
...Beberapa hal membuatku menutup diri dari dunia, Aku sampai lupa jika mungkin dunia sedang memanggilku dengan nama terbaikku...
...🌺Selamat membaca🌺...
Pak Ardi sudah mengajakku untuk bersiap-siap, aku tidak tahu baju apa yang cocok untuk jalan keluar bersama pak Ardi. Aku juga baru tahu hari ini kalau ba'dha dhuhur itu setelah sholat dhuhur. Padahal aku tadi sendang menikmati tidur siang yang sudah tidak pernah aku dapatkan lagi setelah menginjak dewasa. Aku terlalu sibuk dengan semua kegiatanku selama ini, mengurus Rara Riri, aku baru tahu ada waktu seperti itu. Yang aku tahu siang itu ya jam dua belas keatas sampai jam tiga sore.
Hehhhhh, ternyata nggak hanya otakku saja yang terbatas, pengetahuanku juga hanya sepucuk daun teh.
"Bagaimana Na, sudah siap?"
Kedatangan pak Ardi cukup membuatku terkejut, ia datang dengan membawa dua buah helm di tangannya. Padahal aku ganti baju saja belum.
"Aku belum siap pak." sepertinya pak Ardi mulai menyadari kegundahanku.
"Kenapa belum siap-siap?"
"Aku pakek baju apa?"
"Apa aja yang menurut kamu pantas."
Hahahh ...., menurut aku semua baju ku pantas. Ha ha ha ...., aku terlalu pede.
Sambil berpikir, aku menatap penampilan pak Ardi dari atas hingga bawah. Mungkin ada bajuku yang cocok dengan baju pak Ardi.
Waw ....., Pak Ardi ganteng banget, lebih cocok seperti pacar aku bukan guru BP aku ...., tanpa sadar aku terpesona dengan penampilan pak Ardi yang tampak lebih muda dari usianya.
Kaos berwarna putih dengan out fit jaket jeans dan celana panjang semi jeans berwarna gelap, begitu pas di tubuh pak Ardi. Sekarang lebih terlihat santai, tidak kaku dan resmi.
"Pak Ardi ganteng banget!?" celetukku membuat pak Ardi tersenyum, aku tidak bohong memang pak Ardi begitu ganteng.
"Baru tahu ya kalau ternyata suami mu ini ganteng?"
"Nggak sih pak, kalau biasanya juga ganteng tapi hari ini gantengnya maksimal!"
Lagi-lagi pak Ardi tersenyum, kali ini lebih lebar hingga menampakkan giginya yang tertata rapi, senyumnya itu yang sekarang sering buat aku tidak bisa tidur.
"Mau terus muji, atau kita berangkat? Takutnya nanti kalau kamu jatuh cinta sama aku!"
"Ya berangkat dong pak!"
Aku tidak tahu kali ini pak Ardi akan membawaku ke mana, seumur-umur aku kalau belanja cuma ke pasar, itupun satu tahun sekali pas mau lebaran, ibu akan membelikan baju baru untukku dan adik-adik saat ayah punya uang lebih kalau nggak ada terpaksa aku ngalah dan pakek baju lebaran kemaren, yang penting Rara Riri dapat baju baru.
Kak Roni, dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, mana peduli dia dengan adik-adiknya yang ada malah minta uang sama ibu cuma buat hura-hura, minum-minum sama teman-temannya.
Semakin dewasa, aku semakin tahu kalau lebaran bukan hanya soal baju baru. Ada atau tidaknya baju baru juga nggak akan ngaruh karena aku nggak punya teman, paling aku hanya ke rumah tetangga itu pun tidak banyak.
Tapi yang semakin membuatku miris saat aku semakin besar, aku memang butuh banyak uang tapi uang itu harus aku cari sendiri.
Enak sekali teman-temanku yang anak orang kaya.....
Sempat berpikir seperti itu, tapi sakit saat tahu ternyata kenyataannya teman-teman sebayaku jauh lebih beruntung, mereka bisa main, jalan ke mall, nongkrong tanpa pusing mikir cara buat bayar SPP.
Akhrinya hanya kaos oblong dan celana jeans yang sudah kebeli sekitar empat tahun lalu menjadi outfitku untuk keluar dengan pak Ardi, sungguh tidak serasih.
***
Mall
Ya, ternyata pak Ardi mengajakku ke tempat yang sudah lama sekali ingin aku kunjungi. Kata ibu tempat ini menjual barang-barang mahal, harganya dua kali lipat di banding di pasar berhasil membuatku takut untuk menginjakan kaki di sini, bahkan hanya untuk beli es krim.
__ADS_1
Seperti pasangan muda di sebelah kami, pak Ardi selalu membantuku untuk melepaskan helm, bukan karena kami sedang romantis-romantisan, tapi karena aku belum pernah berhasil untuk melepasnya sendiri,
"Maaf ya, lain kali aku akan membelikan helm yang mudah di lepas!" pak Ardi selalu sikap mengayomi ya, rasanya tidak heran kalau dia jadi guru.
"Nggak pa pa pak, bukankah ini lebih kuat nahan kepala?"
"Iya, tapi ini pasti menyusahkan mu!"
"Nggak pa pa, kan ada pak Ardi!" kayaknya benar, entah sadar atau tidak semakin kesini aku semakin tergantung dengan keberadaan pak Ardi.
Lagi-lagi pak Ardi tersenyum sambil mengusap kepalaku, suka sekali dia seperti itu. Mungkin aku terlalu pendek jadi nggak perlu mengangkat tangannya terlalu tinggi, kayak anak kucing.
"Ayo masuk!"
Srekkkk
Tiba-tiba tanganku di genggam dan di tariknya , di ajaknya aku masuk ke dalam gedung yang baru satu kali ini aku kunjungi.
Banyak sekali toko dengan berbagai barang yang di jual lebih mirip pasar tapi dengan segala fasilitasnya, mulai dari eskalator, tempat yang bersih, ber-AC dan pelayanan yang ramah.
"Pak kata ibu di sini harganya mahal." ucapku dengan sedikit menahan tangan agar langkah pak Ardi terhenti.
"Tergantung Na, ada yang mahal ada yang enggak, tergantung kualitasnya."
"Oh gitu ya." aku hanya bisa menganguk-anggukkan kepalaku.
"Kita beli seragam dulu ya?"
"Seragam? Buat aku pak?"
"Iya!"
Lagi-lagi tanganku di tariknya, sebuah toko baju khusus seragam. Seorang pelayan toko langsung menyambut kami dengan begitu ramah dan menunjukkan tempat yang sesuai dengan arahan pak Ardi.
Panjang?
Sedikit tersinggung dengan kata panjang, pasalnya seragamku lumayan pendek. Ya mau bagaimana lagi, seragam itu sudah aku pakek hampir tiga tahu.
"Mari saya tunjukan." ucap pegawai toko itu dan kami pun mengikutinya.
Hingga kita berhenti di segala macam bawahan seragam, ada yang pendek, panjang, setengah panjang.
"Bagaimana kalau ini?"
Pak Ardi menunjukkan dua buah rok berwarna coklat ada abu-abu dengan bentuk wiru dan panjang.
"Yakin pak itu buat saya? Nggak kepanjangan?" tanyaku sedikit heran, aku pikir pak Ardi akan membelikan ku rok yang setidaknya di bawah lutut saja bukan sampai mata kaki.
"Iya! Supaya nggak repot kalau di bonceng, kan kalau pendek repot di bonceng motor!"
Benar sih kata pak Ardi, memang susah kalau di bonceng, apalagi pasti setelah ini kalau pergi ke sekolah di bonceng pak Ardi walaupun aku juga yakin itu hanya alasan saja bagi pak Ardi.
Lagi pula di sekolah juga sudah banyak yang pakek rok panjang, bukan hanya yang pakek jilbab, mungkin memang karena alasan kenyamanan.
"Baiklah pak saya setuju!" tidak ada salahnya pakek rok panjang juga.
"Baiklah, sekalian aku pilihin bajunya ya, nanti untuk bet biar di jahit selain di sini!"
"Memang bapak bawa bet lokasi sekolah?"
__ADS_1
"Bawa!"
Aku kira hanya main-main, ternyata benar pak Ardi membawa bet lokasi, bahkan nama aku juga.
Kami harus menunggu beberapa saat hingga proses menjahit selesai barulah kami keluar dari toko itu.
"Bagaimana kalau kita makan dulu?"
Memang aku lapar sih, siang tadi aku lupa makan, entah pak Ardi lupa apa enggak, seingatku memang pak Ardi sudah menyiapkan makanan di meja.
🍂🍂🍂
Kamu sudah duduk di sebuah food count yang ada di salam gedung itu dengan menu berbagai macam makanan, aku sampai bingung harus memilih yang mana. Karena beberapa makanan memang masih terlihat asing untukku. Maklumlah, aku bukan anak yang suka pergi jalan-jalan ke mall setelah sekolah.
"Mau makan apa?"
Pertanyaan pak Ardi kembali mengungkap kebingunganku, pengen banget coba makanan yang belum pernah aku makan, tapi takut salah menu.
"Mie ayam aja deh pak!"
Itu adalah pilihan aman buat aku, kalau mie ayam setiap hari lihat dan tahu rasanya. Itu juga tetap jadi makanan favoritku, karena cuma itu makanan murah yang enak yang bisa aku beli.
"Yakin nggak mau yang lain?"
"Yang lain itu kayak apa pak?"
"Apa aja yang kamu suka!"
Aku pun mendekat ke arah pak Ardi,
tempat makan itu ramai, kalau aku ngomongnya keras pasti pak Ardi yang akan malu.
"Aku nggak tahu harus milik apa pak!" bisikku.
Lagi dan lagi, pak Ardi tersenyum.
"Aku pilihkan saja ya!"
Dengan cepat aku mengangguk, kenapa nggak dari tadi aja sih, biar nggak pakek ribet mikir. Sudah tahu aku orangnya susah mikir.
Pak Ardi tampak memilih beberapa makanan dan di tunjukkan oleh pelayan, aku cukup menunggu hingga makanan itu datang.
Dan surprize nya, begitu banyak makanan yang terlihat begitu lezat. Ada udang, sosis, bakso, mie spaghetti, stik, ayam, ikan, dan kenapa dari sekian banyak makanan ini nasinya hanya ada dua piring saja?
"Banyak banget pak?"
"Nggak pa pa, nanti kalau tidak habis bisa di bungkus!"
"Baik banget pemilik food count nya!"
"Makanlah selagi hangat!"
"Siap!"
Aku bukan orang yang suka membuang makanan, bukan rakus. Sayang kalau makanan segitu banyak nggak di habiskan kan.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya
__ADS_1
Follow akun Ig aku ya
IG @ tri.ani5249