My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband
MEWUJUDKAN HARAPAN


__ADS_3

"Sayang? "


"Iya Tan? "


"Kita balik ke kamar hotel yuk? Tsania capek kak, kepingin istirahat sebentar sebelum ketemu teman-teman" aku melepaskan pelukan ku dari pak Zan.


"Iya sayang... "


Dalam perjalanan menuju hotel pak Zan merangkul punggungku sesekali mencium keningku. Meski di depan umum pak Zan tak menghiraukan nya.Saking rindunya. Padahal pak Zan itu termasuk lelaki yang pemalu bermesraan di depan umum.


Sembari bercerita panjang lebar aku dan pak Zan menuju kamar hotel membawa payung yang sudah di tangkup kan dan paper bag pemberian bunda yang entah isinya apa. Ada perasaan rindu dan merasa bersalah jika aku sudah berbohong padanya mengenai hubungan ku dengan pak Zan.


Meski itu semua ide pak Zan tapi ternyata diam-diam bunda sudah mengetahui nya. Hal itu masih menjadi pertanyaan dariku. Tahu dari mana tentang kenyataan itu. Entahlah....


"Kakak nginap dimana? " tanyaku yang sudah di dalam lift.


"Di depan hotel ini... di sana ada penginapan tak kalah bagus. Ya bedanya sih di sana lebih ke alam aja gak sebagus ini yang bintang 5" jelas pak Zan menggodaku yang masih merangkul ku.Sedikit melirik ku dan melangkah keluar dari lift.


"Kan ini bunda yang pesan Tsania mana tahu kak... "


"Iya sayang.... " pak Zan lagi-lagi menciumi keningku terasa sudah candu dengan hal itu.


Setelah masuk kamar aku segera membuka paper bag pemberian bunda.Disana ada secarik surat ku baca dengan pak Zan.


Tsania sayang... Anak gadis bunda. Kesayangan bunda. Terima kasih banyak ya? berkat kamu Arnold sudah kembali pulih. Dan Terima kasih atas kehadiran mu yang memberikan banyak warna pada Arnold. Maafin ayah dan bunda yah??? karena kita kamu jadi menderita. Selamat berbulan madu. Semoga suka dengan kadonya. Dan kabari bunda ya kalau sudah ada si dedek dalam perut kamu. Love you anak gadis bunda.


Hatiku berdebar antara terharu, sedih dan bahagia. Ku buka kotak kado berwarna merah muda juga. Aku terperangah ku tutup mulutku saat melihat isi kado dari bunda. Kalung permata yang berkilau. Pak Zan meraihnya dan dipakaikan di leherku.


"Cantik... " puji pak Zan.

__ADS_1


Pak Zan memelukku dan menciumi keningku tiada henti. Menatapku lama sekali. Air mata lolos begitu saja dengan alasan yang tak ku ketahui.


"Kenapa? " ku usap air mata itu dengan jariku.


"Maafin kakak ya? gara-gara kakak kamu harus berpisah dengan orang yang kamu cintai dengan orang yang selalu membuatmu bahagia"


"Kakak ngomong apa sih? kakak gak salah kok. Awalnya sih Tsania memang sedih kak harus berpisah dan di jodohkan dengan lelaki yang tak ku kenal. Tapi setelah Tsania tahu lelaki itu adalah kakak Tsania bahagia kok kak"


"Terima kasih " lagi-lagi pak Zan memelukku dan terisak tangis.


Sejak kapan sih pak Zan itu cengeng perasaan dia itu orang yang tegas dan berwibawa. Baru kali ini aku melihatnya cengeng.


"Sayang? Arnold itu memang orang yang selalu membuat ku bahagia tapi itu dulu. Dia hanyalah seorang mantan yang mewarnai kehidupan ku di masa lalu. Dan sekarang aku sudah menutupnya rapat-rapat kenangan itu. Ku buka hanya untukmu dan sekarang hati ini sudah ku kunci rapat-rapat. Masa depan yang indah hanya ingin ku ukir dengan mu kak" ku eratkan tangan ku di pinggangnya. Ku tenggelam kan wajahku di dada bidangnya.


"Kakak kan juga sudah tahu aku sudah memberikan kesucian ku pada kakak"


"Masak sih? kapan? bukannya kamu selalu menolaknya"


"Hahahah... iya-iya bercanda kali. Lagian mana mungkin aku lupa dengan sesuatu yang membuat kakak bahagia. Surga dunia yang tak mungkin bisa kakak dapatkan selain dari istri tercinta" goda kakak dengan mencolek daguku.


"Genit ya??? " ku kejar pak Zan dan ku gelitiki.


"Cie... yang udah gak perawan lagi" godanya lagi.


"Ih... kakak...!!! " wajahku memerah menahan malu mengingat malam itu aku yang memulai aksi itu dengan bringas.


Pak Zan berlari ke kamar mandi dan aku menyusul nya dengan cekatan pak Zan menutup pintu itu dan menguncinya.Aku mengerutkan keningku. Entah apa yang ingin dilakukan pak Zan mengunci pintu kamar mandi.


"Kamu mau kan mewujudkan harapan kakak? " tanya pak Zan yang masih bersandar di depan pintu.

__ADS_1


"Apa? " tanyaku dengan heran.


"Mandi bersama"


"Hah? " wajahku memerah dan hatiku berdetak begitu kencangnya. Aku benar-benar bingung antara mau dan tidak. Dalam hati ingin mengiyakan permintaan nya tapi bibir ini tak berani mengatakan nya karena ada perasaan malu yang mengiringinya.


Selama ini aku tak pernah bertelanjang di depannya ganti baju pun selalu di kamar mandi. Dan malam itu memang aku yang memulainya saat beraksi tapi kan aku masih memakai baju dan lampu pun redup tapi ini kan...


"Ok mau kan" tanpa mendengar ucapan dariku pak Zan melepas hijab ku dan perlahan berganti melucuti setiap helai pakaian yang ku pakai. Aku menutup mataku dengan pasrah. Ada perasaan takut dan malu.


"Aku suamimu jangan takut dan malu ya? " entah dari mana dia bisa mendengar isi hatiku. Mungkin dia mendengar detak jantungku yang tak beraturan ini.


Aku masih menutup mataku tak sedikitpun berani membukanya. Pak Zan menggendong ku dan meletakkan ku di dalam bathub dan ku buka mataku setelah mendengar gemericik air mengguyur badanku. Aku tercengang melihat pak Zan tanpa sehelai kain apapun. Membelakangi ku mengambil aroma terapi di dekat wastafel. Dan berjalan ke arahku aku segera menutup wajahku dengan kedua tanganku. Mengintipnya di sela-sela jariku yang tak merapat.


Dadaku terasa sesak melihat apa yang ada di depan mataku ini sebuah pemandangan yang benar-benar membuat jantungku ingin copot. Pak Zan menuangkan aroma terapi ke dalam bathub dan menaruh botol sisa di lantai. Dan segera masuk ke bathub menyusul ku merendam kan badan di sana.


Setelah tubuhku dan tubuh pak Zan tak terlihat tertutup oleh busa aku mulai berani membuka mataku.


"Kenapa sih kakak kepingin mandi bareng? " tanyaku dengan rileks saat mencium aroma terapi yang menenangkan hati ini.


"Suka aja Tan, agar kita bisa lebih intim. Tak ada keraguan di antara kita. Aku ingin kamu benar-benar jadi milikku seorang" pak Zan meraih tanganku dan menaruhnya di pinggang nya. Kecupan mesra meluncur ke kening ku dan mendarat turun ke bibirku.


Aku tak bisa lagi menggambarkan suasana hatiku saking bahagianya. Aku dengan pasrah saat pak Zan ******* bibirku. Dan tangannya sudah menjalar entah kemana yang ia sukai.Aku tak lagi takut dan malu. Adegan panas yang pertama aku rasakan harus ku nikmati. Ya, aku tak boleh takut ataupun malu lagi karena pak Zan berhak melakukan itu semua.


Hari ini hatiku yang terasa seperti rollercoaster di awali pagi tadi dengan kesedihan, kerinduan,sakit hati, kecewa dan sore ini berakhir dengan begitu kebahagiaan. Semoga ke depan nya akan ada kebahagiaan yang lainnya yang akan mewarnai kehidupan ku. Aamiin...


"Terima kasih ya sayang? " ucap pak Zan melepaskan kecupannya.


Aku hanya membalas nya dengan senyuman dan rona merah di pipiku. Ku tenggelam kan wajahku di dadanya. Menutupi rasa malu sekaligus bahagiaku.

__ADS_1


"Sama-sama sayang" bisik ku di telinganya.


Maaf ya para pembaca MTIMH sudah lama sekali tidak up di karena kan author ada banyak sekali pekerjaan. Hingga tak sempat untuk up. Sekali lagi mohon maaf atas tidak kenyamanan nya ya. Semoga kedepannya bisa up dengan tepat waktu. Mohon dukungannya. Terima kasih. I love you all teruntuk semua pembaca setiaku. 😘😘😘


__ADS_2