terjadi.
Bagaimana pun pak Zan masih sah menjadi suamiku, dan aku tak bisa mengelak saat dia mau kembali tinggal di rumah dan Laili sudah sah di ceraikan.
Meski kondisi nya terkadang drop karena keputusan sepihak dari pak Zan. Laili tidak terima di tinggalkan begitu saja. Dengan dukungan ibu dan keluarga lainnya Pak Zan kembali ke rumah bersamaku lagi.
Pak Zan kembali memeluk ku, menjagaku dan mengelus si jabang bayi ini. Pak Zan kembali seperti dulu lagi yang penuh kasih sayang dan perhatian . Seketika Laili sudah terlupakan.
Meski Laili sering menghubungi, pak Zan tak menghiraukan nya.
Kembali ke rumah merajut cinta yang pernah retak. Bagi pak Zan ini kesempatan indah dan akan di gunakan baik-baik. Dia bisa memulai hidupnya lagi bersamaku.
Tapi, tidak bagiku meski kita sudah seperti keluarga utuh lagi hatiku merasakan kehampaan. Hatiku tak bisa seperti dulu lagi, hatiku tidak bisa seutuh dulu hatiku tidak bisa senyaman dulu.
Aku masih takut, aku masih trauma. Bahkan sekarang aku lebih sensitif jika ada bentakan sedikit pun. Hatiku sekarang mudah rapuh, tak sekuat yang dulu.
Hidupku bagaikan menata pecahan kaca yang sudah menjadi puing-puing. Perlu banyak hati-hati untuk menjaganya.
Setelah tiga hari berturut-turut aku sholat istikharah aku belum mendapatkan jawaban yang membuat hatiku mantab. Hanya saja aku pernah mendapatkan mimpi aku di datangi seorang lelaki tersenyum manis padaku dan dia mengajakku pergi.
Aku bahagia bersama nya, tapi aku tak melihat dengan jelas lelaki itu. Tanpa kejelasan lagi mungkin itu pak Zan pikirku. Meski aku menjalani rumah tangga lagi dengan pak Zan rasanya masih ada keganjalan dalam hatiku.
Pulang pergi ke rumah hanya sebagai rutinitas yang membosankan dan aku hanya menjalani kewajiban ku sebagai seorang istri semata.
Mengadakan syukuran empat bulanan di rumah mamah papah di hadiri semua keluarga kecuali Laili, dan menghadiri pernikahan Fulan dan Arnold yang begitu bahagia nya.
Meski sebelum menghadiri pernikahan mereka, aku takut tidak kuat melihat kenyataan itu tapi ternyata faktanya aku baik-baik saja dan semakin bahagia melihat kebahagiaan mereka.
Entah apa yang terus mengganggu pikiran dan hatiku meski senyum selalu terukir di ujung bibirku tapi tidak untuk hatiku.
Siapa yang ku harapkan?siapa yang ku rindukan?hatiku terasa hampa seperti ada yang hilang tanpa ada kabar lagi setelah semua kebahagiaan dan kenyamanan di berikan padaku dengan tulus.
__ADS_1
Tak ku hiraukan hal itu aku tetap menjalani hidup dengan tanggung jawabku, bekerja mengurus toko dan setiap hari seperti itu.
Dan pada akhirnya waktu telah tiba Laili di larikan ke rumah sakit karena mengalami kontraksi hebat. Keadaan Laili drop mengharuskannya harus operasi caesar.
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya anak Laili lahir dengan selamat. Bayi laki-laki yang menggemaskan. Berat 3.01 kg, atas permintaan Laili yang semakin drop dia meminta untuk di temani pak Zan dalam proses operasi tadi.
Setelah bayinya di bersihkan suster akhirnya pak Zan mengadzani bayi Laili. Melihat pemandangan itu sedikit runtuh dikit demi sedikit hati yang mulai ku rajut.
Kesehatan Laili semakin drop, dia di bawa ke ruang ICU pasca operasi. Mulutnya selalu memanggil nama pak Zan dan akhirnya paman Ali menyuruh pak Zan masuk atas perintah dokter demi kesembuhan Laili.
Anak Laili di berikan pada ibu, ibu menciumi si baby dengan deraian air mata. Aku hanya bisa memeluk ibu saat hatiku semakin rapuh.
Aku sesenggukan di belakang ibu dan perutku yang membuncit ini tak hentinya terkena tendangan dari bayiku. Aku terus mengelusnya meski tak ada hentinya-hentinya untuk berhenti menendang.
Kamu kenapa nak?apa kamu juga sedih nak?tenanglah nak, ibu baik-baik saja.
Ku kuatkan hatiku yang rapuh ini, dan mencoba berdamai dengan kenyataan. Ku gendong bayi yang tak berdosa ini.
Putih, bersih dan tampan. Wajahnya mirip sekali dengan Laili.
Ku ciumi bayi mungil ini yang menggemaskan.
Berjalan nya waktu Laili sudah sedikit membaik setelah dirawat selama seminggu di rumah sakit pasca operasi. Itu semua juga atas campur tangan pak Zan yang selalu menjenguk.
Meski pak Zan menjenguk selalu aku dampingi tapi rasanya hatiku sudah hambar dengan hubungan ku.
Syukuran di rumah ibu, atas kelahiran baby Arshaka Qaili Fauzan. Menurut ku sedikit mengganjal atas nama itu, ku selidiki nama itu atas saran Laili sendiri.
Kenapa harus ada Fauzan?. Apa saking cintanya dengan pak Zan dia mematikan rasanya , membunuh rasa empati yang ada? sungguh miris, bahkan sahabat terkadang lebih baik ketimbang dengan saudara sedarah sendiri.
Syukuran yang di hadiri hanya keluarga sendiri tidak mengundang tetangga sama sekali karena ibu sedikit malu banyak tetangga yang menggunjing atas kelahiran anak Laili tanpa seorang ayah.
__ADS_1
Suasana sedikit ramai di hadiri keluarga besar pak Zan, Fulan dan Arnold. Tapi tidak untuk hatiku, masih sepi dan hampa.
"Sayang?apa kabarnya?"
"Eh,bunda...." ku peluk bundanya Arnold dan perutnya sudah membuncit lebih besar dariku.
Kami bertukar kabar, saling cerita pengalaman dan kehamilanya yang sebentar lagi juga akan menyusul melahirkan.
Bahagia, mendengarkan bunda bercerita . Tapi, setelah bunda pergi rasa itu hilang lagi. Entah apa yang ku cari aku hanya bisa diam lagi-lagi berdamai dengan kenyataan yang pahit ini.
Si kecil dalam perutku lagi-lagi menendang, ku elus-elus tapi tak ada efeknya dia seakan mencari kenyamanan yang tak di dapatkan.
"Kenapa sayang?"
"Nggak apa-apa kak, si dedek menendang terus" pak Zan mencoba mengelus perutku. Tapi tetap saja si kecil ini terus-menerus menendang dan hatiku belum merasa nyaman dan tenang.
Terus beristighfar dalam hati, karena kegundahan terus menerus menyelimuti hatiku.
Kamu kenapa sih sayang?tenang ya?ini ayah kamu kok yang elus-elus.
Sedikit lelah atas perjuangan pak Zan menemani Laili selama ini dia tertidur di pangkuan ku. Ku elus rambutnya, semoga dengan ini rasa kosong dan hambar hatiku bisa terisi lagi.
Mencoba mengingat semua kenangan indah bersama pak Zan, saat pertama kali dia mengucapkan ijab qobul, bernyanyi bersama di sekolahan,terus nginap di hotel.
Duh apa lagi ya?ayo dong terus berpikir agar bisa mencari cintaku yang hilang ini.
Setelah pak Zan sudah terlelap aku bergantian mengelus perutku, mencoba membayangkan kenangan indah.
Aku teringat aku berlarian di antara bunga-bunga yang indah bermekaran dia mengejar ku , berfoto bersama seakan tidak ada beban di hati. Saling bertukar senyum kebahagiaan.
Deg....hatiku terasa damai mengingat itu, hatiku terasa terisi dengan hal itu. Tapi itu bukan kenangan dengan pak Zan. Tapi siapa?
__ADS_1
Hatiku terus terisi tatkala bayangan itu muncul lagi, senyum indah tersungging di ujung bibirnya.
Aku rindu...sangat rindu dengan hal itu...