
Mobil meluncur ke rumah Arnold. Suasana masih sama saat terakhir kesini. Arnold yang masih dengan ego dan penyakitnya. Saat itu rasa kasihan selalu menghantuiku.
Dan rasa rindu dengan pak Zan selalu menghampiriku, bahkan aku ingin segera lepas dari cengkeraman Arnold. Tapi , sekarang semua sudah berubah rasanya aku ingin kembali ke dekapan Arnold lagi mengulang kebersamaan dengannya.
Astagfirullah.....inget dosa Tsan....jalan kita sudah beda.
Ku tepuk jidat ku menyadarkan ku dari lamunan.
"Kenapa Tsan?" tanya Fulan penuh tanda tanya ,dia merasa takut dan was-was mengajak ku ke rumah Arnold.
"Maaf ya?kalau ini membuatmu terluka lagi" Fulan menyentuh tanganku dan mengusapnya lembut.
"Kamu nggak salah kok, aku yang salah yang terlalu baper"
" Ayo masuk , malahan di luar aja" ajak Arnold menyusul keluar rumah.
Hatiku berdebar lebih kencang , rasanya seperti mengembalikan sobekan kertas yang sengaja aku buang ke jalanan.
Semua masih tampak sama tak ada yang berubah, rasanya sangat sakit jika mendatangi rumah ini karena di setiap sudut ruangan ini penuh dengan kenangan manis bersamanya.
Di sambut bik Yem yang baik hati tak berubah masih sama seperti dulu.
Naik ke lantai atas dan masuk ke ruang entah aku aja selama pacaran dengan Arnold tak pernah masuk ke ruangan ini. Katanya sih ruang kerja ayah.
Arnold duduk di kursi kerja,aku dan Fulan berdiri di samping kanan kiri Arnold membuka CCTV lewat laptop beberapa bulan yang lalu.
Setelah beberapa menit Arnold terhenti dengan pencarian nya. Aku tercengang dengan apa yang aku lihat, tampak dengan jelas kak Angga keluar dari kamar yang di inapi Laili beberapa bulan yang lalu.
Apa mungkin kak Anggalah yang selama ini bersembunyi dalam penderitaan orang lain?
"Kita tunggu kak Angga pulang ,paling tidak nanti malam kita baru bisa ketemu tapi untuk mempercepat aku bisa menyuruh nya pulang"
Arnold meraih ponselnya dan mengirim pesan secepat kilat.
"Ok , kita istirahat dulu ya?kamu istirahat di kamar sebelah ya Tsan, aku sama Fulan di kamar bunda"
__ADS_1
Aku mengangguk hatiku berdebar karena kamar sebelah adalah kamar Arnold, pikiranku melayang akan kenangan masa lalu bersama nya.
Fulan keluar ruangan dengan di rangkul Arnold dengan begitu mesra nya.
Aku bahagia sahabat tercinta ku yang anti cinta kini sudah mendapatkan cinta sejatinya, tapi hatiku rasanya masih belum siap berada dalam pecahan gelas yang aku pecahkan dan dengan sengaja aku injak sendiri.
Tes... air mata teman setiaku menetes tanpa kenal lelah.
Ceklek...aku masuk kamar Arnold.
Hatiku berdegup lebih kencang, aroma kamar yang masih sama seperti dulu , warna cat temboknya dan tata ruang yang masih sama.
Hah?apa itu aku?
Aku tercengang dengan foto yang terpajang di atas meja baju putih abu-abu lengkap dengan jilbab putih yaitu fotoku jaman masih sekolah.
"Arnold, kamu kenapa sih masih membiarkan kenangan ini terlihat tanpa kau berusaha untuk menguburnya dalam-dalam . Aku sakit Nold melihat keadaan seperti ini. Kamu yang dengan tulus memberikan cinta harus dengan ikhlas menerima luka yang begitu dalam dan sekarang kamu sudah bisa mengobati lukamu tapi kamu masih baik dan tanpa dendam padaku. Bahkan kamu masih membiarkan kenangan itu hinggap di hidupmu meski itu sangat menyakitkan. Hiks...hiks..."
Ku ambil foto dalam figura kecil itu dari atas meja dan ku simpan dalam laci nakas.
"Kalau kamu tak bisa membuang kenangan ini biar aku yang mulai Nold..."
Sebelum aku membawanya dan menguburnya dalam-dalam ku amati foto-foto itu satu persatu yang masih lengkap.
Andai tidak seperti ini pasti foto-foto ini tak akan menjadi korban takdir yang kejam tapi apalah daya jika Allah sudah berkata lain.
Pak Zan, kamulah penghancur semua ini. Andai kau tak menikung Arnold dalam doamu pasti aku masih milik Arnold. Kau yang menginginkan ku ,kau yang menyebutkan ku dalam doa-doa malam mu kenapa kini kau tega membiarkan hati ini terluka tanpa kau peduli sedikit pun.
Apakah ini karma?setelah apa yang aku perbuat pada Arnold kini aku yang harus mengalami sakit itu.
Ku masukkan album foto itu ke dalam lemari lagi dan jilbab ku warna biru yang menjadi kesayangan Arnold.
Aku tak berhak menghilangkan kenangan itu karena aku hanya masa lalu yang hanya membuat rasa pahit di hatinya.
.
__ADS_1
.
.
Arnold pov.
"Kamu tidak bersalah dan sampai kapanpun kamu nggak bersalah Tsan, sampai kapanpun aku juga tak akan pernah mengubur atau menghilangkan kenangan kita karena kamu kenangan indah bukan kepahitan. Andai aku bisa menyentuh mu akan ku peluk dengan erat hatimu dan mengusap lembut air matamu. Tapi sayang aku hanya bisa menyentuh mu lewat doa. Semoga kamu bisa melewati ini semua dengan baik...wanita tangguh dan kuat ..." Arnold menutup rapat pintu kamar setelah mengintip keadaan Tsania yang membuatnya khawatir.
Setelah satu jam menunggu tibalah Angga ke rumah dan siap di interogasi. Arnold membawanya ke ruang kerja ayah dan menunjukkan video di CCTV itu.
"Apa maksudnya itu kak?jelaskan agar semua jelas, kita semua butuh kejelasan" tutur Arnold pelan tapi tegas.
Kak Angga masih menunduk terlihat wajah nya penuh khawatir dan takut.
"Kak jujur saja, aku hanya ingin kakak tidak terlalu jauh bersembunyi dalam masalah ini. Kita semua dalam masalah yang berlarut-larut tidak kunjung usai jika kakak tidak bisa jujur"
"Maaf...." kak Angga menaikkan wajahnya menatap kita semua dengan rasa bersalah.
"Waktu itu kakak benar-benar frustasi karena di selingkuhi pacar kakak lalu kakak pergi ke club malam dan kakak menenangkan diri dengan banyak minum. Pas pulang ke rumah kakak melihat ada Laili dan ada rencana untuk membalas dendam menghancurkan martabat nya karena dalam angan ku saat itu wanita semua sama seperti pacar kakak"
"Lalu kakak menghamili Laili?"
Kak Angga menggeleng.
"Kakak sengaja memberikan nya obat tidur saat dia mengambil air minum agar tidurnya pulas, dan saat itu kakak bereaksi masuk kamarnya. Kakak melucuti semua baju-bajunya dan menciumi setiap inci di lekuk tubuhnya. Tapi...."
"Tapi kenapa?" terlihat jelas guratan wajah Arnold penuh dengan amarah.
"Saat ingin menyetubuhi nya tiba-tiba dadaku rasanya sakit dan perutku mual-mual ,aku bolak-balik ke toilet dan pada akhirnya aku sadar dan cepat-cepat pergi dari hadapan Laili. Karena kakak takut jika Laili bangun dalam keadaan bertelanjang kakak berinisiatif mengambil baju kamu dalam keranjang baju kotor dan kakak taruh di sebelah nya Laili"
"Apa omongan kakak bisa di percaya?"
"Sumpah Nold, kakak nggak bohong kakak nggak menyetubuhi nya sedikit pun nggak" jelas kak Angga dengan wajah yang berapi-api.
"Kakak, masih ingat adik kakak, jika suatu saat nanti terjadi padanya kakak bakalan menyesal"
__ADS_1
"Soal kehamilan Laili ,kakak beneran nggak tahu kakak beneran nggak menghamilinya, kakak beneran takut selama ini sembunyi dalam ketakutan. Dan terus berlari menghindari dalam kejujuran. Maafkan kakak ya Tsan?"
Sedikit tenang mendengar ucapan kak Angga tapi hatiku semakin hancur, dengan kejujuran kak Angga otomatis pak Zan lah ayah kandungnya.