
"Uah.... " ku menggeliat terasa pegal dan capek. Setelah acara semalam aku baru bisa tidur sehabis subuh tadi. Dan ini sudah jam 10 aku baru bangun.
Aku duduk bersandar di sandaran ranjang. Aku dan pak Zan menginap di hotel ini setelah acara semalam. Semua tamu dan keluarga sudah pulang tak ada satupun yang mau menginap. Mereka berpamitan jam satu dini hari tadi. Dan aku dengan pak Zan kembali ke kamar hotel mengistirahatkan badan yang sudah lelah.
Aku teringat kejadian semalam setelah sampai di kamar, segera mandi dan membersihkan diri berganti baju dengan piyama. Pikir ku, aku akan segera bisa tidur dengan nyenyak karena pesta yang meriah tadi dengan banyaknya game-game yang seru membuatku lelah.Setelah aku selesai mandi dan sholat berjamaah dengan pak Zan. Dengan manjanya dia minta di temani mandi, katanya sudah capek.
"Hadeh...bayi gede ku... " ku tepuk jidatku.
Bukannya minta di temani tapi minta di mandiin. Saking capek bukan capek sih, tapi lebih tepatnya manja. Baju pun suruh di bukakan sampai pakaian dalam pun dia minta aku yang melepaskan nya. Antara malu, kesal dan gemas melihat tingkah pak Zan ini.
"Mandiin ya? " rengek nya.
"Nanti aku bisa basah kak, kan aku sudah mandi? " usul ku.
"Kan kamu bisa ganti pakai handuk dulu"
"Hist... iya-iya deh... " aku segera menggantikan baju piyama ku dengan handuk sedada. Ya antisipasi kalau basah.
Pak Zan duduk di selonjoran di bawah shower dan aku mulai menyiraminya dengan air hangat. Kuberi sampo dan menggosok rambut nya dengan lembut, tak lupa mengambil sabun cair dan ku tuang ke dalam spon ku gosokkan di setiap titik tubuh pak Zan.
Ku hentikan aksiku saat dua bola mata menatapku dengan kemenangan.
"Apa sih kak? kok lihat Tsania segitunya" ucapku.
"Kamu imut kalau lagi serius gitu, tambah cantik" pak Zan mencolek daguku.
"Ih, gombal kamu kak"
Aku pun melanjutkan menggosok setiap helai badan pak Zan.
"Sayang? "
"Hemm... "
"Yang bawah minta di gosok juga lho... "
"Iya... "
Aku segera menggosok sesuai permintaan pak Zan. Aku tersentak tiba-tiba yang aku gosok mengeras dan menegang. Aku menghentikan aksiku menatap tajam pak Zan.
"Apa itu sakit? " tanyaku dengan polos.
"Maksud kamu? " jawab pak Zan dengan bingung.
"Maaf kak, tadi punya kakak lembut dan empuk kenapa setelah aku gosok jadi mengeras? apa itu sakit? " pak Zan terpingkal-pingkal mendengar ucapan ku.
"Apa selama ini saat kita berhubungan intim kamu tidak pernah melihat nya? "
"Aku pernah sekali tak sengaja melihat nya saat mandi bareng itu, tapi sama saat tadi sebelum aku gosok"
Pak Zan tersenyum nakal. Aku yang polos semakin bingung dan takut dengan tingkahnya.
__ADS_1
"Sakit Tan, kalau sesuatu di dalam sana tidak segera di keluarkan" ucap pak Zan sendu.
"Serius kak? "
"Iya"
"Caranya? " tanyaku dengan bodohnya.
"Kamu mau kan menolong kakak agar tidak kesakitan lagi? "
Aku mengangguk menurut. Dengan perlahan pak Zan menarik handuk ku. Dan melucuti semua pakaian dalam yang aku kenakan. Hingga menyisakan telanjang bulat.
Dalam kondisi seperti ini aku masih saja bingung dengan kemauan pak Zan. Pak Zan yang mulai beraksi dengan nakalnya dan aku diam menerima semua tingkahnya padaku.
Dibawah guyuran air shower yang hangat pak Zan melepaskan semua hasrat nya. Malam yang panjang kian memanas dengan keganasan pak Zan dengan berbagai tikaman. Malam ini ku habiskan dengan menikmati surga dunia yang pak Zan berikan. Hingga semburan hangat meluncur di dalam sana.
Aku dan pak Zan segera membersihkan diri dan langsung mandi wajib. Tak lupa berwudhu lagi melaksanakan sholat subuh. Pikiran ku semakin berkelana berpikir panjang tentang hal ini. Bagaimana bisa jam 2 malam aku masuk ke dalam kamar mandi untuk memandikan pak Zan tapi keluar dari kamar mandi sudah adzan subuh. Aneh pikirku. Apa selama itu tadi aku di kamar mandi?. Entahlah.... Usai subuh aku dan pak Zan terlelap dalam buaian mimpi masing-masing.
Deg....
Senyumku tersungging menemukan sesuatu hal yang mengganjal di dalam hatiku. Yang telah berhasil mengganggu pikiran ku sejak semalam.
"Bodohnya aku? jadi semalam aku sudah di bodohi pak Zan????" ingatan ku melayang tentang kejadian semalam.
Mungkin aku terlalu polos hingga tak mengerti kode-kode yang di berikan pak Zan. Pipiku merona tersipu malu atas kejadian semalam. Meski badan ini terasa remuk tapi hatiku terasa bahagia. Aku beranjak dari ranjang menuju jendela. Ku buka tirai itu dan keluar menuju balkon.
Pemandangan yang indah nan sejuk. Ya,pak Zan pandai sekali memilih tempat acara semalam. Karena hotel ini bertepatan di kota Bandungan. Kota yang sejuk, indah dan nyaman. Ku hirup sepoi-sepoi angin di pagi ini meski sudah jam 10 anginnya masih segar. Menambahkan kesegaran dalam paru-paru ku.
Aku reflek menoleh dan berhadapan langsung padanya.
"Tidurnya nyenyak? "
"Heem... "
Aku kembali menatap pemandangan di luar yang indah. Terpampang pegunungan nan hijau bunga-bunga yang berwarna-warni dan berbagai sayuran berderet di perkebunan. Indah sekali. Ini saja baru gambaran indahnya dunia belum si surga kelak.
"Makasih ya sayang? " ucap pak Zan yang masih menaruh dagunya di pundak ku.
"Buat apa? "
"Semalam, kamu telah berhasil membuatku terpesona"
Deg....
Jantungku mulai berdetak kencang mengingat kejadian semalam yang begitu dasyat nya. Meski aku banyak terdiam tapi terlihat pak Zan menggebu dengan begitu semangat nya.
"Aku ingin segera ada si jabang bayi di perutmu sayang" pak Zan mengelus perutku.
"Iya sayang, bismillah ya? "
"Kamu nggak keberatan? "
__ADS_1
"Nggak lah, kan itu yang di harapkan "
"Ih makasih sayang... " pak Zan memutar pundak ku dan meremas ke dua pipiku hingga meninggalkan bekas merah di sana.
"Ih sakit tau... "
"Kalau ini nggak bakalan sakit kan? "
Tiba-tiba pak Zan mengecup mesra bibirku, ******* dan lidahnya mencari ke sana kemari sesuatu didalam sana. Aku enggan membalas karena masih belum siap apalagi aku belum gosok gigi.
"Uhhh.... " aku meronta meminta pak Zan melepaskan kecupannya.
"Kenapa sayang? ".
" Aku belum gosok gigi " jawabku dengan wajah pasi.
"Nggak masalah sayang, apapun itu kamu sekarang sudah menjadi candu ku. Kapanpun di manapun aku akan selalu menikmati di setiap jengkal tubuhmu. Aku tak peduli sudah mandi ataupun belum mandi, gosok gigi ataupun belum. Kamu tetap sesuatu yang berharga dan akan selalu membuatku terpesona dan bahagia memliki mu seutuhnya"
"Hist... dasar pak guru gombal.... " ku tinggal kan pak Zan yang masih mematung di balkon. Dan aku langsung masuk ke kamar mandi.
"Kamu mau ngapain sayang...?!!"
"Mandi...!!! "
"Ikut....!!! "
"Nggak mau....!!! "
"Ckckckck... " terdengar pak Zan cekikikan menahan tawanya. Dan aku kini berada di depan cermin menatap wajahku dan mengusap lembut bibirku.
"Rasanya ini seperti mimpi... " gumam ku. Aku begitu sangat terpesona dengan gombalan pak Zan. Aku seperti nya sudah terperangkap dengan gombalan pak Zan. Tapi aku senang kok.
"Aaaa..... " ku elus kedua pipiku. Merasakan bahagia yang selama ini tertunda.
"Kenapa sayang? " pak Zan mengetuk pintu kamar mandi.
"Ups... " ku tutup mulut ini karena aku sampai tak sadar berteriak saking bahagia nya.
"Nggak apa-apa sayang, ada kecoa mati di sini...!!! "
"Boleh aku masuk? "
"Nggak usah sayang udah aku siram kok kecoa nya"
"It's okay"
"Huft... berhasil juga"
Maaf kak, aku berbohong karena aku takut kalau kakak masuk akan terjadi pergulatan lagi, sedangkan aku masih terasa capek sekali.
Maaf baru up, di harapkan bijak dalam membaca ya? ada sedikit percikan aroma pengantin baru yang sedang berbulan madu ya?. Yang di bawah umur di harap gak usah baca kalau belum siap. ✌✌✌
__ADS_1