My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
RENCANA BARU


__ADS_3

Sampai di toko q masih saja terpingkal mengingat kejadian di dalam mobil tadi apalagi saat melihat wajah Toni yang cemberut gitu.


Bruk....


"Aduh...." aku menabrak Toni yang berhenti mendadak di depanku.


"Kamu kenapa sih kebiasaan kalau berhenti mendadak"


"Mbak?"


"Iya ada apa?" sahutku langsung menghadap di depannya.


"Kata mbak, tadi pagi kak Arnold mantan mbak kan?"


"Iya lantas kenapa?"


"Aku rasa mungkin mbak sudah nggak kuat lagi kalau melihat pemandangan ini"


"Apa?"


"Coba lihat deh...." Toni menunjuk ke dalam toko yang tertutup dengan dinding kaca, di sana terlihat jelas nampak dua orang manusia Adam dan Hawa sedang bermesraan saling berpelukan dan bercanda ria.


Aku berusaha menguatkan hatiku seolah tak ada apa-apa dan baik-baik saja.


"Apa sih Ton?" tanyaku dengan sandiwara ku.


"Kenapa kak Arnold bisa sama mbak Fulan?"


"Oh kamu belum tahu ya?mbak beri tahu ya,tapi jangan bilang sama ibu dan Laili ya?"


"Ok siap"


"Sebenarnya Arnold itu sudah menikah sama Fulan"


"Kok bisa???"


"Bisalah kan mereka saling cinta"


"Bukan gitu mbak, terus mbak Laili gimana?dasar buaya,awas kamu...!!!" Toni mengepalkan tangannya dengan desiran emosi di sorot matanya tapi aku berusaha menarik tangannya sebelum dia masuk ke dalam toko.


"Toni dengerin mbak, sebenarnya bukan Arnold yang menghamili Laili"


"Lantas?"


"Ada seorang yang bersembunyi di balik kebaikan Arnold,maka dari itu mbak kepingin mencari tahu"


"Mbak Fulan tahu?"


"Belum nanti pelan-pelan mbak ngomong sama dia,kasian mereka baru sebulan menikah udah harus di uji kayak gini"


Toni terdiam lalu merangkul pundakku dengan erat.


"Ayo masuk mbak "


"Ok" jawabku dengan sumringah meski hati sedikit tergores masalah hati Toni atau siapapun itu tak perlu tahu cukup aku dan Tuhanku saja yang tau yaitu Allah SWT.


"Assalamualaikum...!!!"


"Waalaikumsalam...eh Tsania akhirnya lo datang juga setelah tujuh purnama...." omel Fulan sembari memeluk ku.

__ADS_1


"Kangen...."


"Sama Tan,Lo kemana aja sih dari tadi nggak kesini? kandungan Lo baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah baik kok maaf ya?tadi gue lupa ya biasalah bawaan bayi kepingin nya bubuk mulu "


Terlihat Arnold terdiam melirik ku saat Fulan mengelus perutku.


"Kamu sudah sehat kan?"


"Alhamdulillah Tan,cuma ya harus periksa seminggu sekali"


"Syukurlah..." setelah berbagai obrolan aku dan Fulan lanjut mengerjakan tugas di toko.


Menyiapkan baju-baju syar'i dengan nama brand kita sendiri. Baju-baju yang bahannya berkualitas yang memilih aku dan Fulan sendiri sebelum Fulan sakit dan di jahit oleh penjahit profesional pilihan kita.


Dan alhamdulilahnya yang mendesain aku dan Fulan sendiri. Semua sudah tertata rapi untuk karyawan yang akan jaga besuk juga sudah siap yaitu dua orang dulu nanti kalau sudah ramai nambah karyawan lagi.


Besuk aku dan Fulan bakalan mengundang keluarga ku dan keluarga Fulan, teman-teman sekolah SMA buat datang ke acara launching pembukaan toko.


Bakal ada syukuran sama bagi-bagi bingkisan. Dengan harapan semoga usaha ini bisa lancar ,laris dan berkah.Aamiin.


Ruko dengan dua lantai yang tak begitu besar di sewakan dari uang pak Zan dan Arnold untuk para istri mereka diriku dan Fulan.


Setelah Fulan pamit pergi sama Toni buat cari makan aku lebih memilih memeriksa lantai atas yang berisi sofa untuk istirahat dan berbagai baju-baju untuk stok.


Karena merasa lelah dan sedikit pusing karena merasa banyak menguras tenaga aku duduk di sofa.


"Capek Tan?" tanya Arnold yang dari toilet.


"Eh..." aku tersentak sedikit terpana dengan pesona Arnold yang memakai kaos oblong celana jeans. Wajahnya terlihat segar karena basah mungkin wudhu atau sekedar cuci muka. Lalu ku tundukkan pandangan ku takut menjadikan dosa.


"Alhamdulillah udah 15 minggu"


"Berarti udah mau 4 bulan ya?kalau bunda udah 20 minggu an ..."


"Iya alhamdulilah..."


Karena bingung tak ada percakapan lagi aku dan Arnold hanya diam menyisakan hening di antara kita .


Cukup lama keheningan ini karena aku dan Arnold fokus dengan ponsel masing-masing"


"Tan..."


"Nold..."


Aku dan Arnold saling lirik lalu tersenyum.


"Kamu duluan deh..."


"Nggak kamu dulu aja , bukannya lebih baik wanita itu di utamakan?"


"Iya-iya"


"Em... boleh nanya?"


"Silahkan dengan sukarela aku akan jawab semuanya"


"Tentang Laili, apa kamu punya orang yang mencurigakan atas kejadian ini?"

__ADS_1


"Ada, aku sudah menduga kalau kamu akan percaya padaku meski aku belum menjelaskan padamu"


"Udah jangan berkelit, gue kepingin denger rencana kamu ke depannya gimana..."


"Kemarin gue udah meriksa CCTV di rumah eyang buat kejadian lima bulan yang lalu"


"Terus?"


Arnold menunduk sedikit mendekat padaku aku melirik.


"Ada apa?"


"Kamu janji jangan bilang ke siapa-siapa ya?"


"Fulan?"


"Dia belum tahu soal ini aku belum siap buat bilang ke dia"


Aku mengernyitkan dahiku.


"Udah tenang aja nanti pelan-pelan kita bicarakan sama dia,tolong bantuin gue ngomong sama dia ya?"


"Siap soal itu,tapi kamu beneran nggak nglakuin itu kan?"


"Nggak Tan,beneran demi Allah gue nggak pernah ngelakuin itu sama Laili atau wanita manapun"


"Syukurlah...tapi gimana nantinya?"


"Gini Tan, sebenarnya kemarin gue udah ketemu sama pak Zan buat bahas ini dan pak Zan kayaknya juga percaya sama aku,tapi entah kenapa sejak tadi pagi pak Zan seperti marah sama aku"


"Kok bisa ?"


"Aku chat buat kerjasama mengungkapkan kebenaran ini tapi dia cuma jawab,bapak tunggu bukti dari kamu, gitu ik berarti kan pak Zan lebih percaya sama Laili ketimbang aku"


"La terus gimana?"


"Kalau menurut kamu gimana?"


"Gini aja,aku kan juga berencana kepingin cari tahu soal ini tapi karena kamu juga mau bekerjasama kenapa tidak kita buat rencana dengan Fulan dan Toni. Kita bagi tugas untuk menjebak pelakunya lagian kalau menunggu Laili percuma saja dia juga masih kekeh dengan pendiriannya karena dia juga gak tahu siapa pelaku sebenarnya"


"Iya aku setuju,kita tunggu Fulan dan Toni agar semuanya bisa kita buat rencananya"


"Iya bismillah semoga kebenaran segera terungkap "


"Aamiin....oh ya gimana pak Zan nggak kita aja dalam rencana ini?"


"Nggak usah lah"


"Kenapa?"


Aku terdiam menghembuskan nafasku secara perlahan. Rasanya sesak dalam dada yang tak bisa ku ungkapkan. Air mata yang di ujung mata berusaha ku tahan sekuat mungkin agar aku tak terlihat lemah.


"Kayaknya pak Zan lebih percaya Laili ketimbang aku atau kamu. Untuk sekarang pak Zan lebih fokus untuk kesehatan Laili jadi dia akan menjaga Laili agar tidak stres ataupun sakit"


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Baik kok sangat baik malahan" aku menunduk menyembunyikan raut wajah yang kecewa ini.


*Tsania, ingin rasanya aku memeluk mu menenangkan hatimu yang gundah itu tapi sayang itu semua tak bisa ku lakukan ada pembatas yang besar untuk kita. Menyentuh mu adalah hal yang tidak bisa lagi ku lakukan hanyalah doa yang bisa ku lakukan untukmu untuk menyentuh hatimu.

__ADS_1


Ya Allah jaga wanita yang hamba cintai ini,jaga dia dan bahagia kan dia ya Allah agar hamba bisa lebih ikhlas melepas nya . Karena hamba akan lebih bahagia jika melihat dia bahagia ya Allah. Aamiin*...


__ADS_2