
Pak Zan memilih menaiki motornya sendiri dan menyuruh Toni menemani Tsania naik taxi online.
Pikirannya kalut ia merasa sudah banyak memikul beban. Dan tak ada satupun yang tahu beban yang ia pikul sendiri.
Bahkan istrinya sendiri tak tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya, ia hanya bisa berdoa dan berusaha sekuat mungkin untuk bertahan dan melindungi orang-orang tersayang nya.
Karena saking banyaknya pikiran yang ia simpan sendiri, membuatnya tak bisa mengendalikan emosinya ia sadar atas kelakuannya, dan ia juga khilaf. Yang lagi-lagi melukai hati sang istri tercinta.
Alih-alih tidak mau membuat sang istri banyak pikiran tapi tanpa sengaja ia telah melukai dan mengecewakan sang istri.
Dalam perjalanan air mata pak Zan menetes tiada henti,dalam hatinya tak henti-hentinya beristighfar menyadari apa yang telah ia perbuat belakangan ini pada sang istri.
*
Di dalam taxi aku dan Toni pulang menuju ke rumah. Ku sandarkan kepala ku ke pundak Toni, dengan segera ia mengelus puncak kepalaku dengan lembut.
"Semua manusia itu pasti akan di uji oleh sang pencipta, termasuk dalam kehidupan pernikahan pasti ada saja permasalahan nya. Tergantung yang menjalani nya mbak, apalagi orang berumah tangga itu harus saling komunikasi jangan di simpan sendiri jika ada masalah bisa berakibat fatal bahkan perceraian. Karena merasa sudah tak ada cinta dan tak saling pengertian memutuskan untuk bercerai padahal bukan itu inti permasalahannya tapi masalah itu muncul karena adanya kurang komunikasi. Komunikasi itu nomer satu mbak..."
Deg....
Aku nggak nyangka Toni bisa menasehati aku kayak gitu, seorang remaja yang baru berumur 15 tahun sudah sedewasa itu, sedangkan aku?.
"Gaya kamu to Ton-Ton udah kayak orang gede aja"
"Eh kan tadi kata bapak sopir, Toni suami mbak. Ya jadi bisa dewasa dong..." ceplosnya asal.
"Eh...." aku jadi teringat kejadian sopir taxi tadi kembali terpingkal lagi seketika lupa dengan kesedihan ku.
"Eh motor kak Irul nggak ada di depan mbak?"
"Palingan juga ngebut dia,udahlah biarin aja nanti di rumah juga ketemu"
"Emmmm,ok deh"
"Oh ya Ton ,kamu kok bisa sebijak ini sih sekarang? padahal kan kamu belum tahu tentang pernikahan?"
"Toni kan sering di ajak paman Ali ceramah mbak,kadang di akhir pengajian itu banyak yang berkonsultasi tentang pernikahan jadi otomatis Toni tau mbak"
"Oh kirain..."
"Apa coba?"
"Gang sini mbak mas?" tanya pak sopir.
__ADS_1
"Iya pak"
Aku segera turun dari mobil setelah membayar ke pak sopir.
Sampai rumah tampak sepi karena sudah jam setengah tujuh malam aku dan Toni segera bergegas sholat Maghrib berjamaah dengan Toni sebelum waktunya habis.
"Alhamdulillah..."
"Tsan, nak Irul mana? katanya tadi mau nyusul kamu"
"Loh bukannya sudah pulang bu?"
"Belum ik Tsan..."
"La Laili?"
"Dia istirahat di kamarnya"
Aku segera melepaskan mukena ku dan mencari ke kamar tapi di sana tak ada pak Zan setelah itu lari ke depan rumah, motornya ternyata juga gak ada.
Aku chat nggak di buka,aku telpon nggak di angkat. Semarah itukah kamu kak?hingga kamu nggak mau ketemu aku lagi.
"Nggak ada mbak?"
"Pantesan pas tadi di jalan Pemuda udah nggak kelihatan motornya ternyata menghilang kayak gini toh?"
Ku berfikir dengan keras tentang jalan Pemuda. Aku teringat sesuatu, tanpa menunggu aku langsung memesan taxi online dan pergi lagi.
"Mbak Tsan....!!! mau kemana?"
"Bilangin ke ibu,mbak pergi dulu...nggak usah di tunggu...!!! assalamualaikum...!!!"
"Waalaikumsalam..."
Harap-harap cemas memikirkan pak Zan.
Terkadang aku yang merasa egois atau pak Zan yang kurang peka tapi baru kali ini pak Zan seperti itu ,apa aku sudah keterlaluan?apa salahku?apa yang telah aku perbuat hingga pak Zan semarah itu.
Aku mengingat semua kejadian di toko tadi adakah hal yang ku lakukan di atas batas normal?tapi rasanya nggak deh....lantas apa ya,yang membuat pak Zan semarah ini?.
Aku mengingat semua kenangan saat masa sekolah dulu hal-hal manis yang selalu ku rindukan apalagi saat pak Zan mencoba menggodaku manis sekali. Masa-masa sekolah adalah masa saat indah bersama pak Zan dia tak pernah sekalipun marah padaku.
Eh,aku ingat saat sebelum kelulusan usai tes itu pak Zan pernah marah kan?saat itu dia begitu terlihat memendam emosi yang meluap dan setelah di selidiki gara-gara pak Zan mau di jodohkan. Mungkin karena tidak suka atau gimana dia sedikit kecewa karena di jodohkan.
__ADS_1
Pak Zan itu kalau lagi punya masalah atau banyak pikiran pasti akan sedikit emosi atau kadang bahkan bisa di bilang seperti ingin menelan orang, matanya mencekam seperti harimau yang kelaparan.
Ya, seperti tadi dia marah banget yang gak begitu ku pahami, apa yang membuat dia marah. Dan seakan aku yang bersalah.
Deg....
Apa pak Zan lagi banyak masalah ya?hingga membuat pak Zan seperti itu. Apa pak Zan lagi butuh support dariku? apa....
"Sudah sampai mbak..."
"Eh iya pak" aku segera turun setelah uang pas ku bayar kan pada pak sopir.
Ku tatap karangan bunga yang sudah mengering. Sebuah rencana yang indah mundur untuk di lakukan eh bukan mundur tapi lebih tepatnya gagal di lakukan gara-gara kehamilan Laili.
Dugaan tepat motor pak Zan ada di depan otomatis pak Zan ada di dalam. Perlahan aku masuk rumah mencari pak Zan di setiap sudut tapi belum ku temukan dia. Dan satu tempat terakhir yaitu di lantai atas .
Tercengang aku melihat pemandangan yang tak pernah aku lihat ini,pak Zan menangis tersedu-sedu. Dia duduk di atas kursi menghadap ke pemandangan luar sana kendaraan yang lalu lalang di malam hari.
Sesekali di usap dengan kasar air matanya yang menetes. Tapi isakan tangis masih terdengar jelas di telinga ku. Sosok pak guru panutan yang menjadi teladan semua muridnya dan guru-guru menangis seperti ini.
Apa begitu besar masalah yang ia pendam?apa aku terlalu egois?yang hanya mementingkan perasaan ku tanpa mengerti apa yang sedang di alami pak Zan.
Hatiku terasa remuk seketika melihat pak Zan seperti ini. Sosok lelaki yang kuat dan yang selalu mengayomi bisa secengeng ini?
"Maafin Tsania ya kak..." ku peluk pak Zan dari belakang dan air mataku tidak bisa ku tahan lagi.
"Tsania?" pak Zan mengelap air matanya dengan segera. Menoleh ku dan menyambut ku dengan bahagia. Memelukku dengan begitu erat.
Entah ada sebuah ketenangan yang luar biasa saat pak Zan menyambut pelukan ku. Terasa nyaman dan damai.
"Maafin kakak ya?" pak Zan mencium keningku.
"Tsania juga minta maaf ya kak..."
Pak Zan menatap wajahku lalu melepaskan pelukan ku dia terisak tangis lagi.
"Menangis lah jika itu akan membuat mu tenang...ada aku yang akan selalu di sisimu" ku peluk pak Zan dengan lembut.
"Tenang kan pikiran mu kak,baca istighfar...tarik nafas dan buang perlahan..."
Ku tatap wajah pak Zan yang sendu. Wajahnya sayup ,matanya memerah terlihat ada sebuah beban yang seakan tak sanggup ia pikul sendiri.
"Ceritalah padaku kak,jika kakak mau...Tsania dengan senang hati akan mendengar kan semuanya..."
__ADS_1
"Maafkan aku Tsan...." bisik ya lagi.