
Tidak kata terlambat jika masih mau berusaha. Masih ada kesempatan untuk berubah,Allah saja Maha Pengampun mengapa kita yang hamba penuh dosa tidak bisa?.
Iya, manusia tempat nya dosa dan salah. Banyak sekali kekurangannya. Jika sakit di ingat-ingat terus akan membuat hati semakin terluka dan tak kunjung sembuh.
Luka semakin lama akan membusuk. Maka dari itu mulai sekarang belajar lah memaafkan. Ingatlah semua kebaikan orang yang telah menyakiti kita dan lupakan segala perbuatan jahatnya. Ingatlah perbuatan jahat kita kepada orang lain dan lupakan lah kebaikan kita kepada orang lain. Dengan itu kita bisa dengan mudah memaafkan segala rasa sakit dan kecewa.
Hari ini pak Zan pertama kali masuk menjadi cleaning servic di rumah sakit tempat Dion bertugas.
Meski awalnya dia ragu tapi setelah mendapat dukungan dari Dion dia lebih semangat lagi. Teringat Tsania dan bayi dalam kandungannya, pak Zan lebih semangat lagi dalam mengumpulkan uang.
Uang hasil jual motor gedenya laku 70 jutaan yang di beli Dion ia tabung untuk biaya lahiran dan lain-lain. Untuk menemani dia pergi ia belikan uangnya sebagian untuk beli motor bekas seharga 5 jutaan.
Sementara ini Tsania belum juga tahu tentang hal ini. Karena Tsania masih mengira motor pak Zan berada di bengkel. Dan motor yang di bawa pak Zan adalah milik yang punya bengkel.
Hari demi hari pak Zan menjalani aktivitas nya yang tidak menentu, terkadang dapat giliran malam kadang pagi. Meski terkadang Tsania sedikit curiga karena mengajar tidak ada yang sampai selarut itu bahkan sampai lembur hingga pagi.
Meski kadang curiga tapi Tsania tetap biasa saja karena pulang pergi masih memakai baju sama , dan tidak terlihat kucel bajunya. Bahkan tidak terlihat bau asam.
Ya, pak Zan selalu memakai baju seragam guru dari rumah. Sampai di rumah sakit pak Zan berganti dengan baju seragam cleaning servic. Dan sebelum pulang dia selalu mandi dan memakai parfum agar terlihat masih segar jika sampai rumah nanti nya.
Membersihkan segala ruangan rumah sakit. Dan terkadang menyiapkan minuman atau membelikan makanan untuk para dokter yang sibuk tidak sempat beli makanan.
Malam ini ia bekerja sampai jam 01.00 WIB dini hari. Dan sebelum pulang dia di suruh suster untuk membelikan makanan yaitu nasi goreng dan jus alpukat di kantin rumah sakit yang buka 24 jam.
Tok...tok...
"Masuk..."
Pak Zan masuk ruangan dengan membawa dua kantong kresek. Dan meletakkan di atas meja. Dokter Dion masih menunduk fokus dengan ponselnya.
"Ini makanannya..."
"Oh ya makasih pak" tanpa menoleh dr.Dion memberikan uang tip pada pak Zan.
"Eh nggak usah kayak sama siapa aja sih" dr.Dion langsung tersentak.
"Ya Allah loe to Rul, kenapa nggak bilang dari tadi sih. Kenapa juga loe mau di suruh beli makanan?kan masih ada OB lainnya?"
"Hehehe...nggak apa kan juga sama aja. Aku kan juga OB disini toh?"
"Iya-iya...loe lembur bro?"
__ADS_1
"Iya ini dah mau pulang,loe kok belum pulang juga sih?"
"Iya habis bantu ibu-ibu lahiran. Ini juga mau pulang habis makan"
"Iya deh,kalau gitu gue pulang dulu ya?"
"Eh, ngapain buru-buru sih ngobrol dulu"
"Capek gue bro, ngantuk juga"
"Mending pulang sama gue dari pada loe kenapa-kenapa di jalan?biar motor loe di sini aja"
"Nggak deh, gue masih kuat kok. Gue pulang dulu ya?" pak Zan terlihat pucat pasi. Wajah letih nya tidak bisa ia sembunyikan. Tapi dia masih memaksakan diri untuk pulang.
Meski sedikit ngantuk dan lelah pak Zan menjalankan motornya dengan sangat pelan dan hati-hati. Meski perjalanan tidak memakan lama dia sampai di rumah.
Gedubrak.....
"Astaghfirullah...." pak Zan terjatuh tepat depan rumahnya karena mata sudah tidak kuat lagi saking ngantuk nya. Ia lupa tidak membawa kunci rumah dan sungkan untuk membangun kan Tsania.
Sudah pukul 02.00 WIB dini hari. Pak Zan merebahkan badannya di sofa depan rumah. Ia terlelap dan bahkan lupa tidak berganti baju guru sebelum pulang dari rumah sakit tadi ia memilih memakai kaos oblong dan celana selutut.
.
.
.
Tsania POV.
Malam ini sedikit gelisah karena pak Zan sampai malam gini belum pulang juga. Meskipun tiap hari juga sering pulang malam aku tak pikirkan tapi malam ini rasanya ingin tahu kabar pak Zan.
Bayi dalam kandungan ku menendang-nendang tak karuan. Aku takut jika tiba-tiba aku lahiran tanpa ada pak Zan di sebelah ku.
Ku coba berfikir dengan tenang agar si jabang bayi juga ikut tenang. Karena memang akhir-akhir ini pak Zan terlihat menyembunyikan sesuatu dariku.
Entahlah,aku pasrah. Allah lebih tahu segalanya.
Sesekali aku tertidur tapi terjaga lagi . Tidurpun tak bisa nyenyak hingga larut malam aku mendengar seperti motor terjatuh aku intip dari kamar atas. Ku buka tirai di kaca jendela pak Zan terjatuh dari motor.
Dia terlihat sempoyongan seperti orang mabuk.
__ADS_1
Apa pak Zan pulang dari karaoke?terus mabuk-mabukan bersama wanita-wanita gitu?
Setelah agak lama aku memberanikan diri untuk turun ke bawah memastikan pak Zan baik-baik saja. Semoga apa yang aku pikirkan tidak terjadi secara nyata.
Ku buka tirai jendela dekat pintu, terlihat jelas pak Zan terbaring di atas sofa depan rumah.
Aku segera membuka pintu dengan sangat pelan.
Aku semakin bingung kenapa bisa pak Zan memakai kaos oblong? apa beneran dia pergi mabuk?
Ku perhatikan setiap inci pak Zan.
"Astaghfirullah...." ku tutup mulutku yang menganga karena terkejut melihat darah mengalir dari lutut dan siku pak Zan. Ada sedikit goresan luka di sana.
Aku berusaha membangunkan.
"Kak?....kak Irul?bangun kak...." aku semakin panik pak Zan tak kunjung bangun.
"Kakak....bangun kak, masuk yuk kak...." ku cek pergelangan tangannya, masih berdenyut dan ku sentuh hidungnya masih ada hembusan nafasnya.
Sedikit lega tapi masih khawatir ku coba mencium aroma di wajahnya dan bajunya tidak tercium aroma yang menyengat.
Berarti pak Zan tidak mabuk, apa dia pingsan?habis jatuh dari motor pingsan gitu?
Aku masuk kedalam rumah dan mencari obat merah dan kasa pembalut luka. Aku bersihkan perlahan luka itu dengan hati-hati.
Aku tahu pak Zan sudah banyak melukai hatiku. Tapi untuk saat ini aku sangat membutuhkan nya. Aku nggak sanggup tanpa nya. Karena Tafi sudah pergi aku berharap pak Zan masih bisa berubah dan kembali mencintaiku dengan tulus.
"Kakak kenapa nggak bangun-bangun sih...hiks...hiks..." air mataku menetes merasakan takut kehilangan lagi.
"Kak?...kalau kakak pergi Tsania sama siapa lagi kak? hiks...hiks..." aku hanya bisa duduk di lantai mengusap lembut rambutnya. Dan sekali-kali mengecek pernapasan nya.
"Kakak..."
"Tsania?"
"Kakak..." ku peluk dengan erat pak Zan yang membuka matanya. Aku berharap ini bukan mimpi.
Ya Allah, jaga dan lindungi suami hamba... panjang kan umurnya agar anak dalam kandungan ku tidak kehilangan sosok ayah seperti diriku ya Allah.
" Maafin kakak udah buat kamu khawatir" pak Zan mengelus punggungku dengan lembut.
__ADS_1