My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
KEJUJURAN YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Rindu itu menyakitkan jika tak ada penawar nya apalagi susah di jelaskan jika rindu kita hanya sebatas dalam hati tak bisa di ungkapkan.


Sakit karena rindu ini terasa sangat tidak di harapkan apalagi tidak di perbolehkan. Hanya bisa menahan dan menyimpan nya rapat-rapat sampai di waktu yang tepat rasa rindu itu akan tersampaikan dengan tuannya.


Arnold dan Fulan masih menemaniku makan jajanan dari syukuran anaknya Laili tadi. Masih setia duduk di meja makan bersama mereka yang begitu baik dan humoris menghibur ku.


"Tan? bukannya Laili sama pak Zan sudah bercerai?"


"Entah, iya paling "


"Terus kenapa pak Zan masih di sana terus?"


"Ya harus gimana lagi Laili emang membutuhkan pak Zan, lagian gue juga udah gak butuh lagi tuh"


"Hais ngomong apa kamu...!" bentak Arnold karena kaget dengan ceplosanku.


"Ups....sorry" ku tutup mulutku dengan ke dua tanganku.


"Bercanda gais jangan di ambil serius ya?" candaku pada mereka yang sedikit panik.


"Bikin jantungan aja kamu Tsan" Fulan mengelus dadanya.


Ku ceritakan semua tentang kesehatan Laili dan memang Laili juga sangat membutuhkan pak Zan.


" Lagian kamu sih mau di jadikan maduku nggak mau"


"Iya lo Tsan, coba deh lo pikirkan mana ada seorang istri mau mencarikan istri kedua buat suaminya. Kesempatan Tsan buat kita" canda Arnold dengan mempelankan suaranya.


"Iya Tsan, gue bakalan seneng ada yang bantuin gue ngurus suami gue" timpal Fulan dengan cengengesan.


"Heh dasar gila kalian semua" ku lempari mereka dengan kerupuk yang ada di depanku dan Arnold menangkapnya lalu melahapnya dengan suara kriukan yang keras. Semua terbahak dengan kekonyolannya Arnold. Karena itu sangat menghibur ku.


"Coba deh gue bayangin seumpama itu terjadi dengan nyata. Kalau lagi pengen dan Fulan lagi PMS dan kan bisa langsung datang ke ke Tsania. Senangnya dalam hati....." senandung Arnold bersiul menggoda istri dan mantan pacarnya.


Fulan hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang lucu dan menggemaskan itu.


"Coba deh lihat Tsan, kamu nggak tergoda kepingin jadi istrinya dia yang lucu itu"


"Gila Lo ya?suami gila kayak gitu dapat dari mana sih?gue ma ogah kali"


"Eh, kalau ngomong ya?dia kan juga bekas kamu"


"Bekas...bekas... nyicipi aja belum...."


"Eh kamu mau juga ngerasain dari aku?atau langsung bertiga yuk asyik nih..."


"Eh buaya dasar...." ku hampiri Arnold dan ku acak-acakan rambutnya saking gemesnya.


"Cie yang kangen rambutku" goda Arnold.

__ADS_1


Aku menghentikan aksiku dan menyembunyikan rasa malu ku. Merah merona di pipi ku.


"Aku sengaja mempertemukan kalian dengan tujuan ini biar kalian jatuh cinta lagi. Dan sudah seharusnya kalian bersatu"


"Fulan....!!!" ku cubit pipinya dengan sekeras mungkin.


"Auuu..." Fulan kesakitan pipinya memerah.


"Uluh-uluh sayang sini-sini" Arnold mencium pipi Fulan dengan begitu mesra nya.


"Tsania nakal ya?jangan nangis nanti kita hukum biar kapok dia" ku saksikan mereka bermesraan menggoda ku yang haus akan kasih sayang ini. Tak ada rasa yang sakit ataupun cemburu malahan semakin geli.


Mungkin rasaku untuk Arnold sudah berganti haluan menjadi sahabat atau bisa kakak lelakiku. Karena memang Arnold lebih dewasa dari dulu, dan umurnyapun terpaut di atas ku tujuh bulan.


Aku hanya berdiri menyaksikan itu.


"Eh, kita jangan sampai kalah sayang emang cuma mereka yang bisa kayak gitu" tiba-tiba pak Zan merangkul pundak ku dan menarik daguku, kedua pipiku di tautkan dengan kedua tangannya, dan pak Zan mencium bibirku dengan tiba-tiba.


Mataku terbelalak tersentak dengan perlakuan pak Zan. Fulan dan Arnold apalagi semakin melotot dengan aksi pak Zan yang liar.


Ku dorong pak Zan karena aku merasa kehabisan oksigen untuk bernafas.


"Lihat kan gue juga bisa kayak kalian kali" ucapku kembali bersandiwara.


Meski dalam hati merasakan sakit yang luar biasa, tak pernah pak Zan seliar itu, pak Zan yang ku kenal dia akan lebih lembut memperlakukan seorang wanita.


Apa mungkin pak Zan dan Laili sudah pernah berciuman? berpelukan? berarti...ah.....aku ngga sanggup lagi.


"Sayang?sudah makan?sayang? hey...." pak Zan memelukku.


"Eh iya maaf, belum sayang itu baru makan jajanan sama mereka"


Dan pak Zan bergabung duduk di ruang makan, dan tak lupa membawa makanan untuk di makan bersama. Sekaligus berbincang-bincang bercerita panjang tentang banyak hal.


Hatiku masih sepi mencari sesuatu yang tak pernah ada lagi.


Kenyamanan ku tiba-tiba hilang entah apa itu aku juga bingung.


.


.


Malam pun tiba dan Arnold Fulan sudah pulang sebelum mahgrib tadi. Aku duduk di atas ranjang memandangi kaca di balkon yang belum tertutup tirainya.


Hujan turun begitu deras, ingin rasanya berlari ke luar menangis sejadi-jadinya agar tak ada yang tahu tentang kesedihan ku ini.


"Kak?"


"Hemmm" pak Zan yang masih asyik dengan ponselnya.

__ADS_1


"Rasa-rasanya kita harus ngobrol tentang hati kita, kita harus saling jujur tentang perasaan kita masing-masing" pak Zan tersentak lalu menggeletakkan ponselnya di atas nakas.


" Sebenarnya kakak juga ingin jujur"


"Ya udah kakak dulu"


"Kamu aja dulu"


"Huft....ok, aku sudah tidak nyaman dengan pernikahan kita. Kakak sibuk sendiri dan aku selalu sendiri dan kesepian. Aku berusaha untuk bangkit dari kesedihan ini dan berharap kakak datang menemani kesepian ku. Tapi kakak tak pernah datang dan pada akhirnya saat aku sudah nyaman sendiri kakak baru datang dan rasaku kini telah hilang. Aku sudah terbiasa sendiri tanpa kakak. Ada atau tiada kakak di sisiku sama saja bagiku"


"Jika kakak sangat mencintai Laili dan baby Arsha, silahkan aku memperbolehkan kakak menikahi Laili lagi. Dan setelah lahiran nanti kita bisa urus perceraian kita kalau kakak mau"


"Tsan, maafin kakak. Kakak sudah jahat sama kamu, kakak sudah melukai hatimu. Kakak sudah menghancurkan masa depanmu. Maaf sekali, setelah kakak pikir-pikir usai bercerai dengan Laili kakak menjadi kesepian, kakak menjadi merasa kehilangan dia. Kakak bahkan tidak bisa jauh darinya dan baby Arsha"


"Meski dulu kakak tidak mencintai nya tapi tanpa terasa cinta itu hadir dengan tiba-tiba tanpa kakak sadari"


Sedikit lega dan plong dalam hati meski terdengar sedikit menyakitkan atas kejujuran pak Zan.


"Kamu boleh pergi kak, kalau kakak sudah merindukan Laili. Aku di sini baik-baik saja"


"Tapi nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana? kakak di sini aja dulu deh, besuk kita ngobrol lagi sama ibu dan paman"


"Iya kak" pak Zan memelukku.


"Terima kasih sudah mengerti hati kakak" bisik nya.


Sedikit sakit tapi aku tak pedulikan itu.


"Kakak janji tidak akan membawa Laili ke sini, meski nanti kakak menikahi Laili kamu tetap menjadi istri pertama kakak"


"Nggak usah kak, kita bisa cerai saja"


"Jangan Tsan, kakak masih mau merawat anak kita. Ijinkan kakak merawat nya sampai kamu menemukan cinta lagi kakak baru akan mengurus semuanya"


"Iya terserah kakak" aku berpamitan untuk segera tidur duluan, membaringkan tubuhku membelakangi pak Zan dan pak Zan asyik dengan ponselnya lagi.


Dasar lidah tak bertulang,dengan mudah memutuskan itu. Aku pikir kakak akan mempertahankan aku ,meski aku sudah tidak nyaman dengannya. Aku pikir kakak benar-benar meninggalkan Laili. Aku pikir kakak akan memperjuangkan ku sampai aku kembali kepelukan nya , merasakan kenyamanan yang hilang darinya.


Air mataku menetes dan segera ku hapus.


Tangisan yang paling menyakitkan itu ketika sudah tidak bersuara dan hanya keluar air mata.


Sakit, perih seperti terasa sesak di dada.


Meski sakit ada sedikit kelegaan dan segera ku bawa dalam mimpiku berharap bisa bertemu dengan seseorang yang selalu membuatku nyaman.


"*Jangan nangis lagi ya?ada aku untuk mu...." Dia datang, memeluk ku dengan kehangatan dan ketulusan.


"Aku merindukanmu*..."

__ADS_1


__ADS_2