My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
46. Nggak marah?


__ADS_3

"Kamu tega banget sih Ar!" protes Maya saat Ardi menurunkannya begitu saja di halte bus.


"Bukankah tadi kamu bilang tidak mau naik taksi, jadi bus mau kan?"


"Aku cuma minta kamu buat anter aku pulang, nggak lebih."


"Tapi maaf, sekarang ada hati yang harus aku jaga. Busnya sudah datang, Naiklah! Assalamualaikum."


Bahkan tanpa menunggu Maya masuk ke dalam bus, Ardi sudah melajukan motornya meninggalkan Maya begitu saja membuat Maya begitu kesal.


"Awas kamu Ardi, aku tidak aka biarkan gadis cupu itu menang dari aku." gumam Maya sambil terpaksa naik bus dari pada harus jalan kaki, lagi pula kehidupannya sekarang sudah tidak seperti dulu, ia harus banyak berhemat.


Pak Ardi segera membuka pengait pagar saat motornya sudah sampai di depan rumah, dan membawa motornya masuk ke halaman rumah.


Tampak Ardi tidak sabar untuk segera bertemu dengan Zanna, ia khawatir istri kecilnya itu akan marah.


"Assalamualaikum," sapa Ardi tapi tidak ada sahutan dari dalam membuat Ardi melanjutkan langkahnya menuju ke kamar sang istri.


Terlihat Zanna tengah kesusahan membuka jendela, karena biasanya dia yang selalu membuka jendela kamar.


"Susah ya?"


Pertanyaan itu benar-benar berhasil mengejutkan Zanna, sepetinya ia tidak menyadari kedatangan sang suami.


"Pak Ardi?"


Dengan cepat Zanna membalik badan,

__ADS_1


"Sejak kapan pak Ardi di situ?


"Kenapa? Terkejut ya? Maaf ya, tadi aku sudah mengucap salam tapi sepertinya kamu nggak dengar makanya aku langsung masuk!"


"Maaf ya pak, aku benar-benar nggak dengar." ucap Zanna merasa bersalah.


Pak Ardi pun segera mendekat dan menggeser tubuh Zanna hingga Zanna berpindah selangkah ke samping dan dia menggantikan posisi Zanna untuk membuka pengait jendela.


"Maaf ya, aku belum sempat memperbaikinya." ucap pak Ardi membuat Zanna yang tengah memperhatikannya segara mengalirnya tatapannya ke tempat lain.


"Sudah ke buka!" ucap pak Ardi setelah berhasil membuka pengaitnya, pak Ardi tidak tahu saja kalau kali ini keringat dingin Zanna tengah mengucur deras.


Zanna benar-benar berkeringat dingin saat berada di jarak yang begitu dekat dengan pria itu, bahkan matanya terus saja menatap ke arah wajah tanpa pria itu tanpa mau beralih.


Srekkkk


Tiba-tiba tangannya di tarik dengan cepat hingga membuat tubuhnya terkungkung antara jendela dan pak Ardi membuat jantung Zanna semakin bertalu.


"Tidak pa pa, hanya ingin memastikan sesuatu."


"Apa?"


"Saat Maya ke sini, apa yang kamu rasakan?"


"Apa ya pak, Zanna nggak tahu."


"Nggak merasakan apa gitu?"

__ADS_1


"Misalnya?"


"Kesal? Atau marah? Atau gimana gitu."


"Enggak pak, dia kan baik ke sini bertamu, kenapa Zanna harus kesal?"


"Benarkah? Tidak kesal sama sekali? Pas aku antar Maya? Kamu nggak kesal?"


"Harus kesal ya pak?"


"Harus," gumam pak Ardi lirih.


"Hahh?" tanya Zanna karena tidak begitu mendengar apa yang di katakan oleh pak Ardi.


"Ahhh lupakan!" ucap pak Ardi sambil melepaskan kungkungannya.


"Aku akan pergi lagi, nggak pa pa ya kamu aku tinggal?" tanya pak Ardi sambil melonggarkan lengan kemejanya dan menyingsingnya hingga siku.


"Nggak pa pa pak, jangan kahwatir."


"Ya sudah akh mandi dulu ya, sebentar lagi makanan datang kamu terima ya." ucap pak Ardi sambil berlalu ke kamar mandi.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2