
...Kamu adalah kehormatan bagiku, segalanya tentangmu adalah ibadahku. Biarkan ibadah ini sempurna dengan terus menjadikanmu istimewa...
...🌺Selamat membaca🌺...
Ku pandangi terus jam yang melekat di dinding, aku pikir aku akan langsung tidur dengan menahan lapar, tapi ternyata salah.
Tepat jam dua dini hari, pertahananku runtuh. Aku menyerah, aku tidak bisa tidur tanpa makan.
Ku singkat selimut tebalku, aku tidak bisa tidur dengan perut kosong. Aku berjalan sedikit mengendap menuju ke dapur agar tidak membangunkan seseorang yang tengah tertidur pulas.
Manik mataku langsung tertuju pada tudung saji yang ada di atas meja makan, salivaku tiba-tiba cair saat aroma makanan menusuk ke hidungku, meskipun mungkin sudah dingin, tapi perut yang lapar ini mampu menajamkan indra penciumanku.
Segera ku geser kursi plastik yang akan aku duduki agar aku bisa duduk dengan nyaman, tanganku juga dengan cekatan membuka tudung saji, ayam goreng kecap, oseng kacang petai dan tempe goreng.
Ahhhh, kenapa pak Ardi selalu tahu sih yang aku mau. Sebagian makanan itu langsung pindah ke atas piringku dan hanya butuh lima menit semua makananku pindah ke dalam perutku yang kosong.
Sendawa besar cukup untuk mengadakan kalau saat ini perutku sudah kenyang.
Tiba-tiba rasa ngantuk mendera, ingin menunggui setengah atau satu jam lagi baru tidur tapi mataku tidak bisa di tahan.
Lagi pula aku masih dalam masa pertumbuhan, tidak masalah jika setelah makan langsung tidur.
***
Aku masih enggan menyapa pak Ardi meskipun di pagi harinya, tapi pak Ardi tetap saj bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Hari ini pulang sekolah aku mau ke rumah ibu." ujarku sebelum pak Ardi memarkirkan motornya.
"Nanti aku antar."
"Nggak, aku ke sana sendiri."
"Aku antar."
Ternyata pak Ardi lebih keras dariku. Aku memilih masuk kelas.
Tepat saat pulang sekolah, aku kira aku bisa pulang sendiri, ternyata salah. Biasanya aku yang menunggu tapi ternyata pak Ardi sudah lebih dulu menungguku di depan gerbang sekolah.
"Sudah aku bilang kan pak, aku mau ke rumah ibu sendiri."
"Aku antar atau tidak sama sekali."
Ahhh dia benar-benar diktaktor, aku tidak bisa berkelah lagi karena, ya walaupun aku masih anak SMA setidaknya aku tahu jika melawan kehendak suami itu dosa, bisa kuwalat.
"Maaf ya aku nggak mampir, nanti aku jemput jam delapan ya. Aku ada pekerjaan dulu. Assalamualaikum." ucap pak Ardi tanpa turun dari motor, ia mengulurkan tangannya. Sebenarnya enggan untuk meraihnya tapi ya sudahlah, ku raih tangan pak Ardi dan ku cium punggung tangannya sebagaimana seorang istri saat suaminya akan pergi.
"Waalaikum salam."
Sudah tahu sibuk masih gaya ngantar pulang segala.
Setelah pak Ardi pergi aku pun masuk ke rumah ibu.
Ku langkahkan kakiku memasuki rumah setelah melepas sepatu baruku, rasanya begitu terkejut saat melihat ibu tidak hanya sendiri. Jelas itu bukan Rara ataupun Riri.
Siapa?
Langkah yang awalnya pelan kini ku percepat.
"Bu!"
Ibu dan orang itu bersamaan menoleh padaku, aku baru melihatnya hari ini. Dia bukan orang sini, aku cukup hafal dengan orang-orang yang tinggal di sini karena hampir satu minggu dua kali aku keliling untuk mengambil baju kotor untuk di cuci, atau mengembalikan baju mereka yang sudah bersih.
"Na, kamu sudah pulang? Mana suamimu?" Ibu terlihat mengedarkan pandangannya ke arah belakangku. Aku tidak menjawab lebih dulu, aku memilih mencium tangan ibu.
__ADS_1
"Ini siapa Bu?"
Wanita yang berdiri di samping ibu itu tersenyum. Tampak sudah tua, usianya sekitar enam puluh tahunan atau mungkin lebih. Penampilannya juga terlihat tua dengan rambut yang di Gelung dan Jarit sebagai bawanan kebaya kutu baru.
"Anakmu cantik, Ren!" ucapnya sambil terus mengawasi ku, perawakannya juga lembut.
"Kenalkan ini mbok Darmi, mbok Darmi ini budhenya ayah dari kampung, yang ngrawat ayah dari kecil!"
Hahhh, dadaku kembali sesak mengingat ayah. Apa ibu juga tahu? Mungkin kedatangan mbok Darmi ke sini pasti karena keadaan ayah.
"Salam kenal mbok, saya Zanna." ucapku memperkenalkan diri.
"Cah ayu, mbok sudah banyak dengar tentang kamu dari Bara. Kamu anak baik,"
Aku tersenyum, tapi senyum ini terasa begitu perih dan wanita itu juga tampak menahan air mata,
"Bu, Zanna masuk dulu ya. Zanna mau ganti baju." ijinku dengan cepat, sebenarnya itu hanya alasan agar aku tidak sampai menangis di depan mereka.
Setelah di ijinkan oleh ibu, akhirnya aku pun meninggalkan mereka. Dari pada bercengkerama dengan ibu dan mbok Darmi aku lebih suka menyendiri di kamar.
Hingga setelah magrib barulah aku keluar kamar karena ku dengar Rara dan Riri tengah ribuk karena pr nya, aku pun terpaksa menghampiri mereka.
"Hore, mbak Zanna mau bantuin." sorak Sorai polos dari Rara dan Riri. Hahhhh, senyum mereka bahkan tanpa beban. Bagaimana? Apakah akan hilang senyum polos mereka saat mengetahui kalau ayah sedang tidak baik-baik saja, ayah sedang berada di dalam keadaan antara hidup dan mati. Ahhhh, rasanya aku jadi tambah merasa bersalah. Aku merasa seperti tengah mengandaikan kebahagiaan keluargaku dengan menikahi pak Ardi.
"Assalamualaikum!"
Seseorang yang baru masuk mengucap salam, siapa lagi kalau bukan pak Ardi. Aku pikir dia tidak akan datang, ternyata datang lagi.
"Waalaikum salam!" jawab ibu dan mbok Darmi yang tengah berada di dapur. Pak Ardi segera berjalan mendekati mereka dan melewati aku begitu saja, rasanya seperti tersisih.
Ahhhhh, masak aku cemburu pada ibu dan mbok Darmi? Ada-ada aja.
Pak Ardi mencium tangan ibu dan mbok Darmi bergantian.
Aku terperangah dengan ucapan pak ardi. Hahhhh, pak Ardi juga kenal?
"Nggak pa pa, mbok tahu kamu lagi sibuk! Bagaimana keadaan Bara?"
"Masih sama mbok, maafkan Ardi ya mbok."
Walaupun jarak kami tidak terlalu dekat tapi aku bisa mendengar percakapan mereka, beruntung adik-adik ku sedang asyik mengerjakan, selain itu mungkin mereka terbiasa tidak mau tahu urusan orang dewasa.
"Jangan terus merasa bersalah, ini sudah takdir dari yang kuasa. Yang terpenting sekarang kita tidak henti berdoa untuk kebaikan kita semua."
"Terimakasih mbok, setidaknya ucapan mbok Darmi sendiri membuat hatiku lega."
"Ibuk juga sama, yang terpenting sekarang nak Ardi dan Zanna hidup bahagia, ayem tentrem,"
Hahhhh, lagi-lagi ucapan ibu membuatku tercengang. Bahkan itu tahu dan merelakan keadaan ayah seperti itu dan menyerahkanku pada pria yang sudah mencelakai ayah. Sakit banget rasanya.
Hingga tepat jam delapan malam pak Ardi pun berpamitan dan mengajakku pulang, sebenarnya ingin tinggal tapi ibu sudah mewanti-wanti ku untuk ikut suami. Mau bagaimana lagi, aku sekarang tamu di rumah ibuku.
Sebenarnya saat di rumah ibu di luar tidak hujan, karena mendung nya sangat pekat, baru beberapa menit keluar dari rumah ibu, hujan benar-benar turun.
Walaupun jarak rumah ibu dengan rumah pak Ardi tidak jauh, tapi karena hujannya terlalu lebat membuat baju kami basah terutama baju pak Ardi.
"Aku parkir dulu ya motornya, kamu langsung masuk saja!"
Pak Ardi tampak basah kuyup, bahkan kemeja batik yang sama yang dia kenakan tadi pagi menjadi transparan karena terlalu basah.
Aku pun segera meninggalkan pak Ardi tidak peduli dengan keadaan pak Ardi, aku segera menuju ke kamar yang memang cuma satu-satunya di rumah ini. Sayang saja rumahnya besar tapi kamarnya cuma satu mungkin karena memang pemiliknya cuma satu orang jadi menjadikan kamar lain sebagai ruangan lain yang lebih bermanfaat.
"Pak Ardi!" aku terkejut saat selesai memilih baju di dalam lemari, sepertinya aku lupa menutup kembali pintu tadi hingga saat aku berdiri dan berbalik ternyata pak Ardi sudah berdiri di belakangku.
__ADS_1
"Maaf, aku mengagetkanmu! Sebenarnya aku mau ambil baju dulu!" ucapnya sambil menunjuk lemari di hadapanku, ahhh sepertinya aku lupa bahkan kami berbagi lemari.
"Ahh iya pak, maaf aku tidak tahu!" ucapku gugup karena saat ini pak Ardi tidak memakai baju, sepetinya ia sudah melepas kemeja basahnya di luar.
"Seharusnya aku yang minta maaf karena masuk tanpa permisi!"
"Ini kan kamar bapak! Seharusnya aku yang tahu diri,"
"Na ...., aku nggak maksud gitu. Baiklah aku akan ambil baju trus keluar lagi."
"Aku yang akan keluar pak." ucapku tugas tapi dengan cepat pak Ardi menahan tanganku saat aku hendak melangkahkan kakiku.
"Na, aku mohon. Jangan membuatku semakin bersalah. Aku yang akan di luar, apapun yang terjadi padamu sekarang sudah menjadi tanggung jawabku."
Setelah mengatakan itu, pak Ardi pun benar-benar meninggalkan ku.
Beruntung di rumah ini ada dua kamar mandi, kamar mandi utama dan kamar mandi belakang.
🍂🍂🍂🍂
Aku saja baru pulang dari masjid, sepertinya aku sekarang punya kebiasaan baru. Selain berjualan aku jadi ikut berjamaah sholat subuh di masjid meskipun aku tidak suka saat pak Ardi menungguiku hingga daganganku habis.
Kami hanya saling diam, walaupun sesekali aku melirik ke arah pak Ardi. Aku kembali teringat dengan ucapannya terakhir kali sama ibu semalam, aku adalah hidupnya? Kayaknya seperti itu kata-kata. Boleh nggak ya aku Ge Er sekarang. Aku ngerasa menjadi begitu istimewa, sejak kapan? Aku tidak tahu.
"Ayo masuk!"
Ajakan pak Ardi menyadarkanku, ternyata sudah sampai di depan rumah.
"Hmmm!"
Aku mendahului langkah pak Ardi untuk masuk ke dalam rumah, biasanya kalau hari libur seperti ini setelah berjualan sayur aku akan pergi ke warung bakso paman Hari dan aku akan mendapatkan uang.
Tapi kali ini aku bingung, aku harus ijin kan sama pak Ardi kalau mau ke mana-mana.
Aku pun menghentikan langkahku dan membalik badanku,
"Pak, boleh nggak aku_?" belum juga aku menyelesaikan pertanyaanku pak Ardi sudah menatapku,
"Kita bicara sebentar ya, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" kali ini wajah pak Ardi terlihat serius.
Pak Ardi mengajakku untuk duduk di sofa ruang tamu, kami berada di sofa yang terpisah. Mungkin pak Ardi merasa aku masih marah padanya soal ayah, ya memang sikapku masih dingin padanya. Tapi ini bukan bentuk marah, ini hanya kecewa. Apalagi dengan kedatangan wanita yang bernama Mata, membuatku takut jika suatu saat nanti akan datang lagi.
"Na, aku tahu kamu tidak suka di kekang! Tapi boleh nggak saya menegakkan peraturan untukmu?"
"Maksudnya seperti di sekolah pak?"
"Ya semacam itu!"
Kenapa harus ada aturan sih, tidak cukup ya aturan di sekolah? Kanapa masih harus ada peraturan di rumah juga?
"Harus di sepakati ya pak?" kali ini aku lebih dulu bertanya, aku tidak suka terlalu di atur.
"Ya! Percayalah ini demi kebaikan kamu!" aku tahu memang peraturan selalu demi kebaikan tapi aku tetap tidak suka.
"Apa?"
"Bisa nggak untuk tidak bekerja?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249