My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
MENGUKIR KENANGAN


__ADS_3

Hati mana yang tak tersakiti jika mengingat kembali semua kenangan pahit yang menggoreskan luka di hati.


Bukan karena dendam dan jauh dari kata maaf, bukan itu alasan utamanya. Melainkan di saat sudah merelakan cinta pilihan sendiri dan memilih pilihan orang tua tapi apa daya yang di dapatkan goresan luka yang dalam.


Saat kesempatan itu datang tak akan terulang lagi, berusaha membuka pintu hati yang mengobati luka. Menyambut dengan hangat siapapun itu. Dan setelah kenyamanan itu di dapatkan jangan salahkan jika cinta bisa pergi setelah penyesalan menyelimuti.


Meski setiap hari pak Zan menunjukkan rasa cintanya, hatiku tak goyah. Aku pun sudah memaafkan semua kesalahannya, tapi untuk kali ini aku meminta padanya untuk membiarkan ku menikmati kenyamananku bersama pengobat lukaku.


Kenangan manis saat bersama nya selalu menjadi obat yang mujarab bagiku. Perlakuan yang lembut, perhatian dan kasih sayang yang tulus tak akan ku sia-siakan.


Hari ini aku sudah janjian ingin berjumpa dengan Tafi, atas ijin pak Zan. Aku ingin melepaskan rinduku yang sudah dua hari ini tak berjumpa dengannya setelah tempo hari jalan-jalan ke kota Bali.


"Wa?"


"Iya?"


"Kangen..." Tafi memelukku dan aku menyambutnya. Ada sapaan halus yang merangkul hatiku. Merasa tenang dan nyaman.


Tak akan ku lepaskan lagi, meski itu sulit pada akhirnya nanti.


Usai periksa tadi pagi di antar pak Zan di rumah sakit, Tafi langsung menjemput ku dengan mobilnya sendiri.


Setelah menyelesaikan pekerjaan di toko dan mengirim lampiran lewat email. Aku dengan Tafi meluncur ke puncak menikmati malam Minggu yang indah.


Aku akan melawan takdirku, aku sudah lelah menurut yang pada akhirnya akan terluka juga.


Ku genggam erat tangan Tafi dan senyum seutas di lemparkan dari bibirnya yang ranum.


"Aku bahagia sekali Wa, apalagi bisa berjumpa lagi dengan kamu"


"Kamu kemana aja sih Fi, dua hari nggak ada kabar?"


"Maaf Wa, aku banyak tugas kuliah jadi aku fokus ngerjain dulu"


"Eh, maaf ya aku nggak tahu kalau kamu balik ke Jogja lagi"


"Iya nggak apa kok yang penting kan sekarang kita sudah ketemu"


Aku dan Tafi menikmati jalanan yang asri dan menenangkan.


Perjalanan menempuh dua jam yang menurutku sangat singkat karena terlewat begitu saja tanpa ku sadari.


Tafi memesan dua kamar, untuk tidur malam nanti tapi siang ini Tafi memilih untuk masuk kamarku dulu. Kamar yang terbentuk seperti tenda di pinggir hutan. Karena tempat dan suasana nya berada di pinggiran hutan dan air terjun.


Bahkan gemericik air terdengar memenuhi ruangan. Meski ruangan terbentuk seperti tenda tapi sudah di fasilitasi dengan peralatan mewah di dalamnya.


Tafi memelukku dari belakang, saat aku usai meletakkan semua barang-barang ku di atas meja.


"Kenapa sih?"


"Biarkan sebentar saja Wa, besuk-besuk juga gak bisa lagi"


"Ih kata siapa? keputusanku udah bulat kok, nanti kalau bayi ini lahir aku akan menggugat cerai pak Zan . Dan kita akan menikah..." ku balikkan badanku dan ku elus pipi Tafi dengan kedua tanganku.


Tafi tersenyum mengelus-elus perutku.


"Aku juga sudah nggak sabar buat ketemu kamu kok sayang?" ucapnya lalu mencium perutku.


Genggaman tangannya yang kuat membuatku yakin kalau aku benar-benar bisa bahagia bersama nya. Tak akan ada lagi goresan luka yang ku dapat lagi.


.


.


.


Fauzan POV.

__ADS_1


Mungkin jauh dari kata rela dan biasa saja saat dengan sengaja dan langsung di depan mata sang istri di perlakukan manis dan mesra oleh adik sendiri.


Diam-diam pak Zan mengikuti Tsania dan Tafi. Dengan debaran hati yang tak karuan jika nanti amarah tak bisa ia kontrol saat kemesraan ia saksikan langsung dari matanya sendiri.


Penyesalan dan kesadaran kini sudah ia rasakan saat kemarin-kemarin dengan tanpa ia sadari menyakiti sang istri baiknya.


Kini dia benar-benar takut untuk kehilangan sang istri saat setelah semua terlalu jauh atas apa yang dia lakukan.


Hawa panas merasuk di jiwanya saat dia menangkap dengan sengaja kemesraan itu dan janji-janji manis yang mereka lontarkan.


"Tsania, kamu masih sah istriku... kenapa kamu bisa senekat ini? apalagi kamu dengan sengaja memperbolehkan lelaki lain menyentuh perutmu .Itu calon anakku...!! bukan anak dia...!!!" pak Zan pergi setelah dengan sengaja mengintip kamar Tsania yang lupa tidak di tutup.


Pak Zan duduk di di bawah pohon rindang menghadap air sungai yang mengalir. Hatinya seperti teriris, menyaksikan perselingkuhan istrinya.


Meski ia tahu itu tak akan terjadi kalau bukan ia yang memulai dulu.


Ingin rasanya memukul wajah mulus sang adik ,karena api cemburu benar-benar membakar hatinya.


"Aaakkk...." pak Zan menonjok pohon sekuat tenaga nya hingga tanpa di sadari lumuran darah mengalir di jari-jari nya.


"Ku mohon sudahi semua itu Tsan,hiks...hiks..."


.


.


.


Tsania POV.


Tak ku hiraukan lagi apapun itu nanti kedepannya, meski langkah ku terlalu jauh meninggalkan segala yang kumiliki. Sekarang aku hanya fokus dengan kebahagiaan yang ada di depan mataku.


Yaitu bersama Tafi.


"Wa?aku benar-benar bahagia...."


Senyum tulus mekar di bibirnya.


Duduk di atas tikar dan meja kecil yang sudah tersaji makanan. Dengan jaket yang tebal dan kupluk yang senada dengan Tafi menghangatkan siang ini.


Gemericik air sungai melewati bebatuan menjadi saksi di siang ini.


Tafi membuka tas yang berisi gitar.


"Baru Fi?"


"Iya dong,keren kan?" Tafi menunjukkan tulisan namaku dan nama dia yang besar di bodi gitar itu.


Tertulis nama TAWA dan ada fotoku dengan Tafi saat di Bali dulu.


"Tawa? maksudnya?"


"Tafi dan Wawa, aku harap saat kamu melihat gitar ini kamu akan selalu tersenyum dan tertawa bahagia mengingat tentang ku"


"Haist kamu ma, jangan bikin takut ah..." Tafi tersenyum dan memetik gitarnya.


Meski rasanya ada yang aneh dalam perkataan itu.


Tapi senyum nya mengalihkan duniaku. Petikan gitar bergema membuat syahdu.


Sahabat Tak Akan Pergi


Lagu Anneth Delliecia dan Betrand Peto Putra Onsu


Sahabat, coba kita arungi


Lautan luas kita seb'rangi

__ADS_1


Gunung yang tinggi 'kan kita daki


Tak merasa letih


Melangkah ku ke ujung samud'ra


Kar'na tanpa kamu, aku hampa


Sahabatku di setiap langkah


Kau selalu ada


Kamu begitu berarti


Dan istimewa di hati


Selamanya rasa ini


Sahabat takkan terganti


Dan ingatlah hari ini


Sampai kita tua nanti


Sahabat tidak pernah pergi


Selamanya di dalam hati


Kau sahabatku, takkan terganti


Ho-oh (ho-oh)


(Kau sahabatku)


Melangkah ku ke ujung samud'ra (ke ujung samud'ra)


Kar'na tanpa kamu, aku hampa (sahabatku)


Sahabatku di setiap langkah (langkah)


Kau selalu ada (selalu ada)


Kamu begitu berarti (begitu berarti)


Dan istimewa di hati (istimewa di hati)


Selamanya rasa ini (rasa ini)


Sahabat tak akan terganti (tak akan terganti)


Dan ingatlah hari ini (hari ini)


Sampai kita tua nanti (tua nanti)


Sahabat tidak pernah pergi (pergi)


Selamanya di dalam hati (hati), oh-oh (ho-oh)


Sahabatku s'lalu di hati


Sumber: Musixmatch


"Kenapa sahabat lagunya?"


"Karena kamu sahabat sejati ku yang tak akan tergantikan sampai kapanpun itu"


"Jadikan ini kenangan yang indah untuk mu ya Wa?"

__ADS_1


"Bukan kenangan semata Fi, melainkan awal kehidupan kita nanti" ku sandarkan kepala ku di pundaknya. Berharap kedepannya akan ada kehidupan yang indah untuk kita.


__ADS_2