My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
MASIH ADA ALLAH SWT


__ADS_3

Mentari sudah berada di atas kepala yang terasa panas, seperti suasana di siang ini semakin panas dan penuh amarah.


Aku masih betah di baringan kasur rumah sakit meski sudah di pindah di ruang rawat dan keadaan ku sudah pulih aku masih enggan untuk pulang ke rumah.


Tafi yang sedari tadi mengoceh bercerita, bertanya mau apa?makan apa?mau kemana? tetap tak ku gubris.


Hatiku masih lelah, mengingat kejadian semalam membuatku tak bersemangat. Aku pun juga tak tahu mengapa aku bisa berada di rumah sakit. Bahkan keberadaan pak Zan juga nihil. Andaikan pak Zan datang kesini mengucapkan kata maaf semua sudah kelar aku sudah melupakan semuanya.


Apapun yang pak Zan lakukan asalkan pak Zan bilang maaf saja semua sudah ku anggap baik-baik saja. Karena bagiku semua manusia tempat nya salah dan dosa. Jadi kesalahan itu bisa di maafkan asalkan ada kata maaf penyesalan.


Sampai di siang bolong begini pun tak ada kata maaf itu. Apa yang sedang terjadi pada pak Zan?masihkah ada rasa cinta di hatinya untukku?.Aku rindu pak Zan yang dulu. Yang penuh kasih sayang,lemah lembut dan perhatian.


Kemana pak Zan yang dulu?kemana?aku rindu belahan kasih sayangnya.


Anakku? buah hati bunda....bunda harap kamu bisa menjadi sosok yang kuat ya? karena kamu harapan bunda satu-satunya. Semoga ayahmu tersadar dari segala godaan dan fitnah. Aamiin....


"Hiks...hiks...."


"Wa?sudah ya nangis nya....aku ngerti kok kamu masih sakit hati dengan kak Irul. Tapi aku mohon makan lah dulu dari tadi pagi kamu belum makan. Kata dokter asam lambung kamu kambuh. Jangan telat maem lagi ya? setidaknya makan lah sedikit demi bayi dalam kandungan kamu. Makan ya?"


Ku pinta bubur yang di bawa Tafi. Aku tak mau menerima suapan dari Tafi sengaja agar aku tak nyaman dalam situasi di mana aku butuh pelukan dan dukungan bukan dari pasangan ku melainkan dari lelaki lain. Aku hanya ingin pak Zan seorang.


Aku akan menunggu sampai nanti malam jika tidak ada kata maaf lagi dari pak Zan aku akan memutuskan untuk mengakhiri semua ini.


"Enak Wa?" aku menggeleng.


"Assalamualaikum...!!!" mamah datang bersama papah dan aku segera mengusap air mataku yang mengalir terus tiada hentinya.


"Sayang?kamu sudah enakan kan?"


"Sudah mah" ku berusaha tersenyum dengan sumringah.


"Irul mana Fi?"


"Eng....eh ...itu ...anu masih ngajar pah"


"Hadeh kan ini sudah jam istirahat kenapa masih ngajar aja"


"Nggak tahu pah"


Tafi tampak kebingungan atas pertanyaan papah. Karena dia juga bingung harus bagaimana karena dia juga gak berani menghubungi pak Zan.


"Sayang?kamu pulang ke rumah mamah aja ya?"


aku hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


Meski terasa hambar dan tak ada rasanya aku habiskan bubur yang ada di depanku ini. Aku siap-siap langsung mandi dan ganti baju yang sudah di bawakan mamah dari rumah.


Karena papah dan mamah hari ini sengaja berangkat ke klinik hanya membawa motor maka dari itu aku di suruh ikut Tafi naik mobil.


Pandangan ku jauh ke luar sana motor mobil hilir mudik ke sana kemari dengan tujuan masing-masing.


Tiba-tiba Tafi menyentuh tanganku . Dia mengusapnya lembut . Aku masih diam tak bergeming menatap dinding kaca mobil.


"Wa...wa...andaikan kamu ku miliki tak akan ku biarkan kamu terluka sedikitpun Wa" celoteh nya yang pura-pura tak ku dengar nya.


Di lepasnya tangannya dari tanganku.


Ku toleh wajahnya dia memasang senyum merekah yang yang begitu indah.


"Wa?"


Senyum itu memang indah tapi bukan milikku....


Ingin rasanya aku mengeluarkan isi dalam hatiku tapi mulutku terkunci ...


Sampailah di rumah dan aku langsung masuk kamar.


Aku duduk sejenak di atas ranjang , di kamar pak Zan yang selama ini ia tiduri. Aku rindu dengan pak Zan yang dulu.


Sejenak aku berpikir dengan siapa aku harus bercerita?aku takut jika aku bercerita tentang masalah ini,aib keluarga ku banyak yang tahu. Aku takut , bingung siapa yang pas tempat ku bercerita.


Aku benar-benar bingung rasanya tak ada lagi tempat ku untuk bersandar.


Air mata ini saja yang selalu setia menemani ku tanpa harus aib keluarga ku diketahui banyak orang,tanpa harus melakukan dosa.


Ku lihat mukena dan sajadah di atas rak,segera ku raih.


Deg.... ternyata aku salah....


Aku segera berwudhu dan menunaikan sholat Ashar.


Bodohnya aku, kenapa aku harus bingung?kenapa aku harus khawatir?jika tak ada tempat untuk bersandar lagi masih ada sajadah tempat kita bersujud. Masih ada Allah SWT yang akan selalu setiap pada hambaNya. Hanya saja hambaNya yang selalu lupa pada Tuhannya.


Y**a Allah....yang maha Pengasih dan Penyayang....terima kasih atas segala kenikmatan yang telah Engkau berikan pada hamba...Ya Allah maafkan hambaMu yang penuh dosa ini, maafkan hambaMu yang telah lupa akan kenikmatan dari Mu. Ya Allah... hamba merasa lelah, hamba merasa hamba tak sanggup ya Allah...ini terlalu berat untuk hamba. Ya Allah semua sudah ku pasrahkan padaMu apapun yang terjadi. Tentang suami hamba ini terjadi juga semata-mata atas ijin Mu. Maaf ya Allah jika hamba terlalu cengeng dan lemah. Hamba serahkan semuanya ya Allah. Apapun yang terjadi hamba sudah ikhlas......


Selepas berdoa aku langsung bersujud menenangkan hati yang rapuh ini.


Rasanya sangat damai sekali seakan Allah mengelus kepalaku dan berkata.


Kamu kuat hambaku....

__ADS_1


Aku terbangun dan melihat pak Zan sudah duduk di sebelah ku.


"Apa aku mimpi?" ku kucek mataku sekali lagi.


"Kakak?"


"Bukan Wa..." aku tersadar itu hanya halusinasi ku saja dan ternyata itu hanya Tafi.


"Kenapa kamu masuk kamarku tanpa ijin?"


"Maaf...tadi ku ketok-ketok nggak di buka aku panggil-panggil nggak ada sahutan aku takut terjadi sesuatu. Maaf ya? aku di suruh mamah papah ,katanya kamu di suruh ke kamarnya"


Ku tatap wajahnya.


A**pa iya dia jawaban dari doaku?apa iya dia pengganti pak Zan?.


Ku peluk erat Tafi dengan penuh harap. Tafi mengelus punggung ku.


Ku pejamkan mataku merasakan kenyamanan. Nyaman....nyaman sekali....tapi hanya sebentar....ini tak benar, ini salah....


"Maaf..." ku lepaskan pelukanku.


Aku langsung berdiri melepas mukena ku dan melipat nya mengalihkan pembicaraan agar tidak canggung.


"Emang ada apa Fi?kok mamah papah memanggil ku?"


"Entah...kurang tahu Tafi mbak...."


"Tumben..."


"Apanya?"


"Mbak....." ku sindir Tafi dengan wajah jelekku.


"Hais.....nakal ya kamu mbak, manggil Wa salah manggil mbak salah..." prengutnya.


"Karena kamu serba salah...wek..." aku langsung berlari menghindari kejaran Tafi langsung masuk kamar mamah papah.


"Hihihi.....eh maaf mah pah..." mamah papah terkejut dan saling pandang.


"Kenapa kamu sayang?kok kelihatan seneng gitu?"


"Enggak mah, itu Tafi lucu... hehehe..."


"Oh kirain ada apa..." jawab mamah sembari memandang papah saling tersenyum.

__ADS_1


Aku mendekati mamah papah yang duduk di atas kasur mereka.


__ADS_2