
... Bagaimana saya bisa melupakanmu, ketika kamu adalah semua yang pernah aku miliki… Tetapi, sangat menakutkan bahwa kamu begitu jauh untuk aku gapai...
...🌺🌺🌺...
Hingga langit gelap, pak Ardi tidak kunjung masuk ke dalam kamar. Sebenarnya ada perasaan lega, tapi juga bercampur khawatir.
Aku tidak tahu dia kemana, benarkah begitu? Kenapa aku cemas.
Berkali-kali ku lirik jam yang menggantung di dinding, sekarang sudah jam delapan malam. Jikapun ke masjid pasti juga sudah pulang, pikirku.
Tapi semakin ke sini, aku tidak mendengar apapun. Sepertinya pak Ardi juga tidak akan tidur di kamar. Mungkin dia hanya ingin membuatku takut dengan mengatakan jika kamar hanya ada satu.
Satu jam kemudian
Meskipun aku sudah bersembunyi di balik selimut, tetap saja aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku jadi khawatir jika ternyata aku tidak di sini sendiri. Maksudku pak Ardi tidak tinggal di rumah ini.
Aku jadi penasaran, pak Ardi sedang apa ya? Atau mungkin di mana?
Aku pun sengaja mengintip ke luar melalui pintu kamar yang sedikit aku buka dan aku sudah mendapati semua lampu mati, mungkin pak Ardi sudah tidur, atau yang aku pikirkan itu benar?
Karena begitu penasaran dan juga takut. Aku pun melangkahkan kakiku keluar tanpa berniat mencari skaklar untuk menghidupkan kembali lampu.
"Na, ada yang bisa aku bantu?"
Pertanyaan itu cukup mengagetkanku hingga aku terlonjak dan kepalaku membetur sesuatu.
Tukkkk
"Auhggggg....!" pak Ardi mengaduh dan samar ku lihat tangannya meraih sesuatu. Ternyata saklar lampu, kini ruangan kembali terang.
Terlihat memegangi dagunya yang terbentur kepalaku.
"Maaf pak, itu tadi aku tidak sengaja!" ucapku merasa bersalah, dan ku lihat sebuah karpet sengaja di gelar di depan pintu kamar lengkap dengan bantal dan selimut. Itu artinya, pak Ardi sengaja tidur di luar.
"Tidak pa pa!" jawab pak Ardi masih sambil memegangi ...., ternyata bukan dagu tapi bibirnya seperti tengah menahan sakit.
Setelah aku perhatikan ternyata bibir bawah pak Ardi berdarah, mungkin karena benturan tadi terlalu keras.
"Pak berdarah!" tentu aku terkejut.
"Apanya?"
"Bibir bapak!"
Pak Ardi pun segera memegang bibirnya yang berdarah dan darah itu sampai juga di tangan pak Ardi.
"Jangan khawatir, ini tidak pa pa."
"Biar aku obati pak! Itu pasti sakit."
Walau bagaimanapun aku yang sudah membuat bibir pak Ardi terluka, aku tidak bisa angkat tangan begitu saja.
"Sudah nggak pa pa, kamu istirahat saja biar aku obati sendiri!" tolak pak Ardi.
"Nggak pa pa pak, mana obatnya?" tanyaku, aku baru di rumah ini jadi jelas aku tidak tahu di mana pak Ardi menyimpan tempat obat.
"Ada di dalam sih, di laci yang ada di samping tempat tidur!"
"Biar aku ambil dulu pak, bapak tunggu di luar ya!"
"Hmm!"
Ahhhh bodoh sekali, bisa-bisanya aku malah meminta pak Ardi menunggu di luar, kan ini kamarnya.
__ADS_1
Entahlah, pikirkan nanti saja.
Aku pun segera berjalan masuk ke dalam kamar, tanganku begitu cekatan mencari sesuatu di dalam laci nakas di samping tempat tidur,
Setelah menemukan sebuah kotak kecil transparan itu aku pun berlalu keluar dari kamar dan aku lihat pak Ardi sudah duduk di sofa yang ada di depan tv layar datar itu. Ahhhh, aku bahkan baru menyadari jika tv di rumah ini cukup besar dan sepertinya ini digital.
Lampu yang tadi sudah di matikan, kini kembali menyala hanya di ruangan itu, aku tidak mau membuang waktu dengan mengamati hal yang tidak penting saat ini, aku pun segera duduk di samping pak Ardi, di sofa yang sama.
"Nggak punya obat tetes bibir ya pak?" tanyaku, biasanya aku mengobati sariawan di bibir Rara dan Riri, mungkin obatnya berbeda karena aku tidak bisa menemukannya.
"Obat luka biasanya saja, Na!"
"Mana bisa seperti itu pak, ini bibir loh. Bahaya kalau ketelen."
Pak Ardi malah tersenyum,
"Baiklah, yang itu. Botol kecil berwarna biru, itu obat bibir kalau sedang sariawan!"
Ahhhh, kayaknya aku yang meleng. Atau aku sudah ngantuk ya? Sampai tidak melihatnya tadi, tapi memang merk nya berbeda.
Aku pun menuruti permintaan pak Ardi, sebuah botol kecil berwarna biru muda,
"Pak mendekatlah!" perintahku saat botol itu sudah aku buka dan pak Ardi mencondongkan tubuhnya ke arahku.
Perlahan aku pegang bibir pak Ardi sedikit aku tarik ke bawah agar bisa ku teteskan. Hanya dua tetes dan sudah selesai dan saat aku menatap pak Ardi ternyata sedari tadi pak Ardi memperhatikan aku.
"Pak sudah loh ...!"
"Ohh, sudah ya?"
Entah apa yang sedang di pikirkan oleh pak Ardi, tapi apapun itu membuatku takut saja.
"Ya sudah ya pak, aku kembali ke kamar!"
Segera aku berdiri dari dudukku, tapi segera aku menoleh paka pak ardi. Rasanya kok tidak tahu diri ya jika membiarkan pak Ardi tidur di lantai.
"Pak,"
"Iya?"
"Kalau bapak mau, bapak boleh kok tidur di kamar."
Kulihat pak Ardi malah mengerutkan keningnya.
Pak Ardi berdiri dan menggenggam kedua bahuku,
"Na, jangan dulu ya. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku. Berada dekat denganmu, membuat sesuatu yang tengah tidur cepat terbangun."
"Apa?"
Pak Ardi melirik ke arah tubuh bawahnya dan sekarang aku faham apa yang dia maksud.
Ya ampuuunnnn , kayaknya aku salah.
"Aku akan masuk sendiri. Selamat malam."
Langkahku begitu cepat masuk ke dalam kamar, tidak lupa segera ku tutup pintu itu.
Dengan bersandar di pintu, ku pegangi dadaku yang rasanya seperti sedang berdisko. Jantungku serasa ingin lepas dari tempatnya, menakutkan.
"Ya ampun, aku hampir memasukkan singa ke dalam kandang."
Aku segera kembali berjalan dan memasukkan kotak obat itu ke dalam laci, berjalan kembali mengitari tempat tidur dan tidur.
__ADS_1
Mungkin karena aku terlalu lelah hari ini, rasanya mataku ingin segera aku pejamkan. Baru saja beberapa menit dan aku sudah masuk ke alam mimpi.
...🍂🍂🍂🍂...
Terdengar tarhim dari masjid menandakan kalau waktu subuh akan segera di mulai, suaranya sedikit lebih nyaring dari biasanya. Karena mungkin sudah terbiasa membuatku terbangun di waktu yang sama.
Saat mataku terbuka, aku sedikit terkejut karena bukan di rumahku. Sebenarnya aku berharap kejadian kemarin hanyalah bagian dari mimpi, tapi saat aku membuka mata ternyata mimpi itu kembali.
"Ahhhh, ternyata bukan mimpi!"
Ku sibak selimut tebal itu, kakiku mulai turun dan menginjak ke lantai. Aku harus mencari sendalku. Dengan mata yang masih berat ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan dan benar saja, ada dua buah sendal yang berada di samping meja rias.
Perlahan aku berjalan dan memakai sendal yang terlihat bersih itu, mungkin memang sendal itu sengaja di gunakan di dalam rumah. Aku harus mencari sendalku sendiri di luar rumah.
Perlahan ku buka pintu kamar, kamar mandi ada di luar. Di luar kamar lampu sudah menyala,
"Apa pak Ardi sudah bangun?"
Ahhh iya, sepertinya aku lupa dia kan memang rajin ke masjid. Setahuku sih.
Kembali ku lanjutkan langkahku mencari kamar mandi, mungkin berada di samping dapur.
Samar-samar ku dengar seseorang sedang membaca Al Qur'an, dan benar saja di ruang yang ada di samping ruang makan, pak Ardi sudah begitu rapi dengan baju Koko dan sarungnya sedang membaca Alqur'an, tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini aku melihat ada sajadah yang di gelar di lantai.
Shadaqallahul Azhim
Sepertinya pak Ardi menyadari kedatanganku, dia segera mengakhiri bacaannya dan menutup Alqur'an nya, mencium Al-Qur'an itu sebelum meletakkannya, ia menoleh ke arahku.
"Na, kamu sudah bangun?"
"Iya pak! Kamar mandinya di mana ya pak?"
"Itu, di samping dapur!" ucapnya sambil menunjuk ke arah belakang.
"Terimakasih pak, aku ke kamar mandi dulu ya pak!"
Aku pun berjalan cepat meninggalkan pak Ardi, aku sudah tidak tahan ingin buang air, sebuah kamar mandi yang bersih berada di samping dapur.
Setelah membersihkan diri dan menyelesaikan hajatku, aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang begitu segar, aku tidak menemukan pak Ardi lagi di sana, mungkin pak Ardi sudah berangkat ke masjid.
Aku pun segera kembali ke kamar tanpa mengganti bajuku, aku harus segara ke rumah ibu untuk mengambil sayur yang mungkin di masak ibu, dan milik tetanggaku.
Aku berjalan ke luar rumah, dan kembali menutup pintu.
"Na, sudah siap ya?"
Lagi-lagi pak Ardi membuatku terkejut, dia sudah duduk di teras menungguku, suka sekali dia membuatku terkejut.
"Astaga pak, kau ini benar-benar mengagetkanku!" keluhku sambil memegangi dadaku.
"Astaghfirullah, Na!"
"Maaf pak, aku belum terbiasa!" aku beralasan. Tapi memang kata-kata itu cukup asing buatku.
"Ayo!"
Pak Ardi ternyata menungguku, aku tidak bisa menolaknya lagi. Lagi pula kami juga satu arah, tidak masalah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya ya, follow Ig aku juga ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1