
Malam yang penuh dengan kebahagiaan di belakang toko yang masih ada halaman luas di manfaatkan untuk mengadakan pertemuan dengan keluarga.
Lampu yang indah kelap kelip bagai bintang sudah terpasang. Makanan yang di masak langsung dengan chef-nya. Ada sate, nasi goreng,martabak telur,mi goreng, bakso dan mie ayam sudah tertata rapi di stand.
Beraneka minuman juga sudah tersaji. Senyum sumringah terbit di ujung bibir Fulan dia tampak ceria dan bahagia di temani sang suami Arnold Sebastian menemui keluarga besarnya.
Aku berusaha tersenyum bahagia di tengah rasa khawatir karena pak Zan juga belum datang. Padahal sebentar lagi akan pemotongan pita. Fulan lagi-lagi menatapku menunjuk-nunjuk jam di tangannya.
Aku hanya bisa jawab dengan isyarat untuk sabar. Aku meminta waktu lima belas menit lagi.
"Sayang?emang mas Irul kemana?"
"Tadi pagi katanya ada urusan di sekolah mah"
"Kok sampai malam gini?"
"Entahlah mah"
"Tadi emang nggak ngabari lagi ya nduk?" bisik ibu yang duduk di sebelah ku , terlihat wajahnya tampak khawatir melebihi diriku karena ibu tahu sang menantu pergi dengan anak keduanya.
"Nunggu apa lagi sih mbak? kak Irul?dia belum datang juga?" tanya Tafi. Aku hanya diam beribu bahasa berusaha tenang dan mencairkan suasana agar tidak terbawa emosi gara-gara nunggu pak Zan kelamaan.
"Ya udah kita mulai saja acaranya dari pada kemalaman" ujar ku.
Di awali dengan sambutan dari papah,emak,ayah Arnold dan papah Fulan dan di bacakan doa oleh paman Ali. Dan acara terakhir pemotongan pita.
Tak lupa sebagai ucapan syukur aku dan Fulan memberi satu dua kata sambutan. Berharap semoga kedepannya toko ini bisa laris,berkah dan banyak membawa manfaat bagi semuanya. Aamiin...
Turun dari panggung kecil ini, Fulan di sambut Arnold dengan mesranya. Arnold memeluk dan mencium kening nya.
Aku?aku tak ada yang menyambut.... Air mataku menetes saat Fulan begitu bahagia bersama Arnold berharap pernikahan mereka bahagia selamanya. Aamiin....
Saat aku turun dari panggung, aku tersentak tiga orang lelaki berbaris menyambut ku. Toni memelukku dan mencium keningku.
"Selamat ya mbak?moga tambah sukses" bisik nya.
"Makasih ya Ton?" Toni tersenyum dan mengusap air mataku.
Setelah itu Kafi memberiku sebuket bunga yang sama persis seperti pemberian Tafi tadi pagi.
"Selamat ya mbak?" dia bersalaman dan mencium tanganku. Dia lebih menjaga jarak dan terlihat menghormati ku.
"Wawa? selamat ya?semoga sukses ya?" bisik Tafi yang memberiku sebuah kotak kecil dan aku buka ternyata kunci mobil.
"Apa ini?"
"Mobil dari mamah papah" ku toleh mamah dan papah mereka tersenyum dan mengangguk. Ku berlalu meninggalkan Tafi menuju mamah papah.
"Makasih mah pah..." bersalaman dengan papah dan mamah. Mamah memberiku pelukan hangat.
Maafin aku ya Wa?dengan sedikit berbohong agar kamu mau menerima hadiahku.
Dua bola mata setengah tersenyum bahagia.
Acara di lanjutkan dengan makan-makan dan musik di putar dengan melodi yang mendayu. Alunan musik romantis membuat suasana menjadi tenang.
Aku duduk memandangi semua keluarga yang asyik mengobrol. Bahkan Kafi juga membawa pacar nya. Ada bik Yem, mas Yanto, dan kak Angga juga. Mereka lengkap membawa pacar masing-masing.
"Wa?" ku tajamkan mataku.
__ADS_1
"Eh maaf ..."
"Mentang-mentang nggak ada kak Irul, kamu jadi kurang ajar ya sama mbak?"
"Maaf...." Tafi melahap nasi goreng yang masih sedikit panas lengkap dengan acar pedas dan. kerupuknya. Ada toping bawang goreng, telur, bakso dan sosis, ada sayuran kol juga. Aku menelan saliva ku, karena air liur ini rasanya ingin menetes saja merasakan sebuah kenikmatan tersendiri.
Perut yang kosong sudah berbunyi meminta jatah nya. Aku beranjak dari kursi ku tapi tanganku di tarik Tafi. Aku terduduk dan Tafi menyodorkan ku satu sendok nasi goreng ke mulutku.
"Emmmm... enak banget ya?..." ku rasakan nasi goreng yang berbeda dari biasanya.
"Aku masak sendiri loh mbak"
"Masak?"
"Beneran mbak,tadi aku sengaja kepingin masak sendiri di tempat masnya"
"Kamu pinter masak juga ya?"
"Ini nasi goreng spesial karena ini hanya untuk kamu seorang Wa"
"Haisss...kamu mah gombal suka nya" ku tarik piring yang berisi nasi goreng itu. Yang sedari tadi di suapkan ke mulutku.
Aku dengan lahap memakannya dan Tafi menopang dagunya memperhatikan ku.
"Kamu nggak makan Fi?"
"Udah tadi,makan bakso"
"Tsania ku...." Fulan mendekati dan merangkul pundak ku.
"Kamu nggak makan Lan?"
Perutku terasa sedikit aneh seperti habis naik roller coaster . Aku segera berlari ke toilet dan memuntahkan semua isi perutku. Bayangan bakso bulat-bulat masih terlintas di angan ku membuat perut tak karuan.
"Wa?...Wa? kamu kenapa?"
Setelah beberapa lama aku keluar setelah memastikan perutku baik-baik saja aku segera keluar agar Tafi tidak panik olehku.
"Kamu masih nggak suka bakso ya Wa?"
"Iya" aku berlalu meninggalkan Tafi di depan toilet dan langsung menuju meja yang masih ada Fulan di sana.
"Maafin gue ya Tsan?" Fulan memelukku.
"Udah nggak apa-apa kok"
"Gue nggak tahu kalau lo gak suka bakso , soalnya Lo kan biasanya paling suka bakso"
"Iya udah biasa kok, maklum efek orang hamil tu kayak gini"
"Minum mbak" Tafi menyodorkan ku teh hangat untuk meredakan perutku yang masih sedikit mual.
"Ok, makasih Fi" Tafi duduk di hadapan ku dan Arnold menyusul ikut duduk di sebelah Fulan.
"Tsan? pak Fauzan kemana sih? kok gak bisa hadir. Bukannya ini udah malam?"
"Lagi ngurusi kepindahan Laili Nold"
"Oh...."
__ADS_1
Wajah Arnold terlihat pucat. Seperti ada yang ingin di tanyakan padaku tapi takut Fulan tahu tentang berita buruk ini.
"Loh kenapa Laili pindah sih Tsan? bukannya dia masuk di sekolah favorit? dan alhamdulilah udah bisa masuk di sekolah negeri 1 kan?"
"Mau cari sekolah yang deket-deket aja, solanya Laili lagi sakit jadi biar lebih deket sekolahnya" jawabku asal.
"Oh gitu ya?" Arnold terus memandangiku ada perasaan cemas dan khawatir.
Jam sudah menunjukkan semakin malam dan keluarga sebagian sudah pulang apalagi paman Ali sudah gasik pulangnya karena si dedek Haikal sudah rewel.
Paman Ali menyewa mobil tetangga jadi ibu dan Toni segera ikut pulang saat Haikal rewel.
"Sayang?kamu pulang kemana malam ini?" tanya mamah.
"Ke rumah ibu mah,soalnya kak Irul masih di sana"
"Ok deh jaga kesehatan ya?jaga kandungan kamu baik-baik " mamah mengelus perutku.
"Iya mah"
Mamah dan yang lainnya pamitan pulang. Keluarga Fulan pun juga sudah pulang tinggal aku,Tafi, Kafi Fulan dan Arnold.
"Yuk kita pulang Wa..."
"Taksi online ku belum datang ik"
"Eh batalin cepet...!!!"
"Kenapa?"
"Pokok nya cepet" aku langsung membatalkan pesanan ku.
"Kalau kamu pulang naik taksi terus mobil kamu siapa yang bawa?"
"Oh iya lupa.Hehehe...."
Kafi pamitan pulang naik motor Tafi bersama pacarnya. Dan aku akhirnya pulang dengan Tafi membawa mobil baru. Aku menunggu di depan mobil dan Tafi ijin ke toilet dulu.
"Tsan?"
"Eh iya"
"Maaf ya?aku belum bisa menemukan siapa yang menghamili Laili" wajah cemas Arnold membuat ku iba.
"Iya gak apa, lebih baik kamu fokus sama Fulan saja soal Laili biar aku sama pak Zan yang mengurusi"
"Tapi Tsan?"
"Ehem.... kesempatan ya?kalau gak ada suami bisa berdua-duaan dengan mantan. Seneng ya?pastilah, kesempatan....!!! kapan lagi bisa berduaan gini " tiba-tiba pak Zan datang dengan wajah yang penuh emosi.
"Apa sih maksud kakak?"
"Sudah lah, kakak sudah tahu mengapa kamu selalu membela dia di bandingkan adik kamu sendiri. Karena kamu masih cinta kan sama dia?"
"Kakak sudah cukup....!!!"
"Ayo pulang kalau kamu masih menghormati suami kamu "
Pak Zan pergi menaiki motornya dan aku dengan terpaksa mengikutinya.
__ADS_1