
Bahagia itu cukup dengan menikmati dan mensyukuri apa yang ada kita punya. Apapun itu wajib kita syukuri entah cinta atau yang lainnya.
Jika kau tak dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupmu maka carilah kebahagiaan itu di dalam rasa sakit dan kecewamu, maka jadikanlah rasa sakit itu bentuk cara Tuhan menyayangi kita maka dengan itu kita akan selalu bersyukur dan bahagia.
Setelah beberapa hari menikmati keindahan pantai dan wisata di Bali bersama Tafi, aku dan Tafi segera kembali pulang. Meski rasanya masih betah dan lama-lama di sana untuk menikmati liburan di pulau yang indah itu.
"Hay anak kuat, anak baik tunjukkan pada bunda mu ya? kalau kamu adalah anak yang hebat. Dan kalau kamu sudah besar nanti jaga bunda mu dengan baik ya?jaga diri baik-baik ya nak, jangan nakal sama bunda.Om sayang kamu..muuaach...." Tafi mencium perutku dan tiba-tiba si jabang bayi ini bergerak-gerak seakan mengerti apa yang di bicarakan Tafi. Lalu Tafi mengelus nya.
"Sudah ya nak, jangan rewel. Anak baik harus nurut" seketika si jabang bayi diam tak bergerak lagi.
"Makasih ya Wa, kamu sudah memberikan ku kesempatan untuk merasakan apa itu saling mencintai" Tafi tersenyum menatap ku.
"Iya Fi sama-sama, aku juga makasih ya? berkat kamu aku juga bisa merasakan kebahagiaan"
"Iya Wa" lalu aku turun dari mobil di ikuti Tafi. Dan Tafi menurunkan mini koperku.
"Jadilah istri yang baik ya?semoga kedepannya kamu akan selalu bahagia bersama keluarga kecilmu" Tafi mengelus pipiku dan aku hanya bisa tersenyum.
Aku masuk ke dalam rumah setelah melihat Tafi masuk mobil dan hilang dari pandangan mataku.
"Assalamualaikum..." lirihku saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam..." pak Zan turun dari atas tangga.
Aku sedikit tersentak karena tumbenan pak Zan di rumah biasanya kalau hari minggu bakalan ke rumah ibu nengok baby Arsha dan ibunya.
"Capek sayang?" pak Zan meminta koperku dan menggandeng pundak ku.
Sikap pak Zan yang lembut dan tak seperti biasanya. Dia menyuruhku mandi setelah itu dia menunggu ku di meja makan , semua makanan sudah siap hasil pesan lewat online.
"Makan sayang, kamu pasti belum makan"
__ADS_1
Aku melahap makanan yang tersaji dan pak Zan begitu lemah lembut bercerita tentang kerinduan nya pada baby di dalam kandungan ku.
Aku merasa tak begitu mudah percaya lagi dengan nya. Dia yang berkali-kali lemah lembut dan matikan dek perhatian tapi juga berkali-kali lagi menyakiti ku.
Aku pamit istirahat meski pak Zan masih ingin mengajakku bercerita. Aku masih belum percayap dengan segala cinta pak Zan. Sebelum pembuktian itu jelas ada
Aku terbaring di kasurku sembari memandangi foto-foto ku bersama Tafi di Bali. Dan tak sungkan senyum merekah di bibirku membayangkan kenangan indah yang aku lalui kemarin bersama Tafi.
Begitu indah, dia lelaki yang baik, perhatian lemah lembut dan setia. Lelaki yang aku cari selama ini.
Tok...tok....
"Tsan....Tsania...."
Sayup-sayup di mata membuatku enggan untuk untuk menjawab panggilan pak Zan.
"Sayang?"
"Ada tamu nyariin kamu"
"Siapa?Tafi?"
Aku terbangun dari tidurku
Segitu sayangnya kamu Tsan, sampai kau menghiraukan ku demi Tafi.
"Bukan,coba kamu keluar temui dia"
Aku segera mengambil jilbab ku dan menemui tamu di ruang tamu di ikuti pak Zan di belakang.
Tak ku duga Laili datang dengan seorang lelaki yang memangku anaknya.
__ADS_1
"Mau apa?" tanyaku dengan judes,sakit yang selama ini ku pendam ku lampiaskan sekarang.
"Mbak Tsania....maafin Laili mbak..." Laili bersimpuh di kakiku.
"Maaf mbak, Laili salah Laili banyak menyakiti mbak" air mata penuh dengan penyesalan dan ketulusan tumpah membasahi pipi Laili. Hatiku terketuk merasa iba melihat pemandangan itu.
Ku tarik dia duduk di atas kursi dan ku peluk erat-erat tubuhnya. Ku rasakan debaran hatinya dan isakkan tangis yang menderu.
"Sudah ,mbak udah maafin kamu kok" ku elus punggung nya.
"Maafin saya mbak, saya janji akan perbaiki semua" tiba-tiba lelaki di hadapan ku ini ikut bergeming.
"Saya kekasih Laili yang dulu menghamilinya dan lalu meninggalkan nya. Saya menyesal sudah merusak masa depannya dan saya khilaf telah menyakiti hatinya mbak"
"Saya berjanji mbak , setelah masa Iddah nanti Laili akan saya nikahi mbak. Saya juga berjanji dengan ketulusan hati saya, tak akan menduakan, menyakiti dan meninggalkan nya lagi.Saya akan buat dia selalu bahagia saya pastikan itu mbak..." air mata lelaki itu menetes di iringi suaranya yang parau menahan isak tangis.
"Saya sekali lagi minta maaf mbak, saya menyesal gara-gara saya mbak menjadi menderita"
Ku tarik nafasku dengan pelan dan ku hembuskan dengan lembut. Ada ketulusan dari mata mereka. Setidaknya mereka ingin memulai hidup yang baru agar lebih baik lagi.
Ku lirik pak Zan menyeka air matanya.
Masih ada keraguan untuk nya. Mungkin ini adalah jawaban atas perlakuan pak Zan yang baik padaku. Atau mungkin pak Zan sudah tak di harapkan Laili lagi hingga dia memilih kembali padaku setelah dia membuangku.
Tak semudah itu aku percaya atas apa yang telah dia perbuat selama ini. Dia sudah mengahancurkan fisik maupun mental ku.
Teruntuk Laili dan kekasihnya aku sudah memaafkan semuanya. Dan aku hanya bisa mendukung nya untuk memulai hidup yang baru.
Bangkit dari masa lalu yang kelam, memperbaiki masa depan agar bisa lebih baik.
Laili pulang dengan hati yang damai, aku mengantarkan nya dengan air mata kebahagiaan. Keluarga yang utuh , semoga kedepannya mereka bisa bahagia selalu. Aamiin .
__ADS_1