My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
57. Kedatangan maya


__ADS_3

"Zanna sayang, ayo bangun." bisik Ardi di telinga sang istri. Tampak wajahnya sudah sangat segar lengkap dengan sarung yang melekat di pinggangnya.


"Bentar lagi, aku masih ngantuk."


"Sudah subuh loh, sayang."


"Mas duluan aja, Zanna nyusul."


"Beneran ya, mas mau ke masjid dulu."


"Hmmm,"


Zanna menjawab bahkan tanpa membuka matanya.


Karena masih ada waktu sekitar sepuluh menit, Ardi pun membiarkan Zanna untuk tidur sebentar karena Zanna tidak biasa bangun terlambat, ia selalu bangun pagi.


"Baiklah, mas ke masjid dulu ya. Assalamualaikum, sayang."


"Hmmm, waalaikum salam," jawab Zanna serak.


Ardi pun akhirnya memutuskan untuk berangkat ke masjid meninggalkan Zanna sendiri di rumah seperti biasanya.


Sesampai di masjid, terlihat beberapa orang udah mengisi sof sholat subuh meskipun belum iqomah.


Setelah imam masuki tempat imam, seseorang mulai melantunkan iqomahnya. Jika waktu subuh jamaah memang tidak sebanyak waktu magrib dan isya'.


Sholat subuh usai dilanjut dengan kuliah subuh sekitar sepuluh menit, beberapa jamaah masih asik mengobrol sebelum akhirnya melanjutkan aktifitasnya masing-masing sedangkan Ardi memilih langsung pulang, ia tidak sabar ingin bertemu dengan sang istri.


"Assalamualaikum," salam Ardi saat masuk ke dalam rumah, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ia berniat beri kejutan pada sang istri untuk membuatkan sarapan rapi segera ia urungkan saat merasa ada yang aneh, lampu rumahnya bahkan belum dimatikan meskipun diluar sudah cukup terang.


Ardi pun bergegas menuju ke kamar,


"Astaghfirullah hal azim, Zanna."


Rupanya teriakan Ardi berhasil membuat Zanna terkejut dan terduduk begitu saja,


"Ada apa?" tanya Zanna yang masih bingung.


"Sudah siang Zanna, kenapa belum bangun?" tanya Ardi sambil berjalan menghampiri sang istri.


Zanna seketika mengelus dadanya dan membuka matanya dengan malas,


"Tubuhnya sakit semua mas, kayak habis lari keliling lapangan seratus kali. Aku absen dulu ya sholatnya."


"Zanna,"


"Iya, iya, Zanna bangun."


Zanna segera menggeser tubuhnya hendak menurunkan kakinya ke lantai, tapi seketika ia menghentikan kegiatannya saat merasakan ada yang sakit di tubuhnya bagian bawah.


"Kenapa?" Ardi yang melihat Zanna menahan sakit segera mendekat dan memegangi kedua bahu Zanna. Zanna pun mendongakkan kepalanya menatap sang suami.


"Mas, kenapa rasanya sakit ya?"


"Apanya?"

__ADS_1


"Itu! Kayaknya tadi malam nancapnya kebangetan ya mas."


Mendengar ucapan polos Zanna, Ardi pun menahan senyum.


"Maaf ya, kebablasan soalnya. Ya udah kalau gitu biar mas bantu ke kamar mandinya ya."


Ardi pun melepas sarung dan pecinya, meletakkanya di tempat tidur di samping Zanna kemudian menggendong tubuh Zanna membawanya ke kamar mandi.


"Duduk dulunya, biar mas atur air hangatnya."


Zanna hanya terus mengangukkan kepalanya menerima setiap perlakukan sang suami yang begitu memanjakannya, tidak hanya menyiapkan air hangat tapi sang suami juga membantunya mandi hingga memakai handuk.


Setelah selesai mandi, Ardi juga menggendong Zanna kembali dan membawanya ke sofa yang ada di kamar.


"Biar mas ambilkan baju dulu."


Ardi yang tidak tahu apa yang harus di kenakan Zanna, ia meminta panduan Zanna apa saja yang harus di ambil.


"Yang di dalam mana?"


"Yang di dalam apa?" tanya Zanna.


"Yang itu?" tanya Ardi sambil memegangi kedua dadanya.


"Ohhh itu," Zanna tersipu malu, "Biar Zanna aja yang ambil."


"Cukup duduk dan katanya dimana kamu menyimpannya, biar aku ambilkan."


"Di laci paling bawah dekat kaos kaki." ucap Zanna sambil menahan malu dan akhrinya akhir menemukan semua yang di butuhkan Zanna.


"Kenapa?"


"Zanna kan malu."


"Kenapa malu, aku kan sudah melihat semuanya."


"Tetap saja malu, sudah sana keluar."


"Baiklah, kalah begitu mas mau cari sarapan sambil menyerahkan surat ijin tidak masuk kamu ke sekolah ya."


"Hmmm,"


Setalah Ardi pergi, Zanna pun segara memakai bajunya.


Baru beberapa menit Ardi pergi tiba-tiba ia mendengar suara bel berbunyi.


"Cepat sekali kembalinya." gumam zanna, pasalnya untuj sampai di sekolah saja ia butuh waktu sepuluh menit apalagi tadi pamitnya sekalian cari sarapan.


Dengan menahan nyeri Zanna pun keluar dari kamar dan menuju ke pintu depan.


Ceklek


"Cepat sekali kembali ya, Ma_," ucapan Zanna menggantung saat melihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu,


"Mbak Maya,"

__ADS_1


"Pagi Zanna,"


"Masuk mbak," pintu Zanna sambil mengeser tubuhnya.


"Kita bicara di luar aja ya,"


"Pak Ardi lagi pergi mbak,"


"Aku tahu, tadi aku lihat. Aku sengaja ke sini mau bicara sama kamu."


"Baiklah,"


Maya puh berjalan lebih dulu dan duduk di kursi plastik yang ada di teras, sebenarnya Zanna masih bingung caranya berjalan normal hingga membuatnya tetap berdiri di ambang pintu.


"Kenapa berdiri saja, ayo duduklah!" pintu Maya dan terpaksa Zanna harus berjalan menuju ke kursi plasti yang lain yang jaraknya lumanya jauh dari pintu.


Cara jalan Zanna yang tidak biasa berhasil menjadi pusat perhatian Maya,


"Kenapa dengan kakimu?" tanyanya begitu Zanna sudah duduk.


Seketika Zanna berkeringat meskipun ia baru saja mandi, "Ahhh ini, tidak pa pa mbak."


Melihat wajah panik Zanna, Maya malah semakin curiga,


"Atau jangan-jangan kalian sudah_,"


"Mbak, jangan berpikir macam-macam."


"Baiklah, aku ke sini bukan buat bahas itu. Ada hal yang lebih penting yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Apa mbak?"


"Aku minta tolong, tolong bujuk Ardi buat jenguk Luna."


"Luna kenapa mbak?"


"Luna terus histeris setelah kemarin tahu tentang hubungan kalian, mungkin jika Ardi mau menjenguknya, keadaannya akan sedikit lebih baik."


"Tapi mbak,"


"Ayolah, kamu jangan serakah. Kamu sudah merebut Ardi dariku dan sekarang sudah buat Luna depresi. Ini alamat aku yang sekarang, aku harap kamu bisa bawa Ardi menemui Luna." ucapnya sambil menyerahkan secarik kertas berisi alamat rumah.


Maya puh berdiri dari duduknya, sebenarnya awalnya ia berniat untuk tidak emosi, tapi setelah melihat keadaan Zanna dan membayangkan apa yang dilakukan Zanna dan Ardi membuat rasa cemburunya kembali tumbuh.


Ia benar-benar iri pada Zanna, bahkan selama menjalin hubungan dengan dirinya, Ardi bahkan tidak mau menciumnya, ia melakukan berbagai cara untuk menggoda Ardi tetap tidak pernah berhasil.


"Aku pergi."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2