My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
31. Ini alasannya


__ADS_3

...Kamu adalah sebagian dari hidupku yang terus berusaha untuk aku perjuangkan kebaikannya, karena kebaikanmu adalah kesuksesanku sebagai imammu...


...🌺Selamat membaca🌺...


Pak Ardi tidak segera menjawabnya, ia malah memilih menatap ke arahku.


"Apa kamu yakin akan siap? Apa kamu bisa berjanji tidak akan berubah pikiran tentang hubungan kita?"


"Maksud bapak?"


"Aku janji Zanna, aku sudah berjanji pada ayahmu untuk menjaga putri kesayangannya."


"Maksud pak Ardi apa? Aku tidak mengerti."


Pak Ardi tidak kembali bicara, itu tandanya dia mungkin belum bersedia memberi penjelasan.


"Apapun yang terjadi nanti, kamu janji akan menerimaku sebagai suamimu? Terlepas semua masalah yang akan terjadi di kemudian hari?"


Ahhh ini ngomongnya terlalu berat. Mana bisa aku mikir sampai sejauh itu, untuk besok aja aku tidak tahu perasaanku masih sama apa enggak.


"Pak Ardi kok bisa seyakin itu sih sama aku? Pak Ardi nggak lagi belajar seni peran kan?" tanyaku dengan polosnya. Aku masih anak SMA, yang pikirannya masih tidak konsisten. Mana bisa di ajak bicara serius seperti itu.


Ha ha ha ....


Pak Ardi tertawa, tapi tawanya sopan tidak seperti aku yang nyablak. Kalau ketawa saja lembut, apalagi hatinya. Ahhh jadi bertambah nih kekagumanku pada sosok ini.


"Kok ketawa sih pak?"


"Soalnya kamu nanyanya aneh-aneh!"


"Itu wajar kali pak, aku ini masih anak SMA, mana bisa di ajak serius seperti yang bapak harapkan.Lagi pula ya pak, di lihat dari ujung manapun juga udah kelihatan apa bedanya aku sama bapak, kayak bumi sama langit!"


Hehhhh ....


Terdengar helaan nafas pak Ardi,


"Dewasa tidak bisa di ukur dari banyaknya usia mereka, Na. Dan lagi


Allah memang pernah bedain makluknya? Cuma amal perbuatannya yang bikin seseorang tinggi derajatnya di mata Allah!"


"Berarti benar dong pak, kayak bumi sama langit?"


"Kamu langitnya dan aku buminya?"


Hehhh, pak Ardi malah tanya gitu. Itu namanya kebalik. Jelas dia yang rajin ibadahnya kalau aku sih, nginjak masjid cuma pas numpang ke kamar mandi atau cuci muka doang.


"Pak Ardi jangan merendah kayak gitu, kesannya menghibur banget! Aku jadi kayak kelihatan salahnya banget."


"Bukan merendah Na, aku katakan yang sebenarnya! Ibadahku belum tentu bisa menyaingi bakti kamu sama ibu dan ayah kamu, sedangkan aku menjadi perenggut kebahagiaan orang lain!"


Aku menatap pak Ardi, ada kesedihan yang mendalam di sana,


"Maksudnya pak?"


"Aku tidak sebaik yang kamu pikir aku hanya sedang berusaha untuk menjadi baik, tapi kamu anak baik!"


"Pak, aku semakin nggak ngerti."


"Nanti kamu akan ngerti, Aku percaya itu, tidak pa pa sekarang kamu belum bisa memahaminya, lain waktu pasti bisa!"


"Bapak yakin sekali?!"


"Karena kita punya Allah, Na!"

__ADS_1


"Hahhh?"


Jelaslah aku bingun dengan ucapan pak ardi, pak ardi ini ngomongin apa ya? Otakku kayaknya memang terlalu cetek sampai tidak bisa menyimpulkan hal yang sederhana sekalipun. Apa ini soal ayah? Ada yang benar-benar tengah di sembunyikan pak Ardi ataupun mungkin ibu juga? Ahhh aku terlalu bodoh untuk memahaminya.


"Kita bisa lanjutkan sekarang?"


"Hahhh?"


"Perjalanannya!" ucap pak Ardi sambil menunjuk motornya.


"Ahh iya!"


Hampir saja aku lupa dengan tujuan kita kemana, entah kenapa setiap kali mengobrol dengan pak Ardi rasanya betah banget. Tidak ingin berlalu dengan cepat.


Kenapa sama?


Padahal jika bicara dengan pria lain, bukan ayah. Rasa nyaman ini begitu sama seperti yang aku rasakan saat bersama ayah, dia begitu terasa menyayangiku.


Kami pun berdiri dan berjalan ke tepi beranda masjid, kami memakai sepatu di tempat yang berdekatan. Sepertinya pak Ardi sengaja melepas sepatunya tepat di samping sepatuku.


🍂🍂🍂


Matahari tidak seterik tadi, sekarang sudah condong ke barat dengan sedikit mendung yang menutupi. Memang sekarang sedang musim hujan, jika sudah sore sering tiba-tiba datang hujan. Cuacanya juga tidak menentu, sekarang panas besok hujan, bahkan malah pagi panas terik siang sedikit di guyur hujan.


Kali ini pak Ardi memberikan jaketnya untuk aku jadikan penutup lututku yang terbuka,


"Masih jauh ya pak?" tanyaku karena aku merasa sudah cukup jauh kami berada di atas motor. Hampir dua jam dan belum sampai juga.


"Bentar lagi, sabar ya!"


Pak Ardi kenapa mencemaskan aku, aku kan cuma duduk dan tanpa melakukan apa-apa, pak Ardi yang harusnya istirahat sejenak. Terlalu lama menyetir motor bukankah tangannya juga bisa kebas.


"Pak Ardi nggak capek?"


Hehhh, bisa nggak aku teriak kalau bukan aku yang capek tapi mungkin pak Ardi. Bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya. Kerja keras aja biasa, kalau cuma duduk dan tanpa melakukan apa-apa, mana bisa capek.


"Enggak pak!"


"Maaf ya! Aku sampai lupa mikirin kamu!"


"Aku nggak pa pa pak, sungguh!" aku harus kerja keras untuk meyakinkan pak Ardi kalau aku baik-baik saja.


Pak Ardi tidak lagi menjawab, aku tahu dia pasti tersenyum seperti biasa. Sayangnya bibir dan hidungnya kini sedang tertutup masker jadi aku tidak bisa melihat senyumnya itu walaupun dari pantulan kaca sepion.


Dan benar saja, ternyata memang sudah dekat. Pak Ardi sudah membelokkan motornya ke sebuah bangunan yang lumayan besar.


Apa aku salah baca atau apa ya, sepetinya di pintu masuk tadi ada tulisan rumah sakit? Ini daerah mana lagi?


Terdapat plang besar di atas gerbang, begitu banyak perawat dan dokter yang lalu lalang. Walaupun aku tidak pernah menginjakkan kakiku di rumah sakit, aku cukup tahu kalau ini rumah sakit.


"Pak kenapa kita ke sini?" tanyaku dengan jantung yang sudah bertalu-talu. Aku berharap apanya h tengah aku pikirkan saat ini tidaklah benar.


"Nanti kamu juga akan tahu," ucap pak Ardi, dan aku dengan hal yang sama, yang sedari pintu masuk tidak henti-hentinya mengamati tempat itu. Pak Ardi mengambil helm yang ada di tanganku dan meletakkannya di salah satu spion motor.


"Maaf ya Na, aku nggak bilang-bilang dulu sama kamu kalau mau ke sini, tapi percayalah ini sudah atas persetujuan ibu kamu."


Ahhh, aku semakin takut saja.


"Berjanjilah jika kamu akan memaafkan aku."


"Maksudnya apa sih pak?"


Tentu aku tidak faham karena pak Ardi tidak menjelaskan apapun padaku.

__ADS_1


"Lebih baik kita masuk dulu," lagi dan lagi, selalu seperti itu.


Kami pun berlajar mengusuri koridor rumah sakit. Pak Ardi terus menggenggam tanganku seolah-olah jika tidak di genggam aku akan terlepas. Tampak wajah pak Ardi semakin terlihat tegang.


Hingga perlahan langkah kami terhenti di depan sebuah ruangan, itu adalah ruang perawatan.


"Beliau sudah menunggumu, Na." ucap pak Ardi membuatku dengan cepat menoleh ke arah dalam dan seseorang tenggah terkulai lemah di atas tempat tidur.


Aku mengenalinya, dia ...


"Ayah ...,"


Pak Ardi membukakan pintu ruangan itu dan mempersilahkan aku untuk masuk. Berbeda dari beberapa hari lalu yang begitu ingin bertemu dengan ayah, tiba-tiba langkahku sangat berat. Dan ini benar-benar pertemuan yang tidak aku inginkan.


Ayah tergeleta tanpa bergerak sedikitpun, seluruh tubuhnya terhubung dengan banyak slang yang membuat aku semakin takut. Tiba-tiba suasana menjadi sangat mencekam, hatiku tercabik, sakit.


"Ayah kenapa pak?" aku menoleh pada pak Ardi yang kembali berdiri di sampingku.


"Maafkan aku Na."


"Maksud pak Ardi apa?" rasa itu semakin sakit, jawaban pak Ardi seolah membenarkan pertanyaan ku.


"Aku sudah menabrak pak Bara,"


Bagai tersambar petir, duniaku hancur. Suamiku yang membuat hidupku hancur, hidup keluarga ku.


Flashback on


"Aku sibuk sekali hari ini, jadi jangan ganggu terus. Assalamualaikum." pria itu terus bicara di telpon sambil mengemudikan mobilnya. Dia Arditama, seorang pebisnis muda yang cukup sukses di daerahnya.


"Bisa nggak sih, Maya mengerti aku. Dia terlalu manja." gerutunya pada wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu.


Hingga tiba-tiba ia harus menginjak pedal rem karena sebuah motor melintas di depannya, tapi terlambat pemilik motor terpental jauh di depannya.


"Astaghfirullah hal azim,"


Dunianya seakan berhenti sejenak, hingga kembali ia tersadar dan berusaha untuk keluar dari dalam mobil dengan kaki yang pincang dan kening yang berdarah.


"Tolong ....," teriaknya meminta bantuan pada orang-orang yang lewat.


Ardi menghampiri si pemilik motor itu, tubuhnya sudah bersimbah darah. Tapi pria paruh baya itu masih bergerak.


"Pak, kamu masih dengar saya kan?" tanya Ardi sambil menggoyang tubuh pria itu.


"Keluar_gaku. Jaga mere_ka," rancaunya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Beruntung ambulan datang dengan cepat, Ardi membawa bapak itu ke rumah sakit.


"Apa yang terjadi nak, bagaimana bisa seperti ini?" tanya wanita berjilbab syar'i itu.


"Ardi juga nggak tahu ma, tiba-tiba saja sebuah motor melintas di depanku." Ardi tampak frustasi.


"Bagaimana keadaannya?"


"Masih dalam penanganan dokter ma."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


__ADS_2