
"Kenapa bun? ini kan Tsania ku bun kenapa dia menikah dengan pak Irul? " tanya Arnold yang tak bisa di jawab bunda maupun ayah.
"Aaaa.....!!! sakit bun... sakit....!!! " teriak Arnold sesaat setelah mengingat kembali kejadian apa yang ada di foto itu.
Arnold kelimpungan karena menahan sakit yang luar biasa. Tak henti-hentinya kedua tangannya memukul-mukul kepalanya karena saking sakitnya. Bunda melihat itu langsung berdiri menjauh dari Arnold dan terisak tak tahan melihat itu. Ayah dengan cekatan langsung mengambil tindakan memberikan Arnold obat penenang dengan melebihi dosis dari biasanya sesuai saran dokter.
Ayah tak hentinya memeluk putra semata wayangnya itu untuk menguatkan. Meski Arnold masih memberontak histeris menahan rasa sakit dan ngilu di kepalanya. Dia memang sering seperti itu jika kambuh tapi ini melebihi dari yang biasanya. Bunda ingin sekali ikut memeluk putranya itu tapi ayah melarang takut jika Arnold tak sadar melukai bunda.
"Bunda....!!! sakit bun..... " teriak Arnold.
Bunda memejamkan matanya dia benar-benar takut dan iba melihat kondisi anaknya itu.
"Bunda.... " lirih nya lagi. Kini suara histeris itu mulai mengecil dan perlahan Arnold tertidur dalam pelukan Ayah. Ayah membaringkan Arnold dengan pelan dan menyelimuti nya.
Tes... tak sengaja air matanya menetes saat hendak bangun dari atas kasur usai melihat Arnold yang sudah terlelap. Ayah yang tak pernah menangis malam ini pun air matanya jatuh juga. Dia segera mengusap sebelum bunda melihatnya.
"Ayah... " bunda memeluk ayah dan ayah membalasnya dengan erat mencium kening sang bunda dan meneteskan air matanya kembali meski dengan sekejap ayah mengusapnya lagi.
"Besuk pagi ayah langsung berangkat ke Jakarta ya? mengurus rumah sakit yang akan merawat Arnold. Dan bunda segera menyusul setelah Arnold sudah baikan. Angga sudah siap menemani besuk ,dia sudah ayah kasih tahu. Tadi ayah sudah telpon cik Keke mengenai mobil. Yanto pagi sekali akan ke sana dengan Angga mengambil mobil" jelas ayah.
"Sekarang bunda istirahat ayah akan menyelesaikan pekerjaan ayah dulu. Jangan mikir macam-macam kamu jaga kesehatan" ayah keluar dari kamar Arnold setelah mencium kening bunda.
Malam ini bunda menyusun rencana tanpa sepengetahuan ayah. Demi kebahagiaan bersama. Jika nanti Arnold pergi menjauh semuanya akan terselesaikan dengan baik tanpa ada rasa bersalah.
.
.
.
Pagi ini Arnold masih terlelap dan bunda segera sarapan kebawah menemani ayah. Di meja makan hanya tampak berdua , Angga dan Tsania tak nampak. Tsania masih belum mau sarapan ketika bunda mengajaknya dan Angga mengantar Yanto mengambil mobil ke rumah orang tuanya.
Usai sarapan bunda mengantar ayah ke depan rumah. Ayah segera berangkat ke bandara menggunakan taksi online yang sudah di pesannya tadi.
Karena Arnold belum bangun bunda mencari Tsania ingin mengobrol untuk yang terakhir kalinya. Dia mendekati Tsania yang duduk di taman belakang rumah. Wajahnya sangat sumringah tatkala bunda bertanya. Bunda bersyukur di saat seperti ini Tsania masih bisa membuang jauh egonya. Meski bunda tahu Tsania sering murung sedih karena sudah di jauhkan dari sang suami. Ini waktunya bunda untuk membalas kebaikan gadis yang ia anggap sebagai anak sendiri itu.
Dia masuk ke kamar Arnold dan terlihat Arnold sudah terbangun. Arnold masih fokus dengan ponselnya.
"Pagi sayang... " bunda menghampiri Arnold dan mencium keningnya.
"Pagi juga bun...Bun? semalam Tian mimpi lihat Tsania di sini"
"Terus? "
__ADS_1
"Iya di sini nemenin Tian bun.Tian rindu dengan Tsania bun. Andaikan ada kesempatan kedua Tian ingin menikahi Tsania bun"
"Tian sayang? kamu sudah sadar? kamu sudah ingat tentang hubungan kamu dengan Tsania? "
Lama Arnold menjawab. Pandangan nya jauh entah kemana.
"Sudah bun, Tian ingat sebelum kecelakaan Tian punya niat buruk untuk menculik Tsania dan membawanya pergi menjauh dari pak Irul. Tapi niat itu belum terjadi Tian kecelakaan bun, Allah menegur Tian dengan kejadian naas itu" jelas Arnold.
Bunda memeluk Arnold dengan erat tangis haru menyelimuti pagi itu.
"Bunda bersyukur kamu sudah sembuh sayang. Terima kasih Tuhan"
"Bun? "
"Iya sayang? "
"Tian kepingin untuk yang terakhir kalinya bertemu Tsania. Memeluknya erat dan menjadikan dia istri Tian meski itu hanyalah angan semata"
"Tian... sebenarnya selama kamu sakit Tsania lah yang merawat kamu, menemani mu, membantu kamu untuk mengembalikan ingatanmu. Demi kesembuhan kamu dia rela tidak ikut merayakan kelulusan di Jogja dengan teman-teman nya dan suaminya nak Fauzan"
"Hemm... Tsania kamu itu tidak pernah berubah ya? tetap menjadi pribadi yang baik " Arnold tersenyum mengingat semua kenangan bersama Tsania.
"Kamu boleh kok mewujudkan semua angan mu untuk yang terakhir kalinya. Sebelum kita mengantarkan Tsania kepada pemilik hatinya. Kasihan dia, dia berhak bahagia. Biarkan dia melanjutkan kebahagiaan nya dengan caranya sendiri. Kita harus bisa mengikhlaskan nya. Tuhan punya rencana sendiri untuk kamu dan untuk kita sayang. Bunda tahu ini sangat berat. Bunda juga sebenarnya gak rela kehilangan Tsania tapi, ini sudah jalan Tuhan sayang"
"Tapi gimana dengan ayah? "
"Ayah sudah berangkat ke Jakarta mengurus pekerjaan nya dan mengurus rumah sakit yang akan merawat mu sebelum kamu nanti berangkat ke Mesir"
"Sudah waktunya kamu pergi menjauh dari semua kenangan yang kalian ukir. Kamu harus ikhlas sayang demi kebaikan dan kebahagiaan bersama"
"Iya bun, apa Tsania masih di sini? "
"Masih, dia di taman belakang. Apapun angan mu tentang Tsania lakukan lah sekarang. Ini kesempatan kamu yang terakhir kalinya"
Arnold menelpon pak Zan mengucapkan beribu maaf dan terima kasih telah memberi kesempatan untuk bersama Tsania. Dia menjelaskan akan mengembalikan Tsania ke pak Zan sebelum dia pergi ke Mesir lagi.
Usai menelpon Arnold dan bunda turun ke bawah mencari Tsania. Arnold mencium dan memeluk nya. Meski hal itu tidak pernah ia lakukan selama pacaran dengan Tsania. Tapi ia dengan sengaja melakukan itu membuat impiannya jadi nyata meski hanya sementara.
Setelah ngobrol panjang Arnold mengajak Tsania pergi yang tanpa sepengetahuan Tsania tempat dan tujuan nya. Pikir Arnold dia akan melakukan foto-foto sebagai kenangan terakhir tapi dalam perjalanan dia memeluk bundanya dengan isak kan tangis dia berbisik.
"Nggak usah bun" bisik nya.
Setelah sampai tujuan dan memesan penginapan satu kamar bunda mengajak yang lainnya makan siang sembari menunggu kedatangan Fauzan.
__ADS_1
Arnold mengajak Tsania mengamati pantai.Menepi berdua menuangkan segala isi hatinya. Salah satu impian Arnold foto prewedding dengan suasana pantai. Meski hal itu tidak tersampaikan setidaknya dia sudah membuat kenangan terakhir dengan Tsania berlatar pantai.
.
.
"Bunda? " Pak Zan bersalaman dengan bunda dan mencium punggung tangannya.
"Nak Fauzan" bunda mengelus punggung pak Zan.
"Ini nanti tolong berikan pada nak Tsania ya? "
bunda menyerahkan paper bag berwarna merah muda.
"Iya bun"
"Terima kasih ya nak, sudah memberi kesempatan pada Tian dan maaf sudah merepotkan dan melukai hati kamu"
"Nggak apa bun, Arnold kan sudah seperti adik saya sendiri. Yang terpenting dia bisa kembali pulih saya pun ikut senang"
Pak Zan dan bunda kembali mengamati Arnold dari jauh.
"Sudah waktunya kamu ke sana nak "
"Iya bun"
Pak Zan perlahan berjalan mendekati Tsania dan Arnold yang tenggelam dalam tangisan masing-masing. Arnold menoleh dan memeluk pak Zan setelah melihat kedatangan pak Zan. Perasaan bersalah tercampur dalam isakkan tangis mereka berdua.
"Terima kasih pak, dan maaf sudah membuat bapak kecewa" bisik Arnold.
"Tidak Nold.... bapak yang minta maaf " pak Zan memapas bahu Arnold.
"Selamat tinggal pak, saya titip Tsania. Jaga dan sayangi dia ya? Assalamu'alaikum... " Arnold memberikan payung pada pak Zan.
"Waalaikumussalam... "
Arnold pergi menjauh setelah memastikan Tsania sudah di pelukan pak Zan. Berlari kecil di dalam pelukan bunda. Terisak tangis, terasa berat meninggalkan kenangan yang sudah lama ia rajut.
"Ikhlas ya sayang? Tuhan punya banyak cara untuk membuatmu bahagia"
bunda mencium kening Arnold dan merangkulnya. Mengajaknya pergi dari pantai menuju mobil yang sudah lama di tunggu oleh Yanto dan Angga.
Selamat tinggal kenangan. Aku pergi mencari harapan baru. Semoga kau bahagia gadisku. Aku akan pergi menjauh membawa rasa ikhlas ku. Aku akan kembali setelah aku sudah pulang membawa kabar bahagiaku. Arnold Sebastian.
__ADS_1