My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
POSESIF


__ADS_3

Setelah pak Zan bermanja denganku dia meminta ku untuk mengelap seluruh tubuhnya dengan air hangat. Dengan pelan aku membasuh setiap inci tubuhnya. Tapi terkadang ngilu melihat banyak sayatan luka di kakinya.


"Kakak kenapa sih bisa jatuh gitu"


"Mikirin kamu tu"


"Kalau mikirin kenapa gak di balas chat ku. Kenapa juga telpon ku gak di angkat? "


"Maaf handphone kakak lowbat semalam habis ngantar mamah tinggal dikit terus lupa ngecharge dan tadi pagi juga buru-buru"


"Lain kali kakak lebih teliti dan hati-hati ya? "


"Iya cantik... kamu kalau di rumah juga hati-hati dong"


"Loh aku baik-baik saja kok"


"Iyalah lagi berduaan gitu ya baik-baik saja pastinya"


"Kakak ngomong apa sih? aku kan lagi sakit? " hatiku semakin berdebar mengingat tadi pagi Tafi hampir saja mencium ku.


Pak Zan menunjukkan ku foto di ponselnya. Terpajang di sebuah akun sosial media Twin Tf. Entah siapa itu. Meski wajahku tak begitu jelas karena foto menunjukkan dari samping dan dalam keadaan suasana malam. Tapi dengan jelas itu aku karena jilbab dan baju yang ku pakai semalam persis di gambar itu. Dan yang lebih berdebar lagi ada sebuah tulisannya.


My Princess, setelah sekian abad kini ku menemukan mu.


Tulis di akun itu.


"Maksudnya apa sih kak? "


"Itu akun IB si Tafi"


"Tafi? kenapa dia bisa nulis begitu? "


"Kakak nggak masalah yang kakak permasalah in itu kenapa dia bisa foto kamu? bukannya ini di balkon? kamu berdua-duan dengan Tafi? "


"Iya, semalam aku benar-benar kecewa dengan kakak. Hatiku sakit ingin rasanya makan sate di pinggir jalan sembari melihat kendaraan lalu lalang tapi kakak gak ngijinin ikut"


"Lantas kalau kakak nggak ngijinin kamu ikut kamu bisa bebas pacaran dengan Tafi gitu?!!! "


"Kakak...!!! kakak ngomong apa? aku nggak pacaran sama Tafi... hiks... hiks... kakak jahat sekali" isak ku.


"Kakak itu sudah nggak peka, posesif banget pula.... kakak seharusnya terima kasih sama Tafi. Gara-gara Tafi semalam aku nggak kesepian, rasa keinginan ku terwujud, gara-gara Tafi seharian ini aku jadi ada yang ngrawat,gara-gara Tafi pula mamah sekarang menjadi baik padaku...!!! " isak tangis ku menjadi-jadi. Hatiku rasanya sakit setelah di tuduh pak Zan seperti itu. Aku langsung masuk kamar mandi dan berwudlu.


Setelah sedikit tenang aku keluar kamar mandi tapi pak Zan sudah tidak ada di kamar. Syukur lah batinku. Aku benar-benar sakit dan kecewa rasanya tak mau melihat wajahnya.


Tiba-tiba perutku kambuh lagi. Aku mengambil minyak angin dan mengelus-ngelus nya. Sedikit mereda.


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Aku terbangun pak Zan tidak ada di samping ku. Entah semalam dia tidur di mana. Aku langsung wudhu dan sholat. Berdoa agar Allah menyelesaikan segala masalah yang ada.


Setelah pukul 6 aku keluar kamar keadaan masih sepi. Hanya ada mbak Ning yang sibuk di dapur. Dan aku menuju depan rumah menyirami bunga-bunga yang indah setelah menyapu halaman.


Rasanya badanku capek dan pegal-pegal apalagi terkadang perutku rasanya sering kram. Entah mengapa aku tak tahu tentang tubuhku ini.


Pagi yang cerah masih segar udaranya. Apalagi langit masih bersih. Ingin rasanya menikmati suasana pegunungan yang adem dan tenang sebelum bulan Ramadhan nanti. Eh, sebentar lagi puasa semoga nanti aku bisa ikut ah di awal puasa.


Aku mengingat masa haid ku yang seharusnya ini sudah waktu nya. Aku menghitung masa haid bulan lalu. Seharusnya kan ini sudah selesai kenapa malahan belum sama sekali.


"Apa aku hamil ya? " oceh ku.


"Tsania? " mamah memanggilku.


"Iya mah? "


"Ayo sarapan dulu"


Aku mengikuti mamah masuk di meja makan. Sudah ada papah, eyang, pak Zan dan si kembar. Pak Zan masih diam tak bergeming entah apa yang ada di otaknya seharusnya aku yang marah di tuduh seperti itu.


Semua makan dengan keadaan tenang.


"Mas Irul? " mamah mengawali pembicaraan.


"Iya mah?"


"Udah mendingan mah, berkat Tsania semua luka jadi kering"


Aku hanya mengkerut kan keningku merasa heran dengan jawaban pak Zan. Bisa-bisa nya dia ngomong seperti itu dalam suasana kita yang tak baik-baik saja.Sedangkan semalam saja dia nggak tidur di kamar.


"Cie kak Irul bucin ya sekarang" ejek Kafi.


"Hahahha..... " semua tergelak tawa kecuali aku dan Tafi. Ku lihat wajah Tafi yang pucat.


"Oh iya mas Irul. Nanti Tsania mamah ajak ke klinik yah? biar lebih tahu tentang kesehatan"


"Iya mah, gak apa"


"Boleh kan Tan, kalau mamah yang ajak pasti boleh"


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mamah.


Setelah semua selesai sarapan. Mamah menyuruhku bersiap-siap. Pak Zan entah kemana aku tak tahu. Papah dan mamah menungguku dan aku segera masuk ke mobil setelah usai bersiap-siap.


Pagi ini aku memakai outfit celana kain warna coklat dengan atasan tunik warna coklat susu dan jilbab pashmina dengan senada. Tak lupa sling bag ku warna hitam dan flat shoes warna hitam pula. Karena aku belum punya warna coklat jadi makai seadanya dulu.


Aku clingak-clinguk mencari keberadaan pak Zan tapi tak ada pula. Setidaknya meski kita marahan aku ingin pamit padanya. Aku tidak mau menjadi istri durhaka meski masih sakit hatiku.

__ADS_1


"Bentar yah mah aku cari kak Irul dulu"


"Iya Tan, mamah tunggu di mobil ya? "


"Iya mah"


"Oh iya tadi mamah lihat mas Irul di kamar atas nak"


"Oh iya mah makasih"


Setelah aku naik tangga untuk ke kamar atas mencari-cari pak Zan di balkon tapi tak ku temukan.


"Nyari kak Irul mbak? " tanya Kafi yang mengagetkan ku.


"Eh iya Kaf"


"Itu di kamar lamanya"


"Oh ok makasih".


Aku berusaha masuk tanpa mengetuk pintu kamar itu. Dengan pelan aku membukanya. Pak Zan berdiri di balkon kamar. Pandangan nya jauh entah kemana.


" Kak? "


"Eh... iya" pak Zan menoleh dan menjawab panggilan ku dengan lembut.


"Tsania berangkat dulu ya? "


"Iya jaga diri jaga hati"


"Hemmm" jawabku sedikit kecewa. Aku merasa masih tertuduh selingkuh.


Aku menyalaminya dan mengecup punggung tangannya. Tak lupa pak Zan mencium keningku. Meski hanya itu aku merasa janggal karena tak biasanya pak Zan mencium hanya kening saja. Biasanya kedua pipiku dan bibir tak pernah absen. Ya sudah lah itu juga maunya dia.


"Assalamu'alaikum... "


"Waalaikumsalam... "


Aku segera berlari menuju depan rumah dan masuk mobil karena mamah dan papah sudah menunggu. Di dalam sudah ada mamah di kursi belakang dan di depan ada papah dan Tafi yang menyetir.


"Kafi nggak ikut mah? " tanyaku.


"Dia nggak ikut sayang, dia paling anti dengan kesehatan. Dia bau rumah sakit aja mual perutnya. Sebenarnya mamah udah menyoba untuk mendaftarkan dia juga kuliah di kedokteran tapi dia gak mau. Jiwa bisnis dari bapak nya mamah nurun ke dia kayaknya" jelas mamah.


"Ouh gitu... "


Tafi menyetir mobil dengan perlahan. Sedikit percakapan mamah dan papah yang di selingi canda tawa. Aku dan Tafi hanya menjadi pendengar. Angan ku jauh nan di sana. Pikiranku masih terpaku dengan ucapan pak Zan. Di tambah dengan caption dari Tafi di akun media sosialnya. Aku semakin bingung.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote yah... Dan jangan lupa di baca novel ku yang lain ( Aku Ingin Bahagia dan Menjadi Istri ke 2) Terima kasih. 😍🙏


__ADS_2