
Laili duduk di kursi roda tampak pucat dan sangat kurus. Aku masih terdiam melihat pemandangan itu, pak Zan tampak lelah juga.
"Kita masuk dulu ya?" ajak Laili dan pak Zan mendorong kursi roda itu. Aku, Fulan dan Arnold mengekor dari belakang.
Pak Zan masuk kedalam rumah mengambil makanan dan minuman.
"Silakan di minum ya?kalian pasti lelah" ucap pak Zan. Dan terlihat jelas Arnold meredam emosinya yang ingin membludak dan Fulan sang istri dengan sabar mengelus tangannya guna menenangkan hatinya.
Ku tarik nafasku dalam-dalam mencoba berfikir positif , tenang dan sabar.
"Gimana kabar kamu Lel?"
"Alhamdulillah baik mbak, mbak sendiri gimana?sudah berapa minggu kandungan nya?aku sudah 26 minggu mbak, kemarin habis periksa sama kak Irul" sesak sekali mendengar ocehan Laili itu tapi aku berusaha tenang.
"Belum tahu Lel mbak belum periksa juga..."
Air mata,tolong kondisikan kamu jangan permainkan aku di depan mereka, kumohon kuat...jangan cengeng.....
Badan ku rasanya lemas, keringat dingin keluar semua menahan amarah di dada.
"Sebenarnya saya ,Fulan dan Tsania kesini ada maksud dan tujuan" Arnold tanpa basa-basi mengawali pembicaraan.
Pak Zan terdiam.
"Saya perwakilan dari Tsania, meluruskan dan ingin mencari kebenaran tentang permasalahan yang tak kunjung usai ini"
Arnold membuka laptop nya dan menyalakan video hasil rekaman CCTV dan kejujuran dari kak Angga.
Pak Zan dan Laili terdiam tak sedikit pun bergeming.
Selanjutnya Arnold memutar video tentang kejujuran dari mantan Laili. Dan di situlah Laili terisak turun dari kursi roda bersujud di kaki Tsania.
"Mbak, maafin Laili mbak....hiks...hiks.." tanpa sepatah katapun Tsania menjawab dia memilih ikut turun duduk di bawah memeluk Laili yang lemah lunglai di kakinya.
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi ia pendam akhirnya tumpah dalam pelukan bersama Laili.
"Maafin Laili mbak, bukan maksud hati ingin merebut kak Irul dari mbak"
Pak Zan meneteskan air mata dan masih diam tak bergeming duduk di atas kursi. Melihat kondisi itu emosi Arnold memuncak.
"Pak Zan...maaf jika saya sudah lancang dan durhaka. Tapi saya tidak rela jika pak Zan menyakiti Tsania. Bapak yang merebut dia dari saya, tapi kenapa dengan tega bapak menyakiti dia. Kalau bapak tidak sanggup membahagiakan lepaskan dia, kembalikan Tsania pada orang tuanya dengan iktikad baik. Banyak yang mau membahagiakan dia...jangan sia-sia kan dia pak, sebelum bapak akan menyesal nantinya...!"
"Cukup...!!!" teriak Laili.
"Kak Irul nggak salah, aku yang salah. Aku yang sudah membawa kak Irul dalam masalahku. Hiks...hiks..."
"Laili...." aku panik melihat Laili pingsan, dengan sigap pak Zan membopong dan membawanya ke dalam kamar, aku dan Fulan mengekor.
Laili di tidurkan di atas ranjang dan di selimuti.
"Biarkan dia istirahat" pak Zan mengajak ku dan Fulan keluar kamar.
"Tsania, maafin kakak ya? terserah kamu mau maafin kakak atau nggak tapi ini kakak lakukan demi menolong Laili. Dan demi Allah meski kakak dan Laili sudah menikah secara agama kakak belum pernah berhubungan layaknya suami istri"
"Laili tertekan dan takut karena dia tidak tahu kalau hamil. Seingat dia dulu dia di ajak pacarnya pergi ke hotel untuk menemani bekerja tapi setelah meminum kopi yang di berikan pacar nya dia tak sadarkan diri dan pada akhirnya dia hamil dan dia tak mengetahui itu. Dia takut, sudah mengecewakan semua keluarga terutama ibu atas kehamilannya itu"
"Dan satu lagi alasan kakak membawa dia pergi dari rumah karena permintaan dia. Dia sebenarnya selama ini menyembunyikan penyakit nya. dia mengidap penyakit leukemia"
Aku menoleh setelah dari tadi menunduk mendengarkan penjelasan pak Zan, aku terkejut dengan fakta yang ada.
"Laili nggak mau menjadi beban buat ibu dan kamu. Jadi dia memilih menyembunyikan ini semua. Maaf kakak nggak tega untuk melihat dia berjuang sendiri. Jadi dengan ini kakak bisa menolong dia melewati masa-masa beratnya. Sekali lagi maafin kakak ya?..." pak Zan tertunduk menahan isak tangisnya.
"Nold, tolong bawa Laili ke dalam mobilmu" ucapku dengan tegas.Aku merasa sakit dan kecewa setelah mendengar penjelasan pak Zan.
"Biarkan dia di sini"
"Saya dan ibu masih sanggup merawat nya, apapun kondisi Laili tak akan menjadi masalah atau beban bagi keluarga ku" pak Zan diam tak bergeming dengan keputusan ku.
__ADS_1
Arnold memohon ijin ke pak Zan untuk membawa Laili ke dalam mobil.
"Tujuan kakak emang baik menolong Laili, tapi cara kakak salah... saya sebagai kakaknya merasa kecewa dan terhina" ucapku saat meninggalkannya sendiri terpaku menatap ku pergi membawa Laili.
"Sekali lagi terima kasih sudah menolong Laili" pamitku saat sudah di ujung pintu.
Hatiku benar-benar sudah muak dengan semua ini . Pak Zan dengan semena-mena mengambil keputusan yang tidak melibatkan ku ataupun ibu. Masalah sebesar ini bisa-bisanya dia sembunyikan sendiri.
Aku sangat kecewa pak Zan merasa berhak dan kuasa atas Laili. Setidaknya pak Zan bisa bercerita padaku, meminta pendapat padaku kalau hanya ingin menolong Laili. Setidaknya bisa menasehati atau membimbing Laili menjadi lebih baik bukan malahan menikahinya tanpa ada rasa cinta. Itu sama saja dia mempermainkan Laili.
Mana ada tujuan menikah hanya ingin menolong. Kalau seumpama dulu pak Zan bercerita padaku setidaknya aku bisa lebih legowo pak Zan menikahi Laili.
Hatiku hancur remuk , bukan karena pak Zan berselingkuh atau menikahi Laili. Tapi satu hal yang membuat ku kecewa karena pak Zan tidak menganggap aku ada.
Dia tidak membicarakan masalah ini padaku atau ibu. Ini soal nyawa, jika terus-menerus di sembunyikan apa jadinya nanti?. Cinta bisa ku cari tapi persaudaraan ku lebih penting apalagi ini menyangkut atas nama kesehatan adik kandung ku sendiri.
Laili anak baik, aku yakin meski dia sudah punya pacar dia tak pernah neko-neko. Dai gadis cerdas hanya saja dia salah pergaulan hingga membuat nya terjebak pada kesalahan ini.
Seharusnya pak Zan , membantu Laili menghadapi masalah ini bukan malahan bersembunyi dan menambah masalah baru. Aku takut jika Laili lama semakin lama nyaman dan jatuh cinta pada pak Zan dan pak Zan tak bisa membalas cintanya. Itu sama halnya hanya mempermainkan Laili.
Ku peluk Laili yang nampak pucat. Arnold mengintip dari kaca depan dengan tatapan panik, dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Aku menyuruhnya untuk segera ke rumah sakit memeriksa kan kondisi Laili.
"Maafin mbak ya Lel?maaf mbak belum bisa menjadi kakak yang baik buat kamu. Kakak janji akan menjaga kamu dengan baik. Merawat kamu sampai kamu sembuh sampai kamu melahirkan dengan selamat"
Fulan yang duduk di samping Laili mengelus tangan ku.
"Sabar...." ujar Fulan lembut.
"Makasih ya?" ucapku pelan.
"Sama-sama" jawab Fulan tanpa suara.
Kamu sahabat terbaikku Lan...terima kasih ya Allah Engkau telah mengirim ku malaikat yang luar biasa ini. Jaga dia ya Allah, panjang kan umurnya dan berikan selalu kesehatan. Aamiin...love you sahabat terbaikku Fulan Sari.
__ADS_1