
Setelah pulang dari rumah sakit hari sudah mulai gelap karena sang mentari dunia sudah menyembunyikan cahayanya dan suasana semakin gelap di terangi gemerlap cahaya lampu kota.
"Sayang? aku lapar... " bisik ku saat berhenti di lampu merah.
"Mau makan apa? "
"Sate kambing"
"Ok"
Pak Zan mengendarai motornya dengan pelan sembari mencari pedagang sate kambing. Dan berhenti lah pada sebuah kedai makan sate kambing yang tak begitu ramai.
Setelah memesan dua porsi sate dengan nasinya, teh hangat dan es jeruk.
"Kak? malam ini kita nginap di rumah ibu yuk? sekalian ngasih kabar tentang kandungan ku, rumah baru kita dan tentang Fulan"
"Tapi kan kita nggak punya baju ganti"
"Nggak usah khawatir di rumah ibu masih ada baju kita kok kemarin itu nggak aku beresin semua"
"Ok deh kakak telpon mamah dulu ya? "
"Heem... "
📞"Halo assalamu'alaikum mah, malam ini irul sama Tsania nginep di rumah ibu ya? Tsania kangen"
📞"Waalaikumsalam... iya mas hati-hati ya? titip salam buat ibu "
📞"Iya mah, ya sudah ya mah assalamu'alaikum... “
📞"Waalaikumsalam... "
"Ok beres"
Dan makanan sudah di sajikan aku dan pak Zan siap menyantap karena perutku sudah sangat lapar sekali.
Dalam perjalanan ke rumah ibu tak lupa pak Zan membeli makanan kesukaan orang rumah yaitu martabak telur, serabi dan kue bandung. Pak Zan yang baik hati tidak pernah melupakan itu. Dia yang perhatian, penyayang masih sama saat pertama kali bertemu kala itu kelas satu SMA, cinta putih abu-abu yang selalu meninggal kan rindu.
"Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam... kak Tsania? " Toni memeluk ku dengan erat.
"Kangen kak... " bisik nya
"Hist sejak kapan kamu bisa kangen kakak... " ku elus kepala nya.
"Ibu mana? "
"Ada di dalam"
"Ini ada makanan Ton" pak Zan memberikan bungkusan itu pada Toni dan aku langsung masuk ke dalam, di sana ada ibu yang asyik nonton TV yang tak menyadari kedatangan ku, ku tutup mata ibu.
"Ton, Lel... eh bukan... " ibu meraba tanganku.
"Ya Allah Tsania...!!! " pekiknya. Ku buka tanganku ibu langsung menoleh.
"Wuah ibu kok tahu? " ku peluk ibu dengan erat.
"Tahu lah... ibu sudah hafal kali dengan aroma kamu" ku kecup tangan ibu.
"Kamu kok nggak ngasih kabar kalau mau ke sini? "
"Surprise bu... "
"Kamu itu Tsan, gimana kabar kamu ? lama nggak ada kabar"
__ADS_1
"Maafin Tsania ya bu?lagi banyak urusan jadi nggak sempet "
"Eh kak Tsania... tambah gendut ya? " sahut Laili keluar dari dalam kamar lalu mencium tanganku dan pak Zan.
"Iya nduk kamu tambah gendutan"
"Iya buk makan terus dia " jawab pak Zan
"Kak Irul juga makan terus kok bu" sahutku membela diri.
"Iya kalian tambah gendut kok hehehe... "
"Tapi bu kalau kakak sekarang aneh kalau makan nggak sesuai selera gitu jadi mual kadang juga muntah-muntah"
"Aneh ya? jangan-jangan kak Irul hamil.... hahahaha" gelak Toni di ikuti semuanya.
"Tapi sebenarnya Tsania sudah hamil bu"
"Oh ya? alhamdulillah... " ibu mengelus perut ku dan memeluk ku sangat erat.
"Selamat ya nak kamu bakalan jadi ibu, di jaga baik-baik kandungan nya" lirih ibu meneteskan air mata haru bahagia.
"Iya bu, alhamdulillah sudah dua bulan"
ku usap air mata ibu yang nampak begitu bahagia itu.
"Alhamdulillah bu nggak pernah ngidam yang aneh-aneh dan bahkan yang sering ngidam atau mual Irul bu, aneh kan? " jelas pak Zan
"Lucu ya bisa gitu... "
Suasana semakin hangat dan menyenangkan karena suasana ini yang selalu ku rindukan, keluarga kecilku yang selalu membuat ku bahagia. Semakin malam setelah meluapkan rasa kangen mengobrol panjang lebar dengan ibu dan Laili akhirnya ibu mohon ijin mau tidur di kamar katanya sudah ngantuk. Toni dan pak Zan masih asyik main game entah apa yang mereka obrolkan di dalam kamar Toni.
Setelah ibu benar-benar masuk kamar, Laili mendekati ku.
"Kak? rasanya hamil itu gimana? "
"Gimana awal mula kakak tahu kalau kakak hamil? "
"Ya kakak mual sih muntah-muntah pas awal hamil, tapi sekarang alhamdulillah udah nggak"
"Terus? "
"Telat datang bulan juga"
"Kalau mau tahu berapa usia kandungan kita gimana kak? "
"Ya periksa ke dokter"
"Ouh... "
"Kamu kenapa tanya-tanya gitu? "
"Nggak apa-apa kak cuma pingin tahu aja hehehe... Laili masuk dulu ya kak, sudah ngantuk"
"Iya Lel"
Ku perhatikan gerak gerik Laili yang mencurigakan dia tampak terlihat kurus kata ibu tadi Laili sering sakit-sakit an katanya sering muntah-muntah. Bahkan pernah pingsan saat pulang sekolah. Saat di periksakan kata dokter gejala anemia dan banyak pikiran. Ya mungkin aja sekarang banyak tugas-tugas dari sekolahan.
Yah semoga apa yang aku curiga kan tidak benar, hanya perasaan ku saja.
Karena sudah terlalu malam aku langsung mencari pak Zan di kamar Toni.
"Wuah asyik nih sampai lupa istri"
"Hehehehe udah lama sayang, kakak nggak main PS"
__ADS_1
"Toni mana? "
"Ini sudah tidur dia"
"Ya ayo dong udahan, biar tidur Toni nya kamu ih kak nggak kasihan "
"Iya-iya... " pak Zan mematikan PS nya dan langsung keluar dari kamar Toni dengan ku.
Pak Zan memeluk ku dari samping menuju kamarku dan saat di ambang pintu ibu memanggilku dengan lirih.
"Boleh ibu ngobrol dengan kalian di kamar? "
"Iya bu boleh" jawabku.
Aku langsung masuk kamar di ikuti pak Zan dan ibu yang terakhir menutup pintu dan menguncinya. Aku dan pak Zan saling tukar pandang.
Ibu menarik kursi dan duduk di depanku dan pak Zan yang lebih dulu duduk di atas kasur.
"Ada apa bu? ibu sehat kan? apa ada masalah" tanyaku dengan takut.
"Ibu sehat nduk, ibu juga baik-baik saja nggak ada masalah"
"Alhamdulillah, terus ada apa? "
"Nduk, ibu bingung adikmu akhir-akhir ini sering diem di kamar kadang ibu lihat dia nangis. Pas ibu tanya dia bilang nggak ada apa-apa katanya lagi banyak tugas aja gitu. Tapi nggak mungkin kan nduk kalau cuma itu? dan kemarin ibu di panggil sama wali kelasnya katanya nilainya sekarang menurun karena dia sering bengong nggak fokus di sekolah. Ibu sedih bingung harus gimana adikmu itu sekarang jadi tertutup dan mudah tersinggung kalau ibu tanya-tanya " jelas ibu dengan mata merahnya menahan air mata.
"Sudah ibu tenang aja nggak usah sedih atau bingung, besuk Tsania bicarakan sama Laili. Palingan juga lagi putus cinta buk.. "
"Lo emang Laili punya pacar nduk? "
"Punya bu, malahan dari SMP dulu"
Ibu meneteskan air matanya yang sedari tadi tertahan.
"Rasanya ibu gagal menjadi ibu yang baik"
"Buk, nggak usah sedih kalau sekedar pacaran nggak apa-apa bu itu wajar yang penting tidak melebihi batas normal bu.Ya anggap saja untuk semangat belajar bu" pak Zan mengelus tangan ibu.
"Ibu tenang aja ya? nggak usah sedih ibu nggak gagal kok jadi ibu yang baik. Karena ibu bagi Tsania, ibu yang paling juara dan paling the best " ku peluk ibu untuk menenangkan hatinya.
"Besuk Irul sama Tsania akan ngobrol dengan Laili. Jadi, ibu nggak usah sedih ya? "
"Iya nak Irul makasih ya"
"Iya bu sama-sama"
"Ibu istirahat ya? jangan mikir yang aneh-aneh" aku mengantar ibu keluar dari kamarku.
"Sayang? kamu malam ini tidur dengan ibu aja nggak apa-apa. Mungkin ibu juga rindu dengan kamu"
"Yang bener kak? "
"Iya"
Dengan sumringah aku masuk kamar ibu.
.
.
.
Pak Zan perlahan membuka pintu kamar Laili. Pak Zan mengintip Laili sedang mengaca di depan cermin dan meneteskan air matanya.
"Lel? boleh masuk kakak? " Laili menoleh.
__ADS_1
"Kakak.... " Laili menghampiri pak Zan dan menangis sesenggukan.
Pak Zan mengelus punggung adik iparnya itu.