
"Assalamu'alaikum.... "
"Waalaikumsalam.... "
"Eh cucu eyang yang paling cantik udah pulang... " eyang menyambut ku dengan riang.
Siang ini aku dan pak Zan pulang ke rumah mamah papah. Rasanya lama tidak pulang ke rumah ini. Ada perasaan rindu dengan suasana rumah ini.
"Cah ayu kamu udah makan? "
"Sudah eyang... " aku menyalaminya dan mencium punggung tanganku setelah eyang memelukku.
"Mamah papah mana eyang kok sepi? "
"Masih di kamar kayaknya, kalian masuk dulu yuk nanti eyang ceritain" eyang mengajak masuk kedalam rumah yang sedari tadi masih di teras rumah.
Aku dan pak Zan membawa tas ransel dan koper masuk kedalam kamar.
"Huah.... lelahnya.... " aku langsung merebahkan diri di atas kasur. Menatap langit-langit yang kosong. Mengingat kejadian tadi malam dan tadi pagi. Aku sepertinya lelah dan remuk pak Zan tak henti-hentinya menghujaniku dengan serangan-serangan ganasnya.
Dasar pak guru mesum. Hahaha ... tapi aku juga suka sih... dasar aku ini. Hihihi. Batinku.
"Hayo lagi bayangin apa kok senyum-senyum sendiri? " tiba-tiba pak Zan udah berada di atas ku.
"Nggak ada kok kak, udah minggir aku mau pipis"
Aku segera berlalu masuk ke kamar mandi meninggalkan pak Zan yang masih mematung. Aku takut pak Zan khilaf mengingat dari semalam dia beraksi dengan ganasnya.
Meski aku berpamitan untuk pipis tapi sebenarnya aku hanya berpura-pura untuk itu dan untuk mengelabuhi nya aku menyalakan kran. Dan membasuh muka, melepaskan hijab dan ku sampirkan di pundak ku.
"Sayang? " pak Zan mendekati ku.
"Kamu cantik banget sih... " ku tautkan alisku. Melihat tingkah pak Zan yang mencurigakan. Dia terus mendekatiku. Mengelus kedua pipiku.
ingin segera mencium bibirku.
Tok... tok...
"Irul, Tsania? apa eyang boleh masuk? "
"Jang... " aku menutup mulut pak Zan yang tak ingin memperbolehkan masuk eyang.
"Boleh eyang masuk aja nggak di kunci kok...! "
"Hist kamu itu Tan, nggak ngerti orang lagi kepingin berduaan aja"
Pak Zan berlalu masuk kamar mandi dengan wajah kesalnya dan aku tergelak melihat ekspresi nya.
__ADS_1
"Dasar pak guru mesum"
"Ada apa Tsan? " sahut eyang saat membuka pintu kamar.
"Eh nggak ada apa-apa eyang. Sini eyang duduk "
"Irul mana Tsan? "
"Lagi di kamar mandi yang"
"Tsan? apa Irul lagi kuat-kuatnya? "
Ku picingkan kedua alisku menatap eyang dengan heran.
"Maksudnya eyang apa? "
"Apa Irul selalu meminta jatah terus? " bisik eyang di telingaku. Aku masih diam tak bergeming karena masih bingung dengan apa yang di maksud eyang.
"Itu lho berhubungan... "
"Ouh... ya kadang-kadang kok eyang" jawab ku menutupi kenyataan yang ada. Karena aku malu jika eyang tahu tentang pak Zan yang brigas.
"Dasar Irul lemah... udah di pancing gitu masih gak tergoda" ujar eyang dengan menatap lekat pada dadaku. Aku tersentak setelah melihat kancing bajuku yang terbuka dua kancing.
Duh pantes aja pak Zan tadi menyerang ku ternyata kebuka gini. Dasar.... batinku.
"Eyang mau ngasih tahu kalian tapi kalian jangan sedih ya? "
"Soal apa eyang? "
"Mamah papah mu"
"Semalam pulang dari pesta pernikahan kalian mereka berantem. Mereka berdebat soal cucu. Yang pastinya eyang kurang tahu tapi eyang rasa setelah melihat Manohara mereka jadi berantem"
"Hist... dibahas lagi... " sahut pak Zan.
"Bentar eyang Irul mau ngomong sama mamah papah mau jelasin sama mereka tentang Manohara" pak Zan keluar kamar dengan muka masamnya.
"Emang ada apa sih tentang bu Mano eyang? "
"Kamu kenal? "
"Kenal eyang dia guru Tsania di sekolah"
"Manohara itu.... "
"Mamah papah masih di kamar eyang? " sahut pak Zan menghentikan eyang.Pak Zan masuk kamar lagi setelah mendengar ocehan eyang tentang bu Mano.
__ADS_1
"Semalam mereka setelah bertemu dengan Manohara berantem. Eyang sudah menengahi tapi mereka masih melanjutkan pertengkaran mereka di kamar. Hingga sampai sekarang mereka tak keluar kamar, keluar tadi cuma sarapan aja"
"Apa titik permasalahan nya sih eyang sampai segitunya mereka"
"Sepertinya mamah kamu kepingin segera punya cucu karena dari dulu mamah kamu kepingin punya anak cewek. Tapi papah kamu melarang karena papah kamu ingin Tsania mengejar karier dulu tak usah memikirkan tentang anak dulu"
Eyang bercerita panjang lebar dan aku sudah bisa menemukan titik terang. Aku berencana mengajak bulan madu pak Zan agar aku bisa segera hamil. Aku tahu perasaan mamah yang menginginkan kehadiran seorang anak wanita di rumah ini agar ada yang meneruskan jejak mamah menjadi bidan. Mungkin mamah sedikit kecewa denganku karena aku tak mau mengikuti jejaknya.
Semoga Allah segera memberiku keturunan agar inti permasalahan nya cepat selesai.Aku segera di beri momongan dan aku juga bisa melanjutkan kuliah ya meski bukan sebagai bidan sih. Aku tahu mamah pasti kecewa meski aku belum ngomong secara langsung dan hanya lewat pak Zan saja ibu mendengar alasan aku tak mau kuliah akbid.
"Sayang kamu di sini dulu ya? kakak mau ke kamar mamah papah" pamit pak Zan.
"Iya sayang"
"Ya udah eyang juga keluar dulu ya? "
"Oh iya eyang terima kasih ya? "
"Iya cah ayu, jangan lupa makan siang dulu"
"Iya eyang"
Setelah pak Zan dan eyang keluar kamar aku segera mengikuti mereka keluar kamar menuju taman belakang. Duduk di sana menikmati segarnya udara di siang ini. Ya meski hanya ada tanaman hijau beberapa pot sudah membuat sejuk mata memandang.
Pemandangan ini mengingatkan rumah Arnold ada perasaan rindu yang membuatku teringat pada bunda. Seorang sosok ibu yang ingin ku jadikan ibu mertua. Aku harap mamah bisa sebaik bunda. Entah setelah berjalan satu bulan ini aku belum terlalu dekat dengan ibu belum mengerti karakter ibu seperti apa.
"mbak? "
"Eh iya dek... "
"Tafi mbak " Tafi menjawab rasa tanyaku.
Aku menyengir karena masih saja bingung dengan adik kembar ku ini.
"Kalau rambut agak keriting ini berarti Tafi mbak, kalau agak lurus itu Kafi" Tafi menjelaskan dan duduk di sebelah ku.
"Oh ok deh mulai besuk mbak janji akan ingat "
"Mbak kapan pulang nya kok aku gak tahu? "
"Baru aja kok, oh iya Taf kamu tahu nggak tentang masa lalu kak Irul dengan bu Manohara? "
"Tahulah... sebel aku ma sama kak Mano" jawab Tafi yang masih fokus dengan game di ponselnya.
"Kak Manohara itu cinta pertama kak Irul, dia wanita yang pertama kali membuat kak Irul bangkit dari rasa terpuruk nya. Wanita yang membuat hari-hari kak Irul menjadi indah. Tapi sayang kak Mano menghancurkan impian itu... "
Deg...
__ADS_1
Rasanya seperti di sambar petir di siang bolong mendengar sesuatu yang tak pernah aku tahu dan dengar sebelumnya. Ada sebuah rahasia besar yang pak Zan tutupi dariku.