
Sesuatu yang selalu ada dan membuat nyaman itulah yang akan terus tetap tinggal. Mewarnai dan menemani di hari-hari kita.
Seperti cinta datang dan pergi tanpa permisi, tiba-tiba datang tanpa kita ketahui dan saat pergi hati terasa hampa dan kehilangan.
Setelah kelar acara aku dan pak Zan pamit pulang, tapi Laili merengek minta pak Zan tinggal di sini. Pak Zan dengan tegas tidak bisa mengiyakan, ibu dan Toni menenangkan Laili dan menyuruh pak Zan segera pergi agar Laili tidak semakin nekat.
Terkadang aku bingung dengan Laili , apa yang ada di pikirannya sulit untuk di tebak. Aku merasa menjadi kakak yang tega dan tak peduli meski kenyataan nya dia yang tak mempedulikan hatiku lagi.
Tekanan dan kepahitan hidup seperti nya membuat hatinya mati untuk menghalalkan segala cara agar terpenuhi keinginan nya.
Aku tahu Laili sangat terluka di tinggalkan sang kekasih apalagi diam-diam sudah menghamilinya tanpa sepengetahuan nya. Mau di mintai pertanggungjawaban juga sang mantan sudah beristri. Sama-sama hamil pula.
Miris akhirnya dia mengobati lukanya dengan segala cara meski harus mengorbankan hatiku. Aku seperti nya harus mengalah demi dia yang tak mau mengalah merebut bahkan tak mau di sebut merebut.
"Kak?kamu di sini saja gak apa ya?kasian Laili dia butuh kamu" akhirnya kalimat itu bisa ku ucapkan meski dengan berat hati.
Karena sepertinya Laili mengalami baby blues.
"Iya sayang, kakak antar kamu pulang dulu ya?"
"Iya, aku tunggu di mobil dulu ya?"
Setelah berpamitan aku langsung masuk mobil dan pak Zan masuk kamar Laili menenangkan dia dulu. Setelah beberapa menit keluar lah pak Zan masuk mobil mengantarkan ku pulang ke rumah.
Di perjalanan hanya diam membisu tanpa suara mengiringi, aku memangku daguku menatap kaca jendela melihat pemandangan di luar.
Begitu berat cobaan pernikahan ku . Dari awal menikah sudah ada-ada saja. Bahkan semua sudah ku lalui dengan lika-liku dan di iringi dengan deraian air mata.
Setelah semua ku lalui haruskah aku berhenti di sini tanpa memperjuangkannya lagi? hatiku rasanya sudah nggak kuat jika harus bertahan dengan keadaan seperti ini.
Tapi jika aku harus berhenti di sini dan memulai lagi dari nol apa mungkin jalan hidupku akan mulus? kalau jalan hidupku akan lebih terjal dari ini bagaimana? ini hanya lah ujian kuat atau nggak kuat aku harus jalani dan hadapi. Jika nanti pada titik terendah aku sudah tidak sanggup aku akan menyerah.
"Sayang?kakak ke rumah ibu bentar ya?kalau butuh apa-apa kabari ya?"
Aku mengangguk dan segera bersalaman dengan pak Zan tak lupa dia mencium keningku.
Aku turun dari mobil tapi pak Zan menarik tanganku.
"I love you" ku toleh pak Zan berat rasanya menjawab ungkapan pak Zan.
"Love you too" pak Zan tersenyum dengan bangga.
__ADS_1
"Kakak pergi ya? jaga diri baik-baik"
"Hemmm..."
Masuk kedalam rumah terasa sunyi sepi ada yang hilang tapi tak kusadari itu apa. Dimana rasa nyaman yang selama ini ku dapatkan?semua hilang tanpa ku ketahui.
Dalam angan ku seperti ada sosok yang mengisi berlarian di sana dan tersenyum padaku, mengajakku tertawa bersama.
"Hiks....hiks....aku rindu, tapi dengan siapa? hampa tapi kenapa?sudah ada pak Zan. Ya Allah hamba bingung harus bagaimana lagi" bahkan sekarang aku lebih sering menangis tiba-tiba. Hatiku sesak merasakan sakit yang belum terobati ini.
Aku berjalan menaiki tangga ke lantai atas keluar menuju balkon, aku lunglai seperti tak ada gairah hidup. Seakan sumber kebahagiaanku sudah di renggut oleh adikku sendiri dan aku hanya bisa mencari kebahagiaan sendiri meski terkadang sumber kebahagiaan itu kembali aku rasa sudah tak membutuhkan nya lagi.
Tiba-tiba ada sosok itu datang tersenyum lagi padaku, mengobati luka-luka ku yang menjalar di hati dengan senyum indah dan kebahagiaan. Ketulusan cinta yang tak kudapatkan.
Aku segera turun melewati pagar balkon karena dia sudah di bawah sana menyuruhku ke bawah.
Kamulah sumber kebahagiaan yang kucari ,kemana saja selama ini kamu?aku merindukanmu...
"Tsania.....!!!!" terkejut aku dan tanganku di tarik Arnold dan Fulan.
"Kamu kenapa?" Fulan dan Arnold memelukku dengan hangat.
"Maafkan aku....." bisik Arnold.
Aku benar-benar linglung sudah tidak tahu apa yang tengah terjadi.
"Kamu wanita kuat Tsan, masih ada kita jangan gitu lagi ya?" Fulan mengelus punggungku. Air mata Fulan menetes di pipi mulusnya.
"Istighfar Tsan...." bisik Arnold lagi.
"Astagfirullahaladzim...." ku panjatkan terus tanpa berhenti sampai aku benar-benar tersadar dan terkumpul semua nyawaku.
"Hiks....hiks..." aku terus terisak menahan rasa sakit ini. Seringkali aku menahan tangis ku hingga berakibat sesak di dada.
"Ambilkan minum sayang" Fulan berlari kecil mengambil minum.
Segelas air mineral di berikan padaku Arnold membantu ku minum.
Setelah semua ku sadari ternyata hanya halusinasi ku yang terlalu jauh , ku netral kan lagi hati dan pikiran ku agar kembali normal seperti sediakala.
Aku tersenyum melihat wajah-wajah mereka yang begitu panik.
__ADS_1
"Kalian kok ada di sini?" senyum pasi ku menggenggam gelas.
"Hais,kamu sudah gila ya? untung ada kita datang dengan tepat waktu coba kalau terlambat sedikit saja" omel Fulan mengusap air matanya.
Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku buang dengan lembut.
"Pak Zan kemana sih?apa masih sibuk dengan selirnya?" ocehan Fulan membuatku bisa tersenyum lagi meski ada rasa sakit di jawaban ku nanti.
"Hey, kenapa ngomel-ngomel aku aja gak apa-apa "
"Gak apa-apa gundul mu itu, sudah membuat ku senam jantung seperti ini masih saja kau mengeles hah?" Fulan menjitak kepalaku.
Aku hanya bisa tersenyum dengan mengelus kepala ku yang sedikit sakit ini tapi sedikit membuat ku lega.
Hanya kamu yang masih sama tak berubah Lan, kamu sahabat yang luar biasa masih stay bersamaku.
"Lain kali kalau mau berbuat sesuatu di pikir dulu jangan kayak orang bego" lagi-lagi Fulan menjitak kepalaku omelan nya seperti emak-emak komplek tapi membuat ku nyaman.
"Fulan ...kangen ...." ku peluk Fulan dengan erat.
"Eh ni bocah dasar "
Ku lirik Fulan mengusap air matanya aku tahu dia yang tulus meski terkadang dia galak dan judes tapi dia tulus tidak pernah menyakiti ku atau meninggalkan ku saat terpuruk seperti ini.
Arnold memeluk ku dari belakang saat aku berpelukan dengan Fulan.
"Arnold....!!! lepas nggak ?ku tonjok muka kamu ya?"
"Biarin napa " Fulan menimpali.
"Biarkan aku menjadi kan kamu selir ku. Hahahaha...." gelak tawa Arnold di tambahi Fulan.
Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan mereka.
"Dasar kalian orang gila" oceh ku.
" Ayo turun aku punya makanan enak buat kalian" Fulan dan Arnold saling bertukar senyum menatap ku turun ke bawah.
Tak akan ku biarkan kamu sedih lagi Tsan, meski harus menjadikan mu maduku, rela aku asal aku bisa bersama mu. Fulan.
Semoga Allah menguatkan hatimu,dan akan ku buat bahagia jika harimu sangat suram. Arnold.
__ADS_1