
...Mencintaiku tidaklah mudah, tapi menerimamu jauh lebih sulit....
...🌺🌺🌺...
Seperti biasa, suara qiro'ah di masjid masih belum terdengar tapi mataku sudah terjaga,
Aku pikir akan bangun lebih dulu dari pria yang tidur di bawahku, maksudku di bawah samping tempat tidurku.
Tapi ternyata aku salah, dia sudah duduk di atas sajadah entah ia dapat dari mana, tapi yang jelas itu bukan milikku.
Dia rajin sekali, maksudku pak Ardi. Tampak pak Ardi sudah mengakhiri sholatnya semenjak tadi karena sekarang ia hanya duduk diam dengan tangan yang menggenggam sajadah.
Perlahan aku turun dari tempat tidur, tapi pak Ardi segera menoleh padaku.
"Sudah bangun ya?" tanyanya dan aku pun hanya menganggukkan kepalaku dan mengikat rambutku asal.
"Na, jangan tinggi-tinggi ya ngikatnya." ucapnya membuat tanganku menggantung di udara.
Hahhhh ....
Maksudnya apa?
"Biar aku ikatkan ya!" ucap pak Ardi dan dengan cepat beranjak dari duduknya menghampiriku.
Ia melepas kembali ikat rambutku dan mengikatkannya setara leher.
"Ini seperti emak-emak, pak!" protesku.
"Maaf, tapi aku hanya tidak mau lehermu terlihat oleh orang," ucap pak Ardi dan sekali lagi berhasil membuatku tercengang.
"Aku harus jualan, pak!" ucapku dan berlalu begitu saja meninggalkan pak Ardi.
Saat keluar dari kamar, aku lihat ibu sudah di dapur, tumben sekali.
"Bu, ibu ngapain?"
Ibu segera menoleh ke arahku, "Oh ini, ibu sengaja menyiapkan sarapan. Kamu kenapa sudah bangun?" tanya ibu balik, membuatku mengertukan Keningku.
"Kenapa ibu masih bertanya?" aku yang tidak faham dengan pertanyaan ibu, kembali bertanya.
"Memang Ardi belum kasih tahu kamu?"
"Apa?"
"Ardi sudah kasih tahu bu Sarmi kalau kamu nggak jualan pagi ini."
__ADS_1
"Hahhh, atas dasar apa pak Ardi ngomong gitu!" ucapku kesal, belum-belum pak Ardi sudah mulai mengatur hidupku membuatku kesal saja.
"Jangan begitu, Ardi benar."
"Ibu kok jadi bela pak Ardi sih, coba kalau biaya sekolahku nunggak, memang dia mau bayarin!?"
"Bukannya sudah!?" ucap ibu sambil memicingkan matanya.
Ohhh astaga, sepertinya aku yang lupa. Memang pak Ardi sudah membayarkan SPP ku selama tiga bulan.
"Ibu tahu dari mana?" tanyaku curiga, jika benar dari pak Ardi, berarti pak Ardi ember.
"Jangan berpikir buruk dulu, bukan Ardi yang kasih tahu, tapi gurumu."
Padahal aku sudah menyimpannya dari ibu, tapi guru yang bertugas di bidang administrasi malah memberitahu ibu.
Hari ini juga libur, terus aku harus ngapain dong di rumah kalau nggak kerja?
Akhirnya dari pada kembali ke kamar, aku memilih membantu ibu di dapur,.
Hanya berselang beberapa menit saja, pak Ardi keluar dan berpamitan untuk ke masjid.
***
"Bu, seandainya Ardi minta ijin untuk bawa Zanna ke rumah saya, apa ibu mengijinkan?" pertanyaan itu seketika berhasil membuat aku dan ibu menoleh padanya, kami sama-sama meletakkan sendok ke piring lagi.
Maksudnya apa?
"Ibu," protesku, jelas aku keberatan. Aku baru mengenal pak Ardi beberapa hari saja dan sekarang tiba-tiba kami harus tinggal dalam satu atap berdua saja.
"Na, tadi dengar kan yang di katakan ibu. Kamu harus ikut kemanapun suami kamu pergi. Mengerti kan!"
Sekali lagi ibu memaksa, tapi ibu hanya akan tinggal bertiga saja dengan Rara dan Riri.
Kenapa khawatir? ibu kan tinggal bersama dua adikku.
"Tapi pekerjaan Zanna_,"
"Lakukan saja seperti biasanya asal dapat ijin suamimu."
Yang benar saja.
Dan benar, pak Ardi tidak meminta persetujuan dariku dulu. siang setalah ia pergi sebentar, ia menjemputku.
Sebenarnya tidak perlu di jemput, karena jarak rumah kami tidak jauh .Tapi ya sudahlah, itu mau pak Ardi.
__ADS_1
"Semoga kamu nggak keberatan ya aku ajak tinggal di sini." ucap pak Ardi.
Dia kan sudah tahu kalau aku keberatan, kenapa masih mengatakan hal itu.
"Aku ngantu, aku mau istirahat siang, boleh kan?" tanyaku. Aku ingin terlihat buruk di mata pak Ardi.
Tahu kan, aku bukan tipe orang yang suka tidur siang.
"Kamarnya hanya ada satu, kamu masuk saja dulu. Aku ke masjid dulu ya buat sholat dhuhur."
Aku pun mengangukkan kepalaku, tapi pak Ardi masih terdiam di tempatnya.
"Assalamualaikum," ucapnya setelah aku hanya diam.
"Pergilah!" ucapku membuat pak Ardi mengerutkan keningnya,
"Na, menjawab salam hukumnya wajib loh."
Hahhh, aku salah ya,
"Wa_alaikum salam." jawabku ragu, aku tidak yakin jika jawabanku benar.
Akhirnya pak Ardi tersenyum dan berlalu meninggalkanku. Karena tidak ada pak Ardi, akhrinya ku pun menutup pintunya.
Terus kalau hanya ada satu kamar, lalu pak Ardi tidur di mana?
Ya sudah lah masa bodoh, dia kan laki-laki pasti tidur di manapun juga tidak masalah, pikirku.
Setelah sampai di kamar, aku pun segera naikkan ke atas tempat tidur. Rasanya begitu empuk, berbeda sekali dengan kasur di kamarku. Aroma kamar ini juga harum.
"Ahhhhh, nyamannya!"
Aku benar-benar malas keluar lagi, rasanya ingin memanjakan diriku sendiri saat ini.
Tapi aku kembali melihat bajuku, ini rasanya begitu lengket, tidak nyaman untuk tidur.
Aku hanya membawa satu tas besar barang-barang pribadiku, ya memang tidak banyak.
Segera ku ambil satu stel baju dari dalam tas ku dan memilih untuk mengganti bajuku di kamar saja. Di dalam tasku ada beberapa baju yang aku bawa dari rumah, memang tidak bagus tapi bersih. Beberapa warnanya bahkan sudah memudar.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar lebih semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...