My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
51. memilih pergi


__ADS_3

...Apa yang salah dariku, pemikiranku atau memang semua tentangku sebelumnya telah salah hingga aku tidak mendapatkan apapun selain penyesalan...


...🌺Selamat membaca🌺...


Hari Senin, mungkin kebanyakan orang punya pemikiran yang sama seperti Zanna. Hari yang keras, seakan lebih keras dari sulitnya kehidupan.


Setelah sedikit bersantai di hari Sabtu dan Minggu kini harus kembali ke rutinitas awal. Berjibaku dengan buku-buku yang menurut Zanna sama sekali tidak bersahabat dengannya, apalagi jika ada tugas yang menurutnya itu hanya alasan guru agar ia tidak bisa melakukan apapun di hari libur selain mengerjakan tugas.


Beruntung ada pak Ardi yang selalu menjadi suami siaga di rumah, yang selalu siap menjadi mentornya saat ia kesulitan mengerjakan tugas.


Tapi sepertinya ada yang aneh dengan pak Ardi hari ini, sepanjang jalan bajaj pak Ardi tidak mengajaknya bicara hingga mereka sampai di depan gerbang sekolah.


"Hari ini mungkin aku hanya sebentar di sekolah, tapi jangan khawatir nanti aku akan menjemputmu saat pulang sekolah."


"Kenapa?" tanya Zanna setelah berhasil melepas helmnya.


"Bukan apa-apa," ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Zanna hingga Zanna mencium punggung tangan pria itu.


"Assalamualaikum," ucap Zanna sambil berlalu.


"Waalaikum salam," jawab pak Ardi dan membiarkan Zanna berlalu sendiri, tapi baru beberapa langkah Zanna berlalu pak Ardi memanggilnya lagi.


"Zanna,"


"Iya?" Zanna pun segera menoleh.


"Apapun yang terjadi nanti, percayalah semua akan baik-baik saja."


Bukanya baik-baik saja, tapi kali ini perasaan Zanna malah semakin cemas.


"Ada apa?"


"Bukan apa-apa, masuklah."


Zanna pun kembali melanjutkan langkahnya, tapi tidak selebar dan sesemangat tadi.


Hingga sampainya ia di kelas,


Deg


Jantungnya berdegup kencang saat melihat Luna sudah berada di dalam kelas, kembali ia teringat kejadian kemarin.


"Hai Zanna," sapa Luna sambil melambaikan tangannya pada Zanna seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya, "Makasih ya kemarin sudah jenguk aku," ucapnya lagi seperti sengaja dinyaringkan membuat beberapa anak yang memang sudah masuk ke dalam kelas menoleh ke arah Zanna.


Zanna hanya bisa tersenyum kikuk sambil menelisik ke seluruh penjuru kelas,


"Iya," jawabnya pelan.


Membuat seisi kelas semakin menatap Zanna aneh,


"Jadi bener yang kamu katakan Lun?" salah satu dari mereka pun bertanya pada Luna dan Luna hanya tersenyum sambil mengangukkan kepalanya.


Teeetttt teeetttttt teettttt


Beruntung bel berbunyi membuat seisi kelas kembali ke bangkunya termasuk Zanna dan Luna.


Terlihat seorang guru masuk ke dalam kelas,


"Selamat pagi anak-anak," sapanya begitu duduk di bangku guru.

__ADS_1


"Pagi Bu," jawab seluruh siswa.


"Zanna,"


Panggilan itu segera mengejutkan Zanna yang tengah sibuk mengeluarkan buku pelajaran hari ini dari dalam tasnya,


"Iya Bu?"


"Kamu di panggil ke ruang kepsek?"


"Sekarang Bu?"


"Iya,"


"Tapi kan mau ulangan."


"Kamu bisa nyusul nanti."


"Penting banget ya Bu?"


Bu guru menghela nafas menahan kesal,


"Kamu tanya sekali lagi, saya lempar pakek penghapus Zanna."


"Iya Bu, iya Bu, siap!" dengan cepat Zanna berdiri dan berlalu meninggalkan kelas, ia berjalan sambil ngedumel menuju ke ruang kepala sekolah.


"Sudah tahu aku nggak bisa ngerjain ulangan sendiri, Bu Diana ada-ada aja nyuruh aku ngerjain susulan. Kan jadi nggak bisa nyontek." gumamnya.


"Ya nggak gitu juga sih, maksud aku jadi tambah grogi kalau ngerjain sendiri, apalagi di ruang guru."


Hehhhhh .....


"Itu pak Ardi ya? Iya deh kayaknya, masak mata ku nggak beres?" gumam Zanna sambil mengucek matanya memastikan apa yang ia lihat itu benar.


Zanna kembali mempercepat langkahnya, ia berharap segera sampai di ruang kepala sekolah.


Tok tok tok


"Permisi pak,apa bapak memanggil saya?" tanya Zanna begitu sampai di ambang pintu. Terlihat pak Ardi sudah duduk di sofa panjang bersama kepala sekolah yang tengah duduk di sofa yang berbeda.


"Iya, silahkan masuk Zanna!"


Zanna pun masuk, tapi manik matanya tidak mampu beralih pada pria dengan wajah teduh itu.


"Duduklah." instruksi dari kepala sekolahembiat Zanna memilih duduk di sofa yang sama dengan sofa yang di duduki oleh pak Ardi karena di ruangan itu hanya ada dua sofa, satu sofa kecil yang di duduki kepala sekolah dan satu lagi sofa panjang yang di duduki pak Ardi.


"Ada apa ya pak?" tanya Zanna setelah semuanya diam.


"Maaf sebelumnya, pertanyaan in mungkin sedikit pribadi. Berdasarkan rumor yang saya dengar, apa benar pak Ardi sudah menikah dengan Zanna?"


"Bapak dengar itu dari siapa?" tanya pak Ardi dengan cepat.


"Tidak penting rumor itu dari siapa, pak Ardi dan Zanna hanya tinggal menjawab ya atau tidak." ucap kepala sekolah Dnegan penuh penegasan.


"Enggak pa, itu cuma rumor. Iya kan pak Ardi?" ucap Zanna meminta persetujuan dari pak Ardi, "karena berita itu tidak ada buktinya."


"Apa benar itu pak Ardi? Jika benar saya akan_,"


"Nggak pak," ucap pak Ardi dengan cepat sebelum kepala sekolah mengakhiri ucapannya.

__ADS_1


"Maksud pak Ardi?"


Pak Ardi menghela nafas dalam, "Iya pak,"


"Pak!" Zanna begitu terkejut dengan jawaban dengan jawaban pak Ardi, tapi pak Ardi malah tersenyum dan memberi isyarat pada Zanna untuk tetap diam.


"Saya memang sudah menikah secara agama dengan Zanna." ucap pak Ardi dengan begitu tegas.


Tampak kepala sekolah memijat kepalanya, dan suasana menjadi hening sesaat.


"Baiklah, sesuai kesepatan yang ada di sekolah ini. Jika ada yang menjalin hubungan pernikahan dalam satu lembaga, jadi dengan sangat menyesal salah satu dari kalian harus_,"


"Saya akan mengundurkan diri hari ini juga pak," ucap pak Ardi dengan cepat.


"Pak Ardi," Zanna tidak tahu harus berkata apa sekarang, tapi butiran bening itu sudah lebih dulu runtuh dari pertahanannya.


"Na, semua akan baik-baik saja." ucap pak Ardi dengan tangan yang sigap mengusap air mata Zanna.


"Tapi pak_,"


"Saya akan segera mengemasi barang-barang saya hari ini juga pak, jadi biarkan Zanna menyelesaikan pendidikannya hingga lulus di sini."


***


Kini Zanna dan pak Ardi sudah keluar dari ruang kepala sekolah.


"Pak, tunggu!" Zanna mengejar langkah pak Ardi yang lebar membuat langkah pak Ardi terhenti.


"Masuklah ke kelas, bukankan hari ini ulangan?" pak Ardi masih bisa tersenyum seperti biasa.


"Pak, kenapa pak Ardi melakukan semua ini hanya untuk Zanna?"


"Kamu bukan hanya, kamu adalah Zanna, istri ku, tanggung jawabku, kehormatanku, apapun yang terjadi atas dirimu! Baik buruknya kamu itu adalah pahala dan dosa aku, jadi biarkan aku jalankan peranku sebagai suamimu!"


Sebuah ucapan panjang pak Ardi membuat hati Zanna melemah,


"Boleh Zanna peluk pak Ardi sekarang?" tanya Zanna sambil meregangkan kedua tanganya.


"Stop, jangan sekarang ya." pak Ardi pun Manahan tangan Zanna, "Nanti kalau di rumah, lebih dari peluk juga boleh banget."


Cara pak Ardi yang terus memposisikan dirinya sebagai imam yang harus mengatur makmumnya. Sebagai imam yang tidak bisa lepas begitu saja dengan segala tanggung jawabnya membuat hati Zanna semakin menghangat,


"Makasih ya pak, pak Ardi benar-benar the best pokoknya."


"Sudah jangan memuji terus, cepat ke kelas dan ikuti ulangan."


"Siap bos."


Zanna pun segera berlalu meninggalkan pak Ardi yang masih menatap kepergian Zanna,


"Aku tidak akan membiarkan senyum itu pudar dari bibir kamu, Zanna."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


Happy reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2