My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
TEMAN MASA KECIL


__ADS_3

Setelah aku dan pak Zan meluapkan isi hati masing-masing dan drama menangis selesai aku dan pak Zan melihat-melihat isi rumah dan segala perabotannya, semua hasil dari pak Zan beli sendiri dan kado pernikahan dari teman-teman yang sudah tertata rapi. Warna, desain interior dan eksterior persis sesuai keinginan ku. Pantas saja semua kado-kado dari teman-teman sudah hilang setelah aku unboxing. Pak Zan emang hebat. Dan so sweet banget.


Dapur yang lucu serba pernak-pernik warna hijau segar perpaduan warna pink.


"Sayang kenapa dapurnya warnanya hijau muda? "


"Biar seger sayang, biar kamu selalu semangat masaknya"


"Oh ok deh sip cantik" ku acungkan jempol ku.


Dan sekarang aku melihat ruangan lainnya yang terdiri banyak kamar. Ada kamar utama, kamar untuk anak-anak, kamar tamu dan ada satu lagi kamar yang agak kecil mungin kamar untuk ART.


Semua sudah tertata rapi apalagi di sudut dekat ruang keluarga ada tempat ibadah yang tersusun rapi dan bernuansa biru muda juga.


MasyaAllah pak Zan is the best deh.


"Sayang? udah kan lihat rumah nya? "


"Iya kenapa sayang? "


"Udah jam 13.00 nih waktunya makan kakak laper"


"Astagfirullah, laper lagi? "


"Orang laper di marahi"


"Aku nggak marah sayang cuma kamu aneh deh kenapa jadi sering laper gini padahal biasanya paling malas makan siang"


"Udah makan dulu yuk"


"Mendingan kakak order di ojek online habis itu kita makan disini lanjut sholat dzuhur sekalian baru ke tempat eyang"


"Ok deh sip"


Sembari menunggu pesanan datang aku sengaja bertanya lebih banyak tentang rumah ini.


"Sayang? tentang rumah ini apa orang rumah sudah pada tahu? "


"Sudah lah, kan selama ini rumah ini kakak kontrak kan.Sebenarnya rumah ini mau kakak kasih kejutan buat kamu nanti pas ulang tahun kamu. Sekalian nunggu yang ngontrak rumah ini habis masa kontraknya. Tapi karena kamu sudah memberi kakak kejutan yang lebih dari ini ya sekalian aja kakak berikan sekarang"


"Allah itu Maha Baik yah kak? Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Dan Dia akan mengirimkan jodoh yang terbaik dari yang baik untuk kita"


"Iya betul itu Tsan"


"Ya begitulah Tsan, semua sudah ada di skenario Tuhan kita sebagai wayang-wayangnya hanya bisa menjalankan tugasNya dengan ikhlas. Karena semua yang Allah berikan pada kita sudah pasti yang terbaik"


"Kakak tu ingat betul betapa kakak mengagumi kamu sejak masuk SMA"


Aku hanya bisa tersenyum mendengar cerita pak Zan. Hatiku bangga di kagumi guru favorit seluruh murid ini. Ku topang daguku sembari kembali mendengar kan ocehan pak Zan.

__ADS_1


"Kakak berharap setelah lulus SMA nanti akan melamar kamu dan kakak tidak usah tuh di jodoh-jodohkan lagi. Dan kakak selalu berkhayal kamulah yang menempati rumah ini. Kamu yang akan menjadi ratu di rumah ini"


"Semua terwujud tapi bukan dengan jalan pikirku tapi dengan skenario Tuhan. Coba kalau dulu kakak nggak ikhlas melepas kamu dan berusaha mengejar kamu menolak perjodohan ini. Apa jadinya coba? "


"Iya kak, Tsania juga gitu awalnya berat. Sampai harus berantem sama ibu . Hati Tsania kecewa dengan takdir, kakak ingat nggak? pas habis tryout itu kakak bercerita tentang takdir dan Tsania memberi pertanyaan "


"Ingat, saat itu kakak benar-benar rapuh, kecewa dan sakit hati. Tapi kakak berusaha belajar ikhlas atas semua takdir Allah. Meski kakak tahu takdir bisa di rubah. Tapi apa jadinya coba kalau kakak lari dari takdir itu. Bisa-bisa kakak nggak jadi punya istri se salehah kamu" pak Zan mencolek daguku dengan genitnya.


"Kakak genit ah"


"Sama istri sendiri apa salahnya?" pak Zan mengedipkan matanya ada maksud dalam kedipan itu.


"Besuk sudah bulan puasa loh? "


"Iya iya tapi kita makan dan sholat dulu"


"Siap deh,beruntungnya kakak punya istri se salehah kamu" pak Zan menyentuh kedua pipiku dan mengecup mesra bibirku.


"Kak? "


"Apa sayang? "


"Tsania kepingin denger tentang Tafi"


"Hist, kamu itu baru aja kakak kepingin "


"Kakak.... kita sholat dulu kakak main nya nanti"


Ting... tong....


"Tuh kak makanannya sudah dateng"


"Iya kamu di sini saja biar kakak yang ambil"


"Iya cintaku... hih... "


Setelah makanan datang aku segera menyiapkan dua porsi nasi padang di atas piring yang lengkap dengan sayurannya, sambal, ayam goreng, rendang dan kerupuk. Dan minumannya teh hangat dan es teh. Sekarang lebih suka minum yang hangat-hangat karena kalau minum yang tidak hangat perut ku jadi mual.


Sembari makan aku sengaja memancing pak Zan agar bisa lebih terbuka lagi menceritakan tentang masa lalunya. Aku hanya ingin tahu dan mendengar dari mulutnya sendiri bukan dari orang lain.


"Kak? "


"Hemmm"


"Kenapa kakak sama Tafi kemarin berantem? "


"Nggak tuh, siapa bilang berantem? "


"Tapi kenapa kakak marah banget sama aku kemarin? "

__ADS_1


"Yah sekarang sudah nggak kok, aku yang salah terlalu terbawa emosi. Yah... sedikit trauma aja"


"Tentang bu Mano? "


"Nggak kok, itu efek dari trauma juga. Kalau trauma yang pertama itu karena pembunuhan dan kedua karena teman kecil kakak itu ternyata lebih milih dekat dengan Tafi"


"Siapa? "


"Wawa"


Deg...


Hatiku merasa tergoncang. Sampai di ingat kenangan itu. Yah kalau sudah jodoh mau berlari sejauh apapun ya bakalan ketemu.


"Tapi kemarin setelah mamah dan Tafi ngobrol panjang lebar jelasin tentang kedekatannya dengan kamu. Kakak bisa memaklumi. Dia sayang kamu karena kamu mengingat kan pada Wawa. Dan Tafi juga sudah bilang kalau dia tidak ada rasa apapun dengan kamu.Dia hanya menolong kamu"


"Kakak tahu nggak sih Wawa itu siapa? "


"Ya tahulah kan temen kecil kakak, dia yang sudah membantu kesembuhan kakak dulu. Tapi dia juga sahabat Tafi waktu TK sih. Sebal juga kakak gara-gara Wawa deket juga sama Tafi. Sampai dulu kakak pernah bilang kalau nanti yang bakalan jadi suami Wawa adalah kakak bukan Tafi"


"Kecil-kecil sudah rebutan cewek. Kakak juga sudah tahu Tafi masih kecil kenapa nggak ngalah aja"


"Iya Tsan, kakak sadar dulu tempramen banget, emosi kakak tinggi .Kakak nyesel sudah emosi dengan Tafi. Adik kakak yang baik dan perhatian itu"


"Tapi kakak kenapa bisa sabar banget ya selama ini kalau lagi ngajar"


"Iya Tsan, itulah salah satu alasan kakak masuk di pendidikan. Agar kakak bisa melatih kesabaran kakak. Agar kakak bisa sembuh dari rasa sakit ini. Maka dari itu mohon dukungannya yah Tsan jika kakak kasar atau tempramen"


"Iya kak pasti itu. Allah itu ternyata memberikan rasa sakit agar kakak bisa lebih kuat dan sabar. Dan mengirim sosok wanita cantik bernama Wawa untuk mengobati luka kakak, memberi dukungan, menemani dan mendampingi kakak"


"Sudah ah, jangan ngomongin Wawa lagi. Biar lah menjadi jodoh Tafi nanti. Kasian dia selama ini mencari keberadaan Wawa"


"Wawa bukan jodoh Tafi. Tafi harus bisa ikhlas dan bangkit. Karena Wawa di takdir kan untuk hidupnya Qairul Fauzan. Dan Allah mengabulkan permintaan Qairul Fauzan untuk menjadikan Wawa sebagai istri Qairul Fauzan..!!!" jelas ku dengan lantang setelah makanan di piring ku habis. Dan aku membawa piring kotor ku dan pak Zan ke dapur untuk mencucinya.


"Maksud kamu apa Tsan? " pak Zan menyusul ke dapur dan mencuci tangannya.


"Kakak mau sholat dulu apa mau mendengar kan ceritaku? "


"Mau dengar dulu"


"Dikit yah? lanjutan nya nanti setelah sholat"


"Ok, apa? "


"Wawa itu aku kak"


"Hah? hahahah... ada-ada aja kamu Tsan" pak Zan Terpingkal-pingkal merasa di ledek olehku.


"Ya sudah kalau nggak percaya"

__ADS_1


Aku segera mengambil air wudhu dan pak Zan menyusul. Setelah itu sholat dzuhur berjamaah.


__ADS_2