
Pagi ini setelah sarapan Tafi berpamitan untuk bersiap-siap ke Jogja tanpa di antar siapapun mengendarai mobil barunya dia sudah mempersiapkan semua nya sendiri termasuk kost-kostan dan fakultas yang akan ia masuki.
"Afi? " tanyaku saat dia mengecek barang-barang yang akan di bawa ke Jogja.
"Iya Wa?eh mbak Tsan" jawabnya saat tahu aku datang ke kamarnya dengan pak Zan.
Aku duduk di pinggiran kasur bersama pak Zan memperhatikan Tafi yang masih sibuk.
"Kamu sudah yakin dan mantab Taf?" tanya pak Zan.
"Iya kak sangat yakin"
"Kalau kamu capek atau kelaparan gimana?"
"Kan kalau capek tinggal istirahat kalau lapar tinggal pesan makan lewat online gampang kan? "
"Kalau sakit gimana? "
Tafi berhenti dari aktivitas nya dan menghampiri ku dan pak Zan. Dia berjongkok di hadapan pak Zan.
"Kak? jangan khawatir gue bakalan baik-baik saja doain gue sehat terus ya? "
Pak Zan meneteskan air matanya dan Tafi memeluk nya.
"Adik kakak yang manja ini pasti bisa hidup mandiri percayalah" Tafi mengelus punggung pak Zan.
Suasana haru menyelimuti kamar Tafi ada guratan cemas dan khawatir dari wajah pak Zan. Bagaimana tidak adik yang sudah seperti adik kandung itu selalu manja dan usil pada pak Zan meski mereka tidak ada hubungan darah tapi pak Zan termasuk satu ikatan batin karena pak Zan sewaktu si kembar lahir ikut merasakan ASI dari mamah.
Tiap pagi dia tidak pernah ketinggalan ketika si kembar di beri ASI yang sudah di simpan di kulkas. Dia ikut minum satu gelas katanya biar menjadi satu sepersusuan yang bisa mengikat ikatan batin mereka.
"Taf?" panggil Kafi
"Cengeng amat sih gitu aja nangis, sana deh cepetan pergi udah enek lihatnya" Cerocos Kafi di ambang pintu.
Tafi menghampiri nya. Karena ia tahu di balik cueknya Kafi tersimpan rasa sakit amat dalam karena bakalan berpisah untuk sementara waktu. Mengingat dari bayi selalu bersama tak pernah terpisah sedikitpun.
"Gue nanti sebulan sekali pulang kok" jawab Tafi memeluk Kafi. Dan Kafi hanya diam tak bergeming air matanya berlinang.
"Tega loe sama gue" isak Kafi. Tafi memeluk erat Kafi.
"Kita sudah dewasa, sudah punya keputusan sendiri-sendiri. Ini saatnya kita meraih mimpi kita demi masa depan kita. Dan lo juga harus semangat untuk itu" nasehat Tafi.
"Iya... hiks... hiks... " isak Kafi.
"Sudah... sudah... gue pergi kan mau cari ilmu bukan mau minggat ini cuma Jogja loh masih bisa di jangkau kalau kalian kangen kalian bisa ke sana" tukasnya lagi.
"Taf?"
__ADS_1
"Mamah papah?bukanya sudah berangkat? "
Mamah papah datang ke kamar Tafi. Mereka kembali lagi yang tadinya sudah berangkat ke klinik.Mereka sebenarnya sangat tidak setuju dengan keputusan Tafi yang pergi kuliah jauh dari keluarga.
Yang membuat semua terkejut adalah baru semalam keputusan Tafi di ungkapkan ke keluarga hingga membuat mereka terkejut. Pasalnya Tafi si kembar yang manja dan belum mandiri.
"Mah, ini bukan dadakan loh ini semua sudah lama sekali sebelum Tafi lulus SMA. Tafi di sana juga bakalan kuliah kedokteran kok jangan khawatir"
Mamah dan papah memeluk Tafi berbarengan. Air mata mereka menjawab rasa sedih mereka. Melepas seorang anak yang akan menimba ilmu itu sangat membanggakan tapi jika harus berjauhan itu yang sangat menyedihkan.
Setelah air mata mewarnai pagi ini Tafi membereskan semua barang-barang nya ke mobil di bantu mbak Ning. Dan mamah tak lupa membawakan obat dan vitamin untuk jaga-jaga di sana.Pak Zan membawakan jaket dan sweater jika Tafi di sana kedinginan. Kafi membawakan selimut kesayangannya. Dan papah memberikan buku-buku tentang kedokteran.
"Cucu eyang yang bontot, eyang selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu yah? belajar yang rajin. Nih kalau kamu malas keluar rumah" eyang memberikan sekantong kresek besar pada Tafi.
Tafi membukanya dan isinya beberapa camilan kesukaan Tafi.
"Ah eyang tahu aja Tafi belum sempat beli. Makasih ya eyang? "
"Iya nak" eyang mengelus puncak kepala Tafi.
Semua sudah siap dan Tafi meluncur dengan mobil barunya.
"Assalamualaikum... "
"Waalaikumsalam...!!!"
.
.
.
.
.
Dalam perjalanan menuju Jogja Tafi melipir ke pinggir jalan yang sepi saat air matanya tumpah ruah membuat dadanya sesak.Dia memang pandai menyembunyikan kesedihannya di hadapan keluarga nya.
"Wawa??? demi kamu aku akan berusaha menjadi mandiri. Meski ini rasanya berat melepaskan mu,merelakan mu untuk kakakku sendiri. Semoga dengan aku jauh dengan mu ini aku bisa dengan mudah melupakanmu, melepas mu dengan ikhlas" lirih Tafi.
"Semoga kamu bahagia Wa, dan aku juga akan bahagia dengan kebahagiaanmu"
Setelah hatinya sedikit tenang Tafi melanjutkan perjalanan nya kembali. Menuju kota gudeg yang penuh harapan.
.
.
__ADS_1
.
.
Semoga di sana nanti dia menemukan kebahagiaan dan kesuksesan. Aamiin....
Jatuh cinta memang indah rasanya tapi jika jatuh cinta dengan orang yang tidak tepat atau lebihnya dengan orang yang sudah bertuan itu sangat menyakitkan.
Jalan satu-satunya untuk tidak terlalu jauh merasakan sakit adalah melepaskan dengan ikhlas.
Tafi sahabat kecilku, adik ipar ku semoga kamu sukses di sana dan menemukan kebahagiaan. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mu. Lirihku.
Semua kembali dengan aktivitas masing-masing eyang segera berangkat ke toko bunganya dengan Kafi. Dan mamah papah tak lupa juga berangkat ke klinik naik mobil mereka. Sedangkan pak Zan masih bergelut memelukku meminta jatah pagi ini yang katanya besuk sudah bulan puasa harus banyak menahan itu semua.
Ok baiklah sekarang saatnya aku kembali memikirkan suamiku. Kembali menjadi istri seutuhnya memenuhi kebutuhan suami mencari pahala yang terletak pada ridho nya.
"Maafkan diriku ini sayang yang belum menjadi istri yang baik untuk mu"
"Tak apa sayang kakak malahan bangga punya istri sebaik kamu. Makasih yah? " pak Zan mencium keningku.
Tok... tok...
"Hadeh.... ada-ada aja deh " dengus pak Zan.
Aku menyengir dan turun dari atas kasur segera membuka pintu kamar.
"Ada apa mbak? "
"Tadi ibuk telpon katanya mas Irul kalau ke klinik suruh bawakan bukunya ibuk di kamarnya, tadi ketinggalan"
"Iya mbak nanti di bawakan"
"Iya mbak"
"Makasih ya mbak Ning" aku segera menutup pintu kamar.
"Siap sayang? " ujar ku menggoda pak Zan.
"Siap donk" pak Zan tersenyum menanti ku di atas ranjang.
"Tapi mau ke kamar mandi dulu kebelet"
"Hadeh.... " pak Zan menepuk jidatnya dan ambruk di kasur. Aku segera ke kamar mandi menyelesaikan hajatku.
Meski banyak kesedihan yang aku lewati setidaknya sekarang Allah menggantikan kebahagiaan itu dengan kontan.
Terima kasih ya Allah nikmat Mu sungguh luar biasa.
__ADS_1