My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
RINDU YANG TERSIMPAN


__ADS_3

Cobaan dalam rumah tangga itu beraneka macam ada yang di uji perekonomian nya, ada yang kesetiaan nya dan ada juga keluarga.


Semua tergantung komitmen masing-masing,jika sudah berpendirian teguh,saling menggenggam tangan badai sebesar apapun akan terlihat ringan karena di hadapi bersama-bersama dengan rasa ikhlas dan sabar.


Setelah pulang dari taman aku dan Tafi istirahat di rumah. Tafi istirahat di kamar atas dan aku di kamar bawah.


Karena toko tutup, hanya melayani offline. Fulan dan Arnold mengurus pernikahan mereka. Aku memilih pergi refreshing dengan Tafi.


Tanpa ku sadari sudah menjelang mahghrib aku bergegas mandi dan membangunkan Tafi untuk segera mandi dan sholat berjamaah.


Ku ketok tanpa jawaban, ku buka pintunya dan dia masih terlelap dalam buaian mimpinya. Mungkin dia kecapekan jadi tak terdengar sama sekali, aku masuk kamarnya.


"Kak....kak, bangun kak...." ku goyang- goyangkan kakinya.


Kafi membuka matanya lebar-lebar saat aku panggil.


"Wa?apa aku tadi nggak salah denger ya?"


"Apa?"


"Kamu kangen sama kak Irul?"


"Maksud kamu?"


"Kamu tadi panggil aku kakak"


"Masak?nggak ih perasaan kamu aja kali"


"Iya beneran"


"Hei,udah mahgrib jangan ngelantur, sana mandi dulu terus lanjut kita sholat jamaah"


"Ok siap boskue...."


Ku tinggalkan Tafi di kamar dan aku langsung keluar siap-siap ke kamar sholat mengambil mukena.


"Kak Irul?sedang apa kamu di sana?apa tak ada rasa peduli sedikitpun kamu padaku?atau setidaknya kamu rindu dengan anakmu ini" tiba-tiba perasaan rindu menyelimuti hatiku. Sekuat tenaga ingin berlari dan berusaha melupakan pak Zan agar nanti tidak tergantung padanya. Tapi nyatanya si jabang bayi ini sepertinya merindukan bapak nya.


Rasanya kepingin sekali perutku di elus-elus pak Zan. Sambil mendengarkan pak Zan melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Syahdu, tenang dan damai.


"Kak Irul.....hiks..hiks..."


"Wa?"

__ADS_1


Aku mendongak melihat Tafi setelah ku hapus air mataku.


"Yuk sholat" Tafi terlihat gagah tampan memakai baju Koko dan sarung milik pak Zan.


Aku tunaikan sholat tiga rakaat sebagai kewajiban seorang muslim. Dan bukan hanya sebagai kewajiban kita semata, tapi juga sebagai waktu pertemuan kita kepada sang Pencipta.


Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.HambaMu yang lemah ini hadir untuk berkeluh kesah ya Allah, berikan petunjuk atas kecarut-marutan hati yang tak berkesudahan ini ya Allah. Berikan hambaMu petunjuk atas kebimbangan hati yang tersakiti ini. Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yang mengetahui segala isi di dunia ini meski semut dalam lubangnya pun Engkau tahu ya Allah. Ya Allah , hamba mengadu karena hamba merasa lemah tidak bisa mengetahui mana yang harus hamba tempuh saat ini. Ku serahkan semuanya padaMu ya Allah jalan yang terbaik untuk hidupku,dan berikan keikhlasan atas semua garis yang Engkau berikan. Aamiin.


"Wa?" Tafi bersalaman padaku dan ingin mencium tanganku sebagai bentuk takzim pada sang kakak. Ku tarik tanganku tapi Tafi mendorong badanku ke pelukannya.Dia mengelus punggungku.


"Jangan kau tutupi kesedihan mu, jangan kau tutupi keburukan kak Irul di hadapan ku maupun keluarga ku. Aku sudah tahu semuanya tanpa kau ceritapun"


" Wa? jangan khawatir ya, aku akan selalu di sisimu memberikan kasih sayang yang tulus padamu dan anakmu. Jika kamu sudah nggak kuat menjalani kisah ini bicaralah pada ku ,aku percaya mamah dan papah akan mengijinkan kamu menyudahi hubungan ini. Aku yakin mereka juga tak ingin melihat mu menderita seperti ini. Kamu berhak bahagia Wa..."


"Kamu nggak berusaha untuk memperkeruh keadaan kan?kamu nggak berusaha merebut aku dari kakakmu kan?"


"Nggak Wa, aku bicara seperti ini bukan karena aku ingin merebut mu dari kak Irul, aku bicara karena aku nggak kuat melihatmu seperti ini. Lagian belum tentu kamu mau sama aku kalaupun kamu sudah nggak sama kak Irul, Iya kan?itu sama halnya juga kamu mengukir luka lagi jika berada di lingkup yang sama"


Ku lepaskan pelukan Tafi, dan memilih bersandar di dinding karena merasakan perut yang tidak nyaman. Aku elus dengan lembut perutku.


Aku merasa apa yang di omongkan Tafi ada benarnya juga. Aku tahu meski Tafi sering ceplas -ceplos tapi dia punya hati yang tulus menjaga dan menyayangi sebagai adiknya dan sahabat nya.


"Sudah berapa minggu sih Wa?" ucap Tafi yang melirik perutku terus.


"La berarti udah empat bulan dong, kamu nggak berencana syukuran anak kamu itu?"


"Nggak lah Fi, repot juga nanti aku harus ngurus macem-macem"


"Nggak usah khawatir Wa, nanti aku akan bilang mamah papah. Pasti mereka juga seneng dan mau mengurus semuanya"


"Apa nggak merepotkan Fi?"


"Haist kamu ma kayak sama siapa aja, pasti nya ya nggak lah kan kamu anak menantu mereka dan ini syukuran cucu pertama mereka. Di jamin mereka senenglah"


"Iya deh kamu atur ya?"


"Iya siap deh"


"Huft...."


"Napa Wa?"


"Capek Fi, tapi ni perut minta di elus-elus terus"

__ADS_1


.


.


.


.


Fauzan POV.


Setelah menitipkan Laili pada ibu, pak Zan meluncurkan motor menuju rumahnya. Dia sangat antusias dan semangat sekali setelah mendapat dukungan dari ibu.


Ia berharap jika nanti Tsania akan kembali kepelukan nya saat ibu menjelaskan semuanya.


Pikir nya semua akan berjalan mulus sesuai apa yang dia inginkan. Dia tak akan tersiksa lagi dengan keadaan ini yang harus membuat nya terperangkap dalam jebakan Laili.


Rindu yang selama ini ia pendam kini ingin ia curahkan pada sang istri tercinta. Di buka semua kamar yang tak nampak Tsania dan terakhir dia membuka pintu kamar sholat betapa dia bahagia saat melihat sang istri tercinta usai sholat duduk bersandar mengelus perut buncitnya.


Anak ayah yang baik hati, ayah kangen kamu.


Terlihat lelah Tsania mengelus perutnya dan ia segera ingin masuk membantu mengelusnya. Tapi apa yang ia inginkan tak semulus itu, ia di kejutkan tangan seseorang mengelus perut sang istri.


Hatinya geram melihat pemandangan itu,dengan begitu mesra tangan itu mengelus lembut calon buah hatinya yang seharusnya ia lakukan.


Di buka dengan lebar pintu itu dengan emosi yang ingin membludak.


Jederr....blak....


Semua menoleh ke arah pak Zan, emosi yang memuncak yang ia ingin muntah kan kini ia tarik ulur, mana mungkin ia bisa marah jika sang istri berduaan dengan Tafi sang adik. Yang sudah minta ijin ingin menjaga Tsania.


Cemburu berat menggoreskan di hatinya tapi apalah daya cemburu itu tak ada artinya di bandingkan dengan penghianatan yang ia lakukan meski bukan sepenuhnya keinginan dia.


"Kak Irul?" sapa Tsania kaget. Tafi langsung menarik tangannya dari perut Tsania. Ia sedikit takut jika sang kakak berbuat kasar padanya saat cemburu melanda kala itu.


"Ibu kangen sama kamu, ibu menyuruh kakak untuk menjemput kamu"


"Iya kakak duluan aja, nanti aku di anter Tafi naik mobil aja"


Pak Zan keluar dari ruangan tanpa sepatah kata, hatinya kini hancur melihat perlakuan Tsania padanya. Harapan yang ia inginkan tak seperti kenyataan yang ada.


Ingin sekali meluapkan amarah itu tapi apa daya rasanya sudah tidak berhak melakukan itu.


"Sakit Tsan....apa ini yang selama ini kamu rasakan?" lirih pak Zan saat keluar dari rumahnya. Dia merasa terusir dari rumahnya sendiri, rumah yang ia rancang untuk masa depan keluarga nya.

__ADS_1


__ADS_2