
Mendengar kenyataan yang mencengangkan pak Zan segera berpikir panjang mengurus semua tanpa ada yang tersakiti karena dia tahu Fulan sang murid juga pantas untuk bahagia. Dan sang adik ipar juga berhak bahagia.
Masalah yang begitu rumit dan membingungkan membuat nya harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum terlanjur jauh.
Setelah nanti mengantar Laili ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan nya pak Zan berencana menemui Arnold memastikan semua terselesaikan dengan baik tanpa amarah dan emosi.
"Lel?kamu mau kan periksa kandungan di rumah sakit? "
"Tapi aku malu kak"
"Sudah nggak usah malu nanti kakak ke dokter teman kakak jadi aman"
"Iya kak"
Setelah itu pak Zan meluncurkan motornya langsung menuju ke rumah sakit setelah menghubungi Dion. Untuk membuat nyaman Laili Pak Zan sudah berpesan pada Dion agar tidak bertanya yang aneh-aneh.
Dengan ragu dan malu-malu Laili terbaring di bed yang di sediakan.
"Terakhir datang bulan kapan? "
"Empat bulan lalu"
Dion dengan lembut mengusap perut Laili dengan alat bantu dan kedua matanya tampak fokus pada layar monitor.
"Alhamdulillah kamu hamil, usia kandungan nya 15 minggu. Nggak usah takut bayinya sehat kok nanti kakak beri vitamin yang bagus kalau mual minta kak Irul beliin susu ya? "
"Dan perbanyak makan sayuran dan buah-buahan ya? "
Laili mengangguk.
"Kamu tunggu di luar dulu ya dek? kakak mau mengurus semuanya"
"Iya kak" Laili keluar dari ruangan Dion dengan wajah pucat pasi.
Dan sementara itu di dalam Dion semakin penasaran dengan apa yang terjadi barusan.
"Eh dia siapa? jangan bilang murid lo yang lo hamil i? hayo ngaku dasar buaya lo" Dion menyeret kursinya lebih dekat dengan Fauzan.
"Hust, jangan asal ngoceh kamu"
"La terus? "
"Jangan bilang ke siapa-siapa ya? "
"Iya"
"Itu Laili adik ipar gue adiknya Tsania"
"What??? maruk juga lo ya? belum juga istri lo lahiran udah hamilin adiknya gila lo...!!! "
"Dasar bocah... " pak Zan menjitak kepala sahabat nya itu.
"Lantas gimana? "
"Kebiasaan lo ya suka motong pembicaraan sebelum selesai mendengarkan"
"Iya maaf... "
"Dia hamil karena Arnold, mantan pacar istri gue dan yang menjadi gue bingung, itu cowok murid gue juga yang baru saja nikah sama sahabat istri gue yaitu Fulan murid gue juga... "
__ADS_1
"What? kok bisa sih... brengsek juga tu cowok"
" Gue juga belum jelas pastinya gimana makanya ini nanti gue mau ketemu tu cowok"
"Udah habisin aja cowok model kayak gitu ma nggak usah di kasih ampun"
"Dasar lo tukang rusuh, gue masih bisa pakai akal sehat gue kali. Udah ah gue mau pulang dulu... janji jangan bilang siapa-siapa terutama sama Mano"
"Iya-iya... "
"Gue pulang ya? makasih loh"
"Sama-sama bro"
Pak Zan keluar dari ruangan Dion dan di luar tampak Laili tertidur di kursi tunggu. Pak Zan merasa iba dengan hati-hati dia membangunkan nya karena mungkin Laili kelelahan setelah beraktivitas seharian.
"Maaf ya Lel kakak kelamaan ya? "
"Eh, nggak kok akunya aja yang ngantuk an kak" jawab Laili mengucek matanya.
"Udah yuk pulang" pak Zan menggandeng tangan Laili.
Ada perasaan bahagia dan bangga karena hari ini Laili benar-benar merasakan kebahagiaan, dalam hati kecilnya bisa berubah-ubah. Tadi saat di mall dia merasakan sedang berjalan dengan suaminya, saat curhat tadi seperti dengan kakak nya dan sekarang seperti di antar oleh sang ayah.
Setelah menebus obat pak Zan segera mengajak pulang Laili karena sudah menjelang sore.
"Kita mampir beli susu sama buah-buahan ya? " ujar pak Zan sembari memakaikan helm di kepala Laili.
Laili hanya mengangguk.
.
.
.
"Nduk? gimana adik kamu? "
"Aman buk sama kak Irul" jawabku menenangkan ibu meski aku pun tak tahu kabar mereka setidaknya ibu tidak cemas.
Setelah beberapa menit hampir menjelang mahgrib terdengar suara motor pak Zan aku dan ibu menunggu di ruang tengah sengaja tidak keluar agar mereka tidak merasa bersalah karena pulang sore tanpa kabar.
"Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam... "
Pak Zan pulang membawa banyak buah-buahan dan berbagai cemilan.
"Wuah kakak tahu aja kalau aku kepingin buah"
"Iya dong" pak Zan meletakkan buah-buahan dan makanannya di atas meja. Dan langsung mencium kening ku dan aku bersalaman mencium tangannya dengan takzim.
Tak lupa pak Zan bersalaman dengan ibu dan di ikuti Laili. Setelah itu Laili masuk kamar.
"Dari mana nak Irul kok baru pulang? "
"Habis ngajak jalan-jalan Laili buk, nanti malam kalau semuanya sudah tidur kita obrolkan masalah ini ya? "
"Iya nak Irul"
__ADS_1
"Ya udah Irul mau mandi dulu ya? "
"Iya nak"
Kak Irul masuk kamar dan aku mengikuti nya, tanpa banyak tanya aku hanya diam memperhatikan nya, dia mengambil handuk langsung menuju kamar mandi.
Aku pun mengikutinya lagi karena masih penasaran dengan pak Zan.
"Eh Laili mau mandi juga? " tanya pak Zan yang bertemu Laili di depan kamarnya menenteng handuk.
"Iya kak"
"Pakai air hangat ya kalau mandi"
"Iya kak, ya udah kakak mandi dulu Laili mau rebus air dulu"
"Ok deh"
Aku masih diam memperhatikan mereka meski ada rasa sedikit cemburu tapi aku berusaha menepisnya. Aku sengaja duduk di meja makan depan kamar mandi menunggu pak Zan yang mandi dan memperhatikan Laili yang merebus air di dapur.
Selang beberapa menit pak Zan keluar dari kamar mandi, aku merasa heran tak biasanya dia mandi secepat itu.
"Lel, mandi gih habis ini sholat magrib" ujar pak Zan sembari menggosok rambutnya dengan handuk di depan pintu kamar mandi.
"Iya kak"
Aku yang duduk di meja makan diam tak bergeming menyaksikan itu. Apa ini yang di rasakan pak Zan saat Tafi perhatian padaku? cemburu, sakit dan kecewa meski bibirku selalu berkata tidak...
Aku menyusul pak Zan ke kamar setelah ambil wudhu di kran samping kamar mandi.
"Kak? "
"Iya? "
"Sholat jamaah di kamar sholat ya? "
"Iya lah kan biasanya juga gitu" entah aku yang terlalu cemburu atau terlalu sensitif rasanya ucapan pak Zan sedikit ketus.
Pak Zan memimpin sholat maghrib berjamaah bersama Toni, ibu, aku dan Laili.
Saat semua sudah selesai sholat dan keluar dari ruangan sholat tinggal aku sendiri di sana, ku tumpahkan air mataku yang sedari ku pendam. Pikiran kotorku meracuni otakku melihat pak Zan yang cuek, ketus dan semakin perhatian dengan Laili hatiku terasa teriris apalagi saat pak Zan dan Laili sama-sama keramas ada rasa curiga mengotori pikiran ku.
Setelah tenang ku hapus air mataku dan segera menyusul pak Zan ke kamar. Aku terkejut pak Zan yang sudah rapi memakai kemeja panjang yang di lipat selengan, celana jeans dan satu lagi dia sangat wangi sekali tak biasanya dia memakai parfum sebanyak itu, terlihat jelas dia menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya sangat banyak.
"Mau kemana? baru datang udah pergi lagi"
"Ada urusan bentar"
"Haruskah dirahasiakan? aku istrimu berhak tahu atas urusanmu"
"Kamu kenapa sih dek ketus gitu" ucap pak Zan sembari memakai jam tangan.
"Kakak yang kenapa? "
"Sayang aku ada urusan yang sangat genting nanti jam 9 malam kakak pulang nanti kita obrolkan sama ibu" ucapnya menjelaskan sembari memegang pundak ku.
"Kakak pergi dulu ya? " pak Zan mencium kening ku dan tak lupa mengelus perutku lalu menciumnya.
"Assalamu'alaikum... " ucapnya sembari menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.... "
Tes.... air mataku mulai membasahi pipiku.