My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
54. Lamaran resmi


__ADS_3

Zanna bangun dari tidurnya saat suara azan ashar berkumandang. Dengan cepat ia mencari keberadaan pak Ardi, tapi ternyata ia tidak menemukan pria itu.


Ternyata rasa penyesalan itu kembali muncul meskipun ia sudah mencoba melupakannya dengan tidur.


Hingga ia pun memutuskan untuk mandi, baru saja selesai mandi ia mendengar suara pintu di ketuk dari luar. Jelas situ bukan pak Ardi, karena jika pak Ardi ia tidak perlu mengetuk pintu. Jika dari mana-mana ia tidak masuk dan mengucapkan salam.


Langkahnya cepat menuju ke pintu depan, saat pintu terbuka terlihat pria dengan jas rapi tengah berdiri di depan pintu,


"Siapa ya?"


"Maaf nona, saya diminta pak Ardi untuk mengantarkan ini pada anda." ucap pria itu sambil menyerahkan dua paper bag besar dari tangannya membuat Zanna mengertukan keningnya tidak mengerti.


"Pak Ardi nya ke mana?"


"Pak Ardi sedang ada urusan di luar, nona. Setelah magrib nona di minta untuk bersiap-siap dengan gaun yang sudah di siapa kan oleh pak Ardi, nanti saya akan menjemput nona lagi."


"Kenapa bukan oan ardi sendiri?"


"Pak Ardi tengah ada urusan, beliau berjanji akan bertemu di sana nanti."


Zanna masuk memicingkan matanya, ia tidak bisa percaya begitu saja pasalnya ia tidak mengenal pria di depannya itu.


"Jika nona tidak percaya, pak Ardi sudah mengirimkan pesan singkat pada anda."


"Kalau begitu saya permisi, saya akan datang lagi nanti tepat setelah magrib, saya harap nona sudah bersiap-siap."


Pria itu pun pergi meninggalkan Zanna, di tengah rasa penasarannya Zanna membawa masuk dua paparrbag dengan warna yang berbeda itu, ia mengambil ponselnya yang sedari tadi ia charger dna benar saja pak Ardi sudah mengirimkan pesan untuknya.


"Jadi benar ini suruhan pak Ardi." gumamnya ada perasaan kesal saat yang datang bukan pak Ardi.


Zanna pun membuka paperbag berwarna silver dan ternyata di dalamnya adalah sebuah gaun tertutup lengkap dengan hand bag dan hijabnya, kemudian ia beralih pada paper bag berwarna merah jambu, yang ternyata isinya sepatu dan satu set perhiasan.


"Ada acara apa? Apa ada hajatan? Bagaimana kalau ternyata ada hajatan di rumah pak Ardi? Aku kan belum kenal sama keluarga pak Ardi, hanya mamanya saja yang aku kenal." perasaan Zanna semakin cemas hingga ia berharap hari ini waktu tidak berlalu dengan cepat.


Tapi ternyata, saat suasana hatinya seperti ini. Dia jam terasa hanya dua menit saja. Tanpa terasa magrib sudah berlalu dan ia sudah harus bersiap-siap.


beruntung pak Ardi sudah menyertakan hijab bersama gaun berwarna biru muda itu hingga ia tidak perlu susah-susah mengatur tatana rambutnya.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk bersiap-siap karena Zanna bukan gadis yang suka berdandan, ia hanya mengusap wajahnya dengan bedak tipis dan menghias bibirnya dengan lipstik ombre.


Seperti janji pria itu pun datang tepat waktu,


"Silahkan masuk nona."


"Tunggu dulu,"


"Apa ada masalah nona?"


"Mana KTP kamu."


"Ada apa nona?"


"Mana dulu,"


Pria itu pun mengeluarkan benda tipis itu dari dalam dompetnya dan menyerahkannya pada Zanna,


"Ini asli kan?"


"Iya nona,"


Zanna mengamati KTP itu, memastikan foto di dalam KTP itu sama dengan yang ada di depannya.

__ADS_1


Dia terlalu tua untuk usai tiga puluh tahun, batinnya saat melihat tanggal lahir yang tertera di dalam KTP.


"Saya akan menyita KTP bapak sampai saya ketemu sama pak Ardi."


"Baik nona. Silahkan masuk."


Akhirnya Zanna pun bersedia untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya mereka sampai juga di sebuah restauran out door yang ada di tepi danau.


"Siapa saja yang akan datang pak? Apa keluarga pak Ardi juga akan datang? Atau mungkin teman-teman pak Ardi juga?" tanya Zanna begitu turun dari mobil.


"Itu bisa nona tanyakan langsung pada pak Ardi sendiri nanti, mari nona saya antar pada pak Ardi."


"Baiklah."


Akhirnya pria dengan nama Herry itu pun mengantar Zanna menuju ke sebuah Gasebo yang berada tepat di tepi danau, terlihat lilin menyala di sepanjang jalan yang ia lewati hingga membuat Zanna terkesima olehnya.


Senyumnya lebar saat melihat pak Ardi sudah duduk di sana dengan pakaian rapi, pakaiannya tidak jauh beda dengan pria yang mengantarnya.


"Assalamualaikum, Zanna." sapa pak Ardi.


"Waalaikum salam, pak."


Setelah memastikan Zanna bertemu dengan pak Ardi, pria itu pun pergi meninggalkan mereka.


"Duduklah." pinta pak Ardi dan Zanna pun duduk di sisi lain, dengan meja berada di tengah-tengah mereka lengkap dengan berbagai makanan di atasnya, tiga buah lilin juga menyala di atasnya.


"Ini ada apa pak? Kenapa kok sepi katanya ada pesta."


"Siapa yang mengatakannya?"


Zanna nyengir kuda, "Nggak ada sih, hanya saja kan pakaian Zanna ini seperti pakaian pesta. Apa yang lain belum datang?"


"Kok bisa?"


"Bisa dong, Zanna kamu begitu cantik dengan jilbab itu."


Ucapan pak Ardi berhasil membuat Zanna kembali salah tingkah, ia sampai bingung harus menyembunyikan senyumnya di mana. Rasanya ingin sekali melayang.


Aku kembali mengibaskan tanganku di depan wajah pak Reihan, "Pak_, pak Ardi_, jangan bercanda deh."


"Aku serius."


Zanna kembali teringat dengan kejadian tadi siang, senyumnya tiba-tiba pudar berubah menjadi tegang.


"Pak,"


"Ya,"


"Soal tadi siang, jangan di pikirkan ya. Anggap saja Zanna nggak pernah ngomong kayak gitu."


"Zanna, kamu serius ngomong kayak tadi siang kan?" tanya pak Ardi membuat jantung Zanna semakin dag Dig dug.


"Iya pak, maaf aku salah! Tidak seharusnya aku jatuh cinta sama pak Ardi! Ini salah, tapi aku tidak mampu mengendalikan perasaanku lagi pak!"


Mendengar ucapan Zanna pak Ardi pun tersenyum kemudian ia merogoh saku jasnya dan berdiri dari duduknya tiba-tiba berjongkok di samping Zanna sambil mengulurkan sebuah kotak cincin yang sudah terbuka hingga menampakkan sebuah cincin yang indah di hadapan Zanna,


"Pak ini apa?"


"Maaf mungkin ini terlambat, tapi sekali lagi saya ingin mengatakannya dengan tanpa paksaan siapapun."

__ADS_1


"Maksud bapak?"


"Zanna binti Bara, bersediakan Kamu menjadi istriku sepenuhnya mulai hari ini?"


Bibir Zanna bergetar, ia meneteskan air mata haru. Ia tidak menyangka pak Ardi akan seromantis ini,


"Pak apa Zanna nggak salah?"


"Nggak! Kamu tidak salah, memang seharusnya seperti cara melamar seorang gadis, jadi bagaimana di terima nggak?"


Zanna pun mengangukkan kepalanya mantap,


"Iya, Zanna mau!"


Pak Ardi pun tersenyum kemudian mengambil cincin itu dan memakaikannya pada jari manis Zanna,


"Kalau begitu boleh nggak sekarang aku peluk kamu?" tanya pak Ardi kemudian setelah menyalurkan kembali kotak kecil yang sudah kosong itu ke dalam saku jasnya.


Ahhhh, jangankan peluk, lainnya juga boleh pak ...., batin Zanna sambil tersenyum dan mengangukkan kepalanya.


Sreekkkkk


Tanpa aba-aba pak Ardi menarik tubuh Zanna ke dalam pelukannya, kini daun telinga Zanna tepat mengenai dada bidang pak Ardi dan ia bisa mendengarkan detak jantung pak Ardi yang begitu cepat.


Ia pun juga merasakan detak jantungnya tidak jauh beda bahkan darahnya sepeti mengalir begitu deras, seperti tubuh pak Ardi memiliki aliran listrik dengan tegangan tinggi.


Setelah sekian detik, akhirnya pak Ardi melepaskan pelukannya. Kini tangan pak Ardi sudah berpindah ke atas bahu Zanna dengan sedikit menunduk ia menatap Zanna dengan tatapan penuh cinta.


"Ini hari yang paling membahagiakan dalam hidupku, terimakasih ya!" ucap pak Ardi dengan penuh haru.


Zanna masih tidak percaya hari ini benar-benar terjadi, rasanya masih seperti mimpi,


"Pak Ardi serius cinta juga sama Zanna?" tanya Zanna, bagaimana pun sebelumnya ia bukan siapa-siapa tanpa pak Ardi di sisinya. Ia hanya anak seorang pemilik toko kelontong yang sepi.


Pak Ardi mengusap puncak kepala Zanna dengan lembut,


"Aku sudah mencintaimu semejak aku mengucapkan kata ijab di depan penghulu saat itu, dan aku menunggu saat ini, saat di mana kamu membalas perasaanku!"


"pak Ardi serius?"


"Hmmm,"


"Makasih ya pak,"


Sekali lagi pak Ardi mengangukkan kepalanya,


"Aku jadi nggak sabar buat segera pulang, bagaimana kalau kita cepat makan dan pulang?"


"Memang kenapa harus cepat-cepat pak?"


"Ada yang harus kita kerjakan setelah ini."


"Apa?"


"Nanti setelah sampai rumah, kamu juga tahu."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2