
...Sejenak saja aku ingin mimpi ini tidak berakhir dan aku akan tetap menjadi miliknya. Mungkin aku sedang serakah saat ini, tapi biarkan aku menikmatinya...
...🌺Selamat membaca🌺...
Tidak ada obrolan lagi antara Zanna dan pak Ardi malam ini setelah selesai makan, hingga akhirnya Zanna memilih berdiri dari duduknya dan mengambil piring kotor membawanya ke wastafel cuci piring.
Baru beberapa langkah Zanna menuju ke dapur, tiba-tiba pak Ardi hendak mengambil piring kotor dari tangannya,
"Biar saya saja."
"Nggak usah pak, biar Zanna saja." ucap Zanna sambil mempertahankan piring kotornya.
"Baiklah, apa yang bisa aku bantu?"
"Nggak ada pak, pak Ardi istirahat aja."
Tapi baru saja pak Ardi menimpali tiba-tiba suara pintu di ketik. Tidak biasanya jam seperti ini ada tamu,
"Baiklah, biar aku buka pintunya." ucap pak Ardi sambil berlalu meninggalkan Zanna.
Sebenarnya Zanna ingin menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring tapi ia urungkan saat rasa penasarannya memuncak, ia ingin tahu siapa yang bertamu di jam seperti ini. Ini sudah jam delapan malam.
Zanna begitu terkejut saat melihat siapa yang tengah mengobrol dengan pak Ardi di teras rumah,
Aska? Kenapa dia bisa ke sini?
Dari pada menghampiri mereka, Zanna lebih memilih mencuri dengar percakapan mereka.
"Zanna kemana pak?"
"Di dalam, sudah istirahat."
"Yang benar pak? Ini masih sore loh." ucap Aska keras kepala.
Zanna pikir Aska sudah tidak lagi berharap akan datang ke rumah pak Ardi setelah yang di katakan oleh pak Ardi pada Aska beberapa waktu lalu, tapi ternyata Zanna salah. Aska malah dengan beraninya dagang ke rumah.
"Pak Ardi saudaranya Zanna ya?" tanya Aska lagi begitu tidak mendapatkan jawaban dari pak Ardi.
"Menurut kamu?"
Jawaban macam apa itu pak ...., batin Zanna semakin cemas, Zanna jadi berpikir aneh-aneh tentang apa yang akan di katakan oleh pak Ardi selanjutnya pada Aska.
Kalau pak Ardi sampai mengatakan sebenarnya gimana?
__ADS_1
Dengan cepat Zanna kembali ke dapur dan menuangkan dua gelas minuman dingin ke dalam sha gelas , kemudian mengambil nampan dan meletakkan dua gelas itu di atas nampan.
Zanna sangat penasaran dan tidak ingin pak Ardi sampai salah bicara Apalagi jika pernikahan mereka sampai di ketahui oleh Aska, pasti bakalan heboh di sekolah.
Zanna dengan cepat keluar dengan membawa nampannya,
"Silahkan pak!"
"Silahkan Ka!"
Ucap Zanna bergantian saat meletakkan dua gelas itu di depan mereka, membuat pak Ardi menatap Zanna dengan tatapan aneh.
Tapi sepertinya Zanna tidak peduli, ia lebih peduli jika rahasia mereka terbongkar. Ia memilih duduk di pojok dengan membawa nampan di tangannya.
Pak Ardi masih menatap Zanna dan zanna tidak tahu apa arti tatapannya, tapi kemudian tersenyum seperti biasanya.
"Silahkan di minum!" ucap pak Ardi pada Aska dan dia pun juga mengambil gelasnya dan mulai meneguknya.
"Terimakasih pak! Kata pak Ardi kamu sudah tidur tadi." ucap Aska.
"Oh iya, tadi memang sudah tidur, tapi kebangun." ucap Zanna dengan sedikit gugup karena ia baru saja berbohong.
Aska pun juga melakukan hal yang sama seperti pak Ardi, sepertinya ia punya pertanyaan besar pada Zanna.
Aska meletakkan kembali gelasnya, ia kembali melihat ke arah Zanna seolah-olah ia belum mendapat jawaban yang ia inginkan hingga masih memburu Zanna.
Rumah zanna dan rumah pak Ardi terbilang dekat, jika hanya sebatas asisten rumah tangga sudah pasti Zanna sudah pulang jam seperti ini, apalagi pak Ardi tinggal sendiri dan dia seorang bujang berdasarkan pengamatannya dan yang orang-orang ketahui kecuali orang sekitar tempat tinggal mereka tentunya.
"Bapak juga tinggal di sini? Sama Zanna juga? Hanya berdua?" lagi-lagi pertanyaan itu kembali di utarakan oleh Aska, mungkin sangat penasaran.
"Kamu bisa tanyakan langsung sama Zanna!" ucap pak Ardi dengan santainya sambil melirik ke arah Zanna.
"Kenapa harus Zanna yang menjawab? Pak Ardi ada di sini!"
"Kami punya alasan untuk tinggal dalam satu rumah, dan saya perlu menjelaskan alasan apa itu, iya kan Aska?" pak Ardi balik bertanya.
Zanna hanya bisa menatap bergantian pada pak Ardi dan Aska setiap kali mereka bicara. Zanna ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, lebih tepatnya sedang dalam mode pasrah. Jika memang hubungan mereka akan terbongkar malam ini, ya sudah lah berarti memang sudah waktunya.
"Sudah larut, tidak baik kan bertamu terlalu larut!?" ucap pak Ardi lagi sambil kembali menyeruput minuman dinginnya yang benar-benar tidak sesuai waktu, harusnya di saat udara dingin seperti ini Zanna menyajikan minuman hangat, tapi karena zanna menyajikan minuman hanya untuk berbasa-basi agar bisa bergabung membuatnya menyajikan minuman secara asal.
"Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu ya pak, maaf sudah menggangu istirahat bapak, lain kali saya ke sini lagi!"
"Jangan sampai!" ucap pak Ardi lirih. Tapi sepetinya Aska yang sudah berdiri dan menenteng tasnya mendengarkan ucapan pak Ardi,
__ADS_1
"Hmm?"
"Maksud saya, jangan sampai tidak main lagi!"
Pak Ardi mengantar Aska ke depan, sedangkan Zanna memilih masuk ke dalam rumah.
Meskipun begitu zanna masih mengintip mereka dari balik jendela ruang tamu, sebelum pergi Aska terlihat masih mengobrol dengan pak Ardi.
Zanna memilih kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya begitu Aska pergi.
Pak Ardi segera mengunci pintu dan menyusul Zanna kembali ke dapur, tanpa Zanna sadari ternyata pria itu sudah berdiri tepat di belakangnya hingga saat Zanna berbalik wajahnya tepat berada di depan dada bidang pak Ardi,
"Pak? Sejak kapan di sini?"
Bukan menjawab tapi pak Ardi malah mendekatkan tubuhnya hingga membuat Zanna mencondongkan tubuhnya ke belakang, kini tangan pak Ardi sudah berada di sisi kanan dan kiri Zanna hingga Zanna tidak bisa berkutik lagi.
"Lain kali hati-hati ya!" ucap pak Ardi sambil menarik pinggang Zanna hingga kini Zanna berada dalam pelukan pak Ardi.
"I_iya pak!"
"Kayaknya ada panggilan yang lebih baik dibandingkan pak,"
"Hahhh?"
"Mas misalnya."
"Hahhh?"
Sepertinya Zanna masih terlalu syok hingga ia tidak bisa lagi menanggapi dengan kata-kata lain. Bibirnya terlalu kaku untuk mengatakannya.
Kali ini bukanya kembali berucap, pak Ardi memilih menatap Zanna dengan begitu dalam, Zanna yang mendapatkan tatapan seperti itu jadi salah tingkah sendiri.
"Pak, aku harus ke kamar mandi!" ucap Zanna membuat pak Ardi melepaskan Kungkungan tangannya dan membiarkan Zanna berlalu begitu saja.
Sebenarnya ke kamar mandi hanya alasan Zanna saja, ia khawatir jika lebih lama satu menit saja dalam posisi seperti itu, ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...