My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
SATU PERMINTAAN


__ADS_3

Ketika matahari sudah berada di ujung barat aku mulai terbangun dari tidur siang ku setelah bergulat dengan pak Zan tadi. Aku segera membersihkan diri untuk mandi dan berwudlu setelah itu membangunkan pak Zan.


Tepat pukul 17.00 WIB sore aku dan pak Zan baru selesai melaksanakan sholat ashar.


"Kak? kesorean nggak yah kalau kita ke toko eyang? " tanyaku sembari melipat mukena.


Pak Zan melihat jam dinding yang terpasang rapi di dinding kamar.


"Emmmm, kalau jam segini eyang sudah pulang tapi toko masih buka sih"


"Eh kak, Tsania punya ide "


"Apa itu? "


"Kita kasih kejutan ke eyang dan mamah papah"


"Kejutan apa? "


"Gimana kalau kita buat acara kecil-kecilan di sini untuk syukuran rumah kita ini dan bayi kita. Kita pesan makanan terus pesan karangan bunga juga buat menyambut mereka"


"Ok juga sih. Ya udah kita berangkat yuk? "


"Ok"


Aku dan pak Zan berangkat ke toko bunga eyang. Aku dan pak Zan memesan tiga karangan bunga sekaligus. Untuk mamah papah, eyang dan si kembar.


Setelah urusan bunga selesai aku dan pak Zan memesan beberapa makanan dan minuman untuk makan malam di rumah baruku.


Urusan makanan selesai aku dan pak Zan membawa makanan ke rumah baru dan kebetulan pengantar bunga sudah datang aku dan pak Zan segera menutupnya dengan tirai.


Dan semua kejutan sudah beres aku dan pak Zan segera pulang. Tapi sebelum memesan semuanya pak Zan sudah menyuruh mbak Ning untuk tidak memasak.


"Assalamu'alaikum... "


"Waalaikumsalam... "


"Waduh cucu-cucu eyang ini dari mana aja kok sumringah sekali? " aku dan pak Zan bersalaman dengan eyang yang sudah asyik di depan TV.


"Maaf yah eyang tadi mampir nya kesorean ada acara sebentar soalnya " aku menahan senyum mendengar alasan pak Zan pakai ada acara segala padahal kan?.Ups....


"Loh kamu jadi mampir ke toko bunga? "


"Jadi eyang. Sekalian ngasih tahu Tsania biar tahu toko bunga eyang"


"Duh tahu gitu tadi eyang nggak pulang dulu "


"Duh nggak apa eyang besuk-besuk lagi bisa kok"


Eyang tersenyum.


"Eyang? mamah papah sudah pulang? "


"Sudah baru saja "


"Ok deh. Irul sama Tsania ke dalam dulu ya eyang? "


"Iya nak"


Aku segera masuk kamar dan berganti pakaian dan merias diri dengan anggun. Memakai dress panjang berwarna merah muda bergaris-garis hitam dan pashmina berwarna hitam.


"Sayang? "

__ADS_1


"Iya" aku menoleh saat pak Zan membuka pintu kamar.


"Gimana sayang sudah beres? "


"Sudah sayang" pak Zan menghampiri ku yang duduk di meja rias. Dia memeluk ku dari belakang dan mencium ujung kepalaku.


"Kamu cantik sekali sayang.... "


"Makasih kak.... "


"Kakak siap-siap dulu yah? "


"Eh bentar kak" ku tarik tangannya saat ingin melepaskan pelukannya.


"Apa sayang? "


"Tadi kakak bilang apa ke mamah papah? "


"Ya mau syukuran kecil-kecil an di rumah baru. Kakak bilang ke mereka rumahnya sudah jadi"


"Sip deh, emmm.... kak? "


"Kenapa? "


"Tsania mau ngomong "


"Hadeh emang dari tadi nggak ngomong pa? "


"Iya sih tapi ini lebih serius"


"Apa? "


"Boleh kan? Tsania minta satu permintaan saja. Untuk yang terakhir kalinya Tsania ingin memeluk Tafi dan mengucapkan kata maaf padanya"


"Nggak marah kan? "


"Nggak sayang, ya udah ya kakak mau siap-siap dulu"


Setelah bersiap-siap aku dan pak Zan papah dan mamah masuk mobil papah di setir oleh pak Zan. Dan eyang, mbak Ning si kembar masuk ke mobil baru Tafi yang di belikan papah kemarin karena dia berhasil masuk tes di kedokteran.


Sampai lah di rumah baruku mereka tercengang dan bertanya-tanya. Aku dan pak Zan membuka gerbang dan semua mobil masuk ke halaman rumah.


Semua mata tertuju pada tirai putih.


"Apa ini? " tanya mamah.


"Sekarang semuanya diam di tempat ya? Irul sama Tsania punya sesuatu buat kalian" jelas pak Zan.


Pak Zan menarik tirai yang membentang. Semua terkejut setelah membaca tulisan yang ada di karangan bunga. Semua terlihat sumringah dan bahagia. Sujud syukur mereka memelukku satu persatu mengucapkan selamat hanya Tafi yang tak mau mendekat.


Setelah acara kejutan selesai pak Zan mengajak semuanya masuk dan langsung makan-makan.


"Tsania besuk ikut mamah ke klinik lagi ya? "


"Mau apa mah? Tsania kan udah periksa tadi. Ini hasilnya" ku tunjuk kan hasil USG pada mamah.


"Ini kan hitam putih tempat mamah bisa 3D loh Tan, jadi bisa kelihatan jelas"


"Oh ya? ok deh mah kalau gitu. Boleh kan kak? '


" Iya" pak Zan mengelus puncak kepala ku.

__ADS_1


Setelah semua asyik dengan makanan masing-masing aku mohon ijin pada pak Zan untuk mencari Tafi yang berada di rooftop kata pak Zan. Dan aku baru tahu kalau rumah ini ada rooftop nya.


"Taf?" setelah sampai atas rumah aku melihat Tafi melamun.


"Eh, mbak Tsan"


"Bisa ngobrol bentar? "


"Sudah ijin kak Irul? "


"Sudah"


"Ok" Tafi duduk di kursi dan aku menghampirinya.


"Ada perlu apa mbak? maaf kalau soal kemarin aku nggak sengaja aku khilaf"


"Nggak kok, mbak kesini cuma mau ngobrol sama kamu"


"Kalau sekedar ngobrol lebih baik nggak usah mbak kasian kak Irul bisa cemburu nanti" Tafi beranjak dari kursi dan ingin pergi dari tempat itu. Aku segera menarik tangannya berdiri dan memeluknya dari belakang.


"Hiks.... hiks.... "


"Mbak Tsan? " Tafi membalikkan tubuhnya dan membalas pelukanku.


"Maafin Wawa ya Fi"


"Wawa ku? " Tafi mendongak kan kepalaku dan mengusap air mataku. Ku tatap matanya yang sudah berlinang air mata.


"Maafin aku ya Fi? aku yang bodoh ini sudah melukai hatimu, meninggalkan luka yang perih untukmu.Maafin aku tak bisa membalas cintamu"


"Wawa.... " tanpa menjawab ucapan ku Tafi memelukku dan terdengar isak kan tangisnya.


"Maaf... "


"Kamu nggak salah Wa, aku yang salah memperkeruh keadaan ini. Aku hanya ingin memastikan kamu bahagia setelah itu aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku janji nggak akan mengganggu kehidupanmu"


"Jangan pergi... tetaplah di sini di sisiku menjadi adik ku yang baik hati.Ijinkan aku melihat mu bahagia juga. Aku juga ingin memastikan kebahagiaan kamu"


Tafi melepaskan pelukanku dan menggenggam erat tanganku.


"Jadilah om yang baik untuk anak ku " pintaku.


"Aku tak sanggup Wa"


"Aku tahu ini sangat berat tapi aku mohon tetaplah di sini "


"Ok, tapi ijinkan aku pergi sebentar Wa, menyembuhkan luka ini setelah semua baik-baik saja aku akan kembali"


"Aku yang melukai mu bolehkah aku menyembuhkan lukamu? "


"Nggak bisa Wa, kamu bukan milikku kamu milik orang lain milik kakakku sendiri.Jadilah istri yang baik untuk dia yah? buatlah bahagia"


"Maafin aku Fi... hiks... hiks... "


"Kamu nggak salah Wa.... " Tafi memelukku dan mencium puncak kepalaku.Dia mengeratkan pelukannya ku rasakan detak jantungnya yang berdetak semakin kencang. Ada perasaan sakit yang mendalam.Aku berusaha membuatnya tenang.


Ya Allah kirimkan lah wanita yang baik untuk adik ku ini untuk menyembuhkan luka batinnya. Aamiin.


Semakin dia ingin melepaskan pelukan nya hatiku semakin sakit seperti ada goresan yang tertinggal di hatinya.Ingin sekali aku menyembuhkan luka itu tapi apa daya aku sudah tak kuasa.


Semoga kamu bahagia Fi, sahabat kecilku.

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin. 🙏🙏🙏


__ADS_2